Kepalsuan Cinta
|
B
|
ulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yakni bulan Rabi’ul Awwal telah berlalu, namun
ada sebagian saudara kita yang masih merayakan peringatan kelahiran Nabi kita
tersebut. Di setiap ceramah yang di sampaikan oleh para ustadz maupun para da’i
pada saat perayaan peringatatan kelahiran Nabi Muhammad Saw., tidaklah lupa menyampaikan
hadis yang berbunyi,
المَرْءُ
مَع مَنْ أَحَب
Artinya : seseorang itu
akan bersama dengan orang yang dicintainya. Kata penceramah : Jika kita
mencintai Rasulullah Saw. maka kita akan bersama beliau di surga nanti.
Benarkah hal tersebut, dengan bermodalkan cinta saja bisa masuk surga bersama
beliau ?.
Bagaimana jika di dalam mencinta, kita berbuat kemaksiatan , apakah kita tetap
bersama Nabi Saw. di dalam surga nanti ?.
Duhai saudara saya yang taat kepada Allah Swt., perhatikan dan
renungkanlah ayat ini : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31).
Ibnu Kasir berkata : Ayat yang mulia tersebut adalah hakim bagi setiap orang yang mengaku
cinta kepada Allah Swt. Apabila ia tidak
berada di jalan yang dibawa Nabi Muhammad Saw. maka ia adalah seorang pendusta
dalam pengakuannya tersebut. Kecuali ia mengikuti jalan yang dibawa Nabi
Muhammad Saw. di dalam semua perkataannya dan perbuatannya. (Shafwatu
al-Tafasir Juz 1 : 167).
Di antara tanda cinta kepada Allah Swt. adalah mencintai Nabi Saw. dan tanda cinta kepada
Nabi Saw. adalah menjalankan sunnahnya yang mulia dan memperbanyak bersholawat
kepadanya. karena Nabi Saw. bersabda : Siapa yang mencintai sesuatu maka ia
banyak menyebutnya. (Durratu al-Nasihin : 51). Lihatlah dan
perhatikanlah dalam setiap waktu yang
kita lalui, apakah kita banyak menyebut nama Nabi Muhammad Saw. ataukah
nama orang lain ?. dan apakah kita telah
menjalankan sunnahnya ataukah melupakannya ?. Jika kita jarang menyebut nama
Nabi Muhammad Saw. dan sunnahnya pun tidak dikerjakan, lalu bukti apa yang
menunjukkan kita benar-benar cinta kepada beliau.
Jika di dalam perbuatan maupun perkataan banyak yang menyimpang
dari perilaku Nabi Muhammad Saw., masih pantaskah kita mengaku cinta kepada
beliau ?. Tentu tidak, orang yang benar-benar cinta tentu akan berusaha
menyesuaikan dirinya dengan apa yang di sukai dan di benci kekasihnya. Tapi
kenapa sunnah yang kecil saja yakni memperbanyak bersholawat kepada beliau
terasa berat untuk mengamalkannya.
Jangan-jangan cinta kita hanyalah pengakuan semata.
Di riwayatkan dari Hatim Az Zahid bahwa ia berkata : Siapa yang
mengaku cinta kepada Allah Swt. tanpa berbuat wara’ (berhati-hati pada yang
syubhat lebih-lebih yang haram) maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang
mengaku ingin masuk surga tapi tidak menginfakkan hartanya di jalan Allah Swt.
maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang mengaku cinta kepada Nabi Saw. tapi
tidak mengikuti sunnahnya maka ia adalah seorang pendusta. Siapa yang mengaku
ingin di naikkan derajat di sisi Allah Swt. tapi anti bergaul dengan
orang-orang fakisr miskin maka ia adalah
seorang pendusta. (Tanbihu al-Ghafilin).
Duhai saudara saya yang mencintai Nabi, cinta yang benar akan
menghasilkan buah ketaatan bukan buah kemaksiatan. Siapa
yang mengaku cinta kepada Nabi tapi tidak nampak perilaku Nabi di dalam dirinya
maka ia adalah pendusta dan cintanya palsu belaka. Oleh karena itu, tidak pantas orang yang
pendusta bersama Nabi Saw. di dalam surga. Ingatlah cinta tidaklah sekedar pengakuan tapi haruslah
dibuktikan. Semoga kita menjadi umat yang benar-benar mencintai Nabi Saw.
hinnga kita menjadi tetangga beliau di surga nanti. Amin.... ya Allah !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar