Harmonisasi Antara Ilmu dan Amal
|
I
|
lmu
laksana pelita di setiap jalan
kehidupan. Jika engkau memegangnya maka engkau tidak akan tersesat selamanya.
Ilmu juga laksana nakhoda kapal yang membawamu ke pulau kebahagiaan. Jika
engkau mau menjadi penumpangnya yang setia maka engkau akan aman dan selamat
sampai ke tujuan. Sebaliknya, jika engkau berlayar tanpa nakhoda ilmu maka
engkau akan tersesat dan mati di lautan kehidupan. Dari kecil hingga dewasa kita mencari ilmu, namun ternyata belum jua dapat menghilangkan hausnya untuk memiliki ilmu.
Semakin bertambah usia dan tingkat pendidikan seseorang maka semakin bertambah
pula ilmu yang dimilikinya. Namun ada satu pertanyaan yang wajib kita renungkan, yaitu apakah kita telah
mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui
selama ini ?. Jika jawabannya “ ya “ maka bersyukurlah kepada Allah Swt.
karena salah satu tanda cinta dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya adalah Dia
memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk beramal saleh dari ilmu-ilmu yang ia
ketahui. Jika jawabannya “ tidak “ maka beristighfarlah dan bertaubatlah segera
kepada Allah Swt. Sebab, barangkali kita termasuk orang-orang yang di murkai
oleh Allah yang Maha Perkasa. Naudzubillah min dzalik !
Duhai saudara saya yang berilmu,
ketahuilah bahwa ilmu dan amal laksana dua sisi mata uang logam yang tak
dapat dipisahkan. Kedua-duanya sama berharganya. Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tak berbuah dan amal tanpa
ilmu laksana kapal tanpa arah. Kita harus menyadari bahwa di samping kita di
perintahkan untuk mencari ilmu, kita pun juga di perintahkan untuk mengamalkan
ilmu yang kita ketahui. Sebagaimana firman-Nya : “ … Barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
(QS. Al-Kahfi : 110). Firman Allah Swt. tersebut menunjukkan bahwa siapa saja
yang ingin
berjumpa dengan Allah Ta’ala maka ia harus
beramal saleh terlebih dahulu. Oleh sebab itu, jangan sesekali engkau berharap bisa bertemu dengan Allah Ta’ala
sedangkan engkau tidak beramal saleh. Bukan berarti
kita harus mengamalkan semua ilmu yang ada tapi amalkanlah ilmu dengan
semampunya tanpa ada rasa untuk melalaikannya dan meremehkannya. Imam
al-Ghazali berkata : Seandainya engkau membaca ilmu (dari buku) selama seratus
tahun dan menulis seribu kitab maka tidak akan menjadi bekal persiapan menuju
ke rahmatullah selain dengan mengamalkannya.
Duhai saudara saya yang pandai, tahukah
kalian siapa orang yang cerdas dan orang yang lemah akalnya ?. Orang yang
cerdas bukanlah orang yang banyak ilmunya, lincah bicaranya, dan mampu menjawab
segala pertanyaan tapi orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengkoreksi
dirinya dan beramal saleh untuk persiapan sesudah matinya. Sedangkan orang yang
lemah akalnya adalah orang yang hidupnya hanya memikirkan kelezatan dan
kenikmatan dunia dan ia berangan-angan untuk di ampuni oleh Allah Swt. namun tidaklah
ia mau beramal saleh. Sungguh tidak pantas seseorang meminta upah kepada tuannya, sedangkan ia
telah diberikan alat-alat untuk bekerja namun ia tidak mau bekerja . Renungkanlah !
Sebagaimana Rasululla Saw.
bersabda :
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَنَا نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنّى عَلى اللهِ الْآمَانِي
(صحيح )
Artinya : Orang yang cerdas adalah orang yang mengkoreksi
dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah matinya dan orang yang lemah
akalnya adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada
Allah Swt. dengan anggan-angan untuk di ampuni dosanya (tanpa mau beramal). (Al-Jami’u al-Saghir )
Saudara saya yang cerdas, hebat atau
tidak hebatnya seseorang dalam berdebat dan berdiskusi, tidaklah menjadi ukuran
bahwa ia adalah orang yang di kasihi oleh Allah Swt. dan di muliakan-Nya. Bahkan bisa jadi ia adalah orang yang dimurkai oleh Allah Swt. Jika
ia hanya pandai berdebat dan menghunuskan pedang hujjahnya namun ia tidak
pandai mengamalkan ilmunya. Camkanlah ayat Allah Swt berikut ini, Hai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan. (QS. As-Shaff : 2-3).
Imam Syihabuddin al-Suhrawardi berkata : Ini perkataan benar untuk
menetapkan orang yang mempunyai ilmu “ jika ia tidak mengamalkan ilmunya maka
ia bukanlah orang yang berilmu. Oleh karena itu, janganlah engkau tertipu
terhadap kelincahan ucapannya, kepandaiannya, dan kehebatannya di dalam
berdiskusi dan berdebat. Karena dia adalah orang yang bodoh dan bukanlah orang
yang berilmu kecuali ia bertaubat kepada Allah Swt. (Minhaju al-Sawi). Sebagai
penutup, marilah kita berdoa bersama, duhai
Allah berikanlah kami ilmu yang bermanfaat dan jemputlah kami dalam keadaan
orang yang beramal saleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar