Juara
Hati
|
T
|
idak ada bakat Hannan untuk menjadi news presenter. Namun karena
dia mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), sudah sepantasnya dia
mengikuti lomba new presenter yang diselenggarakan oleh Jurusan Dakwah dan
Komunikasi Islam Fakultas Ushuluddin Adab, dan Dakwah (FUAD) pada tanggal 14-16
Mei 2015 di Gedung Lab. Terpadu IAIN Palangka Raya dengan tema “
Profesionalisme Sumber Daya Manusia Bidang Penyiaran : Upaya Memenuhi Kebutuhan
Industri Penyiaran di Daerah “. Peserta lomba terbagi menjadi dua kategori ;
tingkat pelajar dan mahasiswa. Para pelajar dan para mahasiswa se-kota Palangka
Raya begitu antusias mengikuti lomba tersebut. Berbeda dengan anak-anak KPI,
mereka begitu apatis, tidak berpartisipasi, dan egoisme. Padahal sangat
disayangkan, mereka yang telah belajar teori komunikasi dan penyiaran, justru
banyak yang tidak beratensi mengikuti lomba tersebut. Ketika ditanya “ kenapa
“ maka alasan klasik selalu jadi jawabannya
“ tidak bisa “ atau “ tidak punya bakat “. Terus maunya apa ?. Menulis, tidak mau,
belajar kamera, tidak mau, berdiskusi ataupun kuliah, juga tidak serius. Terus apasih maunya sebenarnya ?. ataukah
tidak ada kebanggaan sama sekali menjadi anak KPI ?. Padahal tidak bisa itu
karena tidak dicoba. Kesalahan yang terjadi dalam percobaan adalah sebuah
kewajaran bukan sebuah kehinaan. Ingatkah anda kepada seorang ilmuan yang
menemukan lampu pijar.
Ya, benar, dia adalah Thomas Alva Edison. Dia merupakan
salah satu penemu yang paling memberikan kontribusi besar bagi dunia berkat
temuannya yaitu lampu pijar. Thomas Alva Edison dilahirkan di Milan, Ohio pada
tanggal 11 Februari 1847. Tahun 1854 orang tuanya pindah ke Port Huron,
Michigan. Edison pun tumbuh besar di sana. Sewaktu kecil Edison hanya sempat
mengikuti sekolah selama 3 bulan. Gurunya memperingatkan Edison kecil bahwa ia
tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk
mengajar sendiri Edison di rumah. Kebetulan ibunya berprofesi sebagai guru. Hal
ini dilakukan karena ketika di sekolah Edison termasuk murid yang sering
tertinggal dan ia dianggap sebagai murid yang tidak berbakat.
Meskipun tidak sekolah, Edison kecil menunjukkan sifat ingin tahu
yang mendalam dan selalu ingin mencoba. Sebelum mencapai usia sekolah dia sudah
membedah hewan-hewan, bukan untuk menyiksa hewan-hewan tersebut, tetapi murni
didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar. Pada usia sebelas tahun Edison
membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah rumah ayahnya.
Setahun kemudian dia berhasil membuat sebuah telegraf yang meskipun bentuknya primitif
tetapi bisa berfungsi.
Tentu saja percobaan-percobaan yang dilakukannya membutuhkan biaya
yang lumayan besar. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, pada usia dua belas tahun
Edison bekerja sebagai penjual koran dan permen di atas kereta api yang
beroperasi antara kota Port Huron dan Detroit. Agar waktu senggangnya di kereta
api tidak terbuang percuma Edison meminta ijin kepada pihak perusahaan kereta
api, “Grand Trunk Railway”, untuk membuat laboratorium kecil di salah satu
gerbong kereta api. Di sanalah ia melakukan percobaan dan membaca literatur
ketika sedang tidak bertugas.
Tahun 1861 terjadi perang saudara antara negara-negara bagian utara
dan selatan. Topik ini menjadi perhatian orang-orang. Thomas Alva Edison
melihat peluang ini dan membeli sebuah alat cetak tua seharga 12 dolar,
kemudian mencetak sendiri korannya yang diberi nama “Weekly Herald”. Koran ini
adalah koran pertama yang dicetak di atas kereta api dan lumayan laku terjual.
Oplahnya mencapai 400 sehari.
Pada masa ini Edison hampir kehilangan pendengarannya akibat
kecelakaan. Tetapi dia tidak menganggapnya sebagai cacat malah menganggapnya
sebagai keuntungan karena ia banyak memiliki waktu untuk berpikir daripada
untuk mendengarkan pembicaraan kosong. Tahun 1868 Edison mendapat pekerjaan
sebagai operator telegraf di Boston. Seluruh waktu luangnya dihabiskan untuk
melakukan percobaan-percobaan tehnik. Tahun ini pula ia menemukan sistem
interkom elektrik.
Penemuan Thomas Alva Edison
Thomas Alva Edison mendapat hak paten pertamanya untuk alat
electric vote recorder tetapi tidak ada yang tertarik membelinya sehingga ia
beralih ke penemuan yang bersifat komersial. Penemuan pertamanya yang bersifat
komersial adalah pengembangan stock ticker. Edison menjual penemuaannya ke
sebuah perusahaan dan mendapat uang sebesar 40000 dollar. Uang ini digunakan
oleh Edison untuk membuka perusahaan dan laboratorium di Menlo Park, New
Jersey. Di laboratorium inilah ia menelurkan berbagai penemuan yang kemudian
mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.
Pada tahun 1877 , ia
menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak
peneliti: lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam
itu bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu Edison mencurahkan seluruh
tenaga dan waktunya, serta menghabiskan uang sebanyak 40.000 dollar dalam kurun
waktu dua tahun untuk percobaan membuat lampu pijar. Persoalannya ialah
bagaimana menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi
tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha
keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar
listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Nah sekarang, apakah anda
masih bersikeras mengatakan “ tidak bisa “ untuk melakukan sesuatu. Di samping
itu juga, menang dan kalah adalah menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah
perlombaan. Namun yang terpenting adalah jiwa pemenang ; yang selalu menjadikan
setiap kejadian sebagai ‘ibrah ( pelajaran ) dan khibrah
(pengalaman). Pasti kita sering mendengar, “ pengalaman adalah guru yang
terbaik dalam mendriver laju mobil kehidupan “. Nah kalau begitu, tinggal kita
saja lagi yang mau atau tidaknya menjadi muridnya.
Pada hari Sabtu, 16 Mei 2015, Hannan telah sampai di tempat lomba
news presenter tersebut dan dia pun berlatih sebentar di ruangan yang kosong,
di sebelah ruangan yang digunakan sebagai tempat lomba tersebut. Tiba-tiba nama
Hannan dipanggil oleh pembawa acara untuk maju ke depan. Kami panggil dengan no.
39 atas nama Abdul Hannan Adz-Zikra untuk masuk ke ruang studio, ucap pembawa
acara. Dengan perasaan gugup, Hannan maju ke ruang studio, dia pun mencoba
merilekskan tubuh dan berusaha menguasai panggung. Namun hal tersebut tidak
membuahkan hasil, dia tetap gugup. Salah seorang dewan juri yang juga dosen KPI
sekaligus pekerja di TVRI, beliau biasa dipanggil dengan pak Yani. Beliau
memerintahkannya untuk berceramah sebentar karena beliau mengetahui bahwa Hannan bisa
berceramah. Dengan begitu pede, Hannan pun berceramah namun tiba-tiba pak Yani
menstop ceramahnya secara mendadak. Nah, sudah hilangkan gugupnya dan ingat
nada ceramah jangan dibawa dalam news presenter, karena keduanya tidaklah sama,
ujar pak Yani memberikan saran kepada Hannan. Ya pak, terimakasih atas
sarannya, balas Hannan. Namun sebetulnya dia tetap gugup karena mengikuti lomba
yang seperti adalah hal yang pertama kali baginya. Pak Yani mempersilahkan
kepada Hannan. Hannan mulai menyampaikan continity (tinjauan acara televise)
dan penyampaiannya cukup bagus. Membaca berita, ternyata banyak yang salah dan
yang paling fatal adalah dia membaca nama Bupati Kabupaten Kota Waringin Barat
(Kobar) dengan “ Ajung Iskandar “ padahal yang benar “ Ujang Iskandar “. Hal
tersebut sontak membuat teman-temannya dan peserta lomba serta sewan juri
tersenyum dan ketawa, namun Hannan tetap focus melanjutkan pembacaan berita
sampai selesai. Hannan menyampaikan reportase juga banyak terdapat kekeliruan.
Yah begitulah, kekeliruan pasti ada diawal-awal percobaan. Tak ada manusia yang
sempurna !. Memang ditertawakan orang, sakitnya tuh disini (hati) namun bukan berarti merobohkan
semangat untuk bisa. Anggap saja ledekan mereka adalah sebuah doa dan perisai
bagi kita supaya makin kebal dan terang jalan hidupnya.
Beberapa saat kemudian, diumumkanlah pemenang lomba news presenter
tersebut. Sudah bisa dipastikan Hannan tidak menjadi juara pada lomba tersebut.
Tapi tidak mengapa, bagi Hannan ini adalah pengalaman berharga. Pengalaman yang
tak terlupakan. Hannaan bersyukur bisa diarahkan oleh pak Yani. Banyak hal yang
didapatkan Hannan dari pak Yani terutama ilmu penyiaran dan rasa kepedulian
beliau terhadap mahasiswa KPI. Pasalnya beliau merasa riskan, sebab tahun lalu
diselenggaran juga lomba news presenter tersebut namun hanya 3 orang yang
mengikuti lomba dari anak KPI dan tidak ada satupun yang meraih juara.
Memalukan ! Oleh karena itu, beliau rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk mengarahkan mahasiswa KPI belajar teknik penyiaran televisi yang baik.
Sekitar 10 orang berminat, namun yang mau tampil hanya 4 orang. Lalu sisanya
kemana ? Entahlah, mungkin lagi mandi, nonton tv, atau sibuk jalan-jalan
bersama pacar, mungkin bisa juga lagi berselimut di kasur karena takut tampil.
Setelah acara ditutup, Hannan mengucapkn terimakasih dan meminta
maaf kepada pak Yani karena belum bisa
memberikan hasil yang terbaik kepada beliau. Sambil tersenyum, pak Yani
berucap, “ Kalau kamu tahun depat ikut lomba ini lagi, saya yakin kamu akan
juara 1 “. Ah, yang benar saja pak, ucap Hannan dengan tidak percaya. Sungguh,
namun nada ceramah jangan dibawa dalam nada membaca berita dan ingat harus
dibawa santai, jawab pak Yani. Ya pak, terimaksih atas masukannya, balas
Hannan. Pak Yani pun menjawab, “ Ya sama-sama “. Para peserta lomba pulang ke
rumah masing-masing dan bagi yang juara mereka pulang dengan membawa trophy dan
sertifikat. Sekalipun Hannan bukan seorang pemenang dalam lomba tersebut namun
dia adalah pemenang hati pak Yani “ juara hati “. Tak ada trophy secara rill
bagi Hannan karena trophynya sudah terpatri di hatinya yang bertuliskan “
Pemenang sejati bukan berhasil meraih trophy tapi hati “.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, potensi dalam diri kita hanya
sedikit yang terlihat oleh orang lain. Ibaratnya kita itu seperti gunung es,
dari luar nampak terlihat kecil namun jika dilihat dari dalam maka orang lain
akan mengatakan “ Wow besarnya !”. Sesunggunya kita jualah yang membuat potensi
diri kita tersembunyi, membeku, terpenjara, dan tak terlihat.
Kita banyak
takut, mudah menyerah, malas mencoba, dan sok tawadhu. Cobalah membuat prinsip
hidup “ Jika orang lain bisa kenapa aku tidak bisa “. Namun nampaknya kita
selalu berpikir tidak bisa sehingga pikiran pun mempengaruhi fisik dan psikis
kita dan kita benar-benar tidak bisa. Ingatkan kalian, sewaktu kecil sekitar
berumur dua setengah tuhan. Pasti tidak ada yang ingat. Anda berjuang untuk
bisa berjalan tegak, anda terjatuh dan jatuh lagi tapi anda tidak pernah
berpikir untuk menyerah namun yang anda
pikirkan hanya untuk bisa berjalan. Percobaan satu, dua, tiga dan seterusnya
gagal hingga pada akhirnya anda pun mampu berjalan dengan lincah dan mantap. Ingatkah pula anda sewaktu kecil belajar
bersepeda, berapa kali anda terjatuh ? Apakah anda ingin menyerah ? Oh tidak,
anda malah yakin bahwa anda bisa bahkan ketika melihat kawan-kawan anda bisa
bersepeda, anda pun semakin berjuang untuk bisa. Pernahkah anda berpikir, kapan
aku bersepeda ? tidak pernah kan. Anda hanya berharap untuk bisa. Luka, itu
sudah jadi hal yang biasa di awal belajar bersepeda. Menangis sih, namanya juga
anak-anak. Tapi bukan berarti menyerah. Akhirnya tanpa terasa anda pun bisa
bersepeda dan bergabung dengan kawan-kawan anda.
Jika anda yang sudah sedewasa ini masih takut mencoba, menggali
potensi diri, anda kalah dengan anak kecil yang berumur dua setengah tahun.
Masa orang dewasa kalah dengan anak kecil. Malu dong !. Harus bisa, harus mencoba,
dan jangan menunggu besok tapi kerjakan sekarang. Go Go Go semangat ! SEMANGKA
!, SEMANGat KAwan-kawan !. Remember, you
can, if you thing you can !. Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta
yughoyyriu maa bianfushim (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib
sesuatu kaum hingga kaum tersebut yang merubah nasih mereka sendiri). Wassalam.