Minggu, 15 Maret 2015

salahkah aku merindukannya ?



Salahkah aku merindukannya !
J
udul tersebut lahir dari pertanyaan salah satu teman ulun yang bertanya “ bolehkah merindukan seseorang yang bukan mahramnya ?. Sebelum ulun menjawab boleh atau tidaknya, ada baiknya kita mengetahui apa makna rindu dan bagaimana reaskinya terhadap yang merindu ?.  Menurut sebagian para filosof mengatakan : “ Kerinduan adalah sikap rakus yang lahir di dalam hati, ia tubuh dan bergerak, lalu terkumpul dan menyatu menjadi hasrat. Setiap kali hasrat ini menguat, akan membuat orang yang mengalaminya akan semakin bergetar, gelisah, dan berkeinginan untuk memperoleh setiap yang diinginkannya, sehingga mengantarkannya kepada keresahan dan kekhawatiran. Dalam kondisi seperti itu, darah akan memanas yang berpusat ke otak dan jantung. Akibatnya akan menimbulkan gangguan pikiran dan hilangnya akal. Apabila sudah demikian adanya, maka sesuatu yang tidak mungkin pun bisa menjadi harapan dan keinginannya, mengangakan hal yang tidak akan tercapai. Hal inilah yang mengakibatkan rusaknya pikiran dan pada akhirnya bisa berakhir dengan kegilaan. Di kutip dari kitab Raudatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
Kata rindu di dalam bahasa Arab di ungkapkan dengan kata al-‘Isyqu. Kata al-‘Isyqu melambangkan cinta yang berkobar-kobar, kadangkala nasehat orang bijak pun tak di dengar, hanya satu tujuan yang ada di dalam pikirannya. Tahukah anda apakah itu ?. Yaitu bertemu dengan orang yang dirindukannya. Innama Dawaul ‘isyqi liqaul ma’syuq wa illa huwa mahruqun finaril hawa, karena obat rindu hanyalah bertemu dengan yang di rindu. Jika tidak, terbakarlah dia di dalam api hasrat ingin bertemu. Sekalipun ia mengetahui nasehat orang bijak itu benar namun rasa rindunya sudah membuat blank otaknya. Semakin ia di cela seseorang maka semakin ia rindu bertemu kepada yang dirinduinya. Sebagaimana dalam sebuah syair, Man yalumni fi gharami tholama ‘asyiq fi jamalak..., Siapa saja yang mencelaku di dalam kobaran asmara, maka tidaklah mengurangi rasa rinduku bahkan menambah rindu di dalam melihat keelokanmu. Di dalam kesendirian, kobaran api rindunya menyala-nyala. Namun ketika berkumpul dengan yang lain, ia mencoba menyembunyikannya. Emmm... api pun ketika disembunyikan pasti akan membakar yang menyelimutinya, tidak mengenal yang namanya kain, dinding, besi, tak ada satu pun yang dapat menghalanginya. Lalu bagaimana bila rasa rindu yang disembunyikan ?. Tentu badan yang akan telihat menderita. Fa kayfa tunkiru hubban ba’da maa syahidat bihi ‘alaika ‘udulud dam’i was saqami, Bagaimana dapat engkau ingkari sebuah cinta yang telah disaksikan oleh cucuran air matamu di depanmu dan sakitnya hati menahan kerinduan. Na’am sara thayfu man ahwa fa arraqani wal hubbu ya’taridhul ladzzati bil alami, yah, di malam yang sunyi hayalan merana dan melayang kepada yang di rindu sehingga tidur pun menajadi sulit. Memang gelora cinta sering menukar nikmat dengan derita.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, rindu laksana api. Merajalela, sulit dijinakkan, rakus dan ambisius terhadap apa yang dinginkan. Angin nasehat hanya akan menambah kobaran apinya dan tanah penjara rumah hanya akan membuatnya semakin berontak. Berarti untuk menghentikannya, kita perlu unsur yang bersifat dingin, tenang, dan penuh kelembutan. Ya benar, unsur tersebut adalah air, karena air yang dapat memadamkannya perlahan-perlahan. Tapi pertanyaaannya air apakah yang dimaksud ?. Air itu adalah air kesadaran dan keinsafan yang terpancar dari Nur Ilahi. Renungkanlah  baik-baik hal tersebut ! Rindu juga bagaikan pedang yang tajam. Akan sangat berguna jika berada di tangan orang yang benar dan akan berbahaya bila di tangan orang yang salah. Memang ulun sadari rasa rindu bukanlah hal yang di ciptakan oleh diri sendiri. Tapi itu anugerah dari Tuhan Yang Menciptakan Rasa Rindu. Rasa tidak bisa dibuat-buat karena rasa adalah pemberian bukan diciptakan atau di usahakan.
Kembali ke pertanyaan di atas, bolehkah merindukan seseorang yang bukan mahramnya ?. Melihat betapa berbahayanya reaksi rindu maka ulun pun mengatakan cegahlah dan hilangkanlah karena itu lebih baik daripada pian terbakar olehnya. Kaidah ushul fiqih mengatakan, dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil masholih, mencegah hal yang negatif itu lebih di utamakan dari mendatangkan hal yang positif. Jika pian masih bersikeras, silahkan merindu jika sudah benar-benar siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Sangat akan terlihat bijak jika merindukan orangtua, guru ngaji waktu di kampung, teman-teman yang telah memberikan pertolongan, dan rindu bertemu Allah dan Rasul-Nya. Pertanyaan dari ulun, manakah yang lebih penting, merindukan si dia yang bukan mahram pian atau Rasulullah ?. Waah... ngeles nih, jangan bilang dua-duanya. Pilih salah satunya donk. Rasulullah kan, pernah gak merindukan Rasulullah ?. Hah.. belum. Daaaasar  nih!
Kiranya sudah cukup ulun memaparkan tentang makna rindu dan bagaimana reaksinya terhadap orang yang merindu.  Semuanya ada di tangan pian. Namun pilihlah yang terbaik di antara yang baik. Berpikir sebelum bertindak, berilmu sebelum beramal, dan belajar sebelum ujian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar