Sabtu, 11 April 2015

Mencontek bagian dari kekufuran




Mencontek Bagian Dari Kekufuran

 
K
etika mentari menyambut pagi, burung-burung pun bernyanyi bersukaria melihat alam kembali terang berseri. Udara yang bersih nan sejuk, membuat setiap makhluk hidup bernafas lega,  pepohonan  dan rerumputan di sekitar jalan , menambah kesejukan setiap mata yang memandang. Hannan sudah siap menjalani aktivitas di hari itu. Sesampainya di kampus, ia bertemu dengan teman-temannya tengah duduk di tempat duduk berbentuk bundar, yang di tengahnya ada pohon yang rindang. Hannan pun bertanya kepada salah satu temannya yang bernama “ Denia “. Nia, apakah hari ini pak Harist tidak masuk ?, tanya Hannan. Nah, maaf, ana kurang tahu, jawab Denia. Ooo…bulat, he he., ucap Hannan dengan celetuknya.
Menunggu memang membosankan. Bahkan menunggu akan sangat membosankan jika tidak ada yang bisa dilakukan. Yaaah, hari ini tidak belajar  mata kuliah “ Menulis Ilmiah Populer “, gumam Hannan di dalam hati. Hannan pun berinisiatif untuk  membaca Al-Qur’an untuk mengisi waktunya. Di ambillah Al-Qur’an dari tasnya. Ia membaca dengan suara sirr di mulai dari surah Ibrahim. A’udzubillahi minasyaithonir rajim, Bismillahirrahmanirrahim, Ya ayyuhal ladzi aamanuu aufuu bil ‘uqud…., sampai ayat  yang ketujuh, ia berhenti dan ayat tersebut benar-benar membuatnya teringat tentang budaya mencontek.  Wa idz taadzzana rabbukum lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi la syadiid (QS. Ibrahim : 7). Ia bergumam di dalam hati : Kenapa segala nikmat yang telah diberikan Allah, kita tidak bisa menggunakannya dengan baik. Ya, mencontek itu bagian dari kufur nikmat. Seharusnya nikmat otak itu digunakan untuk belajar sebagai persiapan ujian bukan untuk mencari cara mencontek agar tidak  ketahuan  dosen. Fabi ayyi aalai rabbikumaa tukadzzibaan ! (Nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan !). Ya Allah, kenapa mahasiswa yang di katakan “ anak terpelajar “  bisa melakukan hal yang tidak sesuai dengan predikat tersebut. Kenapa dosen yang bertugas mencerdaskan anak bangsa tega membiarkan kebiasaan mencontek tersebut, padahal dosen tersebut mengetahuinya namun kenapakah tidak ada tindakan selanjutnya. Seharusnya, ada tindakan yang tegas dari dosen ataupun institusi  pendidikan dalam meminimalisir tindakan mencontek. Misalnya, jika ada yang mencontek di dalam uiian, padahal tidak ada perjanjian membuka buku, internet, ataupun berdiskusi dengan teman maka dia akan di berikan sanksi harus mengulang mata kuliah tersebut di semester selanjutnya. Begitu seharusnya !. Kenapa mencontek seolah-olah menjadi budaya yang lumrah di lembaga pendidikan. Tidak sadarkah bahwa sikap dosen yang seperti itu sama saja menghancurkan anak bangsa secara perlahana-lahan.
Pertanyaan demi pertanyaan terbersit di dalam hati Hannan. Duuh…., dimanakah kepribadian seorang muslim yang bertawakkal, menjunjung nilai kejujuran, mengedepankan kebenaran. Dimanakah ?... Dimanakah ?... Dimanakah ?.... Umat Islam secara kuantitas sangatlah banyak namun secara kualitas semakin hari semakin menurun. Terus, apa yang bisa di banggakan dari muslim yang hanya bisa mencontek. Tidak ada !. Sama sekali tidak ada !. Di dalam hati dan pikiran Hannan bersatu padu, pertanyaan yang terbersit semakin banyak, sehingga ia tidak bisa menampungnya lagi. Seakan-akan semua pertanyaan tersebut seperti bom yang akan meledak. Ya Allah…… sekarang saatnya membangunkan the sleeping of giant !!!!!. Secara spontanitas, Hannan berteriak sekeras-kerasnya. Terkejutlah teman-teman di sekelilingnya. Hannan, kenapa antum ? tanya salah satu temannya yang bernama Anto. Naaah Hannan ini kayaknya habis obat, ucap Maja. Oyy Madara, cepat berikan obat si Hannan tuh !, sambung Feby. Semuanya tertawa terbahak-bahak dan Hannan pun tersipu malu. Namun tidak beberapa lama, suasana lucu tersebut berubah dan mereka pun bubar karena pak Harist telah datang. Hannan berkata : Hayyana bina ilal fashli, hayya.. hayya.. !.  Teman-teman lainnya berkata serentak : Hayya bina !.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, seperti yang sudah kita ketahui bahwa mencontek merupakan salah satu budaya yang telah dianggap lumrah. Ironisnya, fenomena ini bahkan selalu muncul menyertai aktifitas belajar mengajar sehari-hari. Mencontek seperti telah menjadi kebiasaan para siswa, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga tingkat perguruan tinggi.
Dengan mendapatkan prestasi yang gemilang, seseorang akan dikatakan sebagai siswa yang berhasil dalam menuntut ilmu dan juga akan dicap sebagai sumber daya yang layak dan berkualitas. Namun, di jaman serba instan seperti sekarang ini, banyak siswa yang meraih prestasi gemilang dengan usaha yang negatif, salah satunya dengan mencontek.
Cheating (mencontek) bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure (dibawah tekanan), atau apabila dorongan dan harapan untuk berprestasi jauh lebih besar daripada potensi yang dimiliki. Tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, seperti teori kriminal bahwa kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan kesempatan. Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa diberbagai jenjang pendidikan, hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian.  Padahal, nilai bukanlah hal mutlak untuk mencapai keberhasilan. Yang terpenting adalah proses, bukan hasil. Hasil hanya suatu penghargaan atas usaha ataupun pembelajaran yang telah kita lakukan. Dalam proses belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, apa yang dibanggakan jika hasil ujian adalah berasal dari usaha menyontek. Selama ini kita hanya fokus mencari nilai. Padahal nilai bukanlah segalanya dan bukan pula sesuatu yang paling utama. Untuk apa berambisi mendaparkan nilai tinggi jika melupakan yang namanya “ barokah “. Istilah barokah menurut agama ialah “ bertambah-tambahnya kebaikan dari sebuah kebaikan “. Apakah perbuatan mencontek itu akan menambah kebaikan ? Tidak, bahkan akan menambah keburukan di atas keburukan dan merusak kebaikan yang sudah ada.
Terkadang jika teman yang meminta contekan, kita merasa tidak nyaman karena memandang dia sebagai sahabat, jadi mau tidak mau, harus memberikan contekan demi seorang sahabat.  Namun yang menjadi persoalannya, apakah hal tersebut dibenarkan ?. Yakinlah sahabat, bahwa tidak dibenarkan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. “… Dan hendalaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan… “. (QS. Al-Maidah : 2  ). Seharusnya kita mengintrospeksi diri jika teman tidak mau memberikan contekan kepada kita karena teman sudah berusaha keras menjawab soal dengan belajar di rumah. Apa itu sebanding dengan kegiatan kita yang bermalas-malasan di rumah?
Ada pula yang mengatakan bahwa perbuatan mencontek itu adalah relatif. Yakni tidak selalu bernilai negatif.  Asumsi tersebut sah-sah saja dalam mengemukakan pendapat. Namun, jangan-jangan dia mengatakan hal tersebut karena sebagai pembelaan diri. Wallau a’lam. Sedangkan menurut hemat ulun, mencontek sama saja seperti mencuri. Karena dia telah mengambil hasil jerih payah orang lain atau jika dia mencari sendiri dengan membawa catatan ataupun membuka internet diHp maka itu sama saja menzholimi teman yang telah belajar di rumah, mengkhianati kepercayaan dosen, dan bahkan ia telah tidak melaksanakan yang namanya “ JURDIL “ Jujur dan Adil. “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka potonglah tangan keduanya sebagai balasan bagi perbuatan yang telah dilakukannya “. (QS.  Al-Maidah : 38 ).
Masih ingatkah buhan pian tentang cerita Sunan Kalijaga dalam pencarian jati dirinya. Yah, sedikit lupa ! Baiklah ulun akan menceritakannya kembali. Sunan Kalijaga yang mempunyai nama di waktu kecil yaitu “ Joko Said “. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya. Pembangkangan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.
Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau menetap di sebuah hutan Jatiwangi. Dan di hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Sunan Bonang. Selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin. Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat. Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur. Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan  ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.
Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.
"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan maka benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.

Berandal Lokajaya Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Lokajaya yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Lokajaya.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Lokajaya.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.
"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Lokajaya.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh itu perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Lokajaya.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Lokajaya itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya. "Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.
Nah, pada akhirnya Raden Said betaubat kepada Allah SWT. dan menjadi murid Sunan Bonang. Apa yang bisa kita petik dari cerita tersebut ?. Ya benar, Mencontek itu seperti orang yang mencuri dan yang memberikan contekan itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing. Menggunakan otak untuk mencari cara mencontek adalah perbuataan sia-sia dan zholim. Ya, itu perbuatan dosa. Karena dia menggunakannya bukan pada jalan yang baik.
Kalau budaya menyontek dibiarkan, maka akan buruk di masa yang akan datang. Dulunya menyontek, setelah besar jadi koruptor dan perusak bangsa. Dulunya pergi dari rumah menuju sekolah. Setelah besar, pergi dari rumah menuju penjara. Kehidupan sosial menjadi buruk karena teman sekolah dulu bakal terus mengingat kita bahwa dulu kita sering menyontek. Itu akan terus dibawa-bawa dan dibahas ke teman-temannya yang lain untuk dijadikan bahan obrolan. Dampaknya jelas, yaitu malu. Terus percaya sama orang lain yang lebih cerdas. Kalau terus-terusan percaya sama orang, belum tahu ternyata dia menyesatkan kita. Dampaknya jelas, kalau kita gampang kena tipu. Yang terakhir adalah menjadi generasi yang gagal. Bagaimana tidak?  Kita hanya menjadi pecundang di hari tua. Tidak bisa hidup sendiri jika tidak ada orang lain di sekitar. Tidak mau berusaha mendapatkan pekerjaan, dan bisa-bisa menjadi pengangguran. 
Jadi menyontek hanyalah prilaku yang buruk dan menyesatkan saja. Jika kita tidak bisa melepas kebiasaan itu, maka bersiaplah menjadi pecundang sejati yang hanya bisa mengandalkan orang lain. Mencontek akan menjadi budaya yang tertanam di bangsa ini. Budaya menyontek sama saja dengan menghancurkan bangsa ini secara perlahan tapi pasti.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, banggalah dengan hasil jerih payahmu, berapapun angkanya, jangan sesekali bersedih ataupun merasa malu. Senyumlah, karena hasil tersebut buah dari kejujuran bukan dari buah kedustaan dan kecurangan. Jika nilai yang pian terima itu rendah maka introspeksi diri bahwa apa yang keliru selama ini, apakah gaya belajar yang salah, lebih banyak bercanda dan berbuat sia-sia daripada fokus belajar, ataukah kita tidak menta’zhimkan dosen dan menghargai dengan teman.  

Sahabat tersayang, bertaubatlah segera dan sudahilah perbuatan tercela tersebut “ mencontek “. Jika semua orang belum bisa yang berhenti maka alangkah baiknya kita yang lebih dulu memulainya. Semoga yang lain juga mengikuti. Itu juga termasuk bagian dakwah bil hal  (dakwah dengan perbuatan). Tenang, Allah Maha pengampun lagi Maha Menerima Taubat hamba-Nya.
Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah : 39).
Jazakumullah kullal jaza’. Wassalam !