Surat Terakhir
|
S
|
etelah selesai menulis artikel yang
berjudul “ Salahkah Aku Merindukannya ?”, Hannan pun beristirahat sebentar
sambil menunggu waktu salat zuhur. Tidak beberapa lama, azan pun dikumandangkan, Hannan terbangun mendengar azan tersebut dan ia
bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat zuhur. Setelah salat
zuhur, Hannan menonton TV dan ia memilih channel MNCTV.
Ketika itu MNCTV menayangkan sebuah flim India yang berjudul “ Veer Zara “.
Padahal flim India tersebut sudah beberapa kali di tonton oleh Hannan namun
tidak sedikit pun membuatnya bosan untuk menyaksikannya kembali. Veer dan Zara
adalah dua insan yang berbeda negara dan agama. Cinta mereka berdua di uji
selama 22 tahun. Kata-kata yang paling di ingat oleh Hannan dari flim India
tersebut adalah ketika Veer mengantarkan Zara ke stasiun kereta api
yang mana Zara hendak pulang ke negara asalnya “ Pakistan ”. Ketika itu Veer
berkata kepada Zara, “ ingatlah ada orang India yang siap mempertaruhkan
nyawanya untuk orang yang disukainya”. Di tengah-tengah asyiknya menonton flim
India tersebut, Hannan merasa cintanya bergelora seakan-akan memanggil
pemiliknya. Sehingga ia teringat sebuah surat yang dikirimkannya kepada
kekasihnya dulu “ Siti Zuhairiyyah”. Namun setelah surat tersebut dikirim,
ternyata Hayati mengembalikannya lagi kepada Hannan. Dan surat tersebut masih
di simpan oleh Hannan sampai sekarang. Tergeraklah jiwa Hannan untuk membacanya
kembali. Inilah surat yang dibaca oleh Hannan,
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kaka mulai surat ini dengan menulis basmalah
supaya surat ini membawa keberkahan bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Amin
Ya Rabbal ‘alamin !.
Salam Taubat !!!
Kaka terlena apa yang telah kaka lakukan,
bertindak dengan berlabel cinta, berbuat baik dengan berlogo cinta, dan memberi
perhatian dengan bermerk cinta. Tapi apakah itu yang dinamakan cinta ?. Itu
bukan cinta namanya tapi nafsu belaka. Ingatlah dengan hadis ini, “ innamal
a’malu binniyyat “ (segala amal tergantung pada niatnya). Beramal tanpa
mendapatkan pahala dan beramal tanpa diridhoi Allah Ta’ala, percuma, sia-sia
belaka. Ketika berkata banyak lebihnya daripada
pasnya. Artinya, kaka telah melebihkan perkataan yang seharusnya itu tidak
boleh. Salah satunya, kaka pernah berkata : “Kaka tidak bisa jauh dari pian “,
tapi kata-kata ini tidak pernah kaka katakan kepada orangtua kaka dan
seolah-olah kehilangan pian itu lebih takut daripada kehilangan Tuhan. Kaka telah berbuat zholim baik kepada diri
sendiri maupun kepada diri pian. Innalllah la yuhibbul musrifin.
Perasaan cinta membuat kaka berani
menanggung risiko yang akan terjadi, sampai-sampai kaka berani memimpikan kita
akan menikah. Tapi anehnya, kaka tidak pernah berfikir masalah apa yang akan
terjadi. Ya masalah kedepannya, salah satunya, kaka telah berjanji dengan
orangtua bahwa setelah S2 kaka baru akan menikah. Pian akan menunggu dengan
waktu yang lama, dengan cinta mungkin kita akan bisa bertahan. Tapi apakah kaka
sanggup menahan rasa pedih jika pian yang nikah telebih dahulu atau sebaliknya,
apakah pian sanggup jika kaka ditakdirkan lebih dulu menikah. Sunggu jahat
sekali sikap kaka yang memberi harapan tanpa bukti.
Lebih baik kita berteman saja, tanpa
mengurangi sayang dan cinta kita. Jika kaka mempunyai masalah, semoga kaka
boleh meminta pendapat dan berbagi cerita dengan pian. Jika pian mau minta
tolong, semoga kaka bisa membantu. La tahzan, innallah ma’anaa, jangan bersedih, karena Allah bersama
kita. Kaka yakin seyakin-yakinnya, kita akan lebih aman dari murka Tuhan dengan
berteman saja.
Kaka sayang dan
cinta…
Demi Allah
kaka sayang dengan pian.
Jika kita berjodoh, pian akan melihat
rombongan keluarga kaka datang kerumah pian, jika orang yang datang tersebut
bukan kaka maka itulah orang yang terbaik yang ditakdirkan untuk pian. Tolong
jangan benci kaka dan jangan pula memusuhi kaka. Demi Allah, pian adalah wanita
yang paling kaka cintai setelah mama kaka.
Di jalan Dr. Murjani, 14 Desember 2013 malam
jum’at.
Abdul Hannan Az-Zikra bin Muhammad mencintai
Siti Zuhairiyyah sepenuh hati
Wassalam ‘alaikum......
Setelah membaca surat tersebut, Hannan
teringat masa lalu. Masa-masa bersama Zuhariyyah. Seberkas senyuman terpancar
di wajahnya. Hannan pun bergumam di dalam hatinya, ahh……, itu hanyalah cinta
yang tak bermuara, cinta yang tidak bisa mendekatkan diri kepada Tuhan alam
semesta, cinta yang mementingkan ego dibanding melaksanakan nasehat dan hak
orangtua, cinta yang membuat jarak di antara teman seperjuangan, dan cinta yang
membuat manusia lebih lalai dan lupa dari sebelumnya.
Ulun tidak mengetahui apa yang akan
dilakukan oleh Hannan selanjutnya. Yang ulun ketahui bahwa surat tersebut
dikirim olehnya karena beberapa alasan yaitu :
1. Cintanya selalu mendorongnya untuk
berangan-berangan.
2. Cintanya membuat lupa terhadap pesan dan
hak orangtua
3. Sangat berbahaya baginya, jika bercinta di
tengah perjalanan menuntut ilmu.
4. Rasa cinta yang di ulur-ulur maka sangat
mudah bagi setan menjerumuskan manusia
untuk berbuat perzinaan dan kemaksiatan.
5. Sekalipun Hannan selalu berdoa kepada Allah
Swt, supaya Dia meridhoi ikatan cinta yang dibuatnya namun yang dirasakannya
bukanlah rasa kelapangan melainkan kesempitan. Batin tersiksa dan menangis,
nista hina dina, sehingga muncullah rasa keraguan di dalam hatinya bahwa cinta
yang suci tidaklah seperti ini. Kata Nabi Saw., “ Da’ ma yuribuka ila ma la
yuribuka “, tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang
tidak meragukanmu. Hannan pun memutuskan ikatannya dengan Zuhairiyyah dengan perantara
surat tersebut.
Itulah surat terakhir yang dikirimkan oleh Hannan kepada Zuhairiyyah. Itulah surat terakhir yang menjadi simbol pertaubatan Hannan kepada
Allah Yang Maha Menerima Taubat Para Hamba-Nya. Memang itu
surat yang terakhir tapi bukanlah akhir dari cerita Hannan dan Zuhairiyyah.
Cerita cinta yang sesungguhnya baru saja dimulai. Cinta yang berada dalam
kesunyian dan kesucian, jauh dari perbudakan setan dan kemaksiatan. Cinta tanpa
kata-kata ataupun isyarat lainnya. Hati yang merasa, sedangkan bibir sudah tak
sanggup lagi berkata-kata. Kini Hannan menjalani hidupnya sendiri. Begitu pula
Zuhairiyyah menjalani hidupnya sendiri. Silahkan terpisahkan oleh jarak, tapi
siapa yang bisa menduga jika hati mereka selalau berkomunikasi. Silahkan cari hikmah sebanyak-banyaknya yang dapat buhan
pian temukan dari
surat terakhir tersebut. Wallahu a’lam bisshowwab !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar