Mencontek
Bagian Dari Kekufuran
|
K
|
etika
mentari menyambut pagi, burung-burung pun bernyanyi bersukaria melihat alam
kembali terang berseri. Udara yang bersih nan sejuk, membuat setiap makhluk
hidup bernafas lega, pepohonan dan rerumputan di sekitar jalan , menambah
kesejukan setiap mata yang memandang. Hannan sudah siap menjalani aktivitas di
hari itu. Sesampainya di kampus, ia bertemu dengan teman-temannya tengah duduk di
tempat duduk berbentuk bundar, yang di tengahnya ada pohon yang rindang. Hannan
pun bertanya kepada salah satu temannya yang bernama “ Denia “. Nia, apakah
hari ini pak Harist tidak masuk ?, tanya Hannan. Nah, maaf, ana kurang tahu,
jawab Denia. Ooo…bulat, he he., ucap Hannan dengan celetuknya.
Menunggu
memang membosankan. Bahkan menunggu akan sangat membosankan jika tidak ada yang
bisa dilakukan. Yaaah, hari ini tidak belajar mata kuliah “ Menulis Ilmiah Populer “, gumam
Hannan di dalam hati. Hannan pun berinisiatif untuk membaca Al-Qur’an untuk mengisi waktunya. Di
ambillah Al-Qur’an dari tasnya. Ia membaca dengan suara sirr di mulai dari
surah Ibrahim. A’udzubillahi minasyaithonir rajim, Bismillahirrahmanirrahim,
Ya ayyuhal ladzi aamanuu
aufuu bil ‘uqud….,
sampai ayat yang ketujuh, ia berhenti
dan ayat tersebut benar-benar membuatnya teringat tentang budaya mencontek. Wa idz taadzzana rabbukum lain syakartum
laazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi la syadiid (QS.
Ibrahim : 7). Ia bergumam di dalam hati : Kenapa segala nikmat yang telah
diberikan Allah, kita tidak bisa menggunakannya dengan baik. Ya, mencontek itu
bagian dari kufur nikmat. Seharusnya nikmat otak itu digunakan untuk belajar
sebagai persiapan ujian bukan untuk mencari cara mencontek agar tidak ketahuan dosen. Fabi ayyi aalai rabbikumaa
tukadzzibaan ! (Nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan !). Ya
Allah, kenapa mahasiswa yang di katakan “ anak terpelajar “ bisa melakukan hal yang tidak sesuai dengan
predikat tersebut. Kenapa dosen yang bertugas mencerdaskan anak bangsa tega
membiarkan kebiasaan mencontek tersebut, padahal dosen tersebut mengetahuinya namun kenapakah tidak ada tindakan
selanjutnya. Seharusnya, ada tindakan yang tegas dari dosen ataupun institusi pendidikan dalam
meminimalisir tindakan mencontek. Misalnya, jika ada yang mencontek di dalam
uiian, padahal tidak ada perjanjian membuka buku, internet, ataupun berdiskusi
dengan teman maka dia akan di berikan sanksi harus mengulang mata kuliah
tersebut di semester selanjutnya. Begitu
seharusnya !. Kenapa
mencontek seolah-olah menjadi budaya yang lumrah di lembaga pendidikan. Tidak
sadarkah bahwa sikap dosen yang seperti itu sama saja menghancurkan anak bangsa
secara perlahana-lahan.
Pertanyaan
demi pertanyaan terbersit di dalam hati Hannan. Duuh…., dimanakah kepribadian
seorang muslim yang bertawakkal, menjunjung nilai kejujuran, mengedepankan
kebenaran. Dimanakah ?... Dimanakah ?... Dimanakah ?.... Umat Islam secara
kuantitas sangatlah banyak namun secara kualitas semakin hari semakin menurun.
Terus, apa yang bisa di
banggakan dari muslim yang hanya bisa mencontek. Tidak ada !. Sama sekali tidak ada !. Di dalam hati dan pikiran Hannan bersatu padu,
pertanyaan yang terbersit semakin banyak, sehingga ia tidak bisa menampungnya
lagi. Seakan-akan semua pertanyaan tersebut seperti bom yang akan meledak. Ya
Allah…… sekarang saatnya membangunkan the sleeping of giant !!!!!.
Secara spontanitas, Hannan berteriak sekeras-kerasnya. Terkejutlah teman-teman
di sekelilingnya. Hannan, kenapa antum ? tanya salah satu temannya yang
bernama Anto. Naaah Hannan ini kayaknya habis obat, ucap Maja. Oyy Madara,
cepat berikan obat si Hannan tuh !, sambung Feby. Semuanya tertawa
terbahak-bahak dan Hannan pun tersipu malu. Namun tidak beberapa lama, suasana
lucu tersebut berubah dan mereka pun bubar karena pak Harist telah datang. Hannan berkata : Hayyana bina ilal
fashli, hayya.. hayya.. !.
Teman-teman lainnya berkata serentak : Hayya bina !.
Sahabat
seperjuangan di jalan Allah, seperti yang sudah kita ketahui bahwa mencontek
merupakan salah satu budaya yang telah dianggap lumrah. Ironisnya, fenomena ini
bahkan selalu muncul menyertai aktifitas belajar mengajar sehari-hari.
Mencontek seperti telah menjadi kebiasaan para siswa, mulai dari tingkat
pendidikan dasar hingga tingkat perguruan tinggi.
Dengan
mendapatkan prestasi yang gemilang, seseorang akan dikatakan sebagai siswa yang
berhasil dalam menuntut ilmu dan juga akan dicap sebagai sumber daya yang layak
dan berkualitas. Namun, di jaman serba instan seperti sekarang ini, banyak
siswa yang meraih prestasi gemilang dengan usaha yang negatif, salah satunya
dengan mencontek.
Cheating (mencontek) bisa terjadi apabila seseorang
berada dalam kondisi underpressure (dibawah tekanan),
atau apabila dorongan dan harapan untuk berprestasi jauh lebih besar daripada
potensi yang dimiliki. Tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, seperti
teori kriminal bahwa kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan
kesempatan. Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa diberbagai jenjang
pendidikan, hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian.
Padahal, nilai bukanlah hal mutlak untuk mencapai keberhasilan. Yang terpenting
adalah proses, bukan hasil. Hasil hanya suatu penghargaan atas usaha ataupun
pembelajaran yang telah kita lakukan. Dalam proses belajar, apabila seseorang
tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka
orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata lain
ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Sahabat
seperjuangan di jalan Allah, apa yang dibanggakan jika hasil ujian adalah
berasal dari usaha menyontek. Selama ini kita hanya fokus mencari nilai. Padahal nilai bukanlah
segalanya dan bukan pula sesuatu yang paling utama. Untuk apa berambisi
mendaparkan nilai tinggi jika melupakan yang namanya “ barokah “. Istilah
barokah menurut agama ialah “ bertambah-tambahnya kebaikan dari sebuah kebaikan
“. Apakah perbuatan mencontek itu akan menambah kebaikan ? Tidak, bahkan akan
menambah keburukan di atas
keburukan dan merusak kebaikan yang sudah ada.
Terkadang jika teman yang meminta contekan, kita merasa tidak
nyaman karena memandang dia sebagai sahabat, jadi mau tidak mau,
harus memberikan contekan demi seorang sahabat. Namun yang menjadi persoalannya, apakah hal
tersebut dibenarkan ?. Yakinlah
sahabat, bahwa tidak dibenarkan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. “…
Dan hendalaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan
jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan… “. (QS. Al-Maidah : 2 ).
Seharusnya kita mengintrospeksi diri jika teman tidak mau memberikan contekan kepada
kita karena teman sudah berusaha keras menjawab soal dengan belajar di rumah.
Apa itu sebanding dengan kegiatan kita yang bermalas-malasan di rumah?
Ada pula
yang mengatakan bahwa perbuatan mencontek
itu adalah relatif. Yakni tidak selalu bernilai
negatif. Asumsi tersebut sah-sah saja
dalam mengemukakan pendapat. Namun, jangan-jangan dia mengatakan hal tersebut
karena sebagai pembelaan diri. Wallau a’lam. Sedangkan menurut hemat
ulun, mencontek sama saja seperti mencuri. Karena dia telah mengambil hasil
jerih payah orang lain atau jika dia mencari sendiri dengan membawa catatan
ataupun membuka internet diHp maka itu sama saja menzholimi teman yang telah
belajar di rumah, mengkhianati kepercayaan dosen, dan bahkan ia telah tidak
melaksanakan yang namanya “ JURDIL “ Jujur dan Adil. “ Laki-laki yang
mencuri dan perempuan yang mencuri maka potonglah tangan keduanya sebagai
balasan bagi perbuatan yang telah dilakukannya “. (QS. Al-Maidah : 38 ).
Masih ingatkah buhan
pian tentang cerita Sunan Kalijaga dalam
pencarian jati dirinya. Yah, sedikit lupa ! Baiklah ulun akan menceritakannya
kembali. Sunan Kalijaga yang mempunyai nama di waktu kecil yaitu “ Joko Said “.
Beliau dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati
Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari
pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa
Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said.
Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan
pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada
rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati
sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya. Pembangkangan Joko Said
kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan
membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam
keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Karena
tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said
dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko
Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat
menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara
rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.
Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini
karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu,
Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan
bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan
bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini
ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat
karena ilmunya. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau
menetap di sebuah hutan Jatiwangi. Dan di
hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah
Sunan Bonang. Selama
bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa
disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan
kepada fakir miskin. Yang
dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak
menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat. Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya,
orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah
putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah
mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan.
Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia
menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari
tangan lelaki berjubah putih. Karena
tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh
tersungkur. Dengan susah payah orang
itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara
rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati
gagang tongkat yang dipeganganya, dan ternyata tongkat itu bukan terbuat
dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan
tertimpa cahaya matahari seperti emas.
Raden Said heran meliat orang tua yang menangis
itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini
tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi,"
jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?"
tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat
kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata
lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal
Lokajaya.
"Hanya beberapa lembar rumput engkau
merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku
mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak,
itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan maka benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua
itu.
Berandal Lokajaya Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Lokajaya yang tampan itu tergetar atas jawaban yang
mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau
cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab
Berandal Lokajaya.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu
selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan
penduduk yang menderita," jawab Berandal Lokajaya.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu,
sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.
"Orang tua....apa maksudmu?" tanya
Berandal Lokajaya.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau
mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu
benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh itu perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan
bau pakaian saja," jawab Berandal Lokajaya.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan.
Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara
haram, merampok atau mencuri itu sama
halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Lokajaya itu
tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya. "Allah itu
adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau
halal," tutur lelaki tua itu.
Nah, pada akhirnya Raden
Said betaubat kepada Allah SWT. dan menjadi murid Sunan Bonang. Apa yang bisa
kita petik dari cerita tersebut ?. Ya benar, Mencontek itu seperti orang yang
mencuri dan yang memberikan contekan itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing. Menggunakan otak untuk mencari cara mencontek adalah
perbuataan sia-sia dan zholim. Ya, itu perbuatan dosa.
Karena dia menggunakannya bukan pada jalan yang baik.
Kalau budaya menyontek dibiarkan, maka
akan buruk di masa yang akan datang. Dulunya menyontek, setelah besar jadi
koruptor dan perusak bangsa. Dulunya pergi dari rumah menuju sekolah. Setelah
besar, pergi dari rumah menuju penjara. Kehidupan sosial menjadi buruk karena
teman sekolah dulu bakal terus mengingat kita bahwa dulu kita sering menyontek.
Itu akan terus dibawa-bawa dan dibahas ke teman-temannya yang lain untuk
dijadikan bahan obrolan. Dampaknya jelas, yaitu malu. Terus percaya sama orang
lain yang lebih cerdas. Kalau terus-terusan percaya sama orang, belum tahu
ternyata dia menyesatkan kita. Dampaknya jelas, kalau kita gampang kena tipu.
Yang terakhir adalah menjadi generasi yang gagal. Bagaimana tidak? Kita
hanya menjadi pecundang di hari tua. Tidak bisa hidup sendiri jika tidak ada
orang lain di sekitar. Tidak mau berusaha mendapatkan pekerjaan, dan bisa-bisa
menjadi pengangguran.
Jadi menyontek hanyalah prilaku yang buruk dan
menyesatkan saja. Jika kita tidak bisa melepas kebiasaan itu, maka bersiaplah
menjadi pecundang sejati yang hanya bisa mengandalkan orang
lain. Mencontek akan menjadi budaya yang tertanam di bangsa ini. Budaya
menyontek sama saja dengan menghancurkan bangsa ini secara perlahan tapi pasti.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, banggalah dengan
hasil jerih payahmu, berapapun angkanya, jangan sesekali bersedih ataupun
merasa malu. Senyumlah, karena hasil tersebut buah dari kejujuran bukan dari
buah kedustaan dan kecurangan. Jika nilai yang pian terima itu rendah
maka introspeksi diri bahwa apa yang keliru selama ini, apakah gaya belajar
yang salah, lebih banyak bercanda dan berbuat sia-sia daripada fokus belajar, ataukah
kita tidak menta’zhimkan dosen dan menghargai dengan teman.
Sahabat tersayang, bertaubatlah segera dan sudahilah
perbuatan tercela tersebut “ mencontek “. Jika semua orang belum bisa yang
berhenti maka alangkah baiknya kita yang lebih dulu memulainya. Semoga yang
lain juga mengikuti. Itu juga termasuk bagian dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan). Tenang, Allah Maha
pengampun lagi Maha Menerima Taubat hamba-Nya.
Maka barangsiapa bertaubat
(di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki
diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah : 39).
Jazakumullah kullal jaza’.
Wassalam !