Masbuq Perdana
|
M
|
emang sengaja Hannan menggoda Sari. Dianya juga mudah tergoda. “
Ini kita toh, ujarnya, Bang “ kalimat yang sering diungkapkan Sari kepada
Hannan. Dia tertawa sekaligus sedih ketika mengingat kalimat itu. Kata “ kita “
seolah sebentar lagi akan berubah menjadi “ kami “. Nah, Hannan suka
mengulang-ulangi kalimat tersebut “ Ini kita toh “ sambil jari telunjuknya
mengarah ke benda apapun yang dipegangnya. Bagi orang lain kayaknya tidak ada
perbedaan mendalam tentang kata kepemilikan jamak antara “ kita “ dan “ kami “.
Tapi bagi Sari, itu sangat berarti. Ini soal GBHO dan GBHC. Garis Besar Haluan
Organisasi dan Garis Besar Haluan Cinta. Seolah ketika disebut kata “ kami “
separo jiwanya hilang entah kemana. Hannan masih terlihat sibuk memprint
buliten Jum’at An-Nahl yang dipersiapkannya untuk hari besok. Hannan iseng.
Jail pula. Sambil memprint, dia putar potongan film Dawai 2 Asmara. Sengaja
memutarnya, pas tepat di lagu “ Cuma Kamu “ pas pula si Sari sedang ingat si dia. Kala itu Ridho disuruh untuk menyumbangkan
sebuah lagu di hari ulang tahun Dafa. Ya, Dafa, kekasih hatinya.
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu
sunyi ku rasa dunia ini
Tanpa kamu hampa ku rasa dunia ini…
Mata Sari mulai berkaca-kaca mendegar dan melihat potongan film
tersebut. Hendak menangis tapi malu. Hendak menyebut nama si dia juga takut
dianggap lebay. Memang sengaja Hannan. Lagu itupun masih bersenandung memenuhi
ruang hati yang kosong, memanggil jiwa yang merana.
Tiada kalimat yang dapat melukiskan
Betapa cintaku kepada dirimu
Tiada ibarat yang dapat melukiskan
Betapa sayangku kepada dirimu
Itu dapat kau rasa dari pandang mataku
Itu dapat kau rasa dari belai tanganku
Hooo…..
Kali ini, Sari histeris. “ Saya itu bang, teringat masa lalu bersama
dengannya. Ingat benar, kata-katanya. Tolong ini Sar, ambil ini Sar, kirim ini
Sar. Macam-macam permintaannya. Tapi Sari tak pernah mengeluh. Seoalah
perintahnya adalah mantra cintanya. Permohonannya adalah titah sang raja untuk
Sari. Dia tak pernah memuji Sari apalagi berkata manis. Judes dan cuek itu yang
terlihat di hadapan Sari. Tapi, semua itu seolah hal yang indah bagi Sari. “ Ya
Rabb, terlalu banyak moment bersejarah bersama dengannya “. Sari meronta. Pedih
hatinya melihat kejadian yang menimpanya.
“ Jangan cengeng, Sar. Lanjutkan perjuanganmu !. Mungkin ini sudah
jalan hidup yang harus Kamu pilih. Because life is choice ” Syakur mencoba
memberikan semangat dan meneguhkan hati Sari.
“ Hayo.. bang Hannan. Hayo.. bang Hannan. !” Sorak Delisa sambil
bertepuk tangan. Sedangkan Hannan hanya tertawa terkikik-kikik. Hannan ini
usil. Lautan yang tenang jangan dicoba diusik. Bisa tsunami. Gunung merapi yang
sedang enak tidur, jangan coba tuk dibangunkan. Bisa meletus. Awan hitam jangan
coba ditabrakan denga awan hitam lain. Bisa hujan. Akhirnya Sari benar-benar
menangis.
Tiba-tiba datang Shobar. Datang tak diundang. Pulangpun tak
diantar. Memang dia Jailangkung. Bukan, tapi kekasih hati Delisa.
“ Han, ke Mesjid baru yuk ! Zuhur ini di sana menjadi Zuhur
perdana. Ucap Shobar sambil memberikan kerupuk kepada Delisa. Shobar begitu sangat bersemangat mengajaknya yang
sedang sibuk memprint. Memang benar, sesuatu yang baru itu dapat menarik
perhatian seseorang untuk mengetahuinya. Baju baru, motor baru, rumah baru,
bahkan pacar baru. Yang jelas, jika pacar baru dan masih ada hubungan dengan
pacar yang lama. Awas !. Pacar baru itu bisa dijambak oleh pacar lama. Jika
terbukti merebut dan menggoda kekasihnya. Kalau sudah begitu, keluar deh jurus andalan laki-laki. Apakah itu, “ ambil langkah
seribu. Lari, menghilang dari incaran pacar lama “. Semboyannya, “ Mati satu
tumbuh seribu, habis dirimu, ada lagi cadangan baru.” Jika ketangkap basah, dia
menyalahkan pacar barunya. Seolah-olah ia dihasut, digoda oleh perempuan
tersebut. Dia pendusta. Penipu. Yah, begitulah perempuan diperlakukan. Selalu
dijadikan kaum mustadh’afin, kaum yang dianggap lemah dan tertindas.
“ Masih lama azan Zuhurnya , Bar “. Ucap Hannan yang sedang
memperbaiki kata yang salah di buliten
Juma’at “ Potitik “. Masih ada waktu setengah jam sebelum zuhur.
“ Gak apa-apa. Kita keliling saja dulu, melihat masjid baru yang
besar nan megah.” Shobar berupaya mengajakanya tapi ia terlihat lesu ke sana.
Entahlah, apa yang ada dalam pikiran laki-laki yang berkaca mata itu.
“ Antum duluan saja, Ana lagi sibuk memprint. Tanggung, Bar .“
“ Baiklah. Ana duluan “
Melihat suatu pemandangan, memang tak asyik jika sendirian. Soalnya
tak ada teman ngobrol. Makan saja, jika sendirian kurang asyik. Tak ada teman
ngobrol. Tapi bagi orang sholeh, ngobrolnya tentang agama bukan sembarang
bicara. Nabi Ibrahim gelisah jika makan sendirian. Beliau akan mencari teman
untuk mau makan bersama beliau. Walaupun jauh bermil-mil. Semua itu demi
mengharap keberkahan makan bersama, berjama’ah. Dari Nu’man bin Basyir,
Rasulullah SAW. Bersabda : “ Berjamah itu (mendatangkan) rahmat dan
perceraian itu (menimbulkan) siksa (penderitaan). (HR. Abdullah di dalam
Zawaidul Musnad dan Al-Qudho’i). (Lihat, Al-Jami’us Shoqir : 220).
Hannan masih terlihat sibuk memprint. Entah berapa kertas yang
sudah diprintnya. Tapi jumlah yang harus dipenuhinya adalah 100 lembar yang
akan disebarkan di dua masjid, Mesjid Raya Darussalam dan Mesjid Al-Firdaus. Ia
bersyukur sekarang buliten Jum’at An-Nahl mulai eksis. Mulai istiqamah
menerbitkan bulitennya. Hal ini juga tidak luput dari dukungan kawan-kawannya
dan suplai dana dari beberapa sponsor yaitu Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), UPT
Pengelolaan Sampah Terpadu Jekan Raya 1, dan Pengurus Cabang Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tapi ia masih sedih, karena kawan-kawannya
belum banyak yang mau menyumbangkan tulisannya. Padahal menyumbang dengan ide
itu lebih mudah dan ringan dibandingkan menyumbang dengan materi. Tidak setiap
hari. Hanya untuk hari Jum’at. Tapi satu hal yang disadarinya dan diyakininya,
perjuangan ini terus berlanjut, “ Pasti ada generasi baru, mahasiswa baru yang
melanjutkan cerita perjuangan kami ini”.
“ Ini yang terakhir.” Ucapnya di dalam hati. Printer mulai
mengerjakan tugasnya. Mengeluarkan kertas terkhir dari perutnya. Aneh, Hannan
tak sabar. Ia menunggu kertas itu keluar seperti bidan yang menunggu kepala bayi
yang mau keluar dari rahim ibunya. Azan Zuhur berkumandang. Tapi kali ini,
suara azan yang datang dari arah masjid baru itu lebih kecil volume suaranya.
Lebih nyaring masjid lama dibandingkan masjid baru tersebut. Kertas yang
diprintnya pun sudah keluar sempurna.
“ Alhamdulillah ! Azan… memprintnya juga selesai semua “ ucap
Hannan penuh kesyukuran. Soalnya, ia tak mau memprintnya sampai malam. Mamanya
sedang sakit. Mag mamanya kambuh lagi. Begitulah hidup, ada kalanya sehat dan
ada kalanya sakit. Tapi sehat dan sakit tetap harus disyukuri. Kenapa sakit
harus disyukuri juga ? Sakit itu kan tidak enak ? Benar sekali. Sakit itu tidak enak. Oleh
karena itu, Allah menyiapkan pahala bagi orang yang sabar ketika sakit
menimpanya. Menghapuskan dosa-dosa kecilnya. Bahkan derajatnya disisi Allah
dapat naik dengan sebab sabar menahan sakit.
*****
Hujan di mata Sari mulai reda. Hanya embun yang tersisa di pipinya.
Make up-nya perlahan luntur diguyuri hujan deras. Larut bersama butiran air
mata. Hannan bangkit dari tempat duduknya menuju pintu sambil bernyanyi, “
Kalau sudah tiada baru terasa…. “.
Nah, dimulai lagi. Stop, Han. Nanti hujan lagi. Jangan sampai HP
Kamu ini Saya lempar. Gertak Syakur.
“ Hiks.. hiks..”. Terjadi lagi. Sari menangis lagi.
“ Hayo.. bang Hannan. Hayo.. bang Hannan. !” Sorak Delisa sammbil
bertepuk tangan. Tapi kali ini tepukannya dan sorakannya lebih cepat dari yang
pertama tadi.
“ Kali ini, Sari menangis bukan karena Bang Hannan”. Ucap Sari.
“ Terus, karena siapa ? “ Tanya Syakur penuh keheranan.
“ Itu karena HP yang Kamu pegang adalah HP-ku bukan HP Abang
Hannan. Hiks..hiks..
Syakur memastikan apa yang dipegangnya, dilihatnya dengan seksama.
Ternyata itu memang benar HP Sari.
“ Oh iya ini HP Sari. Sorry “. Syakur tersipu malu.
“ Ha… ha… ha….. Yuk semua,
kita sholat dulu. “ Ajak Hannan kepada kawan-kawannya yang sudah keluar
dari pintu kantor.
“ Yuk. Kalian berdua ? “ Tanya Syakur kepada Delisa dan Sari.
“ Kami berdua, lagi datang matahari. He he. Nitip pahala saja ya
dengan kalian. Ucap Delisa dengan canda.
“ Keenakan , oyyyy“. Teriak Hannan yang sedang menghidupi motor di
depan kantor DEMA FUAD.
*****
“ Allahu Akbar “ Ucap Imam ketika mengangkat takbiratul ihram.
Alhamdulillah Hannan sempat rukuk bersama imam di rakaat pertama. Walaupun ia
tak sempat membaca Al-Fatihah. Hal itu tak mengapa, karena bacaannya telah ditanggung
oleh sang Imam. Begitu kajian fiqih yang telah dipelajarinya sekaligus didengarnya
dari guru-gurunya. Inilah kelebihan sekaligus keunikan sholat berjamaah.
Gerakan demi gerakan sholat silih berganti.
Assamu’alaikum warahmatullah,
ucap Imam dengan suara keras di salam yang pertama sedangkan di salam yang
kedua, lebih pelan dari salam pertama. Ini menunjukkan jika salam pertama itu
wajib diucapkan dan menjadi rukun sholat, rukun qauli. Dan salam kedua
adalah sunnah saja. Berdzikir dan membaca wirid
setelah sholat sudah menjadi kebiasaann Hannan. Setelah mengucapkan
salam, ia menyapu wajahnya sambil berdoa, “ allhummadzhba ‘annil hamma wal
hazan (Duhai Allah, hilangkanlah rasa duka yang telah lalu dan yang akan
datang) “. Lalu dengan tangan kanannya, ia memegang hatinya sambil membaca
Surah Al-Insyirah sebanyak tiga kali. Hal ini supaya tidak ada kesedihan yang
melanda kecuali kebahagiaan semata. Sekalipun datang kesedihan itu maka dengan
berkat mengamalkan surah tersebut, semoga hati segera menjadi tenang dan
lapang. Tak berlarut-larut dalam
kesedihan. Selain itu pula, membaca surah Al-Insyirah itu dapat menambah daya
ingat seseorang. Maklum, Hannan orangnya pelupa. Ia berharap dengan mengamalkan
surat itu, penyakit pelupanya hilang. Kemudian ia membaca wirid sehabis sholat fardu dan
terakhir berdoa. Tak lupa, ia sholat sunnah ba’da Zuhur.
