Rabu, 11 Maret 2015

Tabungan Amal



Tabungan Amal
P
erjalanan hidup di dunia ini masih jauh, sedangkan maut selalu mengincar roh di yang di kandung badan. Bagaimana hal tersebut tidak menjadi sebuah kegelisahan, kalau bekal menuju akhirat masih sedikit sedangkan dosa dan kesalahan semakin banyak laksana lautan dosa. Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah di akhirat nanti aku akan selamat atau akan celaka, di manakah tempat kembaliku, surga ataukah neraka  ?.
Duhai saudara saya yang beriman, hal yang paling menyedihkan adalah ketika kita mempunyai banyak amal kebaikan dan kita banyak pula menzholimi orang lain sehingga amal kebaikan kita tersebut diberikan kepada orang yang dizholimi sebagai penebus dosa yang kita lakukan kepadanya. Ketika amal kebaikan kita telah habis, sedangkan masih banyak orang yang kita zholimi meminta pertanggungjawaban maka dosa orang-orang yang kita zholimi tersebut di lemparkan kepada kita sehingga banyaklahh dosa yang kita pikul di akhirat nanti. Inilah yang di isyaratkan  oleh Nabi bahwa orang tersebut adalah orang yang muflis (orang yang bangkrut di akhirat nanti).
Ibrahim bin Adham dan mantan budaknya
Ibrahim bin Adham mempunyai tujuh puluh dua budak. Ketika ia bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, ia membebaskan mereka semua. Salah satu budaknya ada yang meminum khamar, lalu ia bertemu Ibrahim bin Adham ( di tengah jalan ), seraya berkata :  Wahai fulan, antarkan aku ke rumahku. Ya baik, kata Ibrahim bin Adham.  Namun ternyata Ibrahim bin Adham membawanya ke salah satu tempat pemakaman. Ketika orang mabuk itu melihat tempat pemakaman, ia memukul Ibrahim sangat keras, seraya berkata : Aku tadi berkata, antarkan aku ke rumahku tapi kenapa engkau membawaku ke tempat pemakaman. Ibrahim berkata : Wahai orang yang kurang akalnya,  Inilah rumah sebenarnya dan yang selainnya hanyalah bayangan. Orang mabuk tersebut memukuli lagi dan mencambuknya. Setiap kali Ibrahim di cambuk, dia (Ibrahim) berkata “Semoga Allah Swt. mengampuni dosamu”. Ketika keadaan seperti itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki, seraya berkata : Wahai fulan, apa yang engkau lakukan terhadap tuan yang telah membebaskanmu ?, - Orang yang memukuli tersebut tidak menyadari bahwa yang di pukul itu adalah tuannya – ia berkata : Siapa orang ini ?. Laki-laki yang datang itu berkata : Ini adalah Ibrahim bin Adham, tuan yang telah membebaskanmu. Ketika ia mengetahui hal tersebut, turunlah ia dari kudanya dan meminta maaf kepadanya. Ibrahim berkata : Aku terima maafmu, aku telah memaafkanmu, dan aku telah melupakan kesalahanmu. Orang yang memukulnya itu berkata : Wahai tuanku, aku telah memukulmu dan menyakitimu sementara engkau mendoakanku dengan doa yang baik di setiap pukulan, dengan ucapan “ Semoga Allah Swt. mengampuni dosamu”. Ibrahim bin Adham berkata : Bagaimana aku tidak mendoakanmu dengan doa yang baik sedangkan pukulanmu dan rasa sakit yang engkau berikan kepadaku menjadi sebab aku masuk ke dalam surga.
Dahai saudara saya yang pemaaf, hikayat tersebut memberikan gambaran kepada kita, ketika seseorang menzholimi kita baik dengan melukai salah satu anggota badan maupun membuka aib, ketika itu kita mampu memaafkannya dan mendoakan kebaikan kepadanya maka hal tersebut bisa menjadi salah satu sebab di masukkannya kita ke dalam surga. Sebaliknya hal yang menurut kita adalah hal sepele misalnya menyinggung perasaan teman, namun dia tidak meridhoi  dan memaafkan kita. Barangkali hal tersebut menjadi salah satu sebab di seretnya kita ke dalam neraka. Ingatlah, tabungan dosa menuju neraka telah banyak sedangkan tabungan pahala menuju surga masih sedikit maka berhentilah menabung dosa dan perbanyaklah menabung pahala. Berhati-hatilah dalam berbuat karena terkadang tidak disadari perbuatan dosalah yang kita lakukan. Waspadalah !
                                     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar