Senin, 01 Juni 2015

No Term " Mantan Guru "



No Term “  Mantan Guru “
M
atahari begitu gagah menampakkan wajahnya. Sinar cahayanya seakan menembus kulit. Sehingga banyak ibu-ibu yang memakai payung. Dan ada pula yang singgah ke warung untuk bernaung sembari membeli es kelapa muda, sekedar menghilagkan haus dahaga. Ini masih panas di dunia. Tidak sebanding dengan panas di Padang Mahsyar. Matahari hanya berjarak sejengkal di atas kepala manusia. Peluh manusia bercucuran. Ada yang sampai lutut, pinggang, dada, dan ada pula sampai ke ujung kepala. Namun semuanya itu tergantung amal masing-masing. Di pasar Subuh, terlihat debu berterbangan. Asap kendaraan membuat sesak indra penciuman. Peluh bercucuran dan suara bising kendaraan mengacaukan pembicaraan. Dengan santai, dari arah jalan masuk pasar Subuh. Nampak, seorang pemuda mengendarai motor Vega-R berwarna biru hitam, ia menembus lautan manusia menuju tempat orang yang menjual SEMBAKO. Pemuda tersebut adalah Abdul Hannan Adz-Dzikra. Ia telah tiba di tempat orang yang menjual SEMBAKO. Ia mencari-cari beras kesukaan mamanya yaitu beras Rojo Lele. Tapi ia melihat tidak ada yang 5 Kg, yang tersedia hanya 10 Kg dan 20 Kg. Seorang laki-laki menghampirinya, kelihatan dari pakaian dan tindak tanduknya dia adalah pekerja di tempat tersebut.
“ Maaf, mau beli apa, Mas ?  “ Tanya seorang pekerja disana.
“ Oh iya, apakah ada beras Rojo Lele yang 5 Kg ? “ Balas Hannan sembari menghitung duit yang hanya berjumlah Rp. 60.000,00.
“ Nah, lagi kosong, Mas. Beras Rojo Lele yang tersisa hanya yang 10 Kg dan 20 Kg. Apakah Mas mau ? “.
“ Maaf, terimakasih. Duitnya tidak cukup. “ Ucap Hannan seraya menatap duitnya.
“ Kalau begitu, disana ada beras Jawa juga dan harganya hanya Rp 11.000,00 per kilogram “. Pekerja tersebut memberikan alternatif kepadanya. Hannan memperhatikan dengan seksama dan memegang-megang beras tersebut. Ia merasa berasnya bagus, putih, dan kayaknya enak juga jika dimasak.
“ Ini namanya apa, Mas ?”
“ Itu namanya beras Pandan Wangi. “
“ Kalau begitu, tolong timbangkan untuk saya 5 Kg. “
Di ambillah beras tersebut oleh pekerja itu. Ditimbangnya seberat 5 Kg. Lalu pekerja tersebut menyerahkan beras tersebut kepadanya.
“ Ini berasnya 5 Kg, Mas “.
“ Ya, ini uangnya Rp. 55.000,00. Terimaksih, tukar ! “
“ Sama-sama, jual !.”
*****
Udara masih  bercampur asap dan debu. Matahari pun masih stand by menatap ke bumi. Namun pengungjung pasar bukan berkurang malah bertambah. Maklum, ini hari minggu. Hari yang sangat cocok bagi ibu-ibu untuk membeli SEMBAKO dan rempah-rempah dapur. Hannan mencoba kembali menembus lautan manusia. Bak kapal pesiar yang begitu gagah mengarungi lautan ganas. Sesampainya dia di rumah. Dia melihat nama “ Ust. Husnan “ di layar handphonenya. Ia bingung seketika. Bukan karena tidak kenal siapa itu Ust. Husnan. Tapi, siapa yang menelpon lebih dulu, dia ataukah Ust. Husnan. Aaaahh, lebih baik diangkat saja dulu, ucapnya penuh keheranan. Lalu diangkatlah olehnya dengan mengucap bismillah.
“ Assalamu’alaikum, Ust. ? Ada apa Ust. ?”
“ Wa’alaikum salam. Maaf, ini siapa ya ?”
“ Ini Abdul Manan, Ust. Santri Ust. Sewaktu di Darul Amin dulu.”
“ MasyaAllah !. Manan toh ternyata. Ada apa Manan ?”
Hannan tambah heran. Kok Ust Husnan bertanya, “ ada apa Manan  ? “. Sebetulnya yang menelpon duluan ini siapa.
“ Maaf sebelumnya nih Ust. Yang menelpon tadi, apakah Ust. Atau saya ? “
“ Manan kayanya nih “. Ucap beliau yang jaga agak keheranan.
“ Mungkin Ust. Kayanya nih. He he he…  “. Hannan ketawa sederhana.
Di dalam pembicaraan lewat handphone tersebut, tidak ada yang mau mengaku. Kedua-duanya sama-sama heran dan bingung. “ Daripada pembicaraan semakin tidak jelas lebih baik membicarakan hal lain. Lagi pula ini adalah moment yang baik. Bisa berbicara dan mendengar suara Ust. Husnan yang sudah lama tidak bertatap muka, mendengar suara beliau.”  Gumam Hannan di dalam hatinya. Pasalnya,  sejak beliau lulus kuliah di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) tahun 2010. Lalu tidak beberapa lama kemudian beliau diangkat menjadi pegawai negri sipil (PNS) yang diletakkan oleh pemerintah di Kota Barabai sebagai seorang guru. Jadi, sudah kurang lebih 5 tahun, Hannan tidak mendengar suara bahkan melihat wajah beliau.
“ He.. he.. mungkin tanpa disadari, saya ketekan handphonenya tadi. ‘Afwan  Ust..”
La ba,sa ‘alaik. Bagaimana kabarnya Manan sekarang ?”
Alhamdulillah bil khair  wa daiman fi amanillah. Kalau Ust. Sendiri, bagaimana kabarnya ?”
“ Sawaa.kadzalik, Alhamdulillah.  Sudah semester berapa sekarang kulianya ?”
“ Baru semester 4, Ust..”
“ Wah sebentar lagi luluslah. “ Suara khas Amuntai beliau masih bisa dirasakan oleh Hannan. Syahdu.
“ InsyaAllah. Mohon doanya Ust.. Saya ini terkadang galau Ust. Padahal saya telah menerima Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi ( BIDIKMISI) tapi tetap saja saya galau berada di jurusan dakwah dan komunikasi Islam ini. Apalagi orang-orang mengatakan jurusan kami itu adalah MaDeSu.”
“ Apa itu MaDeSu ? “
“ Masa Depan Suram, Ust..”
Watashow bilhaqqi watawashow bisshobri. Sekalipun sudah lama tak berjumpa antara murid dan guru. Keeratan di antara keduanya masih terasa. Sehingga betullah, tidak ada istilah mantan murid ataupun mantan guru. Guru, tetaplah guru. Murid, tetaplah murid. Jangan ada pergeseran makna. Layaknya seorang anak mengadukan permasalahannya kepada orangtua, si Hannan mengadu. Bak seorang ayah, Ust. Husnan mencurahan kasih sayang dan memberikan nasehat bijaknya.
“ Ingatlah baik-baik pesan Ust. ini, jangan terpengaruh dengan perkataan orang yang seperti itu. Bukan jurusan yang membuat kita bisa sukses tapi Allah. Yakinlah hanya Allah yang mensukseskan kita bukan yang lain.”
“ Iya Ust.. Dengan uang BIDIKMISI tersebut, saya mendapatkan persemester mendapat Rp. 6.000.000,00. Alhmadulillah kebutuhan sehari-hari dan kuliah tercukupi. Tapi persoalaan masa depan selalu menghantui saya. Wah, saya jadi takut memikirkan masa depan. “
“ Nah, Hannan jangan begitu, ingatlah bukan masa depan setelah kuliah itu yang harus ditakuti tapi masa depan yang kekal abadi “ Negri Akhirat “. Jika masa depan berada dalam genggaman-Nya, kenapa kita harus takut menjalani hidup ini. Bukankah Dia telah mengatur dengan begitu sempurnanya dan mengandung nilai hikmah yang tak terbendung. Ingat, wa kullu sya,in ‘indahu bimiqdar (Dan segala sesuatu disisi-Nya ada ukurannya (QS. Ar-Ra’du : 8)) Untuk meraih kesuksesan, jangan ditinggalkan salat Dhuha, Tahajjud, dan amalan-amalan lainnya. Kalau tidak bisa delapan rakaat salat Dhuha, cukup dua rakaat saja, tidak apa-apa. Sempatkan salat malam walau hanya dua rakaat. Sebelum itu atur alarm jam untuk bangun malam. Di kala itu, adukanlah segala kegelisahan dan persalahan Hannan kepada Allah. InsyaAllah, Dia akan mengijabah segala doa dan munajat Hannan. “.  Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Isra ayat 9 yang berbunyi, “ Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.Dan firman-Nya pula,  Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah : 11). Itu adalah janji Allah dan Dia tidak mungkin inkar janji. Niscaya kita akan sukses jika berjalan di atas kebenaran yang telah diarahkan-Nya.
Hannan hanya bisa mengiayakan saja. Kenapa bisa begitu ? Karena ia terheran-heran dan berdecak kagum kepada Ust. Husnan. Emm, apakah Hannan masih heran siapa yang menelpon duluan. Kali ini bukan itu persoalannya. Tapi, ia merasa nasehat Ust. Husnan tersebut menancap dan menghunjam ke dasar lubuk hatinya. “
“ Iya, Ust. Saya akan usahakan untuk melaksanakan nasehat Ust. Wahh, saya jadi kangen dengan Ust. Semoga kita bisa bertemu Ust.”
“ Oh iya, tempo hari teman-teman seangkatanmu ingin mengadakan reunian di Petuk Ketimpun. Kata Ust., gampang, yang penting diatur dulu waktunya, berkumpulnya dimana, hubungi kawan-kawan alumni, dan bagaimana susunan acaranya. InsyaAllah, jika tidak ada halangan yang berarti, Ust. akan datang. “
“ Nah itu ide bagus Ust. Semoga agenda reunian tersebut bisa terlaksana. Amin ! “
“ Amin. Lirih Ust. Husnan.”
Mohon maaf Ust., jika saya telah menggangu Ust. dan terimakasih atas nasehatnya . Assalamulaikum
‘ Waalakum salam. Jawab Ustad Husnan. ”
*****
Walaupun percakapan lewat handphone tersebut sudah selesai. Tapi rasa keheranan siapa yang duluan menelpon belum berakhir.
“ Seandainya aku yang menelpon lebih dahulu maka pasti pulsaku akan berkurang. “ Ucap Hannan penuh kepastian.
Hannan mencoba mencek isi pulsanya. Dia terkejut tak terkira. Ternyata dia yang lebih dulu menelpon dan pulsanyapun berkurang drastis. Dari pulsa Rp. 16. 500.00 berkurang menjadi Rp. 5.540.00. Ia baru menyadari kalau kartu yang digunakan Ust. Husnan adalah kartu As dan sedangkan ia adalah kartu M3. Tentu akan mahal.
“ MasyaAllah !. sisa pulsaku hanya Rp. 5.540.000. Wah hampir 10 ribu berkurang pulsanya.   Tapi tidak apa-apa, karena aku bercakap-cakap dengan Ust. Husnan yang sudah lama tak mendengar suara beliau. Lagi pula, nasehat beliau betul-betul sangat bermanfaat untukku.” Ujarnya sambil memusut dada sembari meyakinkan diri bahwa ini bermanfaat bukan sebuah kerugian.
Tak terasa leleh air mata Hannan. Berkaca-kaca. Ia teringat Ust. Husnan. Ia teringat dengan sikap Ust. Husnan kepada semua santrinya apalagi dengannya. Membangunkan santri untuk salat Tahajjud, menjagakan hafalan Al-Qur’an, membaca Burdah sehabis salat Subuh, dan gotong royong membersihkan halaman dan belakang Pesantren. Semua itu tidak pernah dilupakan Hannan. Semangat juang beliau menjaga Al-Qur’an. Karena beliau adalah Hafidz 30 Juz. Sekalipun beliau sakit parah, beliau tetap bangun malam walaupun hanya duduk untuk memuraja’ah hafalan beliau. “ MasyaAllah, aku ingin bisa seperti beliau. Aku ingin menjadi Ahlullah (keluarga Allah). “ Lirih Hannan sambil menghapus air mata yang berderai.
Tidak beberapa lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Hannan pun segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat Zuhur.
Wallau a’lam bishowwab.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, sedikit saya akan menyinggung tentang guru. Guru sudah seperti orangtua kita. Bahkan di mata para Sufi, seorang syekh atau guru itu lebih berhak untuk dimuliakan dan ditaati daripada orangtua kandung. Sebab, orangtua kandung hanya membesarkan, memelihara dan mengembangkan jasmani kita sedangkan syekh atau guru, mereka mengembangkan, menjaga, dan mendidik roh kita. Jasmani dan rohani sama pentingnya. Tapi yang mana lebih berharga di antara keduanya ? Jelas lebih berharga rohani daripada jasmani. Namun bukan berarti kita mengabaikan jasmani ataupun orangtua kandung. Itu persepsi dan asumsi yang keliru. Bercertia tentang guru. Mengingatkan saya dengan guru-guru yang telah mengajarkan ilmu agama kepada saya. Saya teringat dengan guru ngaji Al-Qur’an saya di kampung Nagara Hulu Sungai Selatan (HSS). Sekilas orang memandang, mengajarkan Iqra itu pekerjaan yang sepele, gampang saja. Itu keliru. Susah kawan-kawan. Ada murid yang susah diatur, bermain terus. Ada yang babal otaknya (susah menerima ilmu) sehingga acapkali gurunya menahan sabar. Ada juga murid yang bila ditegur, hendak menangis. Pokoknya macam-macam. Yang jelas, pekerjaan menjadi guru ngaji itu tidak mudah. Sewaktu ngaji di kampung Nagara dulu. Kebetulan ketika itu kami masih sekolah dasar (SD). Usai salat Subuh, kami berbondong-bondong baik perempuan maupun laki-laki mendatangi rumah guru “ Ust. Taufik “. Berulang-ulang kali beliau terkantuk-kantuk. MasyaAllah !. Kami memberi beliau pun tidak banyak. Bagi yang Iqra, jika naik ke Iqra selanjutnya maka biasanya beliau diberi Rp. 500.00 saja dan bila yang Al-Qur’an maka beliau diberi Rp. 1.000.00. saja. MasyaAllah ! murah sekali namun beliau tidak mengeluh masalah pemberian tersebut bahkan ada pemberian murid yang  beliau tidak terima. Tak terkecuali saya. Itu semata-mata anak tersebut juga tidak mampu.
Sahabat fillah, jika tidak perduli dengan keadaan orangtua kita maka bisa jadi kita dicap sebagai anak durhaka. Lalu apakah ketika kita tidak memperdulikan guru kita, kita dicap sebagai murid durhaka ? Bukankah beliau adalah orangtua rohani kita. Lantas, pernahkan anda menghubungi atau menemui guru pertama yang telah mengajarkan anda Iqra ataupun Al-Qur’an ?. Dimana beliau sekarang berada ? Sehat atau sakitkah beliau ? Meninggal atau masih hidupkah beliau ? Pertanyaan tersebut tidak sekedar dijawab tapi juga direnungi.  Sangat naif kayaknya, jika dalam doa, kita tidak  menyertakan nama-nama guru kita yang telah mengajarkan ilmu agama kepada kita. Bukankah sebab beliau, kita hari ini dapat mengetahui alif, ba, ta, dan huruf lainnya. Bukankah sebab beliau, kita dapat mengaji Al-Qur’an dengan lancar dan fasih. Mulai saat ini juga, yuk kita mendoakan beliau. Setidaknya setelah salat fardhu. Allahumaghfir lanaa dzunubana waliwalidiinaa walimasyayikhinaa walimu’allimiinaa walihuquuqi ‘alaina waliman ahabba wa ahsana ilaynaa waliman aushoonaa biddu’a. (Duhai Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orangtua kami, syek dan guru kami,  dosa orang yang punya ha katas diri kami, dosa orang yang telah memberikan kasih saying dan berbuat baik kepada kami, serta dosa orang yang telah memberikan wasiat kepada kami dengan doa) Amin !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar