Rabu, 20 Mei 2015

Juara Hati



Juara Hati
T
idak ada bakat Hannan untuk menjadi news presenter. Namun karena dia mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), sudah sepantasnya dia mengikuti lomba new presenter yang diselenggarakan oleh Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam Fakultas Ushuluddin Adab, dan Dakwah (FUAD) pada tanggal 14-16 Mei 2015 di Gedung Lab. Terpadu IAIN Palangka Raya dengan tema “ Profesionalisme Sumber Daya Manusia Bidang Penyiaran : Upaya Memenuhi Kebutuhan Industri Penyiaran di Daerah “. Peserta lomba terbagi menjadi dua kategori ; tingkat pelajar dan mahasiswa. Para pelajar dan para mahasiswa se-kota Palangka Raya begitu antusias mengikuti lomba tersebut. Berbeda dengan anak-anak KPI, mereka begitu apatis, tidak berpartisipasi, dan egoisme. Padahal sangat disayangkan, mereka yang telah belajar teori komunikasi dan penyiaran, justru banyak yang tidak beratensi mengikuti lomba tersebut. Ketika ditanya “ kenapa “  maka alasan klasik selalu jadi jawabannya “ tidak bisa “ atau “ tidak punya bakat “. Terus maunya apa ?. Menulis, tidak mau, belajar kamera, tidak mau, berdiskusi ataupun kuliah, juga tidak serius.  Terus apasih maunya sebenarnya ?. ataukah tidak ada kebanggaan sama sekali menjadi anak KPI ?. Padahal tidak bisa itu karena tidak dicoba. Kesalahan yang terjadi dalam percobaan adalah sebuah kewajaran bukan sebuah kehinaan. Ingatkah anda kepada seorang ilmuan yang menemukan lampu pijar.
 
Ya, benar, dia adalah Thomas Alva Edison. Dia merupakan salah satu penemu yang paling memberikan kontribusi besar bagi dunia berkat temuannya yaitu lampu pijar. Thomas Alva Edison dilahirkan di Milan, Ohio pada tanggal 11 Februari 1847. Tahun 1854 orang tuanya pindah ke Port Huron, Michigan. Edison pun tumbuh besar di sana. Sewaktu kecil Edison hanya sempat mengikuti sekolah selama 3 bulan. Gurunya memperingatkan Edison kecil bahwa ia tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk mengajar sendiri Edison di rumah. Kebetulan ibunya berprofesi sebagai guru. Hal ini dilakukan karena ketika di sekolah Edison termasuk murid yang sering tertinggal dan ia dianggap sebagai murid yang tidak berbakat.
Meskipun tidak sekolah, Edison kecil menunjukkan sifat ingin tahu yang mendalam dan selalu ingin mencoba. Sebelum mencapai usia sekolah dia sudah membedah hewan-hewan, bukan untuk menyiksa hewan-hewan tersebut, tetapi murni didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar. Pada usia sebelas tahun Edison membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat sebuah telegraf yang meskipun bentuknya primitif tetapi bisa berfungsi.
Tentu saja percobaan-percobaan yang dilakukannya membutuhkan biaya yang lumayan besar. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, pada usia dua belas tahun Edison bekerja sebagai penjual koran dan permen di atas kereta api yang beroperasi antara kota Port Huron dan Detroit. Agar waktu senggangnya di kereta api tidak terbuang percuma Edison meminta ijin kepada pihak perusahaan kereta api, “Grand Trunk Railway”, untuk membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong kereta api. Di sanalah ia melakukan percobaan dan membaca literatur ketika sedang tidak bertugas.
Tahun 1861 terjadi perang saudara antara negara-negara bagian utara dan selatan. Topik ini menjadi perhatian orang-orang. Thomas Alva Edison melihat peluang ini dan membeli sebuah alat cetak tua seharga 12 dolar, kemudian mencetak sendiri korannya yang diberi nama “Weekly Herald”. Koran ini adalah koran pertama yang dicetak di atas kereta api dan lumayan laku terjual. Oplahnya mencapai 400 sehari.
Pada masa ini Edison hampir kehilangan pendengarannya akibat kecelakaan. Tetapi dia tidak menganggapnya sebagai cacat malah menganggapnya sebagai keuntungan karena ia banyak memiliki waktu untuk berpikir daripada untuk mendengarkan pembicaraan kosong. Tahun 1868 Edison mendapat pekerjaan sebagai operator telegraf di Boston. Seluruh waktu luangnya dihabiskan untuk melakukan percobaan-percobaan tehnik. Tahun ini pula ia menemukan sistem interkom elektrik.
