No Term “ Mantan Guru “
|
M
|
atahari begitu gagah menampakkan wajahnya. Sinar cahayanya seakan
menembus kulit. Sehingga banyak ibu-ibu yang memakai payung. Dan ada pula yang
singgah ke warung untuk bernaung sembari membeli es kelapa muda, sekedar
menghilagkan haus dahaga. Ini masih panas di dunia. Tidak sebanding dengan
panas di Padang Mahsyar. Matahari hanya berjarak sejengkal di atas kepala manusia.
Peluh manusia bercucuran. Ada yang sampai lutut, pinggang, dada, dan ada pula
sampai ke ujung kepala. Namun semuanya itu tergantung amal masing-masing. Di
pasar Subuh, terlihat debu berterbangan. Asap kendaraan membuat sesak indra
penciuman. Peluh bercucuran dan suara bising kendaraan mengacaukan pembicaraan.
Dengan santai, dari arah jalan masuk pasar Subuh. Nampak, seorang pemuda
mengendarai motor Vega-R berwarna biru hitam, ia menembus lautan manusia menuju
tempat orang yang menjual SEMBAKO. Pemuda tersebut adalah Abdul Hannan
Adz-Dzikra. Ia telah tiba di tempat orang yang menjual SEMBAKO. Ia mencari-cari
beras kesukaan mamanya yaitu beras Rojo Lele. Tapi ia melihat tidak ada yang 5
Kg, yang tersedia hanya 10 Kg dan 20 Kg. Seorang laki-laki menghampirinya,
kelihatan dari pakaian dan tindak tanduknya dia adalah pekerja di tempat
tersebut.
“ Maaf, mau beli apa, Mas ?
“ Tanya seorang pekerja disana.
“ Oh iya, apakah ada beras Rojo Lele yang 5 Kg ? “ Balas Hannan
sembari menghitung duit yang hanya berjumlah Rp. 60.000,00.
“ Nah, lagi kosong, Mas. Beras Rojo Lele yang tersisa hanya yang 10
Kg dan 20 Kg. Apakah Mas mau ? “.
“ Maaf, terimakasih. Duitnya tidak cukup. “ Ucap Hannan seraya
menatap duitnya.
“ Kalau begitu, disana ada beras Jawa juga dan harganya hanya Rp 11.000,00
per kilogram “. Pekerja tersebut memberikan alternatif kepadanya. Hannan
memperhatikan dengan seksama dan memegang-megang beras tersebut. Ia merasa
berasnya bagus, putih, dan kayaknya enak juga jika dimasak.
“ Ini namanya apa, Mas ?”
“ Itu namanya beras Pandan Wangi. “
“ Kalau begitu, tolong timbangkan untuk saya 5 Kg. “
Di ambillah beras tersebut oleh pekerja itu. Ditimbangnya seberat 5
Kg. Lalu pekerja tersebut menyerahkan beras tersebut kepadanya.
“ Ini berasnya 5 Kg, Mas “.
“ Ya, ini uangnya Rp. 55.000,00. Terimaksih, tukar ! “
“ Sama-sama, jual !.”
*****
Udara masih bercampur asap
dan debu. Matahari pun masih stand by menatap ke bumi. Namun pengungjung pasar
bukan berkurang malah bertambah. Maklum, ini hari minggu. Hari yang sangat
cocok bagi ibu-ibu untuk membeli SEMBAKO dan rempah-rempah dapur. Hannan mencoba
kembali menembus lautan manusia. Bak kapal pesiar yang begitu gagah mengarungi
lautan ganas. Sesampainya dia di rumah. Dia melihat nama “ Ust. Husnan “ di
layar handphonenya. Ia bingung seketika. Bukan karena tidak kenal siapa itu Ust.
Husnan. Tapi, siapa yang menelpon lebih dulu, dia ataukah Ust. Husnan. Aaaahh,
lebih baik diangkat saja dulu, ucapnya penuh keheranan. Lalu diangkatlah
olehnya dengan mengucap bismillah.
“ Assalamu’alaikum, Ust. ? Ada apa Ust. ?”
“ Wa’alaikum salam. Maaf, ini siapa ya ?”
“ Ini Abdul Manan, Ust. Santri Ust. Sewaktu di Darul Amin dulu.”
“ MasyaAllah !. Manan toh ternyata. Ada apa Manan ?”
Hannan tambah heran. Kok Ust Husnan bertanya, “ ada apa Manan ? “. Sebetulnya yang menelpon duluan ini
siapa.
“ Maaf sebelumnya nih Ust. Yang menelpon tadi, apakah Ust. Atau
saya ? “
“ Manan kayanya nih “. Ucap beliau yang jaga agak keheranan.
“ Mungkin Ust. Kayanya nih. He he he… “. Hannan ketawa sederhana.
Di dalam pembicaraan lewat handphone tersebut, tidak ada yang mau
mengaku. Kedua-duanya sama-sama heran dan bingung. “ Daripada pembicaraan
semakin tidak jelas lebih baik membicarakan hal lain. Lagi pula ini adalah
moment yang baik. Bisa berbicara dan mendengar suara Ust. Husnan yang sudah lama
tidak bertatap muka, mendengar suara beliau.”
Gumam Hannan di dalam hatinya. Pasalnya, sejak beliau lulus kuliah di Universitas
Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) tahun 2010. Lalu tidak beberapa lama kemudian
beliau diangkat menjadi pegawai negri sipil (PNS) yang diletakkan oleh
pemerintah di Kota Barabai sebagai seorang guru. Jadi, sudah kurang lebih 5
tahun, Hannan tidak mendengar suara bahkan melihat wajah beliau.
“ He.. he.. mungkin tanpa disadari, saya ketekan handphonenya tadi.
‘Afwan Ust..”
“ La ba,sa ‘alaik. Bagaimana kabarnya Manan sekarang ?”
“ Alhamdulillah bil khair
wa daiman fi amanillah. Kalau Ust. Sendiri, bagaimana kabarnya ?”
“ Sawaa.kadzalik, Alhamdulillah. Sudah semester berapa sekarang kulianya ?”
“ Baru semester 4, Ust..”
“ Wah sebentar lagi luluslah. “ Suara khas Amuntai beliau masih
bisa dirasakan oleh Hannan. Syahdu.
“ InsyaAllah. Mohon doanya Ust.. Saya ini terkadang galau Ust. Padahal
saya telah menerima Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi ( BIDIKMISI) tapi
tetap saja saya galau berada di jurusan dakwah dan komunikasi Islam ini.
Apalagi orang-orang mengatakan jurusan kami itu adalah MaDeSu.”
“ Apa itu MaDeSu ? “
“ Masa Depan Suram, Ust..”
Watashow bilhaqqi watawashow bisshobri. Sekalipun sudah lama tak berjumpa antara murid dan guru. Keeratan
di antara keduanya masih terasa. Sehingga betullah, tidak ada istilah mantan
murid ataupun mantan guru. Guru, tetaplah guru. Murid, tetaplah murid. Jangan
ada pergeseran makna. Layaknya seorang anak mengadukan permasalahannya kepada
orangtua, si Hannan mengadu. Bak seorang ayah, Ust. Husnan mencurahan kasih
sayang dan memberikan nasehat bijaknya.
“ Ingatlah baik-baik pesan Ust. ini, jangan terpengaruh dengan
perkataan orang yang seperti itu. Bukan jurusan yang membuat kita bisa sukses
tapi Allah. Yakinlah hanya Allah yang mensukseskan kita bukan yang lain.”
“ Iya Ust.. Dengan uang BIDIKMISI tersebut, saya mendapatkan
persemester mendapat Rp. 6.000.000,00. Alhmadulillah kebutuhan sehari-hari dan
kuliah tercukupi. Tapi persoalaan masa depan selalu menghantui saya. Wah, saya
jadi takut memikirkan masa depan. “
“ Nah, Hannan jangan begitu, ingatlah bukan masa depan setelah
kuliah itu yang harus ditakuti tapi masa depan yang kekal abadi “ Negri Akhirat
“. Jika masa depan berada dalam genggaman-Nya, kenapa kita harus takut
menjalani hidup ini. Bukankah Dia telah mengatur dengan begitu sempurnanya dan
mengandung nilai hikmah yang tak terbendung. Ingat, wa kullu sya,in ‘indahu
bimiqdar (Dan segala sesuatu disisi-Nya ada ukurannya (QS. Ar-Ra’du : 8))
Untuk meraih kesuksesan, jangan ditinggalkan salat Dhuha, Tahajjud, dan
amalan-amalan lainnya. Kalau tidak bisa delapan rakaat salat Dhuha, cukup dua
rakaat saja, tidak apa-apa. Sempatkan salat malam walau hanya dua rakaat.
Sebelum itu atur alarm jam untuk bangun malam. Di kala itu, adukanlah segala
kegelisahan dan persalahan Hannan kepada Allah. InsyaAllah, Dia akan mengijabah
segala doa dan munajat Hannan. “. Sebagaimana
firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Isra ayat 9 yang berbunyi, “ Dan pada
sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.Dan
firman-Nya pula, “ Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah : 11). Itu adalah janji Allah dan Dia tidak
mungkin inkar janji. Niscaya kita akan sukses jika berjalan di atas kebenaran
yang telah diarahkan-Nya.
Hannan hanya bisa mengiayakan saja. Kenapa bisa begitu ? Karena ia
terheran-heran dan berdecak kagum kepada Ust. Husnan. Emm, apakah Hannan masih
heran siapa yang menelpon duluan. Kali ini bukan itu persoalannya. Tapi, ia
merasa nasehat Ust. Husnan tersebut menancap dan menghunjam ke dasar lubuk
hatinya. “
“ Iya, Ust. Saya akan usahakan untuk melaksanakan nasehat Ust.
Wahh, saya jadi kangen dengan Ust. Semoga kita bisa bertemu Ust.”
“ Oh iya, tempo hari teman-teman seangkatanmu ingin mengadakan
reunian di Petuk Ketimpun. Kata Ust., gampang, yang penting diatur dulu
waktunya, berkumpulnya dimana, hubungi kawan-kawan alumni, dan bagaimana
susunan acaranya. InsyaAllah, jika tidak ada halangan yang berarti, Ust. akan
datang. “
“ Nah itu ide bagus Ust. Semoga agenda reunian tersebut bisa
terlaksana. Amin ! “
“ Amin. Lirih Ust. Husnan.”
Mohon maaf Ust., jika saya telah menggangu Ust. dan terimakasih
atas nasehatnya . Assalamulaikum
‘ Waalakum salam. Jawab Ustad Husnan. ”
*****
Walaupun percakapan lewat handphone tersebut sudah selesai. Tapi
rasa keheranan siapa yang duluan menelpon belum berakhir.
“ Seandainya aku yang menelpon lebih dahulu maka pasti pulsaku akan
berkurang. “ Ucap Hannan penuh kepastian.
Hannan mencoba mencek isi pulsanya. Dia terkejut tak terkira.
Ternyata dia yang lebih dulu menelpon dan pulsanyapun berkurang drastis. Dari
pulsa Rp. 16. 500.00 berkurang menjadi Rp. 5.540.00. Ia baru menyadari kalau
kartu yang digunakan Ust. Husnan adalah kartu As dan sedangkan ia adalah kartu
M3. Tentu akan mahal.
“ MasyaAllah !. sisa pulsaku hanya Rp. 5.540.000. Wah hampir 10
ribu berkurang pulsanya. Tapi tidak apa-apa, karena aku bercakap-cakap
dengan Ust. Husnan yang sudah lama tak mendengar suara beliau. Lagi pula,
nasehat beliau betul-betul sangat bermanfaat untukku.” Ujarnya sambil memusut
dada sembari meyakinkan diri bahwa ini bermanfaat bukan sebuah kerugian.
Tak terasa leleh air mata Hannan. Berkaca-kaca. Ia teringat Ust.
Husnan. Ia teringat dengan sikap Ust. Husnan kepada semua santrinya apalagi
dengannya. Membangunkan santri untuk salat Tahajjud, menjagakan hafalan
Al-Qur’an, membaca Burdah sehabis salat Subuh, dan gotong royong membersihkan
halaman dan belakang Pesantren. Semua itu tidak pernah dilupakan Hannan.
Semangat juang beliau menjaga Al-Qur’an. Karena beliau adalah Hafidz 30 Juz.
Sekalipun beliau sakit parah, beliau tetap bangun malam walaupun hanya duduk
untuk memuraja’ah hafalan beliau. “ MasyaAllah, aku ingin bisa seperti beliau.
Aku ingin menjadi Ahlullah (keluarga Allah). “ Lirih Hannan sambil
menghapus air mata yang berderai.
Tidak beberapa lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Hannan pun segera
mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat Zuhur.
Wallau a’lam bishowwab.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, sedikit saya akan menyinggung
tentang guru. Guru sudah seperti orangtua kita. Bahkan di mata para Sufi,
seorang syekh atau guru itu lebih berhak untuk dimuliakan dan ditaati daripada
orangtua kandung. Sebab, orangtua kandung hanya membesarkan, memelihara dan
mengembangkan jasmani kita sedangkan syekh atau guru, mereka mengembangkan,
menjaga, dan mendidik roh kita. Jasmani dan rohani sama pentingnya. Tapi yang
mana lebih berharga di antara keduanya ? Jelas lebih berharga rohani daripada
jasmani. Namun bukan berarti kita mengabaikan jasmani ataupun orangtua kandung.
Itu persepsi dan asumsi yang keliru. Bercertia tentang guru. Mengingatkan saya
dengan guru-guru yang telah mengajarkan ilmu agama kepada saya. Saya teringat
dengan guru ngaji Al-Qur’an saya di kampung Nagara Hulu Sungai Selatan (HSS).
Sekilas orang memandang, mengajarkan Iqra itu pekerjaan yang sepele, gampang
saja. Itu keliru. Susah kawan-kawan. Ada murid yang susah diatur, bermain
terus. Ada yang babal otaknya (susah menerima ilmu) sehingga acapkali gurunya
menahan sabar. Ada juga murid yang bila ditegur, hendak menangis. Pokoknya macam-macam.
Yang jelas, pekerjaan menjadi guru ngaji itu tidak mudah. Sewaktu ngaji di kampung
Nagara dulu. Kebetulan ketika itu kami masih sekolah dasar (SD). Usai salat
Subuh, kami berbondong-bondong baik perempuan maupun laki-laki mendatangi rumah
guru “ Ust. Taufik “. Berulang-ulang kali beliau terkantuk-kantuk. MasyaAllah
!. Kami memberi beliau pun tidak banyak. Bagi yang Iqra, jika naik ke Iqra
selanjutnya maka biasanya beliau diberi Rp. 500.00 saja dan bila yang Al-Qur’an
maka beliau diberi Rp. 1.000.00. saja. MasyaAllah ! murah sekali namun beliau
tidak mengeluh masalah pemberian tersebut bahkan ada pemberian murid yang
beliau tidak terima. Tak terkecuali saya. Itu semata-mata anak tersebut juga tidak mampu.
Sahabat fillah, jika tidak perduli dengan keadaan orangtua kita
maka bisa jadi kita dicap sebagai anak durhaka. Lalu apakah ketika kita tidak
memperdulikan guru kita, kita dicap sebagai murid durhaka ? Bukankah beliau
adalah orangtua rohani kita. Lantas, pernahkan anda menghubungi atau menemui guru
pertama yang telah mengajarkan anda Iqra ataupun Al-Qur’an ?. Dimana beliau
sekarang berada ? Sehat atau sakitkah beliau ? Meninggal atau masih hidupkah
beliau ? Pertanyaan tersebut tidak sekedar dijawab tapi juga direnungi. Sangat naif kayaknya, jika dalam doa, kita
tidak menyertakan nama-nama guru kita
yang telah mengajarkan ilmu agama kepada kita. Bukankah sebab beliau, kita hari
ini dapat mengetahui alif, ba, ta, dan huruf lainnya. Bukankah sebab beliau,
kita dapat mengaji Al-Qur’an dengan lancar dan fasih. Mulai saat ini juga, yuk
kita mendoakan beliau. Setidaknya setelah salat fardhu. Allahumaghfir lanaa
dzunubana waliwalidiinaa walimasyayikhinaa walimu’allimiinaa walihuquuqi ‘alaina
waliman ahabba wa ahsana ilaynaa waliman aushoonaa biddu’a. (Duhai Allah,
ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orangtua kami, syek dan guru kami, dosa orang yang punya ha katas diri kami, dosa
orang yang telah memberikan kasih saying dan berbuat baik kepada kami, serta
dosa orang yang telah memberikan wasiat kepada kami dengan doa) Amin !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar