Minggu, 10 Mei 2015

Yuk, Tinggalkan Organisasi


Yuk,
              Tinggalkan Organisasi

Akhir-akhir ini, Hannan sering melalaikan sholat yang diduga disebabkan sibuk berorganisasi, baik organisasi internal maupun eksternal kampus. “ Maka celakalah orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang melalaikan sholatnya. (QS. Al-Ma’uun : 4-5).  Namun syukur alhamdulillah, Hannan masih ingat bahwa sholat itu wajib sehingga walaupun diakhir waktu,  ia tetap mendirikan sholat. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 110).  Assholatu ‘imaduddin wa man aqamahaa faqad aqamaddin wa man hadamahaa faqad hadamaddin ( Sholat itu adalah tiangnya agama. Barangsiapa yang mendirikannya maka ia telah menegakkan agama dan barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah merobohkan agama). Di setiap sujud terakhir, ia berucap ihdinasshirathol mustaqim sebanyak tujuh kali, sebuah pengharapan semoga Allah akan menunjukkan dan membimbing dia ke jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Dia berikan anugerah bukan jalan orang-orang yang Dia murkai dan orang-orang yang sesat lagi menyesatkan.
Suatu hari ada teman sekelas Hannan bernama, “ Zahrah “ yang mengatakan kepadanya, “ Antum kini mulai berubah “. Perkataan tersebut dilontarkan sewaktu Zahrah hendak meminjam buku resep memasak chiken kepada teman sekelas juga, “ Hasan Bahri “ yang bekerja di Rocket Chiken. Jangan  San, nanti dicurinya resep Kalian, ucap Hannan dengan celetuknya. Namun perkataan Hannan tersebut berbeda di mata Zahrah. Terlalunya Antum, lirih Zahrah sambil menatap Hannan bagai tatapan mata elang.  San, Ana tidak seperti itu, Zahrah mencoba meyakinkan Hasan. Umaaaaa, Ana bercanda saja itu Zahrah, jangan diambil hati, ucap Hannan senada menyesal. Tiba-tiba Zahrah berucap, “  Antum kini mulai berubah “. Perkataan tersebut menjadi sebuah pertanyaan yang musykil bagi Hannan, apakah benar kini diri Ana telah berubah. Entahlah, ucapnya di dalam hati.
 Keesokan harinya – hari Jumat – Hannan penasaran apakah ia benar-benar telah berubah dan ia ingin bertanya kepada Zahrah agar mengetahui bagaimana penjelasannya. Ibu Dosen pun masuk ke kelas sedangkan kelompok yang ingin mempresentasikan makalahnya  membagikan fotokopi makalah kepada teman-teman. Setiap kelompok mendapatkan satu fotokopi makalah dan ternyata Hannan yang mendapatkan makalah tersebut dari kelompoknya. Hannan pun melihat Zahrah yang duduk tidak jauh darinya, cuma berjarak satu kursi dari tempat Hannan dan Zahrah. Ditulislah olehnya di sebuah fotokopi makalah Psikologi Dakwah yang ditulis dibelakangnya,
Ma ra,yuki, halil an ana thaghayyur ?,( Bagaimana pendapat Anti, apakah benar kini Ana berubah ?) tanya Hannan kepada Zahrah.
In kuntu shidqan, na’am ya akhi Hannan. La adri, maa ana ‘alimatu awwalam am dzalika yakunu tahobi’atan laka. (Jika boleh jujur, ya benar akhi Hannan. Entah, apakah Ana yang baru tahu ataukah hal tersebut sudah menjadi karakter Antum sendiri)  jawab Zahrah.
Shodiq, fi nahiyah, ata’ajjabu bi  hadza nafsii wa fi nahiyah, ana ghaibun wan fuqdaanun bi nafsii saabiqah. Kuntu saailan ilallahi ta’ala, hal ana aquumu fi shirathol mustaqim ?,( Jujur, di satu sisi Ana bangga dengan perubahan dengan diri Ana ini namun di sisi lain Ana kehilangan diri Ana yang dulu. Ana selalu bertanya kepada Allah Ta’ala, apakah Ana sedang berada di jalan yang lurus ?) balas Hannan dengan keterbukaan.
Oooh, katssirid du’a ilallahi ta’ala, ya akhi Hannan.  fil amsi amrun yafaza’unii hina andzuru fika, almumkin ana israfatun. (Oooh, banyak-banyak berdoa saja kepada Allah, ya akhi Hannan. Kemaren ada sesuatu hal yang membuat Ana kaget ketika melihat Antum) balas Zahrah dengan memberikan saran.
Ma nazhoati fil amsi ? (Apa yang telah Anti lihat kemaren) tanya Hannan kepada Zahrah
Yaah, anzhuru mal ladzi yugayyiru wa yakhtalifu fi sifatika. (Yaah, melihat sesuatu yang berbeda dari sifat Antum) jawab Zahrah.
Emmm.. Syukran Jazilan ‘ala ihtimamiki wa nashihatiki.Wa tawaashow bilhqqi wa tawaashow bisshobri.  (Emmm.. terimakasih banyak atas perhatian dan nasehat Anti. Dan saling menasehatilah dalam kebenaran dan kesabaran) balas Hannan.
Ma’asyukri, ya akhi Hannan. ( Sama-sama, ya akhi Hannan) jawab Zahrah.
Zahrah merasa sifat Hannan kini mulai berubah, Hannan menyadari itu dan ia teringat jika kemaren ia telah bercerita kepadanya tentang ketidakadilan di sebuah institusi pendidikan. Dia bercerita dengan wajah merah padam, marah besar dan berprasangka yang tidak-tidak terhadap oknum-oknum tertentu, padahal tidak ada bukti hanya sekedar prasangka. Itulah perubahan yang dialami oleh Hannan. Perubahan ini didorong oleh teman-teman satu organisasi dengannya. Betapa tidak, di dalam organisasi, ia diarahkan untuk berfikir radikal, kritis, dan fokus terhadap segala objek pembahasan. Istilah kerennya, Hannan telah terdoktritnisasi. Namun alangkah menyedihkannya,  perubahan ini mengimplikasikan ia lalai dalam salatnya, berimbas pada menggosip orang lain, dan menyangka yang tidak-tidak.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12). Setelah berbalas pesan lewat fotokopi makalah tersebut, mereka berdua kembali fokus menyimak penjelasan teman-teman yang sedang mempresentasikan makalah di depan kelas.

Sahabat seperjuangan di jalan Allah, sungguh tidak etis, jika organisasi dijadikan penyebab dalam melalaikan sholat. Semua itu tergantung kepada pribadi setiap individu. Organisasi perlu, namun sholat lebih perlu. Sholat harus menjadi prioritas, kebutuhan primer bukan kebutuhan sekunder ataupun tersier. Bahkan hendaknya seorang mahasiswa muslim mengggap sholat sebagai bentuk kesyukuran terhadap segala nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Atensi terhadap sholat inilah yang menjadi tolak ukur, apakah organisasi itu baik atau tidaknya bagi bangsa lebih-lebih agama. Ingatlah bahwa amal yang pertama kali akan dihisab adalah sholat di hari kiamat nanti. Jika proses penghisaban sholat itu mudah dan lancar maka penghisaban amal-amal yang lainnya pun juga akan mudah. Jika sebuah organisasi tak dapat mendorong untuk rajin sholat dan melaksanakan perintah Allah lainnya maka tinggalkanlah organisasi tersebut dan cari organisasi lain yang lebih baik lagi. Mencegah lebih baik daripada mengobati !. Namun jika anda adalah orang yang dapat mempengaruhi dan tak mudah dipengaruhi maka tetaplah berada di organisasi tersebut. Warnailah organisasi tersebut dengan warna-warni Islam  !.
Alangkah indahnya dalam berorganisasi yang memiliki ideologi sama, visi dan misi yang sama, gerakan kesatuan dan persatuan yang dibalut dengan nilai-nilai Islam. Islam mengajarkan setiap pemimpin harus mempunyai akuntabilitas dan jiwa yang disiplin, begitu pula dengan organisasi. Berarti jika demikian, seandainya kita sedang rapat kerja dalam organisasi ataupun dalam suatu seminar, workshop dan sebagainya maka stop dulu kegiatan tersebut ketika azan berkumandang, segera tegakkan sholat !. Setelah sholat, lanjutkanlah kembali kegiatan tersebut. Namun gagasan ini tentu akan menuai kontradiktif. Jangan heran jika ada yang mengatakan, “ tanggung,  lanjutkan rapatnya, setelah ini kita sholat juga “.  Okelah kita dianggap akuntabilitas dan disiplin dalam berorganisasi, namun dengan  kewajiban sholat kok tidak ?. Mana yang lebih penting, urusan akhirat ataukah urusan dunia ? “ Dan Sesungguhnya akhirat itu lebih utama  utama daripada dunia “ (QS. Adh-Dhuha : 4). Jika orangtua memanggil anaknya, sedangkan anaknya sedang sholat sunnah maka ia harus menjawab seruan orangtuanya dibandingkan melanjutkan sholatnya. Di sinilah letak begitu mulianya orangtua di mata Islam sehingga Allah berfirman, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra : 23 ). Kalau orangtua saja harus dijawab seruannya, apalagi seruan Dzat yang menciptakannya ?. Dua kali Dia memanggil kita, maka dua kali kita tak menghiraukan seruan-Nya ?. Pernahkah kita berfikir, jika Dia bisa kecewa dan marah ?  Manusia, jika berulang kali tidak dihiraukan seruannya maka ia akan kecewa., lalu bagaimana dengan Allah ?. Kami berlindung dari sifat-Mu yang al-Jabbar (Maha Perkasa) dan memohon dengan sifat-Mu ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang).
Dulu ketika Hannan tinggal di Ma’had al-Jamiah IAIN Palangka Raya, ia mempunyai teman yang bernama Muhammad Zaka. Teman-teman sering memanggilnya dengan sebutan “ Zaka “. Orangnya baik, sangat perhatian dengan waktu sholat dan selalu pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah, mengamalkan puasa senin kamis dan di waktu malamnya, ia mendirikan sholat tahajjud. Hannan begitu iri melihat ketekunannya dalam menghambakan diri kepada Sang Maha Pencipta. Sifat ghibthoh (iri hati) itu diperbolehkan dalam hal ibadah dan berkarya namun sifat hasad (dengki) tidaklah diperbolehkan. Sebab, ghibthoh mendorong seseorang untuk mengikuti dan berlomba-lomba secara sehat dan fair. Namun hasad akan mendorong seseorang untuk berusaha mengambil sesuatu yang dimiliki oleh orang lain untuk berpindah kepadanya atau menghilangkan dari orang tersebut.
Suatu hari, ada instruksi dari panitia penyelenggara praktek membaca Al-Qur’an (PMQ) untuk berkumpul di aula IAIN Palangka Raya dalam rangka menjelaskan prosedur dan  sistematika praktek membaca Al-Qur’an (PMQ). Para mahasiswa berbondong-bondong masuk ke dalam aula. Setelah duduk di kursi masing-masing, para mahasiswa lama menunggu, bertanya di dalam hati, “  kapan acaranya akan dimulai “. Sehingga semula pemandangan rapi dan tertib, kini berubah seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya.  Padahal jadwal acara dimulai sekitar jam 08 : 30 WIB sampai selesai namun ternyata acaranya dimulai sekitar jam 09 : 15 WIB. Yaaah, begitulah kebiasaan di Indonesia sudah tercipta budaya terlambat “ jam karet. Berbeda di luar negri, misal negara yang mempunyai julukan Negara Super Power, “ Amerika Serikat “,  yang mayoritasnya bukan orang Islam namun mereka sangat menghargai waktu dan hidup disiplin. Mereka menganggap time is money, sehingga sedetikpun bagi mereka itu tetap berharga dan harus digunakan sebaik-baiknya. Mereka telah benar-benar menjalankan nilai-nilai Islam. Sedangkan Negara Indonesia, mayoritasnya orang Islam namun minoritas yang  mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya. Bahkan Islam telah mempunyai motto dalam menghargai waktu yang tidak kalah dengan yang lainnya, alwaqtu kassayfi fain qhota’tahu wailla qhota’aka, wa nafsaka wa in lam tasygilha bilhaqqi wa illa syagholatka bil bathili (Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia).
Setelah penyampaian prosedur dan sistematika PMQ,  ada sesi tanya jawab yang memakan waktu lama sehingga azan pun berkumandang namun kegiatan tersebut tetap dilanjutkan. Hannan melihat Zaka berdiri dari kursinya dan berlari-lari kecil menuju pintu aula dengan berderai air mata. Hannan mengetahui bahwa dia kecewa karena mereka tidak menunda acara tersebut tapi mereka tetap melanjutkan acara tersebut dan mengabaikan seruan azan sholat,  padahal ini adalah kampus  Islam. Orang-orang yang berada di dalamnya pun adalah orang Islam namun anehnya sangat mudah untuk melalaikan ajaran Islam. Tidak bersedih dan tidak pula merasa rugi dan kehilangan.

Renungilah cerita berikut ini yang diambil dari kitab Irsyadul Ibad Ila Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari.  Diceritakan dari sebagian ulama salaf bahwa seseorang saudara laki-laki menguburkan saudara perempuannya. Terjatuhlah sekantong emas ke dalam kubursn sedangkan ia tidak menyadarinya sampai pulang. Kemudian ia teringat dan kembali ke kuburan saudara perempuannya tersebut. Ia menggali kembali sedangkan orang-orang sudah pergi. Tiba-tiba ia melihat di kuburan tersebut memancarkan api. Seketika ia mengembalikan tanah seperti semula dan kembali ke rumah ibunya dalam keadaan sedih dan menangis, lalu ia bertanya : “ Duhai ibu, berituahukanlah aku tentanh saudara perempuanku ? Apa yang telah ia lakukan ?.”  Ibunya pun balik bertanya  : “ Kenapa engkau bertanya tentang itu ?”. Ia berkata : “ Duhai ibuku, aku melihat kuburannya memancarkan api. Ibunya pun menangis dan menjawab : “ Duhai anakku, saudara perempuanmu itu selalu meremehkan dan menunda-nunda waktu sholat”. Nah, kejadian ini terhadap orang yang menunda-nunda waktu sholat maka bagaimana balasan orang yang tidak sholat ?.  Sahabat seperjuangan di jalan Allah, marilah kita meminta kepada Allah agar Dia menolong kita dalam memelihara sholat tepat pada waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah,  Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Renungilah cerita berikut ini yang diambil dari kitab Irsyadul Ibad Ila Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari.  Diceritakan dari sebagian ulama salaf bahwa seseorang saudara laki-laki menguburkan saudara perempuannya. Terjatuhlah sekantong emas ke dalam kubursn sedangkan ia tidak menyadarinya sampai pulang. Kemudian ia teringat dan kembali ke kuburan saudara perempuannya tersebut. Ia menggali kembali sedangkan orang-orang sudah pergi. Tiba-tiba ia melihat di kuburan tersebut memancarkan api. Seketika ia mengembalikan tanah seperti semula dan kembali ke rumah ibunya dalam keadaan sedih dan menangis, lalu ia bertanya : “ Duhai ibu, berituahukanlah aku tentanh saudara perempuanku ? Apa yang telah ia lakukan ?.”  Ibunya pun balik bertanya  : “ Kenapa engkau bertanya tentang itu ?”. Ia berkata : “ Duhai ibuku, aku melihat kuburannya memancarkan api. Ibunya pun menangis dan menjawab : “ Duhai anakku, saudara perempuanmu itu selalu meremehkan dan menunda-nunda waktu sholat”. Nah, kejadian ini terhadap orang yang menunda-nunda waktu sholat maka bagaimana balasan orang yang tidak sholat ?.  Sahabat seperjuangan di jalan Allah, marilah kita meminta kepada Allah agar Dia menolong kita dalam memelihara sholat tepat pada waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah,  Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.