Penemuan Thomas Alva Edison
Thomas Alva Edison mendapat hak paten pertamanya untuk alat electric vote recorder tetapi tidak ada yang tertarik membelinya sehingga ia beralih ke penemuan yang bersifat komersial. Penemuan pertamanya yang bersifat komersial adalah pengembangan stock ticker. Edison menjual penemuaannya ke sebuah perusahaan dan mendapat uang sebesar 40000 dollar. Uang ini digunakan oleh Edison untuk membuka perusahaan dan laboratorium di Menlo Park, New Jersey. Di laboratorium inilah ia menelurkan berbagai penemuan yang kemudian mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.
 Pada tahun 1877 , ia menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak peneliti: lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam itu bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu Edison mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya, serta menghabiskan uang sebanyak 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk percobaan membuat lampu pijar. Persoalannya ialah bagaimana menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Nah sekarang, apakah anda masih bersikeras mengatakan “ tidak bisa “ untuk melakukan sesuatu. Di samping itu juga, menang dan kalah adalah menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah perlombaan. Namun yang terpenting adalah jiwa pemenang ; yang selalu menjadikan setiap kejadian sebagai ‘ibrah ( pelajaran ) dan khibrah (pengalaman). Pasti kita sering mendengar, “ pengalaman adalah guru yang terbaik dalam mendriver laju mobil kehidupan “. Nah kalau begitu, tinggal kita saja lagi yang mau atau tidaknya menjadi muridnya.
Pada hari Sabtu, 16 Mei 2015, Hannan telah sampai di tempat lomba news presenter tersebut dan dia pun berlatih sebentar di ruangan yang kosong, di sebelah ruangan yang digunakan sebagai tempat lomba tersebut. Tiba-tiba nama Hannan dipanggil oleh pembawa acara untuk maju ke depan. Kami panggil dengan no. 39 atas nama Abdul Hannan Adz-Zikra untuk masuk ke ruang studio, ucap pembawa acara. Dengan perasaan gugup, Hannan maju ke ruang studio, dia pun mencoba merilekskan tubuh dan berusaha menguasai panggung. Namun hal tersebut tidak membuahkan hasil, dia tetap gugup. Salah seorang dewan juri yang juga dosen KPI sekaligus pekerja di TVRI, beliau biasa dipanggil dengan pak Yani. Beliau memerintahkannya untuk berceramah sebentar  karena beliau mengetahui bahwa Hannan bisa berceramah. Dengan begitu pede, Hannan pun berceramah namun tiba-tiba pak Yani menstop ceramahnya secara mendadak. Nah, sudah hilangkan gugupnya dan ingat nada ceramah jangan dibawa dalam news presenter, karena keduanya tidaklah sama, ujar pak Yani memberikan saran kepada Hannan. Ya pak, terimakasih atas sarannya, balas Hannan. Namun sebetulnya dia tetap gugup karena mengikuti lomba yang seperti adalah hal yang pertama kali baginya. Pak Yani mempersilahkan kepada Hannan. Hannan mulai menyampaikan continity (tinjauan acara televise) dan penyampaiannya cukup bagus. Membaca berita, ternyata banyak yang salah dan yang paling fatal adalah dia membaca nama Bupati Kabupaten Kota Waringin Barat (Kobar) dengan “ Ajung Iskandar “ padahal yang benar “ Ujang Iskandar “. Hal tersebut sontak membuat teman-temannya dan peserta lomba serta sewan juri tersenyum dan ketawa, namun Hannan tetap focus melanjutkan pembacaan berita sampai selesai. Hannan menyampaikan reportase juga banyak terdapat kekeliruan. Yah begitulah, kekeliruan pasti ada diawal-awal percobaan. Tak ada manusia yang sempurna !. Memang ditertawakan orang, sakitnya tuh disini  (hati) namun bukan berarti merobohkan semangat untuk bisa. Anggap saja ledekan mereka adalah sebuah doa dan perisai bagi kita supaya makin kebal dan terang jalan hidupnya.
Beberapa saat kemudian, diumumkanlah pemenang lomba news presenter tersebut. Sudah bisa dipastikan Hannan tidak menjadi juara pada lomba tersebut. Tapi tidak mengapa, bagi Hannan ini adalah pengalaman berharga. Pengalaman yang tak terlupakan. Hannaan bersyukur bisa diarahkan oleh pak Yani. Banyak hal yang didapatkan Hannan dari pak Yani terutama ilmu penyiaran dan rasa kepedulian beliau terhadap mahasiswa KPI. Pasalnya beliau merasa riskan, sebab tahun lalu diselenggaran juga lomba news presenter tersebut namun hanya 3 orang yang mengikuti lomba dari anak KPI dan tidak ada satupun yang meraih juara. Memalukan ! Oleh karena itu, beliau rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan mahasiswa KPI belajar teknik penyiaran televisi yang baik. Sekitar 10 orang berminat, namun yang mau tampil hanya 4 orang. Lalu sisanya kemana ? Entahlah, mungkin lagi mandi, nonton tv, atau sibuk jalan-jalan bersama pacar, mungkin bisa juga lagi berselimut di kasur karena takut tampil.
Setelah acara ditutup, Hannan mengucapkn terimakasih dan meminta maaf  kepada pak Yani karena belum bisa memberikan hasil yang terbaik kepada beliau. Sambil tersenyum, pak Yani berucap, “ Kalau kamu tahun depat ikut lomba ini lagi, saya yakin kamu akan juara 1 “. Ah, yang benar saja pak, ucap Hannan dengan tidak percaya. Sungguh, namun nada ceramah jangan dibawa dalam nada membaca berita dan ingat harus dibawa santai, jawab pak Yani. Ya pak, terimaksih atas masukannya, balas Hannan. Pak Yani pun menjawab, “ Ya sama-sama “. Para peserta lomba pulang ke rumah masing-masing dan bagi yang juara mereka pulang dengan membawa trophy dan sertifikat. Sekalipun Hannan bukan seorang pemenang dalam lomba tersebut namun dia adalah pemenang hati pak Yani “ juara hati “. Tak ada trophy secara rill bagi Hannan karena trophynya sudah terpatri di hatinya yang bertuliskan “ Pemenang sejati bukan berhasil meraih trophy tapi hati “.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, potensi dalam diri kita hanya sedikit yang terlihat oleh orang lain. Ibaratnya kita itu seperti gunung es, dari luar nampak terlihat kecil namun jika dilihat dari dalam maka orang lain akan mengatakan “ Wow besarnya !”. Sesunggunya kita jualah yang membuat potensi diri kita tersembunyi, membeku, terpenjara, dan tak terlihat. 
Kita banyak takut, mudah menyerah, malas mencoba, dan sok tawadhu. Cobalah membuat prinsip hidup “ Jika orang lain bisa kenapa aku tidak bisa “. Namun nampaknya kita selalu berpikir tidak bisa sehingga pikiran pun mempengaruhi fisik dan psikis kita dan kita benar-benar tidak bisa. Ingatkan kalian, sewaktu kecil sekitar berumur dua setengah tuhan. Pasti tidak ada yang ingat. Anda berjuang untuk bisa berjalan tegak, anda terjatuh dan jatuh lagi tapi anda tidak pernah berpikir untuk menyerah  namun yang anda pikirkan hanya untuk bisa berjalan. Percobaan satu, dua, tiga dan seterusnya gagal hingga pada akhirnya anda pun mampu berjalan dengan lincah dan mantap.        Ingatkah pula anda sewaktu kecil belajar bersepeda, berapa kali anda terjatuh ? Apakah anda ingin menyerah ? Oh tidak, anda malah yakin bahwa anda bisa bahkan ketika melihat kawan-kawan anda bisa bersepeda, anda pun semakin berjuang untuk bisa. Pernahkah anda berpikir, kapan aku bersepeda ? tidak pernah kan. Anda hanya berharap untuk bisa. Luka, itu sudah jadi hal yang biasa di awal belajar bersepeda. Menangis sih, namanya juga anak-anak. Tapi bukan berarti menyerah. Akhirnya tanpa terasa anda pun bisa bersepeda dan bergabung dengan kawan-kawan anda.
Jika anda yang sudah sedewasa ini masih takut mencoba, menggali potensi diri, anda kalah dengan anak kecil yang berumur dua setengah tahun. Masa orang dewasa kalah dengan anak kecil. Malu dong !. Harus bisa, harus mencoba, dan jangan menunggu besok tapi kerjakan sekarang. Go Go Go semangat ! SEMANGKA !, SEMANGat KAwan-kawan !.  Remember, you can, if you thing you can !. Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughoyyriu maa bianfushim (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum hingga kaum tersebut yang merubah nasih mereka sendiri). Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar