Minggu, 07 Juni 2015

Hanya Kehilangan Kunci



Hanya Kehilangan Kunci
M
emang membaca amalan sangat baik di saat rohani ingin naik berjumpa dengan Sang Maha Pencipta. Roh bagai burung. Sedangkan dunia dan kemegahannya ibarat sangkar yang mengurungnya. Roh ingin selalu naik ke puncak musyahadah tapi bagaimana bisa jika hati masih mencintai dunia. Ia terkurung, tersandra, dan terpuruk. Sekalipun ia berada di dalam sangkar emas, penuh dengan makanan tapi apalah artinya semua itu jika terkungkung di dalamnya. Hanya bisa loncat ke sana dan ke sini. Bersiul layaknya orang bebas tapi jauh dari irama “ Kemerdekaan “. Akan tetapi ketika hati bening, nampak seperti kaca bersih maka roh pun bebas terbang ke alam malakut tanpa beban. Di saat itulah, wirid dan amaliyah terasa manis dan sedap dibaca. Hannan sedang bersantai di kantor HMJ Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Kantor tersebut berseberangan dengan kantor DEMA FUAD. Ia sedang duduk di atas kursi. Di depannya ada meja kerja. Lengkap dengan computer, mouse, CPU, dan speaker. Dia menatap ke arah wakil ketua HMJ KPI, “ Muhammad Junaidi “.
 “Jun, ada lagu apa saja di dalam komputer ini ? “ Telunjuk Hannan menunjuk ke arah komputer.
“ Banyak, Han. Ada lagu pop, dangdut, habsyi juga ada. “
“ Sip. “
Terlihat Hannan mengotak-atik file yang ada di dalam  komputer. Ia mencari dimana file lagu tersebut disimpan. Tapi belum juga ditemukannya.
“Dimana kalian menyimpan file tersebut, Jun ?” Tanya Hannan yang masih sibuk mencari file lagi tersebut.
“ Cari di data “ D “ !” Jawab Junaidi yang tersenyum-senyum membaca sms. Biasanya, kalau senyum-senyum di depan layar HP maka itu bisa jadi sms dari sang kekasih. Tapi itu biasanya bukan menjadi sebuah kepastian.
Hannan sudah menemukan file lagunya. Benar, di dalam data D tersebut ada lagu pop, dangdut, dan habsyi bahkan lagu campur sari pun juga ada. Namun Hannan memilih lagu Ust. Jefri Al-Buchori yang berjudul Bidadari Surga. Intro musik sudah mulai terdengar. Terlihat bibir Hannan kumat-kamit mengikuti lirik lagu tersebut. Maklum dia suka lagu itu tapi tidak hafal seluruh liriknya. Ketika hendak masuk ke reff, ia pun mengeraskan suaranya,
Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku
Engkaulah…..
Tiba-tiba dari luar kantor, terdengar seseorang yang menyahut, Bidadari Surgaku... Ternyata dia adalah ketua HMJ KPI “ Muhammad Kholidi “. Hannan dan Kholidi bernyanyi.  Mereka duet tapi suara Kholid jauh lebih merdu daripada Hannan. Kholid sangat piawai memainkan berbagai alat musik. Dan, ia juga sering menjadi vokalis di gruf habsyi. Ia dan gruf habsyinya sering memenangkan lomba tingkat kota dan provinsi.  
Setelah selesai lagu Bidadari Surga tersebut maka Hannan mengganti dengan lagu I’tiraf. Ini juga lagu yang disenandungkan oleh Ust. Jefri Al-Buchori.
Ilahilas tulil Firdausi ahlan
Walaa aqwa ‘alannaril Jahimi
Fahabi taubatan waghfir dzunubi
Fainnaka ghofirud dzanbil adzimi
Hati Hannan menjadi tenang, masuk ke dalam taman dzikir. Diselemuti awan kerinduan. Berhembus angin kesyahduan. Teringat dosa yang lalu. Tak pantas berharap masuk surga apalagi menuntutnya kepada Sang Pemilik Surga. Namun dia pun menyadari tak kuasa menahan pedihnya api neraka. Datanglah sebuah kekuatan, keyakinan penuh bahwa Allah Maha Pengampun segala dosa hamba-Nya. Astaghfirullah…… Astaghfirulahal adzim…… ampunilah segala dosaku ya Allah, lirih Hannan beristighfar. Di saat kondisi seperti itu,  barulah ia membuka kitab amaliyahnya “ Dalailul Khayrat “. Kitab ini adalah kumpulan sholawat yang dihimpun dari berbagai macam sholawat oleh Sayyid Abi Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli. Latar belakang beliau mengarang kitab sholawat tersebut yaitu ketika waktu sholat telah tiba. Beliaupun bangun dan segera mengambil air wudhu. Tetapi beliau tidak menemukan timba untuk mengambil air dari dalam sumur. Tiba-tiba dari tempat yang tinggi, ada seorang anak perempuan  memandangi beliau seraya bertanya, “ siapa Anda ? “. Beliaupun menyebutkan nama. Anak perempuan tersebut berkata,  Anda adalah seseorang  yang disebut-sebut dengan kebaikannya namun Anda bingung dengan alat apa bisa mengambil air dari dalam sumur tersebut. Tiba-tiba, anak perempuan tersebut  berludah ke dalam sumur. Secara spontan, air sumur itu naik ke permukaan  hingga mengalir di atas tanah. Setelah beliau selesai berwudhu. Beliau bertanya kepada anak perempuan tersebut, “ Bagaimanakah Engkau bisa mendapatkan martabat (kelebihan) ini ? “. Anak perempuan tersebut menjawab : “ Dengan banyak membaca sholawat kepada orang yang apabila berjalan di daratan tandus maka mengikuti hewan-hewan buas dengan tunduk kepadanya (Nabi Muhammad SAW.). Kalau begitu, aku bersumpah akan menyusun sebuah kitab sholawat yang (menyanjung ) Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, kitab sholawat tersebut dinamai dengan “ Dalalilul Khayrat “. (Lihat, Afdholus Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat : 32).
Senandung lagu I’tiraf masih menemaninya membaca amalan tersebut. Air mata yang hendak turun masih bisa ditahan tapi tak mungkin membendung tsunami penyesalan yang melanda kota hatinya. Ia pun larut, hanyut dalam samudera dzikrullah. Tidak ada yang lebih berharga bagi orang-orang sholeh melainkan mempunyai kesempatan dapat mengingat Allah. Sebab syetan selalu saja mencari cara agar manusia lalai mengingat-Nya. Bahkan dunia mau bersujud, menawarkan kemegahannya, memproklamasikan pengabdiannya kepada manusia agar mereka mau mencintai dunia walau hanya sekejap saja karena jika sudah merasakan kenikmatannya maka akan sulit untuk melepasnya. Namun bagi orang-orang sholeh, orang-orang yang mementingkan akhirat, mereka tidak sedikitpun tertarik apalagi melirik dengan semua itu. Karena bagi mereka nikmat yang terbesar adalah dapat berjumpa dan menyaksikan Sang Pencinta, Maha Cinta di akhirat nanti.
“ Alhamdulillah, sudah selesai membacan hizb yaumil khamis (Wirid hari kamis) “, ucap  Hannan penuh kesyukuran sambil menutup kitab amaliyahnya. Kitab Dalailul Khayrat tersebut mempunyai beberapa hizb dari hari senin sampai minggu. Membacanya disesuaikan dengan harinya.
*****
Pagi tadi, Hannan belum sempat sarapan pagi di rumah. Sebab ia terlalu asyik bertamasya ke dunia maya. Istilah yang dipakainya “ Dakwah Sambil Nge-Net “. Bukan “ Nge-Net Sambil Berdakwah “. Sebab, jika “Nge-Net Sambil Berdakwah “ akhirnya kegiatan dakwa dinomor duakan alias sekedar sambil lalu. Sama halnya dengan para hafidz. Jangan “Menonton TV sambil memuraja’ah hafalan Al-Qur’an “ tapi seharusnya ” Memuraja’ah hafalan Al-Qur’an sambil menonton TV “. Kini waktu telah menunjukkan jam 10 : 00 WIB. “ Baiklah, saatnya saya makan “, ucapnya di dalam hati. Kali ini, ia tidak pergi ke Rumah Makan Nasi Padang. Rumah Makan tersebut tepat di depan gerbang IAIN Palangka Raya. Sebab, ia sudah membeli nasi bungkus di Puntun City sebelum pergi ke kampus. Tidak tahu kenapa, pemukiman tersebut dinamakan Puntun City padahal tempat itu tidak elit, hanyalah seperti pedesaan atau pemukiman penduduk yang kebanyakan rumah mereka terbuat dari kayu. Namun, Puntun City menyuguhkan nasi bungkus yang murah meriah tapi juga enak. Hanya Rp. 5.000/ bungkus. Kalau di tempat lain harga nasi bungkus sudah mulai naik. Hannan menuju kantor DEMA FUAD karena biasanya dia makan di kantor tersebut dan di sana tersedia air galon.
“ Astaghfirullah, pintunya terkunci ? “  Hannan mencari-cari ke dalam tasnya. Nihil. Kunci kantor DEMA FUAD tersebut satu gantungan dengan kunci motornya. Ia teringat, terakhir ia duduk di kantor HMJ KPI. Ia langsung pergi ke kantor tersebut. Di dalam kantor tersebut ada Muhammad Junaidi, Mujibur Rahman, dan Sari Ayu. Hannan pun bertanya kepada mereka.
“ Apakah kalian melihat kunci motorku, tali gantungannya berwarna merah ? “
“ Nah, saya tidak melihatnya, Han”, Ucap Junaidi.
“ Duuuh….. dimanalah.” Hannan mulai panik ketika mendengar ucapan salah satu temannya tersebut. Sudah dicarinya di atas dan di bawah meja. Dari sudut ke sudut lain di  kantor tersebut. Namun, ia tidak juga menemukannya. Ia semakin panik.
“ Sabar, Bang Hannan. Coba diingat kembali dimana Abang meletakkannya dan tempat terakhir yang Abang singgahi sebelum ke kantor ini’. Sari Ayu mencoba mengingatkan.
Hannan berusaha mengingat-ngingat kembali. “ Sebelum Abang kesini, tadi Abang ke Gedung Dosen lantai dua,  PPI disana. Mungkin terjatuh di sofa.”
“ Kita beli gorengan, yuk, Han ! “ Ajak Mujib kepada Hannan.
“ Mana bisa, Jib, orang yang lagi panik diajak beli gorengan. Tidak akan selera makan bahkan jalan-jalan sekalipun.” Ujar Sari Ayu. Hannan tak bergeming. Diam seribu bahasa. Dalam pikirannya hanyalah ada kunci.  Kunci motornya yang hilang entah kemana. Ia bangkit dari tempat duduknya.
“ Mau kemana, Bang ? “ Tanya Sari Ayu.
“ Mau ke Gedung Dosen. Semoga ada kunci motor Abang disana “. Harap cemas Hannan.
“ Amin “. Semua yang ada di kantor HMJ KPI tersebut mengaminkan.
Sepanjang jalan menuju Gedung Dosen, Hannan mencari kunci motornya seperti pemulung yang mengais-ngais sampah atau intel yang mengintai-ngintai targetnya. “ Bisa jadi kunci itu tercecer di pinggir jalan ini “, gerutuknya di dalam hati. Sesampainya di Gedung Dosen lantai dua. Ia pun mencari di sofa, tempat mereka duduk bersama dosen pembimbing Praktek Pengamalan Ibadah (PPI)  bidang 1. Hasilnya juga nihil. Ia bertambah panik dari sebelumnya. Hannan prustasi. Ia pun kembali ke kantor HMJ KPI. Sepanjang  jalan ia menyusuri dan mengamati kembali, kalau saja pengamatan pertamanya tadi tidak fokus. Dan pengamatannya yang kedua kali ini, dapat menemukan kunci tersebut jika benar tercecer. Tiba-tiba seorang perempuan mengejutkannya dan membuyarkan kefokusannya.
“ Assalamu’alaikum, Han. Ucap salam  teman sekelasnya, “ Jauziyah “.
“ Allahu Rabbi… Wa’alaikum salam. Iiih…. Kamu mengejutkan Saya saja.
“ Kayaknya lagi mencari sesuatu. Lagi mencari apa, Han ?”
“ Mencari kunci motorku yang hilang. Kamu mau kemana ? “
Jauziyah kelihatan terburu-buru.  “ Mau ke Gedung Dosen. Ada yang mau diurus. “
“ Oke lanjutkan. Saya duluan ya, Assalamu’alaikum “
“ Semoga ketemu, Han. Wa’alaikum salam.”
Biasanya Hannan jika bertemu dengannya, ia  suka bercanda dengannya dan juga teman yang lainnya. Tapi kali ini tidak. Sebab, dalam pikirannya hanya ada kunci. Kepanikan dan kecemasan mengacaukan pikiran. Pengamatannya yang kedua kali ini, juga shifrul yadain (tidak mendapatkan hasil apa-apa). Ia sudah sampai di kantor HMJ KPI.
“ Bagaimana hasilnya, Bang ? “ Tanya Sari Ayu begitu penasaran.
Shifrul yadain. Belum ketemu, Sar.”
“ Sabar Bang Hannan. InsyaAllah, jika kunci motor itu masih ada hak untuk Abang maka pasti akan ketemu. Innallaha ma’asshobirin. Dan tidak mungkin Allah menguji diluar kemampuan hamba-Nya. Sabar Bang Hannan !. Dibawa santai dulu. 
Meteor hidayah apakah yang telah menghantam dan mengubah rotasi bicaranya. Padahal biasanya,ia suka membicarakan Si dia. Yap, Si dia yang menjadi kekasih hatinya. Ia sibuk dengan kamera HP-nya. Foto selfy. Atau asyik berbalas sms, BBM-an, dan dandan bak artis papan atas. Sungguh ia berbeda daripada biasanya. Saat itu, ia seolah-olah ustadzah yang sedang bertaushiyah kepada para jema’ah. Mungkin ia ingin menjadi pribadi muslimah yang lebih baik lagi. Memang harus diakui, sehebat apapun seseorang, sealim apapun dia, tetap perlu ada kawan yang setia memberikan semangat, kritik dan saran kepadanya. Sebab, manusia itu mudah lalai dan sering lupa. Lupa diri, lupa Allah. Namanya saja manusia. Al-insan mahalluu khata, wan nisyan. Sehingga Al-Qur’an mengatakan manusia itu benar-benar dalam kerugian. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr : 1-3). Namun, Hannan tak bergeming mendengar nasehat teman perempuannya tersebut. Ia diam seribu kata. Dalam pikirannya, hanya ada kunci. “ Seandainya kunci motor itu bisa di sms atau ditelpon maka sudah dari tadi akan ku telpon” , ucapnya penuh kelesuan. Kawan-kawannya tersenyum melihat eksprisinya.
“ Kenapa Kamu ini, Han, selalu lupa menaruh kunci dan barang yang lainnya. Entah berapa kali Kamu kehilangan kunci. Syukur Alhamdulillah, selalu ditemukan. Terakhir kali, Kamu kehilangan kunci di Mesjid Darussalam. Lalu diumumkan oleh Marbot Mesjid. Dan, ini kehilangan kunci lagi. Hannan… Hannan…” ucapnya sambil menggelengkan kepala. “ Mungkin Mungkin Kamu suka tidur setelah Ashar sehingga sering lupa seperti ini. Nama teman-teman saja Kamu juga sering lupa, Han. ” Mata Mujib fokus melihat layar HP karena sedang asyik bermain COC. Lagi menyerang musuh. Sedangkan lidahnya seolah menyudutkan Hannan.
“ Tidak pernah, Jib, kecuali Saya sangat kelelahan. Itupun tak disadari kelopak mata menutup gerbang penglihatannya. Tak mengapa lupa dengan nama-nama teman asal jangan lupa kebaikannya.” Jawaban Hannan puitis dan diplomatis. Maklum, ia pandai merayu, merangkai kata dan menggubah syair. Membiasakan tidur setelah Asar memang tidak baik. Berdasarkan medis orang yang suka tidur setelah Asar maka rentan mengalama pikun. Hal ini juga sesuai dengan hadis Nabi. Dari Aisyah ra. Dari Rasulullah SAW. Bersabda : “ Barangsiapa yang tidur setelah Asar maka diambil akalnya maka jangan ia mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.” (HR. Abu Ya’ala di dalam kitab musnadnya). (Lihat, Al-Jami’us Shoghir : 544). Sekalipun tingkatan hadis ini tergolong hadis dho’if maka tidak sepantasnya seorang muslim membiasakan diri untuk tidur setelah Asar dan tidak menghidarinya. Hadis dho’if bukan berarti hadis yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Ada. Dan, hadis dho’if bisa digunakan sebagai  fadhoilul a’mal (keutamaan beramal) dalam rangka menambah nilai pahala. Hanya saja hadis dhoif ini tidak bisa dijadikan hujjah.
Mujib melanjutkan perkataannya, “ Saya juga pernah kehilangan kunci motor tapi saya tidak panik. Santai saja. Gampang kok, tinggal diganti dengan kunci baru di depan dan… “
Hannan memotong pembicaraannya, “ Saya punya kunci serepnya di rumah. Bukan karena itu Saya panik tapi….”
“ Tapi apa, Bang ? “ Sahut Sari Ayu.
“ Tapi…. Tidak ada apa-apa, Sar . He.. he.. “
“ Emmm….Abang, GaJe deh “.  Sari mengerutkan dahinya.
“ Tapi saya khawatir jika masalah ini mama saya semakin cemas terhadap saya ; lupa menaruh benda dan yang lainnya serta tidak perhatian dengan barang-barang yang dimiliki. Dan juga, hari ini adalah hari kamis. Hari untuk mengedit dan mencetak buliten Jumat An-Nahl. Sedangkan laptopku berada di dalam kantor tersebut. “ Gumamnya di dalam hati. Tak mau ia ada yang tahu jika hal itu yang membuatnya sangat panik.
Tidak beberapa lama, terdengarlah suara adzan Zuhur berkumandang. Hannan dan Mujib pergi ke Mesjid Darussalam. Setelah sholat, Hannan berucap kepada Mujib.
“ Saya yakin kunci motor itu ada di dalam kantor DEMA FUAD”.
“ Kenapa bisa berada di dalam kantor “. Heran Mujib.
“ Entahlah, tapi Saya yakin kuncinya di situ. Emm.. kunci duplikatnya dengan Shobar.” Secepatnya Hannan mengirim sms kepada Shobar agar ke kantor DEMA FUAD dan membawa kunci duplikat kantor tersebut. Tapi ternyata sms balasannya, “ Ana  tidak ada di kos. Ana sedang membeli wajan dan alat-alat masak lainnya di pasar.”.
“ Duuh… si Shobar lagi di pasar “. Hannan cemas.
“ Ngapaen ? “
“ Beli wajan dan alat-alat masak, ujarnya “. Jawab Hannan yang tampak kebingungan. Haruskah ia  merusak gembok  yang ada di pintu tersebut atau menunggu kawannya si Shobar datang ke situ.
Kedua laki-laki tersebut kembali ke kantor HMJ KPI. Sepanjang jalan Hannan menggerutu, “ Siapa lagi lah yang punya kunci duplikatnya . Oooh… iya abang Jalal punya kunci duplikatnya.”
Sesampainya mereka berdua di kantor HMJ KPI. Dari kejauhan, Hannan melihat abang Jalal.
“ Bang Jalal, kesini sebentar “ Teriak Hannan penuh kegembiraan. Secercah cahaya harapan terbentang di wajahnya. Abang Jalal pun perlahan mendekat ke arahnya.
“ Ada apa, Han, memanggil Abang ? “
“ Ini mau membuka pintu kantor DEMA FUAD, Bang. Abang ada kunci duplikatnya ? “
“ Ada, nih kuncinya.”
“ Alhamdulillah ya Rabb “. Secercah sinar kegembiraan tersembut, kini telah sempurna. Ibarat seorang musafir yang menempuh perjalanan jauh. Melintasi padang pasir tandus nan gersang. Musafir itu beristirahat di bawah pohon kurma. Ia mengikat ontanya yang tidak jauh dari tempat duduknya. Ia pun tertidur. Sewaktu membuka mata, ia tidak melihat ontanya. Hilang. Ia pun mencari-cari kesana kemari. Namun juga tidak ketemu. Panasnya hari seakan memotong lehernya. Wajahnya pucat karena menghabiskan banyak energi. Air dan perbekalannya ada pada onta tersebut. Ia mulai berputus asa. Ia pun beristirahat kembali di pohon kurma tadi. Ia tertidur. Subhanallah, ternyata ontanya ada di depan matanya. Maka alangkah senangnya musafir tersebut melihat ontanya datang kembali. Seperti itulah gambaran kegembiraan yang dirasakan oleh Hannan. Tak terkira, betapa senangnya.

*****
Hannan membuka pintu. Masuk mencari kunci motornya. Di jasnya, tidak ada. Di bawah laptop, di dalam map, di bawah kitab, juga tidak ada. Ternyata ia keliru. Dugaannya tidak benar. Keyakinannya mulai pudar. Sinar kegembiraan di wajahnya yang mulai sempurnapun mulai menghilang. Tiba-tiba prangsangka-prasangka buruk menyusup ke dalam pikirannya. Jangan-jangan kunci motor itu bukan tercecer tapi ada teman yang iseng lalu disembunyikannya. “ Wah.. keterlaluan jika benar begitu. Atau dicuri orang tapi untuk apa jika hanya kunci. Tidak..tidak. Jangan berpikir seperti itu. Ya Allah bantu Hamba-Mu ini.. Sebab berprasangka buruk tidak baik dan hanya akan memutuskan tali ukhuwah islamiyah.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12). Hannan hanya bisa berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT.
Tidak lama kemudian, Shobar datang ke DEMA FUAD. Ia tersenyum-senyum. Tapi kenapa ia tersenyum melihat Hannan. Ada yang lucu. Tidak ada, ini serius. Bahkan Hannan terlihat stress. Mungkin ekspresi itu yang membuatnya tersenyum.
“ Kenapa Ente terlihat galau ? “ Kayak judul tulisan abang Ponda tuh, “ Galau Tingkat Dewa “.
“ Kunci motor Ana hilang, Bar “
He.. he.. .Shobar tertawa terkikik-kikik.
“ Kok malah ketawa. Seharusnya kawan kesulitan itu dibantu, diberikan semangat. Ini malah ketawa. Hannan sibel.
“ Kunci Ente itu ada di tangan Delisa. “
“ Hah, Ente tahu darimana ? “ Hannan terkejut tak terkira. Secercah sinar harapan kini terbit kembali.
“ Tadi ketemu dia di jalan sebelum Ana kesini “
Tiba-tiba Delisa datang. “ Ternyata ini orangnya yang membawa kunci motor Ana “. Hannan sinis.
“ Bilang terimakasih dong, Bang. Tadi Ana menemukannya di sofa sewaktu kita PPI. Abang duluan pergi. Ana pun terburu-buru karena ada urusan penting sekali. Jadi, tidak bisa langsung memberikan kepada Abang. “. Ujarnya.
“ Tadi Abang sudah mengirim sms ke Anti bahwa Abang kehilangan kunci motor tapi kenapa tidak dibalas.” Hannan masih saja sinis.
“ Sudah dibalas, Bang. Tapi tidak terkirim. Ternyata pulsa Ana habis, Bang Hannan. “
Oh begitukah. Afwan, Abang sudah berpikir yang tidak-tidak. Hannan mulai melemah dan memahami.
“ Na’am. La ba’sa ‘alaik.  Ini kunci motornya “. Hannan mengambil kunci motor tersebut seraya mengucapkan,
“ Jazakillahu khayran katsiran “.
 Antum kadzalik, balas Delisa.
*****

Sahabat seperjuangan di jalan Allah,  hanya kehilangan kunci. Sudah panik luar biasa, pusing bukan kepalang. Apalagi kehilangan cinta Si dia, Sang kekasih hati. Ketika perempuan yang merasa kehilangan maka lagu-lagu mellow-pun jadi pilihan. Lagu Geisha “ Lumpuhkanlah ingatanku “ memenuhi kamar tidurnya,
hapuskanlah ingatanku
jika itu tentang dia
hapuskan memoriku tentangnya
ku ingin ku lupakannya
Tapi jika dia laki-laki yang merasakan kehilangan cinta. Inilah lagu yang disenandungkannya,
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
aku tanpamu butiran debu
Wah.. wah.. pembaca ini bisa jadi ikut mellow kalau diteruskan lagunya. Tapi jika tentang Allah, kenapa tidak merasa kehilangan. Kehilangan Allah jauh terasa ringan dari kehilangan kunci. Jangan salah sangka. Bukan Allah yang menghilang tapi engkaulah yang telah menghilang dari peredaran rahmat-Nya. Kau buta, hingga tak melihat kekuasaan-Nya. Kau tuli, hingga tak mendengar ayat-ayat suci-Nya bertutur, alam bertasbih. Kau lumpuh, hingga kau tak bisa berjalan ke arah yang benar. Bahkan hatimu mati, hingga kau tak merasa jika senantiasa Dia mencurahkan rahmat-Nya dan selalu membuka pintu taubat-Nya. Inilah yang membuatmu menghilang dari hadapan-Nya tanpa merasa telah kehilangan-Nya. Salam hangat El-Mannan !.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar