Salahkah
aku merindukannya !
|
J
|
udul tersebut lahir dari pertanyaan salah satu teman ulun yang
bertanya “ bolehkah merindukan seseorang yang bukan mahramnya ?. Sebelum ulun
menjawab boleh atau tidaknya, ada baiknya kita mengetahui apa makna rindu dan
bagaimana reaskinya terhadap yang merindu ?. Menurut sebagian para filosof mengatakan : “
Kerinduan adalah sikap rakus yang lahir di dalam hati, ia tubuh dan bergerak,
lalu terkumpul dan menyatu menjadi hasrat. Setiap kali hasrat ini menguat, akan
membuat orang yang mengalaminya akan semakin bergetar, gelisah, dan
berkeinginan untuk memperoleh setiap yang diinginkannya, sehingga
mengantarkannya kepada keresahan dan kekhawatiran. Dalam kondisi seperti itu,
darah akan memanas yang berpusat ke otak dan jantung. Akibatnya akan
menimbulkan gangguan pikiran dan hilangnya akal. Apabila sudah demikian adanya,
maka sesuatu yang tidak mungkin pun bisa menjadi harapan dan keinginannya,
mengangakan hal yang tidak akan tercapai. Hal inilah yang mengakibatkan rusaknya
pikiran dan pada akhirnya bisa berakhir dengan kegilaan. Di kutip dari kitab Raudatul
Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
Kata rindu di dalam bahasa Arab di ungkapkan dengan kata al-‘Isyqu.
Kata al-‘Isyqu melambangkan cinta yang berkobar-kobar, kadangkala
nasehat orang bijak pun tak di dengar, hanya satu tujuan yang ada di dalam
pikirannya. Tahukah anda apakah itu ?. Yaitu bertemu dengan orang yang
dirindukannya. Innama Dawaul ‘isyqi liqaul ma’syuq wa illa huwa mahruqun finaril
hawa, karena obat rindu hanyalah bertemu dengan yang di rindu. Jika tidak,
terbakarlah dia di dalam api hasrat ingin bertemu. Sekalipun ia mengetahui
nasehat orang bijak itu benar namun rasa rindunya sudah membuat blank otaknya.
Semakin ia di cela seseorang maka semakin ia rindu bertemu kepada yang
dirinduinya. Sebagaimana dalam sebuah syair, Man yalumni fi gharami tholama
‘asyiq fi jamalak..., Siapa saja yang mencelaku di dalam kobaran asmara,
maka tidaklah mengurangi rasa rinduku bahkan menambah rindu di dalam melihat
keelokanmu. Di dalam kesendirian, kobaran api rindunya menyala-nyala. Namun
ketika berkumpul dengan yang lain, ia mencoba menyembunyikannya. Emmm... api
pun ketika disembunyikan pasti akan membakar yang menyelimutinya, tidak
mengenal yang namanya kain, dinding, besi, tak ada satu pun yang dapat
menghalanginya. Lalu bagaimana bila rasa rindu yang disembunyikan ?. Tentu
badan yang akan telihat menderita. Fa kayfa tunkiru hubban ba’da maa
syahidat bihi ‘alaika ‘udulud dam’i was saqami, Bagaimana dapat engkau
ingkari sebuah cinta yang telah disaksikan oleh cucuran air matamu di depanmu
dan sakitnya hati menahan kerinduan. Na’am sara thayfu man ahwa fa arraqani
wal hubbu ya’taridhul ladzzati bil alami, yah, di malam yang sunyi hayalan
merana dan melayang kepada yang di rindu sehingga tidur pun menajadi sulit.
Memang gelora cinta sering menukar nikmat dengan derita.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, rindu laksana api. Merajalela,
sulit dijinakkan, rakus dan ambisius terhadap apa yang dinginkan. Angin nasehat
hanya akan menambah kobaran apinya dan tanah penjara rumah hanya akan
membuatnya semakin berontak. Berarti untuk menghentikannya, kita perlu unsur
yang bersifat dingin, tenang, dan penuh kelembutan. Ya benar, unsur tersebut
adalah air, karena air yang dapat memadamkannya perlahan-perlahan. Tapi
pertanyaaannya air apakah yang dimaksud ?. Air itu adalah air kesadaran dan keinsafan
yang terpancar dari Nur Ilahi. Renungkanlah
baik-baik hal tersebut ! Rindu juga bagaikan pedang yang tajam. Akan sangat
berguna jika berada di tangan orang yang benar dan akan berbahaya bila di
tangan orang yang salah. Memang ulun sadari rasa rindu bukanlah hal yang di
ciptakan oleh diri sendiri. Tapi itu anugerah dari Tuhan Yang Menciptakan Rasa
Rindu. Rasa tidak bisa dibuat-buat karena rasa adalah pemberian bukan
diciptakan atau di usahakan.
Kembali ke pertanyaan di atas, bolehkah merindukan seseorang yang
bukan mahramnya ?. Melihat betapa berbahayanya reaksi rindu maka ulun pun
mengatakan cegahlah dan hilangkanlah karena itu lebih baik daripada pian
terbakar olehnya. Kaidah ushul fiqih mengatakan, dar’ul mafasid muqaddamun
‘ala jalbil masholih, mencegah hal yang negatif itu lebih di utamakan dari
mendatangkan hal yang positif. Jika pian masih bersikeras, silahkan merindu
jika sudah benar-benar siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Sangat akan
terlihat bijak jika merindukan orangtua, guru ngaji waktu di kampung, teman-teman
yang telah memberikan pertolongan, dan rindu bertemu Allah dan Rasul-Nya.
Pertanyaan dari ulun, manakah yang lebih penting, merindukan si dia yang bukan
mahram pian atau Rasulullah ?. Waah... ngeles nih, jangan bilang
dua-duanya. Pilih salah satunya donk. Rasulullah kan, pernah gak
merindukan Rasulullah ?. Hah.. belum. Daaaasar nih!
Kiranya sudah cukup ulun memaparkan tentang makna rindu dan
bagaimana reaksinya terhadap orang yang merindu. Semuanya ada di tangan pian. Namun pilihlah yang terbaik
di antara yang baik. Berpikir sebelum bertindak, berilmu sebelum beramal, dan
belajar sebelum ujian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar