Ku Bersimpuh di Pangkuan Tuhan
|
D
|
i sudut malam yang tenang dan damai.
Tersimpan sejuta mirecles bagi yang mau memikirkannya. Angin berhembus
menelusuri malam, singgap di daun telinga orang-orang yang tidur seolah-olah
berkata “ Yaa ayyuhal muzzammil qumil laila illa qalilaa “. Keheningan
malam menambah kedamaina hati para pemuja-Nya. Di saat itu, akan terasa nikmat
bagi para penyair menebarkan bait-bait syair yang indah nan elok, para ahli
ibadah yang begitu asyiknya berkomunikasi kepada sang maha pencipta di dalam
sujud terkahirnya, ataupun bagi kaum sufi yang senang menenggelamkan diri ke
lautan tafakkur mencari mutiara hikmah yang tersembunyi. Namun di saat itu, ada
seorang pemuda pendosa yang duduk termenung sambil merangkut Al-Qur’an di dada
laksana sepasang kekasih yang berpelukan. Apakah gerangan yang membuatnya
termenung ?. Penulis yang hina ini menghelakan nafas, bingung memikirkan
kelanjutan ceritanya. Di letakkanlah pena oleh penulis yang hina ini di samping
selembar kertas yang di tulisnya. Sambil meminum teh hangat, penulis yang hina ini berpikir ; apa yang akan di renungkan oleh
pemuda tersebut ? apakah memikirkan kekasihnya yang sudah lama tak di temuinya, teringat kampung halamannya
yang ia harus berjualan kacang ke sekolahnya demi membeli beras, ataukah merenung
tentang masa depannya setelah selesai kuliah. Emm... penulis yang hina ini pun
masih bingung yang mana jua kelanjutan ceritanya, dengan mengucap bismillah
di gerakkanlah pena dan mulailah penulis yang hina ini melanjutkan ceritanya.
Ternyata pemuda tersebut merenungkan tentang nasib jurusan yang di tempuhnya “
jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam “. Ia bergumam, apa yang menyebabkan
jurusan ini sepi peminatnya sampai sekarang ?. Ia pun teringat asumsi
orang-orang yang mengatakan, hal tersebut di karenakan ada nama “ Dakwah “.
Coba di hilangkan niscaya orang-orang
pun berdatangan mendaftar ke jurusan tersebut. Namun pemuda tersebut
menggelngkan kepalanya, sebuah dilalah ia tidak setuju dengan asumsi mereka. Pemuda tersebut
mencoba memikirkannya, seraya berkata di dalam hati, apakah hal tersebut di
karenakan banyak alumni yang terkenal di bidang dakwahnya di bandingkan bidang
jurnalistiknya. Ah… rasanya bukan itu penyebabnya, ucap dia dengan
menggelengkan kepala.
Waktu terus berjalan, malam pun semakin
terlena di pangkuan langit yang gelap. Namun rupanya pemuda tersebut belum juga
menutup gerbang pelupuk matanya. Ia masih memikirkan, kenapa jurusan yang di
tempuhnya sangat sunyi peminatnya. Sosialisasi pengenalan jurusan dari
sekolah-sekolah yang berada di kota sampai ke desa, sudah digalakkan. Siasat
pemberian beasiswa bagi yang memilih jurusan tersebut pun sudah di ikhtiarkan.
Pemuda tersebut meletakkan tangan kanannya di atas kepala, sebuah dilalah
ia tak tahu lagi apa penyebab sebenarnya.
Untuk menghilangkan rasa pusing, pemuda
pendosa tersebut membuka Al-Qur’an yang di peluknya. Ia membaca surah Ali Imran.
Ia pun mulai membacanya ; “ a’udzubillahi minasy syaithonir rajim
bismillahirrah maanir Rahim “. Alim Lam Mim (1) Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum
(2). Ketika sampai ayat QS. Ali Imran : 103, Wa’tashimu bi hablillahhi
jami’an wala tafarraqu wadzkuru ni’matallahi ‘alaikum idz kuntumm a’daan
faallafa bayna quulubikum faashbahtum bini’matillahi ikhwanaa…., tiba-tiba ia
berhenti membaca dan mengucap, subhanallah ! Engkau benar ya Allah, alhaqqu
min rabbik, yang menyebabkan jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam sampai
saat ini sepi peminatnya adalah karena kami tidak berpegang tali agama-Mu ya
Allah, kami melalaikan perintah-Mu dan melanggar larangan-Mu. Kami mengaku
bersaudara, tapi kami tidak saling menghargai baik dalam sikap maupun pendapat.
Kami tidak saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dan kami pun tidak
mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan. Bagaimana tidak Engkau menambah
peminatnya jurusan ini sedangkan kami tidak mensyukuri orang-orang yang sudah
memilih jurusan ini. Ya Rabbi, sekiranya masih ada kesempatan untuk
mengembangkan jurusan ini maka berikanlah keberkahan dan peningkatan baik dari
segi kuantitas maupun kualitas. Gerakkanlah hati setiap insan untuk memilih
jursan ini. Jika mereka jauh maka dekatkanlah. Jika mereka merasa MADESU (Masa
Depan Suram) maka cerahkanlah. Jika mereka merasa sempit maka lapangkanlah. Ya
Muqalliibal qulub tsabbit qulubana ‘ala tho’atika. Ya Ghaffar, ampunilah
dosa kami yang tidak menyertakan-Mu dalam
urusan ini. Ya Rahman, sayangilah kami dengan belaian rahmat-Mu.
Tidak terasa meneteslah air mata membasahi
pipi pemuda pendosa tersebut. Tak ada satupun kata-kata yang terucap kecuali astaghfirullaah….
astaghfirullaah….astaghfirullaah rabbal baraya astaghfirullah minal khothoya. Pemuda
tersebut tidak lain dan tidak bukan dia ialah Abdul Hannan al-Dzikra.
Syukran jazilan ‘ala ihtimamikum.
Jazakumullah ahsanal jaza’. Wassalam !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar