Selasa, 09 Juni 2015

Jodoh Halwa, Harapan Mama



JODOH HALWA, HARAPAN MAMA


Halwa membuka pintu kamarnya, kamar yang kini penuh dengan hiasan dan renda-renda berwarna ungu. Tempat tidurnya pun penuh dengan taburan bunga-bunga yang indah nan harum semerbak. sejenak ia tertegun, seakan tak percaya. Dipandanginya seisi kamar itu, sedetik kemudian pandangannya pun terhenti di satu titik. Seorang pemuda kini tengah duduk di tepi ranjangnya, senyumnya mengembang. Pemuda itu membalas senyum manisnya, seakan mengisyaratkan untuk memintanya masuk. Farhan, pemuda itu kini telah sah menjadi teman hidup Halwa. Halwa tersenyum, tiba-tiba ia teringat akan harapan ibunya, harapan yang kini telah berhasil ia wujudkan. Pikirnya pun kembali ke masa silam,
“Andai saja, Farhan yang akan menjadi menantu Mama.”
Kalimat itu tiada bosan-bosannya menghantui benak Halwa, ia tak habis pikir, bagaimana mungkin ibunya mengharapkan Farhan yang akan menjadi pendamping hidupnya, meskipun tak bisa dipungkiri ia pun mengharapkan hal yang sama. Farhan, satu-satunya pemuda yang mampu meluluhkan hati ibunya, pemuda sederhana dan santun itu. “Oh Rabbi, bagaimana bisa aku mewujudkan harapan mama, sementara aku tau, Farhan telah memiliki seseorang yang dicintainya.” Lirihnya.
“Wa! Dimakan dong baksonya, jangan cuma diaduk-aduk gitu!” tegur Arum membuyarkan l
amunan Halwa. “Hah, eh. makan ya? Iya ini dimakan kok. hehehe” jawab Halwa sekenanya.
“What happen with You? You look a bit strange today!” tambah Elliz
“Ah enggak ada apa-apa kok, aku baik-baik saja.”
“Pasti ada sesuatu!” tebak Arum
“Aha! I know! Kamu pasti lagi mikirin Farhan, hayoo ngaku!”
Halwa masih saja terdiam, “Hey wa, udahan dong mikirin Farhannya! Kan kemaren udah dijelasin sama Ustadzah Fatimah, enggak boleh tuh mikirin yang bukan mahram.” terang Arum. Halwa menghela nafas, “Aku sudah mencoba menjauh Rum, tapi sepertinya Allah berkehendak lain.” Arum dan Elliz saling berpandangan, “Maksudnya?” tanya mereka berbarengan. Halwa pun menceritakan tentang harapan ibunya akan Farhan kepada teman-temannya itu. Tepat pada hari pertama kali ibunya mengenal Farhan. Waktu itu, Halwa tengah asyik membaca novel kesukaannya, sekedar menghibur hati yang tengah kusut karena masalah cinta. Melupakan, itulah tujuan utamanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan salam yang sudah familiar bagi Halwa, “Mama, wa’alaikumsalam.” ujarnya seraya setengah berlari untuk membuka pintu. “Wa, bantu Mama angkatin barang belanjaan di depan ya. Itu sama paman becak.” Pinta ibunya lembut. “Oke!” Halwa bergegas menuju becak yang tadi ditumpangi ibunya, diangkatnya satu per satu barang belanjaan itu, yang juga dibantu oleh paman becak tentunya. Halwa mngikuti ibunya menuju dapur, sebagai satu-satunya anak perempuan yang belum menikah, ia sadar akan kewajiban membantu ibunya. “Wa, kamu kenal Farhan?” tanya Ibunya. Halwa tersentak, hampir saja pisau dapur yang ia pegang sedari tadi mengiris jarinya. “Farhan? Farhan siapa Ma?” Halwa mencoba tetap tenang.
“Itu lho Farhan, katanya dia satu sekolah sama kamu.”
“Kok Mama kenal sama Farhan? Kenal di mana?”
“Tadi itu di pasar, Mama ketemu teman lama Mama. Tante Raihana itu lho, ingat enggak?” ujar ibunya. “Terus?” Halwa tidak memperdulikan siapa itu Tante Raihana, yang ia pikirkan adalah bagaimana ibunya bisa mengenal Farhan. “Farhan itu putranya Tante Raihana sayang! Teman Mama, sudah lama kami tidak bertemu. Eh ternyata dia tinggal enggak terlalu jauh dari sini. Dan Mama enggak nyangka ternyata dia punya putra seusiamu. Ajaibnya lagi, kalian satu kampus. Wahhh memang jodoh takkan kemana.” Heboh Ibunya Halwa sumringah. Halwa terbelalak, ia diam seribu bahasa. Seakan tak percaya, Farhan yang tadinya adalah cinta pertamanya, dan yang diam-diam sudah melukai hatinya. Sosok yang selalu ingin ia lupakan, ternyata adalah putra dari teman ibunya. “Oh Tuhan, cobaan apalagi ini! Aku ingin melupakannya, aku ingin menjauh darinya, tapi mengapa ini harus terjadi?” Gerutu Halwa dalam hatinya.
Sore itu berlalu dengan cepat, namun hati Halwa terasa tidak karuan, ada rasa senang namun ada pula rasa tak percaya. Dunia tak selebar daun kelor, pepatah itu membuatnya menghela nafas panjang.
Sejauh apapun aku berlari
Mengapa tujuanku tak jua kunjung berganti
Tulisnya dalam diary kecil yang selalu setia menjadi tempat curahan hatinya.
Arum dan Elliz mendengarkan dengan seksama,
“Kejadian itu membuatku tak bisa tidur, aku merasa kamarku begitu sesak. Aku bertanya-tanya, apakah ini petunjuk dan jawaban dari doa-doaku? Atau hanya sebuah ujian atas niatku untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya?” lirih Halwa pada teman-temannya.
“Ooh dear, don’t be sad! Bisa jadi itu memang petunjuk dari Allah atas doa-doamu. Keep positive thinking OK!” ujar Elliz mencoba menenangkan.
“Lalu, setelah itu apa yang terjadi?” tanya Arum
Halwa pun melanjutkan ceritanya, “Sehari setelah pertemuan Tante Raihana dan Mama di pasar, mereka semakin sering berkomunikasi. Mama sering berkunjung ke rumah Tante Raihana, tentu saja di sana Mama juga bertemu dengan Farhan. Mama semakin menyenangi Farhan, bahkan Mama berharap Farhanlah yang akan menjadi pendampingku.” cerita Halwa membuat airmatanya ikut mengembang, mengalir tanpa ia sadari. “Bagaimana bisa aku mewujudkan harapan itu Liz, Rum. Itu tidak mungkin. Kalian tau kan, Farhan mencintai wanita lain.” Tambahnya sesenggukkan.
Arum dan Elliz pun memeluk Halwa, mereka mencoba menenangkan Halwa yang terus saja menangis. “Sudahlah Wa, jangan menangis. Kalau kamu seperti ini kami jadi ikut sedih.” Arum menghapus airmata Halwa. “Hmmm tenangkan dirimu Wa, nanti kapan-kapan kita ke rumah Ustadzah Fatimah saja. Siapa tau beliau bisa memberi saran untuk masalahmu yang satu ini.” saran Elliz membuat Halwa sedikit mendapat harapan. “Ya sudah, hari sudah mulai sore, yuk kita pulang!” ajak Arum.
***
Sesampainya di rumah, Halwa menghampiri ibunya yang tengah asyik membaca majalah di teras. Seperti biasa, ia mengucap salam, diciumnya punggung telapak tangan ibunya yang lembut. “Gimana Wa, apa kata Farhan? Salam dari Mama sudah disampaikan belum?” tanya ibunya. “Enggak Ma, tadi Halwa enggak ketemu sama Farhan di kampus.” jawab Halwa lesu. Halwa segera menuju kamar. Entah kenapa belakangan ini ia mudah merasa lelah. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, gema adzan tanda waktu salat ashar pun mulai terdengar. Halwa bangkit dari tidurnya, dan segera melaksanakan salat. Dulu, Halwa adalah seorang anak yang pemalas jika ditanya tentang salat, bukan hanya sering menunda, salatnya pun selalu bolong-bolong. Tapi semenjak mengenal Farhan, ia mulai mengerti banyak hal tentang Agama, Farhanlah yang membuatnya tertarik untuk belajar Agama. Ia tak pernah menggurui, namun lebih sering mencontohkan. Rasa inilah yang semakin lama membuat Halwa semakin mengagumi sosok Farhan. Seorang aktivis dakwah kampus, yang selalu ramah kepada semua orang di sekitarnya, tak terkecuali dengan Halwa.
***
Malam terasa begitu sunyi, Halwa sengaja mematikan ponselnya agar ia dapat fokus mengerjakan tugas-tugas kampus yang kian membludak. Karena biasanya, teman-teman sering menghubunginya hanya untuk sekedar curhat atau berbagi kesedihan. Mata Halwa kian terasa berat, rasa kantuk mulai menyerangnya. “Huft, cukup sudah, aku sudah letih.” gumamnya seraya mematikan laptop dan merapihan semua buku-buku yang berserakan. Halwa menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, dan segera merebahkan diri di atas kasur empuknya. Selepas membaca doa, ia pun terlelap. Tepat pukul dua pagi, alarm yang sengaja dipasang oleh Halwa pun berbunyi. Halwa terbangun dari tidurnya, ia segera bangkit dan mematikan alarm. “Alhamdulillah, Allah masih memberikanku kesempatan untuk membuka mata.” ucapnya. Tanpa pikir panjang, Halwa pun segera menuju kamar mandi, setelah sedikit membersihkan badan, ia pun mengambil air wudhu. Mendirikan salat tahajjud, menjadi sebuah aktivitas yang kini ia tekuni. Halwa bukanlah gadis yang pandai dalam hal Agama, tapi ia begitu ingin belajar dan memperdalamnya. Semenjak Halwa memilih untuk menjauhi Farhan, ia sering bertanya kepada Ustadzah Fatimah, seorang Dosen muda yang selalu setia menjadi tempat Halwa dan teman-temannya berkonsultasi. Halwa senantiasa mengingat pesan beliau, “Tiada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki, yakinlah, jika ia memang jodohmu, dengan siapapun dia sekarang, sejauh apapun dia, sebenci apapun dia padamu, maka Allah lah yang akan mendekatkannya kepadamu. Iradatullah fauqa kulli iradah anakku, kehendak Allah berada di atas segala kehendak. Mintalah kepada-Nya. Tapi, satu hal yang kamu harus tau, tiada hak jika tiada kewajiban. Jalankan kewajibanmu terlebih dahulu, niscaya apa yang kamu pinta dikabulkan. Percayalah.”
Halwa menggelar sajadahnya, niat ia lafadzkan begitu pula di dalam hati, ia mengangkat takbir. Dua rakaat ia jalankan dengan begitu khusyuk, ia merasakan sesuatu yang sejuk masuk kedalam jiwanya. “Rabbi, inikah nikmat salat tahajjud.” Tanpa sadar airmata pun mengalir melewati kedua sudut matanya, kian lama kian deras, tepat disaat sujudnya, Halwa merintih kepada-Nya. “Wahai Rabbi, aku menghadap-Mu dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan. Sungguh aku hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya jika tanpa karunia, rahmat, hidayah dan pertolongan-Mu. Engkau yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkau yang Maha Pengampun, lagi Maha Bijaksana. Aku bersujud pada-Mu Ya Rabb, memohon ampunan atas segala dosaku, kelalaianku dan kelupaanku. Sungguh, aku hanyalah makhluk yang lemah, yang tak luput dari dosa. Tanpa sadar, aku sering mendzalimi diriku sendiri dengan mencintainya yang tak mencintaiku. Membuang waktuku dengan mengharapkannya. Sementara Engkau yang selalu melimpahkan kasih sayang dan cinta-Mu, begitu sering ku abaikan. Ampuni aku Ya Rabbi, ampuni aku yang senantiasa membuang airmata ini, bukan untuk menangisi dosa-dosaku, melainkan untuk menangisi dirinya. Rabbi, kini aku berserah diri kepada-Mu, jauhkan aku dari cinta makhluk yang menjauhkanku dari cinta-Mu, dan dekatkanlah aku kepada makhluk yang mendekatkanku akan cinta-Mu. Aamiinn Ya Rabbal Alaminnn.” lirihnya. Waktu masih menunjukkan pukul 03.25 WIB, Halwa mengambil Mushaf dari dalam lemari kemudian membacanya hingga adzan subuh berkumandang.
***
Aneh, hati Halwa berdegup begitu kencang tanpa ia tau apa penyebabnya. Ia mencoba menarik nafas, lalu membuangnya perlahan, namun rasa itu kian menjadi-jadi. “Assalamu’alaikum Halwa,” sapa seorang pemuda yang tiba-tiba ada di samping Halwa, “Eh Farhan, wa wa’alaikumsalam.” jawab Halwa terbata-bata. Hati Halwa mulai tidak tenang, ia merasa risih. Meski sudah biasa bertemu Farhan, tapi belakangan ini terasa begitu aneh. Semenjak ia mendengar kabar kedekatan Farhan dengan Nurmala seorang gadis yang berparas cantik dan seorang Qori’ah pula, berbeda dengannya yang hanya seorang Mahasiswi biasa. “Wahh kerudung baru ya? Cantik.” puji Farhan lengkap dengan senyumnya. “Ah, tapi tidak secantik dia.” ucap Halwa setengah berbisik. “Kenapa Wa?” kening Farhan mengkerut. “Ah tidak ada apa-apa kok, hehe. Oh iya, Farhan, aku duluan ya, hari ini aku harus presentasi jadi harus buru-buru. Assalamu’alaikum.” Halwa mempercepat langkahnya meninggalkan Farhan yang masih tertegun, “Aneh, tidak biasanya Halwa seperti ini. Padahal ada yang ingin kusampaikan padanya. Yahh mungkin lain kali.” gumamnya.
***
Beberapa bulan berlalu, Farhan terus mencoba menghubungi dan mencoba menemui Halwa, namun Halwa selalu berhasil menghindar. Farhan mulai kebingungan, ada hal yang benar-benar ingin ia sampaikan. “Mengapa Halwa terus menghindariku? Apa ada yang salah?” pikirnya. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Farhan, “Lagi apa bro?” sapanya. “Eh kamu Dan, kamu tidak lihat aku sedang apa?” jawab Farhan. “Kalau dilihat sih lagi baca buku, tapi kalau dilihat lagi, seperti tengah memikirkan sesuatu.” cibir pemuda yang bernama Wildan itu.
“Memangnya kamu tau apa yang sedang aku pikirkan?”
“Akhwat ya!” tebak Wildan. “Ah sembarangan kamu!” Farhan mengelak, “Hmmm sok ngelak, aku tau kok, kamu sedang memikirkan Halwa, mahasiswi yang kamu taksir itu.” gumam Wildan lagi. “Hahaha kamu memang selalu tau apa yang kupikirkan Dan.” Farhan tertawa geli. Wildan mengambil sebuah buku, lalu duduk di sebelah Farhan. “Aku ini sahabatmu, ya jelas dong aku tau. Wildan gitu loh hehehe. Emmm lalu, apa yang membuatmu kepikiran bro?” tanyanya. “Yahh begitulah, belakangan ini Halwa selalu menghindar dariku, aku sendiri enggak tau apa alasannya. Perasaan, sebelumnya kami baik-baik saja.” keluh Farhan. “Tanyakan saja kepadanya apa masalahnya? Beres kan.”
“Kenyataannya tidak semudah itu, bagaimana aku bisa menanyakannya, dia selalu menghindariku. SMS-ku tidak pernah dibalas, telpon? Apalagi. Padahal, ada yang ingin kusampaikan padanya.” tambah Farhan.
“Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan?” Wildan penasaran.
“Ah kamu tidak perlu tau, yang pasti ini adalah berita bahagia hmmmm.” Farhan tersenyum sendiri.
“Aku tau, pasti kamu ingin menyatakan cinta. Iya kan? Ayo ngaku!” selidik Wildan
“Lebih dari sekedar itu hehehe, aku sudah menyampaikan ini pada orangtuanya. Terutama pada ibunya, beliau sangat senang, tapi beliau tetap memintaku bertanya pada Halwa. Hmmm yahh sepertiyang kamu tau, semua keputusan ada padanya.” Terang Farhan.
“Wahhh aku mengerti, kamu ingin meminang Halwa Han?” Wildan sumringah. Wajah Farhan memerah, senyumnya semakin mengembang. “Shyuuutttt, pelankan suaramu. Enggak lucu kan kalau seluruh kampus tau.” Farhan menutup mulut Wildan, sedetik kemudian keduanya tertawa senang. Tiba-tiba ekspresi Farhan berubah menjadi murung, “Tapi sepertinya Halwa tidak menyukaiku.” lirihnya. “Hei bro, jangan pesimis gitu dong. Aku yakin Halwa juga punya rasa yang sama. Kamu hanya belum punya kesempatan untuk mengnyatakan niatmu itu.” nasehat Wildan. “Lalu menurutmu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Farhan. “Tulis saja sebuah surat, yahh meskipun kata orang itu jadul setidaknya itu adalah usahamu. Dan, titipkan saja sama salah satu temannya, emm Arum atau Elliz mungkin?” ujar Wildan. “Ah, benar juga! Seharusnya aku lakukan itu dari dulu saja, ah kamu memang sahabatku Dan! Terimakasih......!!!” ucapnya seraya mengambil secarik kertas dan sebuah polpen, sejurus kemudian surat itupun selesai ia tulis. Wildan tertegun melihat tingkah sahabatnya yang begitu semangat, Farhan bergegas keluar kelas, matanya mencari-cari sosok seseorang. Ia melihat Elliz dan Arum di depan mading, tanpa pikir panjang ia pun menghampiri mereka. “Assalamu’alaikum ukhty.” sapanya sedikit ngos-ngosan. Elliz dan Arum memandanginya heran, “Wa’alaikumsalam, ada apa Han? Kok ngos-ngosan gitu?” ujar Arum. “Ini ukhty, maaf sebelumnya, aku ingin meminta tolong kepada kalian.” jawabnya, “What should we do for you?” tanya Elliz. “Emm tolong sampaikan surat ini pada Halwa, penting! Kalau bisa, sampaikan secepatnya, pastikan dia membacanya segera. Please!!!” pinta Farhan penuh harap. Elliz dan Arum saling berpandangan, meski sedikit bingung mereka pun menyanggupinya. “Syukron ukhty, jangan lupa ya.” ucap Farhan lega, kemudian ia pun kembali ke kelasnya. Elliz dan Arum segera menemui Halwa yang kelihatan sibuk dengan laptopnya, “Wa, ini ada surat untukmu.” Arum menyodorkan surat dari Farhan untuk Halwa. “Surat apa? Dari siapa?” tanya Halwa. “From Farhan for You!” sahut Elliz. “Ouhh, taruh saja di situ, nanti aku baca.” jawab Halwa fokus dengan tugasnya. “He said that You must read it soon!” Elliz meyakinkan. “Ah tanggung Liz, bentar lagi juga selesai. Tenang saja, pasti kubaca kok nanti.” ujar Halwa santai. “Ah terserah saja lah, yang penting amanah sudah kami jalankan. Suratnya aku taruh di sini ya, jangan lupa di baca.” Arum meletakkan surat di samping ransel Halwa, Halwa hanya mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian, tugasnya pun selesai. Halwa bergegas menutup laptopnya, dan memasukkan laptop dan semua bukunya ke dalam ranselnya, tanpa sengaja surat dari Farhan terjatuh. Namun Halwa tak menyadarinya, ia pun berlalu pergi. Halwa menaiki lantai dua perpustakaan kampus, tanpa sengaja ia menabrak seorang mahasiswi yang sedang terburu-buru hingga menjatuhkan semua buku yang mereka bawa. “Astaghfirullah, maaf ya mbak, saya tadi jalannya enggak lihat-lihat.” ucapnya seraya merapihkan buku-buku yang terjatuh. “Ah enggak usah minta maaf begitu, saya juga salah kok mbak.” Halwa ikut merapihkan buku-bukunya. “Ini bukunya mbak kan?” tanya mahasiswi itu, “Oh iya, ini juga punyanya mbak kan?” mereka pun saling tersenyum, “Wahh mbak, sekali lagi saya minta maaf lo udah nubruk mbak, habisnya saya tadi buru-buru. Ini lo, saya mau ngirim surat ini buat orangtua saya di kampung.” terangnya menunjukkan sebuah surat. “Surat?” tiba-tiba Halwa teringat surat yang dititipkan Farhan melalui teman-temannya. “Saya duluan ya mbak.” mahasiswi itu pun pergi. Halwa bergegas mengambil ransel yang ia taruh di dalam loker perpustakaan, “Ya Allah, dimana suratnya? Farhan, maafkan aku.” Halwa terus mengobrak-abrik seluruh isi ranselnya, namun ia tetap tidak menemukan surat itu. Sedetik kemudian ia terdiam, pikirannya mulai mengingat-ingat dimana terakhir ia melihat surat itu, “Kursi taman! Iya, kursi taman!” ujarnya seakan mendapat secercah harapan. Halwa berlari menuju kursi taman yang tadi sempat ia duduki, matanya mulai mencari ke sekitar kursi. “Ya Allah, pertemukan aku dengan surat itu ya Allah.” lirihnya. Satu jam telah berlalu, namun surat itu tak juga ditemukan. Halwa terdiam, airmatanya mengalir tanpa ia sadari. Ia pun menyerah dan memilih untuk pulang. Di sisi lain, Farhan terlihat begitu sedih, ia termenung seolah tidak bernyawa. Sore itu, tanpa sengaja ia menemukan surat yang ia tulis untuk Halwa tergeletak di bawah kursi taman, sesaat sebelum Halwa mencari surat itu, ia telah menemukannya lebih dulu. “Ya Allah, aku salah. Sepertinya Halwa tidak akan menerima pinanganku.” lirihnya seraya memasukkan surat itu kedalam laci meja belajarnya. Pikiran Farhan dibuyarkan oleh suara ketukan pintu, “Nak, makan dulu, makan malamnya sudah siap tuh.” kata seorang ibu yang tak lain adalah Ibu Raihana, ibunya Farhan. “Iya mi, sebentar lagi Farhan kesana.” jawabnya tak bersemangat. Farhan berjalan gontai menuju meja makan, sedang abi dan uminya sudah lebih dulu berada disana. “Bagaimana kuliahmu?” Abi Farhan membuka pembicaraan, “Baik-baik saja kok bi.” jawabnya lesu. “Terus, rencana pinanganmu ke Halwa gimana?” tanya uminya, Farhan menghela nafas. “Sepertinya Halwa tidak menyukai Farhan mi.” lirihnya pedih. Orangtuanya pun saling pandang, sedetik kemudian mereka tertawa geli. “Ohhhh, patah hati nih ceritanya.” goda uminya. “Darimana kamu tau Han, kalau Halwa tidak menyukaimu?” tanya abinya, “Surat pinangan yang Farhan tulis untuknya, dibuang begitu saja.” terang Farhan. Abinya tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, ya ampun nak.. nak.. meminang kok via surat, enggak gentle!” ujar Beliau. Farhan menatap abinya dengan penuh harap, “Lalu Farhan harus bagaimana bi?” tanyanya. Abi memandang ke arah umi, “Tenanglah, ibunya Halwa kan teman umimu, nanti kita coba atur waktu biar kamu bisa meminang Halwa langsung ke rumahnya. Demi putra Abi, Abi rela deh cuti kerja.” Abi Farhan menepuk-nepuk pundak putranya. Farhan tersenyum, ia begitu bangga memiliki orangtua seperti mereka. “Duh umi sampai lupa memanggil Nurmala, bisa-bisa dia enggak makan nanti.” potong uminya seraya memanggil Nurmala keluar kamar. Nurmala menuju meja makan, ia duduk disebelah Farhan. “Nur, ada berita gembira, nanti abangmu ini mau meminang seorang gadis lo.” ujar umi sumringah, “bener tuh Bang? Siapa? Kok Nur enggak tau?” Nurmala menatap abangnya penuh selidik, Farhan tersenyum “Ah kamu ini dik, kamu enggak perlu tau, belajar saja yang bener, oh iya, ngajimu diperbagus lagi ya!” Farhan mencubit pipi adik perempuannya. Mereka pun menyantap makan malam dengan lahap.
Besoknya, umi Farhan segera menghubungi orangtua Halwa, ibu Halwa sangat senang mendengar bahwa Farhan serius hendak meminang puterinya. Farhan memang sempat memberitahukan ini kepada ibunya Halwa, namun beliau tidak menduga akan secepat ini. “Jangan beritahu Halwa dulu ya mbak, biar jadi surprise gitu.”
“Ah tenang saja Na, Halwa belum tau kok. Tapi Aku bingung, sedari kemaren Halwa di kamar terus, keluar paling hanya pergi kuliah sama makan.”
“Masa sih mbak? Ada apa ya?”
“Tapi tenang, urusan Halwa biar Aku yang ngatur.” ibunya Halwa pun menutup pembicaraan ditelpon.
Halwa memandangi langit dari balik jendela kamarnya, pikirannya menerawang jauh memikirkan surat dari Farhan yang hilang tanpa sempat ia baca. Ia mengambil ponselnya, dan membuka kontak Farhan. “Haruskah aku memberitahu Farhan, kalau aku menghilangkan surat darinya?” gumamnya. “Ah, tidak perlu, toh kalau itu penting kenapa harus lewat surat?” Halwa menaruh ponselnya lagi. Sesaat kemudian ibunya masuk ke dalam kamar Halwa, menarik lengannya dan memintanya duduk di depan cermin. “Wa, sini sebentar, hari ini kita ada acara, kamu dandan yang cantik ya. Emmm pakai ini, Mama sudah belikan kamu kerudung baru warna kesukaanmu. Nanti kalau Mama panggil keluar, kamu segera keluar ya!” pinta Ibunya tiba-tiba. “Lhoh, acara apa Ma? Kok mendadak gini?” kening Halwa mengkerut, ia sedikit bingung. “Nanti Mama jelaskan setelah acara saja ya, waktunya enggak banyak.” ujar ibunya seraya menutup pintu kamar. Halwa masih tertegun, baru kali ini ibunya membuat acara tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Meski begitu, ia tetap menjalankan perintah ibunya. Farhan dan keluarga pun tiba di rumah Halwa, orangtua Halwa dan seluruh keluarga menyambut dengan senang. Jantung Farhan seakan keluar dari tempatnya, ia gusar dan gelisah, ia begitu takut jika nanti Halwa benar-benar menolak pinangannya. Di sisi lain kedua keluarga masih bercengkrama. Farhan mencoba menenangkan dirinya, tiba-tiba terasa lembut tangan seseorang menepuk pundaknya “Tenanglah nak, Halwa ada di kamarnya kok.” ayah Halwa tersenyum. “Eh iya Om, hehehe.” Farhan tersipu malu. Tibalah saatnya Halwa keluar kamar, ibunya memanggilnya keluar. Tanpa curiga, Halwa pun keluar dengan pakaian yang sudah disiapkan ibunya, ia tercengang melihat keluarganya dan keluarga Farhan tengah berkumpul. Pandangannya pun terhenti pada sosok Nurmala, “Kenapa Nurmala juga ada di sini?” batinnya. “Ayo Wa, duduk sini!” pinta ibunya. “Em iya ma.” Halwa pun duduk di samping ibunya. Acarapun dimulai, Farhan menarik nafas dan mulai menyampaikan i’tikad baiknya. “Halwa, aku minta maaf sebelumnya jika hari ini aku datang ke rumahmu secara tiba-tiba tanpa sepengetahuanmu.” Deg!!! jantung Halwa berdetak tak karuan, begitu pula dengan Farhan, keringat dingin mengucur perlahan dari keningnya. “Hari ini, dengan bismillah dan dengan mengharap Ridho Allah, aku ingin menghalalkan hubungan kita. Bismillah, hari ini, di depan seluruh keluarga kita, aku ingin meminangmu menjadi istriku, maukah kamu menerima pinanganku ini?” terang Farhan. Halwa yang sedari tadi menunduk terkesiap, ia mencoba memberanikan diri menatap Farhan. “Kamu serius? Bagaimana dengan Nurmala?” ucap Halwa. Farhan dan Nurmala saling berpandangan tak mengerti. “Memangnya, ada apa dengan Nurmala?” Farhan masih belum mengerti, “Bukankah kamu menyukai Nurmala?” Halwa memberanikan diri, tiba-tiba seluruh keluarga tertawa geli. “Wahh mbak ini bagaimana sih, masa Abang Farhan suka sama adiknya sendiri.” celetuk Nurmala. Halwa tertunduk malu, ia tidak menyangka bahwa Nurmala adalah adik perempuannya Farhan. Farhan pun ikut tertawa, “Wa, Nurmala itu adikku, Ia memang dekat denganku. Bukan Cuma kamu kok yang mengira kami itu pacaran.” jelas Farhan. Tiba-tiba Halwa teringat dengan surat dari Farhan, “Oh iya, surat! Surat dari kamu belum sempat kubaca. Suratnya hilang entah kemana, aku sudah coba cari tapi enggak ketemu.” Desis Halwa. Farhan tersenyum, dalam hati ia bersyukur Halwa tidak membuang suratnya, tetapi menghilangkannya. Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya, “Maksudmu, surat ini Wa?” tanyanya seraya menunjukkan sebuah surat. Halwa terkejut, “Iya, surat itu, dimana kamu menemukannya?” lagi-lagi Farhan tersenyum, “Di bawah kursi taman perpustakaan, aku pikir kamu sengaja membuangnya karena kamu menolak pinanganku hehe.”
“Jadi surat itu...”
“Wahhh kok jadi dramatis begini sih, pinangannya jadi diterima atau enggak nih...” potong Nurmala sembari melirik Farhan dan Halwa. Halwa semakin tersipu malu, seketika suasana pun kembali menjadi tegang, Halwa menghela nafas, dengan mengucap basmalah ia pun mengangguk pelan. “Alhamdulillah......” sontak semuanya mengucap hamdalah. Tanpa membuang waktu,  tanggal pernikahan pun ditentukan. Kedua keluarga sepakat menggelar acara pernikahan secara sederhana minggu depan, kemudian dilanjutkan dengan resepsi yang sederhana pula. Dengan cepat undangan tersebar di seluruh kampus, Wildan sangat senang menerima undangan dari sahabatnya, begitu pula dengan Arum dan Elliz. Halwa juga tak lupa mengundang Ustadzah Fatimah beserta keluarga. 
 
Seminggu kemudian, acarapun digelar begitu khidmat. Akad terucap hanya dengan sekali tarikkan nafas. Doa pun dipanjatkan. Acara berlanjut pada resepsi, tamu berdatangan silih berganti, dari teman lama hingga teman baru, dari tetangga hingga kerabat jauh, dari Guru-guru hingga Dosen-dosen. Tak terasa semua acara pun selesai. Farhan menatap wajah Halwa yang kini telah sah menjadi istrinya, Halwa pun membalas tatapan suaminya dengan rona wajah bahagia. Kini, Allah telah menjawab segala kekhawatirannya. Farhan telah sah menjadi pendamping hidupnya. Harapan ibunya pun kini telah terwujud menjadi suatu kenyataan. Wallahu a’la kulli syai’in qodir.
END