|
Pacaran,
Perangkap Setan !
|
i suatu malam
yang di sertai rintik-rintik hujan. Gemuruh petir membuat suasana mencekam,
angin menari-nari, hanyut tenggelam dalam irama katak yang saling bersahutan.
Di saat itu Hannan tengah asyik membaca kitab kuning “ Risalah Adab Suluk
al-Murid “ karya Habib Abdullah al-Haddad di meja belajarnya yang
seolah-olah suara rintik-rintik hujan, gemuruh petir, angin yang berhembus, dan
katak yang saling bersahutan adalah jemaah yang sedang antusias dan bersemangat
mendengarkan setiap nubdzah (petikan) kitab yang dibacanya. Tiba-tiba terdengarlah
suara HPnya berbunyi, sebuah dilalah
sms telah masuk. Hannan pun mengambil HPnya yang berada di samping meja TV. Sambil
berjalan menuju meja TV, Hannan bergumam di dalam hati, siapa ya yang sms ini
?. Setelah kotak masuk di buka olehnya, ia pun membacanya perlahan-lahan. Assalamu’alaikum,
pacaran itu bagaimana hukumnya, Han ? tanya Rina. Ooh… Rina yang mengirim sms ke HPku, ucap
Hannan di dalam hati. Lalu Hannan pun membalas
sms Rina tersebut. Waalaikum salam. Sebelum saya menjawab apa hukumya, bolehkah saya bertanya terlebih dahulu kepada
Rina ? tanya Hannan. Boleh, jawab Rina. Menurut Rina apa manfaat dan mudhorat
dari pacaran ?, Tanya Hannan. Emmm, menurut Rina manfaat pacaran itu adalah
kita semakin semangat kuliah, ada yang menjadi tempat curhat dan penenang kita,
dan pastinya hari-hari terasa indah bersama dengannya. Namun mudhoratnya adalah
kita jadi banyak lupa dengan Allah, takut dibisikkan setan untuk berbuat
maksiat dan jadi lebih fokus memperhatikan dia daripada tugas-tugas kuliah. Maklum,
takut kalau dia tergoda dengan wanita lain. Itu saja menurut Rina, jawab Rina
dengan jujur. Lebih berharga ingat dengan Allah atau ingat kepada pacar ?. tanya
Hannan dengan cara menguji. Tentu ingat Allah, jawab Rina. Naah, jika takut di
bisikkan setan untuk berbuat maksiat, lalu kenapa masih nyaman untuk berpacaran
? Tanya Hannan. He he he… cinta yang membuat kenyamanan, jawab Rina. Kalau
pacaran membuat tugas kuliah banyak terabaikan, kenapa masih happy
berhubungan, tanya Hannan. Rina tidak tahu pasti juga kenapa bisa begitu, namun
Rina merasa takut dan sedih ketika harus berpisah dengannya, jawab Rina. Saya
meyakini bahwa pacaran itu lebih banyak mudhoratnya daripada manfaatnya.
Modhoratnya jelas namun manfaatnya masih abstrak. Bahkan manfaatnya masih
meragukan. Apakah pacaran itu bisa dikatakan manfaat jika membuat seorang
terlena di dalam senandung dosa dan lupa
dengan Allah Ta’ala ? Tentu tidak bisa dikatakan manfaat jika seperti itu. Oleh
karena itu, kata kanjeng Nabi, da’ maa yuribuka ila maa laa yuribuka,
(tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu).
Alangkah baiknya jika pacaran setelah berlangsungnya ijab qabul terucap di hadapan penghulu yang di saksikan
orangtua, sanak saudara, orang banyak, dan tentunya di saksikan oleh Allah dan
malaikat-Nya sebuah janji suci yang mengikat dua insan yang berserah diri
kepada-Nya, di mulai dengan niat dan cara yang di ridhoi bukan di mulai dengan
cara yang dimurkai, jawab Hannan dengan
menegaskan bahwa pacaran terlalu banyak mudhoratnya. dan jika benar-benar saling
mencinta maka segeralah menikah. Namun jika belum mampu maka tinggalkanlah
pacaran. Subhanallah, benar sekali itu, ucap Rina penuh kesadaran.
Carilah cinta yang halal, insyaAllah indah pada waktunya, dan
tingggalkan pacaran karena ia adalah hubungan yang akan membinasakan. ucap Hannan dengan tegas. Inggih…,
terimakasih banyak atas jawaban dan nasehatnya, assalamu’alaikum, ucap Rina. Sama-sama, Wa’alaikum salam, jawab Hannan.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, pernahkan buhan pian jatuh
cinta dan terlena dalam dunia yang bernama “pacaran” ?. Bagaimana sih indahnya
jatuh cinta dan pacaran ?. Sahabat, tahukah buha pian bahwa di dalam
keindahan pacaran itu terdapat banyak duri ?. Walaupun jasadmu tak pernah dia
sentuh, yakinkah matamu, lisanmu, telingamu, dan hatimu tak berzina ?.
“ Dan janganlah mendekati zina karena zina adalah perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra : 32). Sahabat, jangankan untuk
melakukannya, mendekatinya saja kita sudah dilarang. Pacaran itu salah satu
dari perangkap setan yang bertujuan menyesatkan manusia dari jalan Tuhan.
Jika buhan pian menganggap pacaran hanyalah dosa kecil maka
ingatlah dosa kecil berpotensi menjadi dosa besar jika dosa kecil di sepelekan
dan di biarkan tanpa pertaubatan. “Wahai parap pemuda, jika kalian mempunyai
kesanggupan untuk menikah maka menikalahlah karena hal tersebut bisa menjaga
pandang dan kehormatan kalian. Sedangkan bagi siapa yang belum mampu, maka
hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya.” (HR.
Bukhari Muslim).
Tak perlu merasa kehilangan jika buhan pian meninggalkan dia !.
Tak perlu ragu dengan janji Allah ! Allah Swt. takkan mengecewakan hamba-Nya
yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. “ Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”. (QS.
An-Nur : 26).
Jangan sampai perbuatan buhan pian menjadi penyebab orang lain
beranggapan bahwa Islam melegalkan pacaran. Sungguh itu perbuatan yang
mencoreng dan menodai kehormatan Islam. Tidak malukah buhan pian
melakukan perbuatan tersebut. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah Saw. bersabda : Malu dan iman selalu berdampingan
bersama-sama. Apabila hilang salah satunya maka hilanglah yang lainnya.
(HR. Abu Na’im, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi) Hdup dan matinya hati seseorang sangat
dipengaruhi sifat malu orang tersebut.
Tak perlu bangga berlama-lama pacaran !. Karena itu sama saja bangga
mengumpulkan dosa. “… Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui”.
(Al-Baqarah : 216). Yakinlah Allah Sang Maha
Bijaksana telah menyiapkan yang terbaik dan akan dipertemukan tepat pada
waktunya. Jika niat, cara, dan tujuannya baik, maka insyaAllah termasuk
ibadah. Saling mencintai karena Allah tentu tidak mungkin dilakukan dengan cara
yang tidak di sukai Allah. Jika menikah yang merupakah ibadah lalu diawali
dengan yang tidak disukai Allah, apakah hal tersebut di ridhoi Allah ?. Tentu
tidak bukan !.
Bunga yang memberi ketengan adalah bunga yang sah dimilki pemiliknya dan
itu menimbulkan kecintaan lahir batin. Bunga yang bukan sah di milikinya,
walaupun memberikan keharuman dan ketenangan tapi keharuman dan ketenangannya
bisa menjerumuskan orang yang menikmatinya, sedangkan ia belum punya hak
atasnya. (Hurriyatul Jannah). Aturan-aturan Allah Swt. bukan untuk mengekang
manusia melainkan untuk memuliakan manusia agar berbeda dari makhluk-Nya yang
lainnya. “
Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai”.
(QS. Al_A’raf : 179).
Carilah cinta yang halal, insyaAllah indah pada waktunya. Jangan
ada cinta sebelum ijab qabul terucap. Cinta yang dibangun atas dasar cinta
karena Allah sang Maha Pencitpa akan memancarkan warna keluarga yang sakinah,
mawaddah, warahmah. Jaga istiqamah dan kehormatan Islam. Jangan pernah
merusak dan menodai kehormatan Islam dengan melegalkan pacaran. Tinggalkan dan
jauhuilah pacaran karena dia adalah perangkap setan.
Jazakumullah ahsanal jaza’ Wassalam !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar