Tabungan Amal
|
P
|
erjalanan hidup di dunia ini masih jauh,
sedangkan maut selalu mengincar roh di yang di kandung badan. Bagaimana hal
tersebut tidak menjadi sebuah kegelisahan, kalau bekal menuju akhirat masih
sedikit sedangkan dosa dan kesalahan semakin banyak laksana lautan dosa.
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah di akhirat nanti aku
akan selamat atau akan celaka, di manakah tempat kembaliku, surga ataukah
neraka ?.
Duhai saudara saya yang beriman, hal yang
paling menyedihkan adalah ketika kita mempunyai banyak amal kebaikan dan kita
banyak pula menzholimi orang lain sehingga amal kebaikan kita tersebut
diberikan kepada orang yang dizholimi sebagai penebus dosa yang kita lakukan kepadanya.
Ketika amal kebaikan kita telah habis, sedangkan masih banyak orang yang kita
zholimi meminta pertanggungjawaban maka dosa orang-orang yang kita zholimi
tersebut di lemparkan kepada kita sehingga banyaklahh dosa yang kita pikul di
akhirat nanti. Inilah yang di isyaratkan
oleh Nabi bahwa orang tersebut adalah orang yang muflis (orang yang
bangkrut di akhirat nanti).
Ibrahim bin Adham dan mantan budaknya
Ibrahim bin Adham mempunyai tujuh puluh dua budak. Ketika ia
bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, ia membebaskan mereka semua. Salah
satu budaknya ada yang meminum khamar, lalu ia bertemu Ibrahim bin Adham ( di
tengah jalan ), seraya berkata : Wahai
fulan, antarkan aku ke rumahku. Ya baik, kata Ibrahim bin Adham. Namun ternyata Ibrahim bin Adham membawanya ke
salah satu tempat
pemakaman. Ketika orang
mabuk itu melihat tempat pemakaman, ia memukul Ibrahim sangat keras, seraya
berkata : Aku tadi berkata, antarkan aku ke rumahku tapi kenapa engkau
membawaku ke tempat pemakaman. Ibrahim berkata : Wahai orang yang kurang
akalnya, Inilah rumah sebenarnya dan
yang selainnya hanyalah bayangan. Orang mabuk tersebut memukuli lagi dan
mencambuknya. Setiap kali Ibrahim di cambuk, dia (Ibrahim) berkata “Semoga
Allah Swt. mengampuni dosamu”. Ketika keadaan seperti itu, tiba-tiba datang
seorang laki-laki, seraya berkata : Wahai fulan, apa yang engkau lakukan
terhadap tuan yang telah membebaskanmu ?, - Orang yang memukuli tersebut tidak
menyadari bahwa yang di pukul itu adalah tuannya – ia berkata : Siapa orang ini
?. Laki-laki yang datang itu berkata : Ini adalah Ibrahim bin Adham, tuan yang
telah membebaskanmu. Ketika ia mengetahui hal tersebut, turunlah ia dari
kudanya dan meminta maaf kepadanya. Ibrahim berkata : Aku terima maafmu, aku
telah memaafkanmu, dan aku telah melupakan kesalahanmu. Orang yang memukulnya
itu berkata : Wahai tuanku, aku telah memukulmu dan menyakitimu sementara
engkau mendoakanku dengan doa yang baik di setiap pukulan, dengan ucapan “
Semoga Allah Swt. mengampuni dosamu”. Ibrahim bin Adham berkata : Bagaimana aku
tidak mendoakanmu dengan doa yang baik sedangkan pukulanmu dan rasa sakit yang
engkau berikan kepadaku menjadi sebab aku masuk ke dalam surga.
Dahai saudara saya yang pemaaf, hikayat tersebut memberikan
gambaran kepada kita, ketika seseorang menzholimi kita baik dengan melukai salah
satu anggota badan maupun membuka aib, ketika itu kita mampu memaafkannya dan
mendoakan kebaikan kepadanya maka hal tersebut bisa menjadi salah satu sebab di
masukkannya kita ke dalam surga. Sebaliknya hal yang menurut kita adalah hal
sepele misalnya menyinggung perasaan teman, namun dia
tidak meridhoi dan memaafkan kita. Barangkali hal
tersebut menjadi salah satu sebab di seretnya
kita ke dalam neraka. Ingatlah, tabungan dosa menuju neraka telah banyak
sedangkan tabungan pahala menuju surga masih sedikit maka berhentilah menabung
dosa dan perbanyaklah menabung pahala. Berhati-hatilah dalam berbuat karena terkadang tidak
disadari perbuatan dosalah yang kita lakukan. Waspadalah !