JODOH HALWA, HARAPAN MAMA
Halwa membuka pintu
kamarnya, kamar yang kini penuh dengan hiasan dan renda-renda berwarna ungu.
Tempat tidurnya pun penuh dengan taburan bunga-bunga yang indah nan harum
semerbak. sejenak ia tertegun, seakan tak percaya. Dipandanginya seisi kamar
itu, sedetik kemudian pandangannya pun terhenti di satu titik. Seorang pemuda
kini tengah duduk di tepi ranjangnya, senyumnya mengembang. Pemuda itu
membalas senyum manisnya, seakan mengisyaratkan untuk memintanya masuk.
Farhan, pemuda itu kini telah sah menjadi teman hidup Halwa. Halwa tersenyum,
tiba-tiba ia teringat akan harapan ibunya, harapan yang kini telah berhasil
ia wujudkan. Pikirnya pun kembali ke masa silam,
“Andai saja, Farhan
yang akan menjadi menantu Mama.”
Kalimat itu tiada
bosan-bosannya menghantui benak Halwa, ia tak habis pikir, bagaimana mungkin
ibunya mengharapkan Farhan yang akan menjadi pendamping hidupnya, meskipun
tak bisa dipungkiri ia pun mengharapkan hal yang sama. Farhan, satu-satunya
pemuda yang mampu meluluhkan hati ibunya, pemuda sederhana dan santun itu.
“Oh Rabbi, bagaimana bisa aku mewujudkan harapan mama, sementara aku tau,
Farhan telah memiliki seseorang yang dicintainya.” Lirihnya.
“Wa! Dimakan dong
baksonya, jangan cuma diaduk-aduk gitu!” tegur Arum membuyarkan l
amunan Halwa. “Hah,
eh. makan ya? Iya ini dimakan kok. hehehe” jawab Halwa sekenanya.
“What happen with You?
You look a bit strange today!” tambah Elliz
“Ah enggak ada apa-apa
kok, aku baik-baik saja.”
“Pasti ada sesuatu!”
tebak Arum
“Aha! I know! Kamu
pasti lagi mikirin Farhan, hayoo ngaku!”
Halwa masih saja
terdiam, “Hey wa, udahan dong mikirin Farhannya! Kan kemaren udah dijelasin
sama Ustadzah Fatimah, enggak boleh tuh mikirin yang bukan mahram.” terang
Arum. Halwa menghela nafas, “Aku sudah mencoba menjauh Rum, tapi sepertinya
Allah berkehendak lain.” Arum dan Elliz saling berpandangan, “Maksudnya?”
tanya mereka berbarengan. Halwa pun menceritakan tentang harapan ibunya akan
Farhan kepada teman-temannya itu. Tepat pada hari pertama kali ibunya
mengenal Farhan. Waktu itu, Halwa tengah asyik membaca novel kesukaannya,
sekedar menghibur hati yang tengah kusut karena masalah cinta. Melupakan,
itulah tujuan utamanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan salam
yang sudah familiar bagi Halwa, “Mama, wa’alaikumsalam.” ujarnya seraya
setengah berlari untuk membuka pintu. “Wa, bantu Mama angkatin barang
belanjaan di depan ya. Itu sama paman becak.” Pinta ibunya lembut. “Oke!”
Halwa bergegas menuju becak yang tadi ditumpangi ibunya, diangkatnya satu per
satu barang belanjaan itu, yang juga dibantu oleh paman becak tentunya. Halwa
mngikuti ibunya menuju dapur, sebagai satu-satunya anak perempuan yang belum
menikah, ia sadar akan kewajiban membantu ibunya. “Wa, kamu kenal Farhan?”
tanya Ibunya. Halwa tersentak, hampir saja pisau dapur yang ia pegang sedari
tadi mengiris jarinya. “Farhan? Farhan siapa Ma?” Halwa mencoba tetap tenang.
“Itu lho Farhan,
katanya dia satu sekolah sama kamu.”
“Kok Mama kenal sama
Farhan? Kenal di mana?”
“Tadi itu di pasar,
Mama ketemu teman lama Mama. Tante Raihana itu lho, ingat enggak?” ujar
ibunya. “Terus?” Halwa tidak memperdulikan siapa itu Tante Raihana, yang ia
pikirkan adalah bagaimana ibunya bisa mengenal Farhan. “Farhan itu putranya
Tante Raihana sayang! Teman Mama, sudah lama kami tidak bertemu. Eh ternyata
dia tinggal enggak terlalu jauh dari sini. Dan Mama enggak nyangka ternyata
dia punya putra seusiamu. Ajaibnya lagi, kalian satu kampus. Wahhh memang
jodoh takkan kemana.” Heboh Ibunya Halwa sumringah. Halwa terbelalak, ia diam
seribu bahasa. Seakan tak percaya, Farhan yang tadinya adalah cinta
pertamanya, dan yang diam-diam sudah melukai hatinya. Sosok yang selalu ingin
ia lupakan, ternyata adalah putra dari teman ibunya. “Oh Tuhan, cobaan
apalagi ini! Aku ingin melupakannya, aku ingin menjauh darinya, tapi mengapa
ini harus terjadi?” Gerutu Halwa dalam hatinya.
Sore itu berlalu
dengan cepat, namun hati Halwa terasa tidak karuan, ada rasa senang namun ada
pula rasa tak percaya. Dunia tak selebar daun kelor, pepatah itu membuatnya
menghela nafas panjang.
Sejauh apapun aku
berlari
Mengapa tujuanku tak
jua kunjung berganti
Tulisnya dalam diary
kecil yang selalu setia menjadi tempat curahan hatinya.
Arum dan Elliz
mendengarkan dengan seksama,
“Kejadian itu
membuatku tak bisa tidur, aku merasa kamarku begitu sesak. Aku
bertanya-tanya, apakah ini petunjuk dan jawaban dari doa-doaku? Atau hanya
sebuah ujian atas niatku untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya?” lirih
Halwa pada teman-temannya.
“Ooh dear, don’t be
sad! Bisa jadi itu memang petunjuk dari Allah atas doa-doamu. Keep positive
thinking OK!” ujar Elliz mencoba menenangkan.
“Lalu, setelah itu apa
yang terjadi?” tanya Arum
Halwa pun melanjutkan
ceritanya, “Sehari setelah pertemuan Tante Raihana dan Mama di pasar, mereka
semakin sering berkomunikasi. Mama sering berkunjung ke rumah Tante Raihana,
tentu saja di sana Mama juga bertemu dengan Farhan. Mama semakin menyenangi
Farhan, bahkan Mama berharap Farhanlah yang akan menjadi pendampingku.”
cerita Halwa membuat airmatanya ikut mengembang, mengalir tanpa ia sadari.
“Bagaimana bisa aku mewujudkan harapan itu Liz, Rum. Itu tidak mungkin.
Kalian tau kan, Farhan mencintai wanita lain.” Tambahnya sesenggukkan.
Arum dan Elliz pun
memeluk Halwa, mereka mencoba menenangkan Halwa yang terus saja menangis.
“Sudahlah Wa, jangan menangis. Kalau kamu seperti ini kami jadi ikut sedih.”
Arum menghapus airmata Halwa. “Hmmm tenangkan dirimu Wa, nanti kapan-kapan
kita ke rumah Ustadzah Fatimah saja. Siapa tau beliau bisa memberi saran
untuk masalahmu yang satu ini.” saran Elliz membuat Halwa sedikit mendapat
harapan. “Ya sudah, hari sudah mulai sore, yuk kita pulang!” ajak Arum.
***
Sesampainya di rumah,
Halwa menghampiri ibunya yang tengah asyik membaca majalah di teras. Seperti
biasa, ia mengucap salam, diciumnya punggung telapak tangan ibunya yang
lembut. “Gimana Wa, apa kata Farhan? Salam dari Mama sudah disampaikan
belum?” tanya ibunya. “Enggak Ma, tadi Halwa enggak ketemu sama Farhan di
kampus.” jawab Halwa lesu. Halwa segera menuju kamar. Entah kenapa belakangan
ini ia mudah merasa lelah. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, gema adzan
tanda waktu salat ashar pun mulai terdengar. Halwa bangkit dari tidurnya, dan
segera melaksanakan salat. Dulu, Halwa adalah seorang anak yang pemalas jika
ditanya tentang salat, bukan hanya sering menunda, salatnya pun selalu
bolong-bolong. Tapi semenjak mengenal Farhan, ia mulai mengerti banyak hal tentang
Agama, Farhanlah yang membuatnya tertarik untuk belajar Agama. Ia tak pernah
menggurui, namun lebih sering mencontohkan. Rasa inilah yang semakin lama
membuat Halwa semakin mengagumi sosok Farhan. Seorang aktivis dakwah kampus,
yang selalu ramah kepada semua orang di sekitarnya, tak terkecuali dengan
Halwa.
***
Malam terasa begitu
sunyi, Halwa sengaja mematikan ponselnya agar ia dapat fokus mengerjakan
tugas-tugas kampus yang kian membludak. Karena biasanya, teman-teman sering
menghubunginya hanya untuk sekedar curhat atau berbagi kesedihan. Mata Halwa
kian terasa berat, rasa kantuk mulai menyerangnya. “Huft, cukup sudah, aku
sudah letih.” gumamnya seraya mematikan laptop dan merapihan semua buku-buku
yang berserakan. Halwa menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, dan segera
merebahkan diri di atas kasur empuknya. Selepas membaca doa, ia pun terlelap.
Tepat pukul dua pagi, alarm yang sengaja dipasang oleh Halwa pun berbunyi.
Halwa terbangun dari tidurnya, ia segera bangkit dan mematikan alarm. “Alhamdulillah,
Allah masih memberikanku kesempatan untuk membuka mata.” ucapnya. Tanpa pikir
panjang, Halwa pun segera menuju kamar mandi, setelah sedikit membersihkan
badan, ia pun mengambil air wudhu. Mendirikan salat tahajjud, menjadi sebuah
aktivitas yang kini ia tekuni. Halwa bukanlah gadis yang pandai dalam hal
Agama, tapi ia begitu ingin belajar dan memperdalamnya. Semenjak Halwa
memilih untuk menjauhi Farhan, ia sering bertanya kepada Ustadzah Fatimah,
seorang Dosen muda yang selalu setia menjadi tempat Halwa dan teman-temannya
berkonsultasi. Halwa senantiasa mengingat pesan beliau, “Tiada yang tidak
mungkin jika Allah menghendaki, yakinlah, jika ia memang jodohmu, dengan
siapapun dia sekarang, sejauh apapun dia, sebenci apapun dia padamu, maka
Allah lah yang akan mendekatkannya kepadamu. Iradatullah fauqa kulli
iradah anakku, kehendak Allah berada di atas segala kehendak. Mintalah
kepada-Nya. Tapi, satu hal yang kamu harus tau, tiada hak jika tiada
kewajiban. Jalankan kewajibanmu terlebih dahulu, niscaya apa yang kamu pinta
dikabulkan. Percayalah.”
Halwa menggelar
sajadahnya, niat ia lafadzkan begitu pula di dalam hati, ia mengangkat
takbir. Dua rakaat ia jalankan dengan begitu khusyuk, ia merasakan sesuatu
yang sejuk masuk kedalam jiwanya. “Rabbi, inikah nikmat salat tahajjud.”
Tanpa sadar airmata pun mengalir melewati kedua sudut matanya, kian lama kian
deras, tepat disaat sujudnya, Halwa merintih kepada-Nya. “Wahai Rabbi, aku
menghadap-Mu dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan. Sungguh aku
hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya jika tanpa karunia, rahmat,
hidayah dan pertolongan-Mu. Engkau yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu,
Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkau yang Maha Pengampun,
lagi Maha Bijaksana. Aku bersujud pada-Mu Ya Rabb, memohon ampunan atas
segala dosaku, kelalaianku dan kelupaanku. Sungguh, aku hanyalah makhluk yang
lemah, yang tak luput dari dosa. Tanpa sadar, aku sering mendzalimi diriku
sendiri dengan mencintainya yang tak mencintaiku. Membuang waktuku dengan mengharapkannya.
Sementara Engkau yang selalu melimpahkan kasih sayang dan cinta-Mu, begitu
sering ku abaikan. Ampuni aku Ya Rabbi, ampuni aku yang senantiasa membuang
airmata ini, bukan untuk menangisi dosa-dosaku, melainkan untuk menangisi
dirinya. Rabbi, kini aku berserah diri kepada-Mu, jauhkan aku dari cinta
makhluk yang menjauhkanku dari cinta-Mu, dan dekatkanlah aku kepada makhluk
yang mendekatkanku akan cinta-Mu. Aamiinn Ya Rabbal Alaminnn.” lirihnya.
Waktu masih menunjukkan pukul 03.25 WIB, Halwa mengambil Mushaf dari dalam
lemari kemudian membacanya hingga adzan subuh berkumandang.
***
Aneh, hati Halwa
berdegup begitu kencang tanpa ia tau apa penyebabnya. Ia mencoba menarik
nafas, lalu membuangnya perlahan, namun rasa itu kian menjadi-jadi. “Assalamu’alaikum
Halwa,” sapa seorang pemuda yang tiba-tiba ada di samping Halwa, “Eh Farhan,
wa wa’alaikumsalam.” jawab Halwa terbata-bata. Hati Halwa mulai tidak tenang,
ia merasa risih. Meski sudah biasa bertemu Farhan, tapi belakangan ini terasa
begitu aneh. Semenjak ia mendengar kabar kedekatan Farhan dengan Nurmala
seorang gadis yang berparas cantik dan seorang Qori’ah pula, berbeda
dengannya yang hanya seorang Mahasiswi biasa. “Wahh kerudung baru ya?
Cantik.” puji Farhan lengkap dengan senyumnya. “Ah, tapi tidak secantik dia.”
ucap Halwa setengah berbisik. “Kenapa Wa?” kening Farhan mengkerut. “Ah tidak
ada apa-apa kok, hehe. Oh iya, Farhan, aku duluan ya, hari ini aku harus
presentasi jadi harus buru-buru. Assalamu’alaikum.” Halwa mempercepat
langkahnya meninggalkan Farhan yang masih tertegun, “Aneh, tidak biasanya
Halwa seperti ini. Padahal ada yang ingin kusampaikan padanya. Yahh mungkin
lain kali.” gumamnya.
***
Beberapa bulan
berlalu, Farhan terus mencoba menghubungi dan mencoba menemui Halwa, namun
Halwa selalu berhasil menghindar. Farhan mulai kebingungan, ada hal yang
benar-benar ingin ia sampaikan. “Mengapa Halwa terus menghindariku? Apa ada
yang salah?” pikirnya. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Farhan, “Lagi apa
bro?” sapanya. “Eh kamu Dan, kamu tidak lihat aku sedang apa?” jawab Farhan.
“Kalau dilihat sih lagi baca buku, tapi kalau dilihat lagi, seperti tengah
memikirkan sesuatu.” cibir pemuda yang bernama Wildan itu.
“Memangnya kamu tau
apa yang sedang aku pikirkan?”
“Akhwat ya!” tebak
Wildan. “Ah sembarangan kamu!” Farhan mengelak, “Hmmm sok ngelak, aku tau
kok, kamu sedang memikirkan Halwa, mahasiswi yang kamu taksir itu.” gumam
Wildan lagi. “Hahaha kamu memang selalu tau apa yang kupikirkan Dan.” Farhan
tertawa geli. Wildan mengambil sebuah buku, lalu duduk di sebelah Farhan.
“Aku ini sahabatmu, ya jelas dong aku tau. Wildan gitu loh hehehe. Emmm lalu,
apa yang membuatmu kepikiran bro?” tanyanya. “Yahh begitulah, belakangan ini
Halwa selalu menghindar dariku, aku sendiri enggak tau apa alasannya.
Perasaan, sebelumnya kami baik-baik saja.” keluh Farhan. “Tanyakan saja
kepadanya apa masalahnya? Beres kan.”
“Kenyataannya tidak
semudah itu, bagaimana aku bisa menanyakannya, dia selalu menghindariku.
SMS-ku tidak pernah dibalas, telpon? Apalagi. Padahal, ada yang ingin
kusampaikan padanya.” tambah Farhan.
“Memangnya apa yang
ingin kamu sampaikan?” Wildan penasaran.
“Ah kamu tidak perlu
tau, yang pasti ini adalah berita bahagia hmmmm.” Farhan tersenyum sendiri.
“Aku tau, pasti kamu
ingin menyatakan cinta. Iya kan? Ayo ngaku!” selidik Wildan
“Lebih dari sekedar
itu hehehe, aku sudah menyampaikan ini pada orangtuanya. Terutama pada
ibunya, beliau sangat senang, tapi beliau tetap memintaku bertanya pada
Halwa. Hmmm yahh sepertiyang kamu tau, semua keputusan ada padanya.” Terang
Farhan.
“Wahhh aku mengerti,
kamu ingin meminang Halwa Han?” Wildan sumringah. Wajah Farhan memerah,
senyumnya semakin mengembang. “Shyuuutttt, pelankan suaramu. Enggak lucu kan
kalau seluruh kampus tau.” Farhan menutup mulut Wildan, sedetik kemudian
keduanya tertawa senang. Tiba-tiba ekspresi Farhan berubah menjadi murung,
“Tapi sepertinya Halwa tidak menyukaiku.” lirihnya. “Hei bro, jangan pesimis
gitu dong. Aku yakin Halwa juga punya rasa yang sama. Kamu hanya belum punya
kesempatan untuk mengnyatakan niatmu itu.” nasehat Wildan. “Lalu menurutmu,
apa yang harus aku lakukan?” tanya Farhan. “Tulis saja sebuah surat, yahh
meskipun kata orang itu jadul setidaknya itu adalah usahamu. Dan, titipkan
saja sama salah satu temannya, emm Arum atau Elliz mungkin?” ujar Wildan.
“Ah, benar juga! Seharusnya aku lakukan itu dari dulu saja, ah kamu memang
sahabatku Dan! Terimakasih......!!!” ucapnya seraya mengambil secarik kertas
dan sebuah polpen, sejurus kemudian surat itupun selesai ia tulis. Wildan
tertegun melihat tingkah sahabatnya yang begitu semangat, Farhan bergegas
keluar kelas, matanya mencari-cari sosok seseorang. Ia melihat Elliz dan Arum
di depan mading, tanpa pikir panjang ia pun menghampiri mereka.
“Assalamu’alaikum ukhty.” sapanya sedikit ngos-ngosan. Elliz dan Arum
memandanginya heran, “Wa’alaikumsalam, ada apa Han? Kok ngos-ngosan gitu?”
ujar Arum. “Ini ukhty, maaf sebelumnya, aku ingin meminta tolong kepada
kalian.” jawabnya, “What should we do for you?” tanya Elliz. “Emm tolong
sampaikan surat ini pada Halwa, penting! Kalau bisa, sampaikan secepatnya,
pastikan dia membacanya segera. Please!!!” pinta Farhan penuh harap. Elliz
dan Arum saling berpandangan, meski sedikit bingung mereka pun
menyanggupinya. “Syukron ukhty, jangan lupa ya.” ucap Farhan lega, kemudian
ia pun kembali ke kelasnya. Elliz dan Arum segera menemui Halwa yang
kelihatan sibuk dengan laptopnya, “Wa, ini ada surat untukmu.” Arum
menyodorkan surat dari Farhan untuk Halwa. “Surat apa? Dari siapa?” tanya
Halwa. “From Farhan for You!” sahut Elliz. “Ouhh, taruh saja di situ, nanti
aku baca.” jawab Halwa fokus dengan tugasnya. “He said that You must read it
soon!” Elliz meyakinkan. “Ah tanggung Liz, bentar lagi juga selesai. Tenang
saja, pasti kubaca kok nanti.” ujar Halwa santai. “Ah terserah saja lah, yang
penting amanah sudah kami jalankan. Suratnya aku taruh di sini ya, jangan
lupa di baca.” Arum meletakkan surat di samping ransel Halwa, Halwa hanya
mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian, tugasnya pun selesai. Halwa bergegas
menutup laptopnya, dan memasukkan laptop dan semua bukunya ke dalam
ranselnya, tanpa sengaja surat dari Farhan terjatuh. Namun Halwa tak
menyadarinya, ia pun berlalu pergi. Halwa menaiki lantai dua perpustakaan
kampus, tanpa sengaja ia menabrak seorang mahasiswi yang sedang terburu-buru
hingga menjatuhkan semua buku yang mereka bawa. “Astaghfirullah, maaf ya
mbak, saya tadi jalannya enggak lihat-lihat.” ucapnya seraya merapihkan
buku-buku yang terjatuh. “Ah enggak usah minta maaf begitu, saya juga salah
kok mbak.” Halwa ikut merapihkan buku-bukunya. “Ini bukunya mbak kan?” tanya
mahasiswi itu, “Oh iya, ini juga punyanya mbak kan?” mereka pun saling
tersenyum, “Wahh mbak, sekali lagi saya minta maaf lo udah nubruk mbak,
habisnya saya tadi buru-buru. Ini lo, saya mau ngirim surat ini buat orangtua
saya di kampung.” terangnya menunjukkan sebuah surat. “Surat?” tiba-tiba
Halwa teringat surat yang dititipkan Farhan melalui teman-temannya. “Saya
duluan ya mbak.” mahasiswi itu pun pergi. Halwa bergegas mengambil ransel
yang ia taruh di dalam loker perpustakaan, “Ya Allah, dimana suratnya?
Farhan, maafkan aku.” Halwa terus mengobrak-abrik seluruh isi ranselnya,
namun ia tetap tidak menemukan surat itu. Sedetik kemudian ia terdiam,
pikirannya mulai mengingat-ingat dimana terakhir ia melihat surat itu, “Kursi
taman! Iya, kursi taman!” ujarnya seakan mendapat secercah harapan. Halwa
berlari menuju kursi taman yang tadi sempat ia duduki, matanya mulai mencari
ke sekitar kursi. “Ya Allah, pertemukan aku dengan surat itu ya Allah.”
lirihnya. Satu jam telah berlalu, namun surat itu tak juga ditemukan. Halwa
terdiam, airmatanya mengalir tanpa ia sadari. Ia pun menyerah dan memilih
untuk pulang. Di sisi lain, Farhan terlihat begitu sedih, ia termenung seolah
tidak bernyawa. Sore itu, tanpa sengaja ia menemukan surat yang ia tulis
untuk Halwa tergeletak di bawah kursi taman, sesaat sebelum Halwa mencari
surat itu, ia telah menemukannya lebih dulu. “Ya Allah, aku salah. Sepertinya
Halwa tidak akan menerima pinanganku.” lirihnya seraya memasukkan surat itu
kedalam laci meja belajarnya. Pikiran Farhan dibuyarkan oleh suara ketukan
pintu, “Nak, makan dulu, makan malamnya sudah siap tuh.” kata seorang ibu
yang tak lain adalah Ibu Raihana, ibunya Farhan. “Iya mi, sebentar lagi Farhan
kesana.” jawabnya tak bersemangat. Farhan berjalan gontai menuju meja makan,
sedang abi dan uminya sudah lebih dulu berada disana. “Bagaimana kuliahmu?”
Abi Farhan membuka pembicaraan, “Baik-baik saja kok bi.” jawabnya lesu.
“Terus, rencana pinanganmu ke Halwa gimana?” tanya uminya, Farhan menghela
nafas. “Sepertinya Halwa tidak menyukai Farhan mi.” lirihnya pedih.
Orangtuanya pun saling pandang, sedetik kemudian mereka tertawa geli. “Ohhhh,
patah hati nih ceritanya.” goda uminya. “Darimana kamu tau Han, kalau Halwa
tidak menyukaimu?” tanya abinya, “Surat pinangan yang Farhan tulis untuknya,
dibuang begitu saja.” terang Farhan. Abinya tertawa terbahak-bahak, “Hahaha,
ya ampun nak.. nak.. meminang kok via surat, enggak gentle!” ujar Beliau.
Farhan menatap abinya dengan penuh harap, “Lalu Farhan harus bagaimana bi?”
tanyanya. Abi memandang ke arah umi, “Tenanglah, ibunya Halwa kan teman
umimu, nanti kita coba atur waktu biar kamu bisa meminang Halwa langsung ke
rumahnya. Demi putra Abi, Abi rela deh cuti kerja.” Abi Farhan menepuk-nepuk
pundak putranya. Farhan tersenyum, ia begitu bangga memiliki orangtua seperti
mereka. “Duh umi sampai lupa memanggil Nurmala, bisa-bisa dia enggak makan
nanti.” potong uminya seraya memanggil Nurmala keluar kamar. Nurmala menuju
meja makan, ia duduk disebelah Farhan. “Nur, ada berita gembira, nanti
abangmu ini mau meminang seorang gadis lo.” ujar umi sumringah, “bener tuh
Bang? Siapa? Kok Nur enggak tau?” Nurmala menatap abangnya penuh selidik,
Farhan tersenyum “Ah kamu ini dik, kamu enggak perlu tau, belajar saja yang
bener, oh iya, ngajimu diperbagus lagi ya!” Farhan mencubit pipi adik
perempuannya. Mereka pun menyantap makan malam dengan lahap.
Besoknya, umi Farhan
segera menghubungi orangtua Halwa, ibu Halwa sangat senang mendengar bahwa
Farhan serius hendak meminang puterinya. Farhan memang sempat memberitahukan
ini kepada ibunya Halwa, namun beliau tidak menduga akan secepat ini. “Jangan
beritahu Halwa dulu ya mbak, biar jadi surprise gitu.”
“Ah tenang saja Na,
Halwa belum tau kok. Tapi Aku bingung, sedari kemaren Halwa di kamar terus,
keluar paling hanya pergi kuliah sama makan.”
“Masa sih mbak? Ada
apa ya?”
“Tapi tenang, urusan
Halwa biar Aku yang ngatur.” ibunya Halwa pun menutup pembicaraan ditelpon.
Halwa memandangi
langit dari balik jendela kamarnya, pikirannya menerawang jauh memikirkan
surat dari Farhan yang hilang tanpa sempat ia baca. Ia mengambil ponselnya,
dan membuka kontak Farhan. “Haruskah aku memberitahu Farhan, kalau aku
menghilangkan surat darinya?” gumamnya. “Ah, tidak perlu, toh kalau itu
penting kenapa harus lewat surat?” Halwa menaruh ponselnya lagi. Sesaat
kemudian ibunya masuk ke dalam kamar Halwa, menarik lengannya dan memintanya
duduk di depan cermin. “Wa, sini sebentar, hari ini kita ada acara, kamu
dandan yang cantik ya. Emmm pakai ini, Mama sudah belikan kamu kerudung baru
warna kesukaanmu. Nanti kalau Mama panggil keluar, kamu segera keluar ya!”
pinta Ibunya tiba-tiba. “Lhoh, acara apa Ma? Kok mendadak gini?” kening Halwa
mengkerut, ia sedikit bingung. “Nanti Mama jelaskan setelah acara saja ya,
waktunya enggak banyak.” ujar ibunya seraya menutup pintu kamar. Halwa masih
tertegun, baru kali ini ibunya membuat acara tanpa memberitahunya terlebih
dahulu. Meski begitu, ia tetap menjalankan perintah ibunya. Farhan dan
keluarga pun tiba di rumah Halwa, orangtua Halwa dan seluruh keluarga
menyambut dengan senang. Jantung Farhan seakan keluar dari tempatnya, ia
gusar dan gelisah, ia begitu takut jika nanti Halwa benar-benar menolak
pinangannya. Di sisi lain kedua keluarga masih bercengkrama. Farhan mencoba
menenangkan dirinya, tiba-tiba terasa lembut tangan seseorang menepuk
pundaknya “Tenanglah nak, Halwa ada di kamarnya kok.” ayah Halwa tersenyum.
“Eh iya Om, hehehe.” Farhan tersipu malu. Tibalah saatnya Halwa keluar kamar,
ibunya memanggilnya keluar. Tanpa curiga, Halwa pun keluar dengan pakaian
yang sudah disiapkan ibunya, ia tercengang melihat keluarganya dan keluarga
Farhan tengah berkumpul. Pandangannya pun terhenti pada sosok Nurmala,
“Kenapa Nurmala juga ada di sini?” batinnya. “Ayo Wa, duduk sini!” pinta
ibunya. “Em iya ma.” Halwa pun duduk di samping ibunya. Acarapun dimulai,
Farhan menarik nafas dan mulai menyampaikan i’tikad baiknya. “Halwa, aku
minta maaf sebelumnya jika hari ini aku datang ke rumahmu secara tiba-tiba
tanpa sepengetahuanmu.” Deg!!! jantung Halwa berdetak tak karuan, begitu pula
dengan Farhan, keringat dingin mengucur perlahan dari keningnya. “Hari ini,
dengan bismillah dan dengan mengharap Ridho Allah, aku ingin menghalalkan hubungan
kita. Bismillah, hari ini, di depan seluruh keluarga kita, aku ingin
meminangmu menjadi istriku, maukah kamu menerima pinanganku ini?” terang
Farhan. Halwa yang sedari tadi menunduk terkesiap, ia mencoba memberanikan
diri menatap Farhan. “Kamu serius? Bagaimana dengan Nurmala?” ucap Halwa.
Farhan dan Nurmala saling berpandangan tak mengerti. “Memangnya, ada apa
dengan Nurmala?” Farhan masih belum mengerti, “Bukankah kamu menyukai
Nurmala?” Halwa memberanikan diri, tiba-tiba seluruh keluarga tertawa geli.
“Wahh mbak ini bagaimana sih, masa Abang Farhan suka sama adiknya sendiri.”
celetuk Nurmala. Halwa tertunduk malu, ia tidak menyangka bahwa Nurmala
adalah adik perempuannya Farhan. Farhan pun ikut tertawa, “Wa, Nurmala itu
adikku, Ia memang dekat denganku. Bukan Cuma kamu kok yang mengira kami itu
pacaran.” jelas Farhan. Tiba-tiba Halwa teringat dengan surat dari Farhan,
“Oh iya, surat! Surat dari kamu belum sempat kubaca. Suratnya hilang entah
kemana, aku sudah coba cari tapi enggak ketemu.” Desis Halwa. Farhan
tersenyum, dalam hati ia bersyukur Halwa tidak membuang suratnya, tetapi
menghilangkannya. Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya,
“Maksudmu, surat ini Wa?” tanyanya seraya menunjukkan sebuah surat. Halwa
terkejut, “Iya, surat itu, dimana kamu menemukannya?” lagi-lagi Farhan
tersenyum, “Di bawah kursi taman perpustakaan, aku pikir kamu sengaja
membuangnya karena kamu menolak pinanganku hehe.”
“Wahhh kok jadi
dramatis begini sih, pinangannya jadi diterima atau enggak nih...” potong
Nurmala sembari melirik Farhan dan Halwa. Halwa semakin tersipu malu,
seketika suasana pun kembali menjadi tegang, Halwa menghela nafas, dengan
mengucap basmalah ia pun mengangguk pelan. “Alhamdulillah......” sontak
semuanya mengucap hamdalah. Tanpa membuang waktu, tanggal pernikahan
pun ditentukan. Kedua keluarga sepakat menggelar acara pernikahan secara
sederhana minggu depan, kemudian dilanjutkan dengan resepsi yang sederhana
pula. Dengan cepat undangan tersebar di seluruh kampus, Wildan sangat senang
menerima undangan dari sahabatnya, begitu pula dengan Arum dan Elliz. Halwa
juga tak lupa mengundang Ustadzah Fatimah beserta keluarga.
END
|
Selasa, 09 Juni 2015
Jodoh Halwa, Harapan Mama
Langganan:
Komentar (Atom)