Aku Adalah Aku dan Engkau Adalah Engkau
|
S
|
eringkali
akibat kekurangan uang, membuat kita
berani melakukan hal-hal yang di larang
oleh agama maupun hukum. Dari berani mencuri, menipu, sampai tega menghilangkan
nyawa seseorang. Sungguh menyedihkan !
jika kita mengaku orang Islam padahal tidak sama sekali mencerminkan perbuatan
orang yang beragam Islam. Berarti selama ini, kita hanya mengaku orang Islam
tapi sesungguhnya keislaman kita tidak di akui ?. Kita mengaku mengenal Allah
swt dan mengaku sebagai hamba-Nya tapi apakah Allah swt mengakui kita sebagai hamba-Nya ?. Kalau ya, kenapa kita kurang yakin bahwa Allah swt
yang telah
menjamin semua kebutuhan hidup kita. Renungkanlah !
Burung gagak yang membawa roti
Diceritakan sebuah kisah tentang Ibrahim bin Adham – Semoga Allah
merahmatinya. Pada suatu hari, dia pergi berburu, (di tengah –tengah
perburuannya) ia beristirahat dan menghamparkan perbekalan untuk memakannya.
Tiba-tiba datang seekor burung gagak mengambil roti dari perbekalan tersebut
dengan paruhnya lalu terbang ke udara. Melihat hal itu, Ibrahim merasa
penasaran lalu dia nmengendarai kudanya
dan mengejar burung gagak tersebut. Burung gagak tersebut naik ke atas gunung
sehingga tak terlihat lagi oleh Ibrahim. Lalu dia menaiki gunung untuk mencarinya.
Dari kejauhan, dia melihat burung tersebut lalu (perlahan-lahan) mendekatinya
(untuk menangkapnya) tapi ternyata burung tersebut terbang lagi. Tiba-tiba
Ibrahim melihat seorang laki-laki yang terikat, bersandar di gunung. Ketika Ibrahim melihat keadaan laki-laki tersebut, dia turun dari kudanya
untuk melepaskan ikatannya lalu menanyakan tentang kejadian yang menimpanya dan
bagaimana ceritanya bisa sampai seperti itu. Laki-laki tersebut berkata : Aku adalah seorang
pedagang. (Di tengah perjalanan) aku ditangkap oleh para penyamun dan semua
harta benda yang ku bawa di ambil oleh mereka lalu aku di pukuli, diikat, dan dileparkan ke
tempat ini. Aku berada di sini sudah tujuh hari. Setiap hari burung gagak tersebut datang
membawa roti. Dia hinggap di dadaku sambil membagi-bagi roti tersebut dengan paruhnya
lalu memasukkannya ke dalam mulutku. (Sungguh), Allah tidaklah membiarkanku
kelaparan selama tujuh hari. (Setelah mendengar cerita dari laki-laki
tersebut) Ibrahim mengenderai kudanya
dan membonceng laki-laki tersebut di belakangnya menuju tempat tinggalnya. (Lihat,
Al-Mawa’idzu al-‘Ushfuriyyah, hal. 24).
Duhai saudara saya yang penyabar, jika hendak di luaskan rezkinya
maka dekatilah orang yang maha pemberi rezki, jika ingin sukses di dunia maka
hampirilah pemiliknya bukan penduduknya. Ketahuilah, Allah swt menetapkan
segala sesuatu sudah mempunyai ukurannya dan waktunya, dan batasannya. Jika
saat ini, hati kita sangat di gelisahkan oleh kekurangan uang maka bersabarlah
karena waktu kegelisahan tersebut ada batasnya dan waktunya. Jika saat ini,
hati kita sangat lapang karena banyak uang maka bersyukurlah, sebab tidak
selamanya kelapangan tersebut bersama kita. Uang memang kita perlukan tapi
bukan berarti karena uang kita jadi gelap mata hingga menghalalkan segala cara
untuk mendapatkannya. Uang bukan segalanya, bukan pula penentu hidup dan mati
kita. Uang bukan satu-satunya yang membuat kita bahagia dan sukses. Uang juga
bukan satu-satunya yang bisa menghentikan langkah kita menuju hari nan cerah.
Oleh karena itu katakanlah kepada uang dengan suara yang lantang : “Aku memang
memerlukanmu tapi bukan berarti kau bisa memperbudakku. Aku memang mencarimu
tapi bukan berarti kau boleh mempermainkanku”. Siang dan malam aku memikirkanmu
tapi bukan berarti engkau bisa mengendalikan hidupku”. Aku adalah aku. Engkau
adalah engkau.
Ingatlah dan yakinlah dengan
firman Allah ini, ” Dan tidak ada suatu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezkinya… “. (Q.S. Hud : 6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar