Senin, 23 Maret 2015

Galau mengundang amarah

Galau Mengundang Amarah

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa azan zuhur di kumandangkan, terdengarlah ia di seluruh penjuru alam, dari satu mensjid ke mesjid yang lainnya, dari musholla kecil hingga yang besar, dari yang sederhana hingga yang megah. Secara tidak langsung seorang muadzzin juga adalah seorang pendakwah yang menyeru kaum muslimin untuk melangkahkan kaki menuju  sabili rabbi yaitu “ mendirikan salat ” baik di mesjid maupun di musholla. Sehingga tidak mengherankan, jika baginda Nabi Saw. memberikan pengahargaan yang luar biasa kepada seorang muadzzin. Sebagaimana sabda beliau “Seorang muadzzin (orang yang mengumandangkan azan) maka akan di ampuni dosanya sejauh suaranya dan pahalanya seperti pahala orang yang sholat bersamanya”. (HR. Thabarani di dalam kitab Al-Kabir).
Hannan yang berada di tempat jualan temannya yang setia dan sehati yang bernama “ Muhammad Shobar “. Ulun tidak tahu apakah nama tersebut di berikan orangtuanya dulu karena faktor kesengajaan dan pengharapan ataukah hanya sekedar memberi nama saja. Namun yang jelas, ulun meyakini bahwa sebuah mempunyai  “ the power of pray “. Betapa tidak, Muhammad Shobar yang berarti orang yang terpuji lagi penyabar, kedua sifat tersebut benar-benar melekat di dalam dirinya. Bayangkan saja, tempat yang disewanya telah di niatkannnya untuk berjualan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan kuliah. Eeeh... ini malah di jadikan markas, tempat santai, tempat tidur, bahkan tempat makan oleh teman-temannya termasuk Hannan. Lebih dari itu, beberapa teman yang memprint  di tempatnya tidak tahu menahu kalau memprint di sana itu bayar bukan gratis tapi seolah-olah mereka tidak memperdulikannya. Sekalipun begitu, Shobar tetap  bersabar, menyambut dan menyapa mereka seperti biasanya. Namun satu ungkapan yang sering di katakan oleh oleh mama ulun yaitu “ sedalam-dalamnya lautan masih kawa di katahui namun sedalam-dalamnya hati, siapa nang kawa mangatahui “. 
Duuh... jadi panjang bercerita tentang Muhammad Shobar. Tapi itulah Muhammad Shobar yang menghiasi diri dengan pakaian sifat terpuji, berhati emas, dan bermahkotakan sabar. Hannan berkata kepada Shobar : Bar, qad qamal adzan, hayya binaa ilal masjid !. Intadzir qalilan Han, ana albisu al-izara, jawab Shobar. Hannan mencoba menggoda dan mendesak Shobar, hayya, hayya Bar !. Intadzir……. Han ! teriak Shobar. Setelah selesai memasang sarung, Shobar dan Hannan pergi ke mesjid Darussalam dengan mengendarai motor. Sesampainya di tempat wudhu, Hannan bertemu Rina dan mengucapkan salam, assalamulaikum ya ukhti Rina. Wa’alaikumussalam ya akhi Hannan, jawab Rina. Kayfal hal ?, tanya Hannan. Alhamdulillah bil khair fi amanillah, jawab Rina. Hal ma dumati fi “ galau “ ?., tanya Hannan. La, alhamdulillah, wa lakin in kuntu “ galau “ fa unajii ilallahi faqath, he he he jawab Rina dengan penuh keceriaan. Thob’an, wa dzalikal wajib ‘alaik. ‘Afwan, ana awwalan ila dakhilil masjid, ucap Hannnan kepada Rina. Thafaddhol ya akhi Hannan, ana uridu ilal maudho’ lil wudhui, jawab Rina. Tafaddholi ya ukhti Rina, ilalliqa’ , ucap Hannan. Syukran, ma’assalamah, balas Rina.
Berpisahlah mereka berdua, Hannan langsung berjalan ke pintu mesjid sedangkan Rina masuk ke tempat wudhu untuk berwudhu. Sambil berjalan menuju pintu mesjid, ternyata Hannan berkata di dalam hati, alhamdulillah galau yang dirasakannya telah hilang dan semoga dia selalu berpegung kepada tali agama Allah. 
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, tidak mudah sehabis putus cinta untuk menyabarkan diri dan menenangkan hati. Putus cinta bisa berakibat putusnya nyawa. Betap tidak, orang yang di putuskan cinta padahal ia adalah orang yang setia, rela melakukan apa saja untuk yang di cintainya. Ketika ia di putuskan tanpa sebab atau alasan yang jelas maka tentu hal tersebut akan menorehkan luka yang mendalam di hati. Sehingga tidak sedikit orang yang putus cinta, melampiaskan amrahnya kepada barang-barang di sekelilingnya. Melempar-lempar hp, kipas angin, merobek-robek bantal, boneka, baju, dan semua yang mengingatkan tentang dia. Lumpuhkanlah ingatankau, hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentangnya, hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia, ku ingin lupakannya.... begitulah kata Momo Geisha. Bahkan jika di tanya orangtuanya, ada apa nak ?. maka di jawabnya : Pergi sana, pergi semuanya, aku tidak ingin ada yang menganggu, jawab dia dengan nada yang kasar. Tanpa di sadarinya, ia telah mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan, seperti brengsek, bangsat, bodoh, dan lain-lain. 
Tahukah anda bahwa dia telah di kelilingi oleh api amarah. Sehingga dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendri. Dan orang yang seperti itu bisa nekat melukai orang lain ataupun dirinya sendiri. Oleh karena itu, baginda Rasulullah Saw memerintahkan kepada umatnya untuk jangan marah. Sebagaimana sabda beliau, dari Abu Hurairah ra. bahwa seorang laki-laki berkta kepada beliau : “ Berilah aku nasehat ! “. Nabi Saw. bersabda : Jangan marah !. Beliau mengulanginya beberapa kali “ jangan marah “. (HR. Bukhari).
Tidak sedikit orang yang putus cinta, emosinya tidak terkontrol dan marah-marah tak jelas pangkalnya. Untuk meredamkan marah, ada beberapa cara yang bisa di tempuh :
1.      Mengingat-ngingat dampak dari marah, keutamaan menahan marah, dan memaafkan orang lain.
Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “ Barangsiapa yang menahan marah dan ia sebenarnya mampu untuk meluapkannya maka pada hari kiamat kelak, ia akan dipannggil Allah di hadapan makhluk-Nya lalu ia disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.
2.      Ta’awwudz
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dua orang laki-laki saling mencaci di samping Rasulullah Saw.. Salah satunya mencaci saudaranya sambil marah hingga wajahnya memerah. Maka Rasulullah Saw. bersabda : “ Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, anda ia ucapkan, tentu kemarahan yang mereka alami akan hilang  yaitu a’udzubillahi minasy syaithonir rajim (aku berlindung dari kejahatan setan yang terkutuk).
3.      Mengubah posisi
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “ Jika salah seorang dari kalian marah dan ia berdiri, maka duduklah. Karena kemarahan akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah. “ Hal ini di karenakan posisi berdiri lebih mudah untuk meluapkan dendam, lain halnya dengan duduk ataupun berbaring.
4.      Berwudhu
Karena pada dasarnya, kemarahan adalah api yang membaraalam diri, maka air akan memadamkan api tersebut. Rasulullah Saw. bersabda : “ Sesungguhhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Jika seorang di antara kalian marah maka berwudhulah”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Apakah seorang muslim tidak boleh marah ?. Ya seorang muslim tidak boleh marah kecuali untuk membela agama Allah Swt. dan kehormatan seorang muslim yang di injak-injak ataupun melihat larangan Allah di langgar. Maka kondisi tersebut  seorang muslim di perbolehkan marah.  Demikianlah yang dapat ulun share untuk buhan pian sabarataan. Jadilah orang yang penyabar dan jangan jadi orang pemarah. Boleh marah, tapi letakkanlah sesuai pada tempatnya. Jazakalllahu ahsanal jaza’. Wassalam.