Selasa, 31 Maret 2015

Yang perlu siapa, ana ataukah ente ?



Yang perlu siapa, ente ataukah ana ?
P
anas, gerah, dan bercucuran air peluh, itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang di rasakan oleh Hannan ketika mengikuti mata kuliah Teori-teori Komunikasi pada jam 01 : 00 siang. Setelah pelajaran berakhir, Hannan mengirim sms kepada temannya “ Muhammad Shobar “. Bar, di mana ente sekarang ? Tanya Hannan. Di kos, jawab Shobar. Kenapa ente tidak masuk kuliah tadi ?, Tanya Hannan. Oooh.. tadi itu, ana harus mengirim mushaf Al-Qur’an orderan orang di jalan Hiu Putih, jadi tidak bisa masuk kuliah dulu. Maklum, sebentar lagi mau bayar sewa kos, he he he, jawab Shobar. Oh begitu, Bar, cepat kesini, ana ada perlu ente sekarang, ana ada di ruangan DEMA FUAD (Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah), ucap Hannan. Yaahh, yang perlu siapa tuh, ana ataukah ente ? seharusnya yang perlu itu tuh yang kesini, he he he, ucap Shobar dengan canda. Seharusnya aku sih, tapi harinya panas sekali  Bar. Nanti kulit ana yang putih ini bisa hitam legam, he he, ucap Hannan dengan mengeluh. Memangnya ada perlu apa sih ? Tanya Shobar. Mau hutang duit, jawab Hannan. Berapa Han ?, Tanya Shobar. Rp. 20.000 saja, jawab Hannan. Gampel gampel gampel !, tapi kita sholat dulu karena sebentar lagi azan akan di kumandangkan. Jadi ana menyerahkan duitnya di mesjid saja ya. Sudah dulu, assalamu’alakum, ucap Shobar. Oce, wa’alaikum salam, balas Hannan.
Shobar pun pergi ke mesjid Darussalam dengan mengendarai motor, jarak kosnya dengan mesjid relatif dekat. Tapi begitulah mahasiswa sukanya yang enak-enak padahal kalau jalan kaki, semakin jauh berjalan menuju mesjid maka semakin banyak pahalanya yang di peroleh. Begitu pula dengan si Hannan, ia pun pergi ke mesjid untuk sholat zuhur ashar berjamaah di mesjid Darussalam. Setelah sholat, mereka bertemu di luar mesjid. Dari kejauhan, Shobar mengendap-ngendap untuk memberi kejutan kepada Hannan. Sambil menepuk pundak Hannan, Shobar mengucap, assalamu’alaikum. Dengan nada terbatah-batah dan terkejut si Hannan menjawab, wa.. wa.. wa’alaikum salam warahamtullahi wabarakatuh. Duuuh…. ente ini mengagetkan ana saja, ucap Hannan. Shobar hanya bisa ketawa terkikik-kikik, gk gk gk kgk. Ia pun mengeluarkan duit dari kantong bajunya. Nih duitnya Han, Rp. 20.000, untuk apa sih Han ?, Tanya Shobar. Uang itu tuh untuk membeli buku novel new from Habiburrahman, jawab Hannan. Berapa harganya ? Tanya Shobar. Rp. 45.000, jawab Hannan. Naah.. kalau begitu tidak cukup duitnya, ucap Shobar. Alhamdulillah, masih ada sisa duit ana sekitar Rp. 25.000, jadi pas dengan uang ente menjadi Rp. 45.000, ucap Hannan. Syukur deh kalau begitu, ‘afwan ana mau langsung balik ke kos nih untuk beristirahat, ucap Shobar. Yap, ana pun mau langsung pergi ke PALMA toko buku SALEMBA untuk membeli buku novel tersebut. Syukran jazilan atas pinjamanya, insyaAllah akan ana kembalikan duit ente secepatnya, ucap Hannan. Waaah, tidak usah terlalu di pikirkan, santai saja ya akhi. Baiklah, hati-hati di jalan Han, assalamu’alaikum, ucap Shobar. Wa’alaikum salam, jawab Hannan.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, memang sepantasnya si Hannan lah yang mendatangi Shobar, bukan sebaliknya. Sebab, si Hannan yang memerlukan si Shobar. Begitu ppula, ketika kita memerlukan Allah maka kita yang harus mendatangi-Nya bukan Dia yang harus mendatangi kita. Namun terlintas sebuah pertanyaan di benak ulun, ketika kita mengatakan bahwa Allah itu Maha Kaya dan Maha Mulia tapi kenapakah kita tidak merasa bahwa diri kita adalah fakir dan hina ?. Seharusnya kan, jika Allah itu Maha Kaya dan Maha Mulia maka kitalah yang fakir dan hina, bukan sebaliknya. Naah… berarti ada sesuatu yang perlu kita selidiki dalam diri kita ini. Bisa jadi, selama ini kita telah menanam bibit “ kesombongan “ di dalam hati kita yang semakin hari semakin subur dan akarnya pun semakin terhunjam ke dasar hati dan akhirnya menghasilkan buah “ merasa kaya dan mulia “. Sehingga kita tidak bisa melihat siapa yang kaya dan siapa yang fakir.
Seorang petani cerdas, ia akan menama bibit tanaman yang unggul dan bagus serta bisa mendatangkan laba sebanyak-banyaknya. Jika terdapat tanaman pengganggu di sekitar tanaman yang di tanamnya tersebut maka ia akan segera mencabutnya. Nah, sungguh merugi kita karena selama ini kita telah membiarkan bibit pengganggu tersebut tumbuh di sekitar tanah hati kita. Sungguh celaka kita, jika tidak segera mencabut tanaman pengganggu tersebut, tanaman yang akan membinasakan diri kita di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, taddaburilah firman Allah Swt. berikut, Hai manusia, kamulah yang berkehendak (fakir) kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. ( QS. Al-Fathir 15-18 ).  Ulun mengatakan bahwa kita ini adalah benar-benar fakir kepada Allah Swt. Janganlah sok mampu untuk menyelesaikan segala urusan yang di hadapi tanpa Allah. Tidakkah cukup firman Allah Swt. di atas menjadi cambuk kesadaran bagi diri kita. Tidakkah cukup ayat Al-Qur’an di atas menjadi pengingat kelalalain  kita dan menjadi gada penghancur tembok kesombongan kita.
Sebuah untaian kata yang perlu kita resapi bersama “ Man ‘arrafa nafsahu faqad ‘arrafa rabbahu “ (barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya). Siapa sih diri kita sebenarnya ?, kita adalah orang yang fakir, hina dina, dan tidak punya apa-apa. Kalau begitu siapa yang kaya, mulia, punya segalanya, yaitu hanya Allah Azza wa Jalla. Pertanyaan terakhir dan pian sabarataan pun pasti bisa menjawabnya, siapa sih yang fakir, kita ataukah Allah ?.
Jazakumullah khayran katsiran ‘ala ihtimamikum. Selamat membaca !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar