Minggu, 15 Maret 2015

surat terakhir



Surat Terakhir
S
etelah selesai menulis artikel yang berjudul “ Salahkah Aku Merindukannya ?”, Hannan pun beristirahat sebentar sambil menunggu waktu salat zuhur. Tidak beberapa lama, azan pun dikumandangkan, Hannan terbangun mendengar azan tersebut dan ia bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat zuhur. Setelah salat zuhur, Hannan menonton TV dan ia memilih channel MNCTV. Ketika itu MNCTV menayangkan sebuah flim India yang berjudul “ Veer Zara “. Padahal flim India tersebut sudah beberapa kali di tonton oleh Hannan namun tidak sedikit pun membuatnya bosan untuk menyaksikannya kembali. Veer dan Zara adalah dua insan yang berbeda negara dan agama. Cinta mereka berdua di uji selama 22 tahun. Kata-kata yang paling di ingat oleh Hannan dari flim India tersebut adalah ketika Veer mengantarkan Zara ke stasiun kereta api yang mana Zara hendak pulang ke negara asalnya “ Pakistan ”. Ketika itu Veer berkata kepada Zara, “ ingatlah ada orang India yang siap mempertaruhkan nyawanya untuk orang yang disukainya”. Di tengah-tengah asyiknya menonton flim India tersebut, Hannan merasa cintanya bergelora seakan-akan memanggil pemiliknya. Sehingga ia teringat sebuah surat yang dikirimkannya kepada kekasihnya dulu “ Siti Zuhairiyyah”. Namun setelah surat tersebut dikirim, ternyata Hayati mengembalikannya lagi kepada Hannan. Dan surat tersebut masih di simpan oleh Hannan sampai sekarang. Tergeraklah jiwa Hannan untuk membacanya kembali.  Inilah surat yang dibaca oleh Hannan,
Bismillahirrahmanirrahim                             
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kaka mulai surat ini dengan menulis basmalah supaya surat ini membawa keberkahan bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin !.
Salam Taubat !!!
Kaka terlena apa yang telah kaka lakukan, bertindak dengan berlabel cinta, berbuat baik dengan berlogo cinta, dan memberi perhatian dengan bermerk cinta. Tapi apakah itu yang dinamakan cinta ?. Itu bukan cinta namanya tapi nafsu belaka. Ingatlah dengan hadis ini, “ innamal a’malu binniyyat “ (segala amal tergantung pada niatnya). Beramal tanpa mendapatkan pahala dan beramal tanpa diridhoi Allah Ta’ala, percuma, sia-sia belaka.  Ketika berkata banyak lebihnya daripada pasnya. Artinya, kaka telah melebihkan perkataan yang seharusnya itu tidak boleh. Salah satunya, kaka pernah berkata : “Kaka tidak bisa jauh dari pian “, tapi kata-kata ini tidak pernah kaka katakan kepada orangtua kaka dan seolah-olah kehilangan pian itu lebih takut daripada kehilangan Tuhan. Kaka telah berbuat zholim baik kepada diri sendiri maupun kepada diri pian. Innalllah la yuhibbul musrifin.
Perasaan cinta membuat kaka berani menanggung risiko yang akan terjadi, sampai-sampai kaka berani memimpikan kita akan menikah. Tapi anehnya, kaka tidak pernah berfikir masalah apa yang akan terjadi. Ya masalah kedepannya, salah satunya, kaka telah berjanji dengan orangtua bahwa setelah S2 kaka baru akan menikah. Pian akan menunggu dengan waktu yang lama, dengan cinta mungkin kita akan bisa bertahan. Tapi apakah kaka sanggup menahan rasa pedih jika pian yang nikah telebih dahulu atau sebaliknya, apakah pian sanggup jika kaka ditakdirkan lebih dulu menikah. Sunggu jahat sekali sikap kaka yang memberi harapan tanpa bukti.
 Lebih baik kita berteman saja, tanpa mengurangi sayang dan cinta kita. Jika kaka mempunyai masalah, semoga kaka boleh meminta pendapat dan berbagi cerita dengan pian. Jika pian mau minta tolong, semoga kaka bisa membantu. La tahzan, innallah ma’anaa, jangan bersedih, karena Allah bersama kita. Kaka yakin seyakin-yakinnya, kita akan lebih aman dari murka Tuhan dengan berteman saja.
Kaka sayang dan cinta…  Demi Allah kaka sayang dengan pian.
Jika kita berjodoh, pian akan melihat rombongan keluarga kaka datang kerumah pian, jika orang yang datang tersebut bukan kaka maka itulah orang yang terbaik yang ditakdirkan untuk pian. Tolong jangan benci kaka dan jangan pula memusuhi kaka. Demi Allah, pian adalah wanita yang paling kaka cintai setelah mama kaka.
Di jalan Dr. Murjani, 14 Desember 2013 malam jum’at.
Abdul Hannan Az-Zikra bin Muhammad mencintai Siti Zuhairiyyah sepenuh hati
Wassalam ‘alaikum......

Setelah membaca surat tersebut, Hannan teringat masa lalu. Masa-masa bersama Zuhariyyah. Seberkas senyuman terpancar di wajahnya. Hannan pun bergumam di dalam hatinya, ahh……, itu hanyalah cinta yang tak bermuara, cinta yang tidak bisa mendekatkan diri kepada Tuhan alam semesta, cinta yang mementingkan ego dibanding melaksanakan nasehat dan hak orangtua, cinta yang membuat jarak di antara teman seperjuangan, dan cinta yang membuat manusia lebih lalai dan lupa dari sebelumnya.
Ulun tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Hannan selanjutnya. Yang ulun ketahui bahwa surat tersebut dikirim olehnya karena beberapa alasan yaitu :
1.      Cintanya selalu mendorongnya untuk berangan-berangan.
2.      Cintanya membuat lupa terhadap pesan dan hak orangtua
3.      Sangat berbahaya baginya, jika bercinta di tengah perjalanan menuntut ilmu.
4.      Rasa cinta yang di ulur-ulur maka sangat mudah bagi setan  menjerumuskan manusia untuk berbuat perzinaan dan kemaksiatan.
5.      Sekalipun Hannan selalu berdoa kepada Allah Swt, supaya Dia meridhoi ikatan cinta yang dibuatnya namun yang dirasakannya bukanlah rasa kelapangan melainkan kesempitan. Batin tersiksa dan menangis, nista hina dina, sehingga muncullah rasa keraguan di dalam hatinya bahwa cinta yang suci tidaklah seperti ini. Kata Nabi Saw., “ Da’ ma yuribuka ila ma la yuribuka “, tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Hannan pun memutuskan ikatannya dengan Zuhairiyyah dengan perantara surat tersebut.
Itulah surat terakhir yang dikirimkan oleh Hannan kepada Zuhairiyyah. Itulah surat terakhir yang menjadi simbol pertaubatan Hannan kepada Allah Yang Maha Menerima Taubat Para Hamba-Nya. Memang itu surat yang terakhir tapi bukanlah akhir dari cerita Hannan dan Zuhairiyyah. Cerita cinta yang sesungguhnya baru saja dimulai. Cinta yang berada dalam kesunyian dan kesucian, jauh dari perbudakan setan dan kemaksiatan. Cinta tanpa kata-kata ataupun isyarat lainnya. Hati yang merasa, sedangkan bibir sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Kini Hannan menjalani hidupnya sendiri. Begitu pula Zuhairiyyah menjalani hidupnya sendiri. Silahkan terpisahkan oleh jarak, tapi siapa yang bisa menduga jika hati mereka selalau berkomunikasi. Silahkan cari hikmah sebanyak-banyaknya yang dapat buhan pian  temukan dari surat terakhir tersebut. Wallahu a’lam bisshowwab !

Curhat saja kepada Allah



Curhat Saja Kepada Allah
B
a’da salat ashar, Hannan duduk di pojok mesjid Darussalam sambil membaca bukunya Ust. Yusuf Mansur yang berjudul “ Undang Saja Allah “. Niat hatinya, ingin melunasi hutang kepada seorang teman dan menyerahkan tulisan El-Mannan  yang berjudul “ The Power of Dream ” untuk di koreksi olehnya. Setelah lama menunggu,  Hannan sms temannya tersebut. Eeeeh.. ternyata dia sudah pulang ke rumah. La ba’sa, la’allii ghadan ashtathi’u biliqaaiha.  Tidak beberapa lama, tiba-tiba datang seorang wanita yang berinisial “ R “ menghampiri Hannan. Maaf ya, ini bukan janjian tapi kebetulan. Ingat hanya kebetulan. Hanna mengetahui dia  masih ada sisa-sisa rasa galau. Maklum, habis di putusin pacarnya. Bayangkan saja, ketika kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati dan mempertaruhkan apa pun demi yang namanya “cinta”. Tapi apa jadinya, jika cinta harus memilih.  Bukan memilih bersama dan bersatu, melainkan harus berpisah. Nah tuh tahu, seperti lagunya Cita Citata, “ sakitnya tu di sini  di dalam hatiku! “.  Emm.. jadi ingat juga lagunya Meggy Z. “ lebih baik sakit gigi daripada sakit hati “ Ho hoo hooo... Sorry ya, ulun tidak mau melanjutkan lagunya, bukan karena tidak hafal tapi takut pian jadi bergoyang. He he. Nah di saat itu, mereka berdua mengobrol tapi bukan menggosip melainkan mencari solusi bagaimana bisa menghilangkan rasa galau dan mendongkrak semangat baru. Supaya ulun enak menulisnya, ulun beri nama dia “ Rina ”. Oke sepakat !  Harus sepakat donk. Lalu  terjadilah dialog di antara mereka, bagaimana ya supaya rasa galau itu hilang ?, Tanya Rani kepada Hannan.
(Di dalam hati, Hannan menggerutu karena takut menjadi fitnah berduaan di pojok mesjid). (Bismillah, Ya Allah jadikanlah ini adalah pahala dakwah bukan sok ngajarin orang). Hannan pun menjawab : Curhat saja kepada Allah. Kalau perlu sediakan selembar kertas dan tulislah apa yang ingin Rani curahkan. Misalnya, ya Allah.. ulun lagi galau nih, sangat perlu pian. Maafin ulun, karena kemarin ulun terlalu sibuk dengan pacar yang suka PHP (Pemberi harapan Palsu) dan OPJ (Obral Perhatian dan Janji). Allahusshomad, kini ulun sadar hanya pian tempat yang paling tepat untuk menyandarkan hati. Wa lam yakun lahu kufuan ahad, dan hanya pian yang paling istimewa, pian adalah Sang Khaliq yang memberikan harapan sedangkan makhluk hanya bisa menghancurkan harapan. Asyikkan curhat dengan Allah Ta’ala, Begh asyik banget !.  
Mendengar perkataan Hannan, Rina pun tersipu malu. Kemudian Hannan melanjutkan perkataannya : Dan jangan lupa, ketika mau berkerudung niatkan karena menjunjung perintah Allah yang memerintahkan untuk menutup aurat. Bukan untuk gaya atau karena ada peraturan di IAIN Palangka Raya. Selama ini niat berkerudung seperti itu atau tidak ?. Tidak seperti itu, jawab Rina. Nah dari sekarang niatnya begitu ya.., kalau niatnya untuk menjunjung perintah Allah maka akan mendapatkan pahala. Oh iya, semalam Rina baca tulisan El-Mannan tidak di mading. Baca donk, jawab Rina.  Terus, what do you want to be ?. Mau jadi orang yang bermanfaat, jawab Rina.  Terus, apa impian Rina yang paling ingin di wujudkan ?,.  Ingin memberangkatkan orangtua ke tanah suci, jawab Rina. Subhanallah, menjadi kesyukuran yang paling tinggi ketika seorang mahasiswa mempunyai impian untuk memberangkatkan orantuanya ketanah suci Mekah karena tidak semua mahasiswa mempunyai cita-cita tersebut.
 Terdengarlah isak tangis dan berlinanglah  air mata Rina yang membasahi kedua pipinya.
Hannan pun memberikan semangat kepadanya, berusahalah mewujudkan impian tersebut dan kawallah terus kesuksesan pian. Ingat innallah la yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim (Allah tidak merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya). Kenapa ayat Al-Qur’an menggunakan kata “anfusihim “ (diri atau jiwa mereka) bukan ajsaadihim (jasad mereka) atau abdaanihim (badan mereka) ?. Hal itu karena yang bisa mengubah nasib seseorang bukan di tentukan besar dan kecilnya seseorang melainkan semangat yang tertancap di dalam jiwa yang dia hanya berharap kepada Allah Swt. Lihat banyak orang yang secara fisik tidak sempurna tapi kreatifitasnya dan karyanya begitu mendunia. Itu karena semangatnya melambung tinggi ke angkasa.
Rina menjawab : Benar sekali, kami mempunyai dosen yang mempunyai kekurangan dari segi fisik tapi beliau sangat bersemangat dalam mengajar kami.
Nah itu tahu…, setelah ini mau kemana ? Tanya Hannan. Mau kerja ke KFC, jawab Rina.
Sebelum kita pulang, apa intisari yang Rina dapatkan dari  percakapan kita ?. Tanya Hannan.
 Mulai sekarang, Rina harus lebih baik lagi, mengawal keberhasilan, dan selalu bersemangat. jawab  Rina dengan tegas.
Ingat kalau galau, curhatnya dengan Allah saja, hanya kepada Allah, jangan dengan yang lain.
Memang Allah Swt mempunyai banyak cara untuk mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya. Salah satunya memberi rasa sakit hati sehingga Allah jauhkan dia dari lembah kebinasaan yang bernama “pacaran”. Setelah putus memang sakit hati, tapi ini adalah skenario Allah,  supaya kita berserah diri kepada-Nya, curhat kepada-Nya, dan berpaling dari makhluk-Nya.
Jazakallah ahsanal jaza’ wa syukran ‘ala ihtimamikum. Wassalam !.