Setelah Imam selesai membaca wirid dan doa. Salah satu marbot
masjid memberikan pengumuman sekaligus mempersilahkan kepada Imam untuk
memberikan ceramah agamannya. Penceramah menyampaikan tausyiah tentang tujuh
amal dan senjata umat Nabi Muhammad SAW. yang menyebabkan Iblis menderita dan
sakit hati . Penceramah itu mulai memberikan tausyiahnya. Di sudut Mesjdil
Haram. Nabi melihat Iblis sedih. Kusut mukanya. Begitu menderita dan tersiksa.
Nabi pun bertanya : “ Kenapa Engkau terlihat begitu tersiksa dan
sedih ? “
Iblis menjawab : “ Hal ini karena umatmu telah melakukan tujuh amal
dan senjata yang telah menyebabkanku menderita dan sakit hati
“ Apa itu, wahai Iblis ? ” Tanya Nabi.
“ Yaitu Apabila mereka
bertemu, mereka mengucapkan salam dan menjawabnya. Karena di sana terdapat asma
Allah (As-Salam). Yang kedua, apabila mereka bertemu mereka bersalaman.
Selama bersalama, Allah mengmapuni dosa mereka. Apabila disebut nama Nabi maka
mereka bersholawat. Karena Aku tahu balasan orang yang bersholawat
kepadamu…..”. Hannan sudah mulai tak fokus lagi mendengarkan ceramah tersebut
karena ia melihat banyak orang yang naik
ke tingkat tiga. Mereka berfoto-fotoan. Mengitari masjid sambil bercakap-cakap.
Hannan tertarik juga. Ia pun berkeliling masjid. Lalu naik ke
lantai berikutnya, tingkat ketiga. Di tingkat ketiga, ia bertemu dengan seorang
bapak, tinggi besar, mempunyai jenggot tebal yang mulai memutih. Namanya, “ pak
Sucipto “. Bapak itu berada di dekat jendela masjid sambil melihat pemandangan
sekitar mesjid. Ia kenal baik dengan bapak tersebut.
“ Assalamualaikum. Bagaimaan kabarnya, Pak ? “ ucap Hannan.
“ Waalaikum salam. Baik, Han. Kamu sendiri bagaimana ? “
“ Baik juga, Alhamdulillah. “
“ Kapan ya pak, menara tersebut selesai.”
“ Lama, Han. Tidak mudah membangun sebuah menara . “ Sahut Shobar
yang tak diketahui oleh Hannan kehadirannya.
“ Iih.. antum juga ada di sini tuh. “ Ucapnya penuh keheranan. Karena
sewaktu ia membaca wirid tak melihat Shobar berada di dalam masjid.
“ Mesjid baru ini, sebagaimana yang kalian lihat, mempunyai tiga tingkat. Lantai dasar
digunakan sebagai kantor sedangkan lantai kedua dan ketiga difungsikan sebagai
tempat sholat. Mesjid ini adalah masjid paling besar dan megah se-Kal-Teng.
Jika kalian melihat masjid ini di malam hari maka keindahan dan kemegahannya
akan sangat terasa. Nah, sedangkan menara itu adalah menara masjid paling tingi
se-Indonesia. Sampai ke puncak menara, panjangnya mencapai 114 M. Namun, para
pengungjung hanya bisa naik sampai ketinggian 99 M ”, Katanya, menara masjid
itu juga paling tinggi se-Indonesia “. Pandangan mata dan jari beliau mengarah
ke menara mesjid yang masih dalam proses penyelesaian.
“ Ooh.. begitu “. Sahut bersamaan Hannan dan Shobar.
“ Tapi ingat, menara masjid bukan menara yang berdiri sendiri.
Kalau menara yang berdiri sendiri, mungkin ada yang lebih tinggi lagi dari
menara itu “. Pak Sucipto memperjelas ucapannya.
|
|
“ Kenapa ? “ Sahutan mereka berdua serentak lagi.
“Karena semuanya perdana. Muadzin
perdana, imam perdana, makmum perdana, penceramah perdana. Emmm…. sholat Zuhur perdana”.
“ dan masbuq perdana “. Sahut Shobat dengan nyerocos.
“ Bujur banar, kam Bar. “ Ucap Hannan dengan bahasa Banjar khas
lugat Nagara sambil sorotan matanya mengarah ke Shobar dan kepalanya
mengangguk-angguk.
Semuaya tertawa. Namun tiba-tiba Hannan merasa pusing. Dan berada
dalam masjid itu terasa panas baginya.
“ Maaf, Pak, Bar, Ana duluan. Assalamulaikum. “ ucap salam Hannan sambil
menyalami Shobar dan mencium tangan pak Sucipto.
“ Walaikum salam”. Mereka berdua membalas salam. Mereka berdua
tampak heran. Apa yang terjadi terhadap Hannan.
Dari jendela, Hannan berjalan mengarah ke tengah lingkaran masjid.
Ia melihat ada tiga perempuan di bawanya. Mereka sedang asyik bercakap-cakap.
Salah satunya adalah sahabat terbaiknya, sekaligus tutornya dalam hal
penulisan. “ Syita “, nama panggilannya. Nama lengkapnya, “ Zahratus Syita “.
Kawan disampingnya bernama, Bilqis. Nama lengkapnya, Auliani Bilqis. Tapi
Hannan tak mengenal teman satunya lagi. Ia menggeledah di kantong baju, celana,
tas tapi tak ketemu. Benda yang ia cari adalah HP. Ia hendak mengirim pesan
kepada Syita agar Syita mengetahui bahwa ia sedang berada di atas. Hendak
berteriak, malu dan itu juga tak sopan. Ini masjid, bukan pasar. Hendak
menggugurkan sebuah kertas sebagai dilalah dan berharap ia menengok ke atas. Takut, jika
disangka mengotori masjid dan sebagainya. Datanglah dua adik kelasnya yang
menghampirinya. Dari kejauhan mereka sudah asyik mengobrol berdua.
“ Lim, coba Kamu naik ke sana. Nanti aku pasti memfoto Kamu ”. Ucap
Jery sambil menunjuk lampu besar yang tergantung di atas kubah.
“ Nah, dari sini nanti Kami lempar Kamu ke sana. Apabila
tersangkut, maka Kami akan melambaikan tangan. Dadah… Salim. Nyerocos Hannan
menyusup pembicaraan mereka berdua. Ia mengeraskan
suaranya supaya sahabatnya yang di bawah menengoknya ke atas. Memberi tahu
seseorang tidak harus berucap, “ Aku ada di atas “ dengan ada suarapun sudah
memberikan dilalah sebuah keberadaan seseorang. Lagi pula Hannan
mempunyai suara yang khas. Keras, nyaring, serak-serak basah bukan serak-serak
hancur. He he. Tapi sayang seribu sayang, hasilnya nihil. Mereka bertiga
terlalu sibuk mengobrol. Sahabatnya tak menengoknya. Akhirnya, Hannan turun ke
bawah. Kepalanya juga semakin terasa pusing. Sesak pula dadanya.
Setelah turun, Hannan baru menyadari bahwa dia telah berbicara
masalah dunia dan bercanda ria di dalam masjid padahal itu dilarang oleh
Rasulullah SAW. Sebagaimana sabdanya, “ Barangsiapa yang bercakap-cakap
tentang hal keduniaan di dalam masjid maka Allah akan menghapuskan amal
ibadahnya selama empat puluh tahun. “ (Lihat, Tahqihul Qaul al-Hatsis fi
Syarh Lubab al-Hadis : 56). Ia pergi ke kantor DEMA FUAD untuk BoCi (Bobo
Ciang). Namun sebelum ia benar-benar memejamkan matanya. Ia teringat dengan
masjid baru itu lagi. Ketika pembangunan ia melihat para kuli yang bekerja
tidak mengerjakan sholat. Artinya, dalam dasar pembangunan sudah tidak
dilandasi dengan taqwa. Padahal Allah menyatakan, “… Sesungguhnya mesjid
yang didirikan atas dasar takwa…” (QS. At-Taubah : 108). Taqwa dalam arti
generalnya adalah imtistalul awamiri wajtinabun nawahihi (Menjunjung
segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya). Sedangkan taqwa
menurut Para Hukama yaitu mempunyai keunikan tersendiri. Kata taqwa mempunyai
empat huruf yaitu ta, qaf, waw, dan ya. Maknanya, Tawadhu’ Qana’ah,
Wara’, dan Yaqin (Nashoihud Diniyah). Tanyakanlah, apakah pembangunan
masjid itu ada unsur politik, kekuasaan, eksis, keangkuhan, atau ikhlas
semata-mata mengharap ridho Allah. Tidak perlu diberi tahu “ siapa yang
membangunnya ? “ Mesjid ini bukan untuk perorangan tapi untuk banyak orang.
Tanyakan, darimana saja datang dananya untuk pembangunan masjid tersebut.
Kritis itu perlu. Tapi ia berharap hipotesanya keliru.
Mesjid itu juga terasa panas dan Hannan pun merasakan ada aura yang
berbeda dari masjid itu. Terasa lebih enak masjid yang lama. Walaupun
alasannya, karena belum dipasang AC, kipas angin dan juga berada ditingkat
atas. Tapi Hannan tetap saja tak mengiyakan.
“ Apakah membangun masjid megah dan besar ini termasuk tanda-tanda
hari kiamat ? “ Ia bertanya dengan dirinya sendiri. Orang berlomba-lomba
membangun masjid tapi sepi yang memakmurkannya. Masjid jadi tempat perniagaan
bukan tempat ibadah. Image sakral dan suci tentang sebuah bangunan masjid kini
mulai pudar.
Hannan tak bisa tidur, akhirnya pikirannya mengembara ke Puntun
City, Gg, Sayur. Di sana ada sebuah masjid. Mesjid Riyadus Sholihin namanya. Ia teringat ada seorang penceramah sewaktu
Isra Mi’raj di sana yang mengatakan, “ rasa kopi yang diberikan oleh Alm. Guru
Sakumpul masih terasa di lidah ulun ini. Padahal sudah lama sekali. Ketika itu
ulun masih santri yang mengaji di dalam pagar. Sebuah langgar hendak dibangun
dan ulun ikut membantu disana. Sebelum azan berkumandang, kami berhenti bekerja
dan siap-siap untuk sholat. Guru Sakumpul pun tidak segan-segan memberikan air
kopi kepada kami. Subhanallah, seperti apa yang dikatakan ulun tadi, rasa kopi
yang diberikan oleh Alm. Guru Sakumpul masih terasa di lidah ulun ini. Langgar
itu dinamai dengan “ Al-Karamah “, ujar pencermah tersebut yang begitu
berwibawa dan meresapi menyampaikan pengalamannya. Hannan juga pernah sholat di sana. MasyaAllah,
ketika menginjakkan kaki ke dalamnya. Hati terasa tenang. Sholatpun khusyu’.
Jiwa ini, ingin sekali berlama-lama berada di sana. Bukan sekedar duduk. Tapi
beribadah. Ada energi positif yang terkumpul di dalamnya. Masyarakat sekitar
langgar itu pun begitu harmonis dan taat kepada Allah. Ketika azan
dikumandangkan, mereka meninggalkan semua dagangan mereka dan langsung pergi ke
langgar tersebut. Subhanallah. Langgar yang menakjubkan.
Pikirannya terus melayang. Tapi matanya mulai menutup gerbang
penglihatannya. Ia masih ingat berdoa sebelum tidur, astagfirullahal adzim. Asyahadu
anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Bismikallahumma
ahya wa bismika amut. Hati-hati tidur tanpa berdzikir dan berdoa. Karena an-naumu
akhul mauti. Tidur adalah saudara mati. Tidak ada seorang manusiapun yang
dapat memastikan nafasnya akan berhembus sampai ia terbangun kembali. Tak ada
satupun. Oleh karena itu, sebelum tidur,
hendaknya beristighfar, ucapkanlah dua kalimat syahadat, dan berdoa dengan doa
sebelum tidur.
Sampai jumpa, sahabaku !. Baca
terus tulisan saya. Saran dan kritiknya dari kawan-kawan, sahabat seperjuangan
di jalan Allah, senantiasa saya tunggu. Semoga bermanfaat. Salam hangat
El-Mannan.