Rabu, 11 Maret 2015

Kepalsuan Cinta



Kepalsuan Cinta
B
ulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yakni bulan Rabi’ul Awwal telah berlalu, namun ada sebagian saudara kita yang masih merayakan peringatan kelahiran Nabi kita tersebut. Di setiap ceramah yang di sampaikan oleh para ustadz maupun para da’i pada saat perayaan peringatatan kelahiran Nabi Muhammad Saw., tidaklah lupa menyampaikan  hadis yang berbunyi,
المَرْءُ مَع مَنْ أَحَب
 Artinya : seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya. Kata penceramah : Jika kita mencintai Rasulullah Saw. maka kita akan bersama beliau di surga nanti. Benarkah hal tersebut, dengan bermodalkan cinta saja bisa masuk surga bersama beliau ?.
Bagaimana jika di dalam mencinta, kita  berbuat kemaksiatan , apakah kita tetap bersama Nabi Saw. di dalam surga nanti ?.
Duhai saudara saya yang taat kepada Allah Swt., perhatikan dan renungkanlah ayat ini : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31).
Ibnu Kasir berkata : Ayat yang mulia tersebut  adalah hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah Swt. Apabila  ia tidak berada di jalan yang dibawa Nabi Muhammad Saw. maka ia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya tersebut. Kecuali ia mengikuti jalan yang dibawa Nabi Muhammad Saw. di dalam semua perkataannya dan perbuatannya. (Shafwatu al-Tafasir Juz 1 : 167).
Di antara tanda cinta kepada Allah Swt. adalah  mencintai Nabi Saw. dan tanda cinta kepada Nabi Saw. adalah menjalankan sunnahnya yang mulia dan memperbanyak bersholawat kepadanya. karena Nabi Saw. bersabda : Siapa yang mencintai sesuatu maka ia banyak menyebutnya. (Durratu al-Nasihin : 51). Lihatlah dan perhatikanlah dalam setiap waktu yang  kita lalui, apakah kita banyak menyebut nama Nabi Muhammad Saw. ataukah nama orang lain ?.  dan apakah kita telah menjalankan sunnahnya ataukah melupakannya ?. Jika kita jarang menyebut nama Nabi Muhammad Saw. dan sunnahnya pun tidak dikerjakan, lalu bukti apa yang menunjukkan kita benar-benar cinta kepada beliau.
Jika di dalam perbuatan maupun perkataan banyak yang menyimpang dari perilaku Nabi Muhammad Saw., masih pantaskah kita mengaku cinta kepada beliau ?. Tentu tidak, orang yang benar-benar cinta tentu akan berusaha menyesuaikan dirinya dengan apa yang di sukai dan di benci kekasihnya. Tapi kenapa sunnah yang kecil saja yakni memperbanyak bersholawat kepada beliau terasa berat  untuk mengamalkannya. Jangan-jangan cinta kita hanyalah pengakuan semata.
Di riwayatkan dari Hatim Az Zahid bahwa ia berkata : Siapa yang mengaku cinta kepada Allah Swt. tanpa berbuat wara’ (berhati-hati pada yang syubhat lebih-lebih yang haram) maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang mengaku ingin masuk surga tapi tidak menginfakkan hartanya di jalan Allah Swt. maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang mengaku cinta kepada Nabi Saw. tapi tidak mengikuti sunnahnya maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang mengaku ingin di naikkan derajat di sisi Allah Swt. tapi anti bergaul dengan orang-orang fakisr miskin  maka ia adalah seorang pendusta. (Tanbihu al-Ghafilin).
Duhai saudara saya yang mencintai Nabi, cinta yang benar akan menghasilkan buah ketaatan bukan buah kemaksiatan. Siapa yang mengaku cinta kepada Nabi tapi tidak nampak perilaku Nabi di dalam dirinya maka ia adalah pendusta dan cintanya palsu belaka. Oleh karena itu, tidak pantas orang yang pendusta bersama Nabi Saw. di dalam surga. Ingatlah cinta tidaklah sekedar pengakuan tapi haruslah dibuktikan. Semoga kita menjadi umat yang benar-benar mencintai Nabi Saw. hinnga kita menjadi tetangga beliau di surga nanti. Amin.... ya Allah !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar