Rabu, 25 Maret 2015

Ku bersimpuh di pangkuan Tuhan



Ku Bersimpuh di Pangkuan Tuhan
D
i sudut malam yang tenang dan damai. Tersimpan sejuta mirecles bagi yang mau memikirkannya. Angin berhembus menelusuri malam, singgap di daun telinga orang-orang yang tidur seolah-olah berkata “ Yaa ayyuhal muzzammil qumil laila illa qalilaa “. Keheningan malam menambah kedamaina hati para pemuja-Nya. Di saat itu, akan terasa nikmat bagi para penyair menebarkan bait-bait syair yang indah nan elok, para ahli ibadah yang begitu asyiknya berkomunikasi kepada sang maha pencipta di dalam sujud terkahirnya, ataupun bagi kaum sufi yang senang menenggelamkan diri ke lautan tafakkur mencari mutiara hikmah yang tersembunyi. Namun di saat itu, ada seorang pemuda pendosa yang duduk termenung sambil merangkut Al-Qur’an di dada laksana sepasang kekasih yang berpelukan. Apakah gerangan yang membuatnya termenung ?. Penulis yang hina ini menghelakan nafas, bingung memikirkan kelanjutan ceritanya. Di letakkanlah pena oleh penulis yang hina ini di samping selembar kertas yang di tulisnya. Sambil meminum teh hangat, penulis yang hina ini berpikir ; apa yang akan di renungkan oleh pemuda tersebut ? apakah memikirkan kekasihnya yang sudah lama  tak di temuinya, teringat kampung halamannya yang ia harus berjualan kacang ke sekolahnya demi membeli beras, ataukah merenung tentang masa depannya setelah selesai kuliah. Emm... penulis yang hina ini pun masih bingung yang mana jua kelanjutan ceritanya, dengan mengucap bismillah di gerakkanlah pena dan mulailah penulis yang hina ini melanjutkan ceritanya. Ternyata pemuda tersebut merenungkan tentang nasib jurusan yang di tempuhnya “ jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam “. Ia bergumam, apa yang menyebabkan jurusan ini sepi peminatnya sampai sekarang ?. Ia pun teringat asumsi orang-orang yang mengatakan, hal tersebut di karenakan ada nama “ Dakwah “. Coba di hilangkan niscaya  orang-orang pun berdatangan mendaftar ke jurusan tersebut. Namun pemuda tersebut menggelngkan kepalanya, sebuah dilalah ia tidak setuju dengan asumsi mereka. Pemuda tersebut mencoba memikirkannya, seraya berkata di dalam hati, apakah hal tersebut di karenakan banyak alumni yang terkenal di bidang dakwahnya di bandingkan bidang jurnalistiknya. Ah… rasanya bukan itu penyebabnya, ucap dia dengan menggelengkan kepala.
Waktu terus berjalan, malam pun semakin terlena di pangkuan langit yang gelap. Namun rupanya pemuda tersebut belum juga menutup gerbang pelupuk matanya. Ia masih memikirkan, kenapa jurusan yang di tempuhnya sangat sunyi peminatnya. Sosialisasi pengenalan jurusan dari sekolah-sekolah yang berada di kota sampai ke desa, sudah digalakkan. Siasat pemberian beasiswa bagi yang memilih jurusan tersebut pun sudah di ikhtiarkan. Pemuda tersebut meletakkan tangan kanannya di atas kepala, sebuah dilalah ia tak tahu lagi apa penyebab sebenarnya.
Untuk menghilangkan rasa pusing, pemuda pendosa tersebut membuka Al-Qur’an yang di peluknya. Ia membaca surah  Ali Imran.  Ia pun mulai membacanya ; “ a’udzubillahi minasy syaithonir rajim bismillahirrah maanir Rahim “. Alim Lam Mim (1)  Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum (2). Ketika sampai ayat QS. Ali Imran : 103, Wa’tashimu bi hablillahhi jami’an wala tafarraqu wadzkuru ni’matallahi ‘alaikum idz kuntumm a’daan faallafa bayna quulubikum faashbahtum bini’matillahi ikhwanaa…., tiba-tiba ia berhenti membaca dan mengucap, subhanallah ! Engkau benar ya Allah, alhaqqu min rabbik, yang menyebabkan jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam sampai saat ini sepi peminatnya adalah karena kami tidak berpegang tali agama-Mu ya Allah, kami melalaikan perintah-Mu dan melanggar larangan-Mu. Kami mengaku bersaudara, tapi kami tidak saling menghargai baik dalam sikap maupun pendapat. Kami tidak saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dan kami pun tidak mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan. Bagaimana tidak Engkau menambah peminatnya jurusan ini sedangkan kami tidak mensyukuri orang-orang yang sudah memilih jurusan ini. Ya Rabbi, sekiranya masih ada kesempatan untuk mengembangkan jurusan ini maka berikanlah keberkahan dan peningkatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Gerakkanlah hati setiap insan untuk memilih jursan ini. Jika mereka jauh maka dekatkanlah. Jika mereka merasa MADESU (Masa Depan Suram) maka cerahkanlah. Jika mereka merasa sempit maka lapangkanlah. Ya Muqalliibal qulub tsabbit qulubana ‘ala tho’atika. Ya Ghaffar, ampunilah dosa kami yang tidak menyertakan-Mu dalam  urusan ini. Ya Rahman, sayangilah kami dengan belaian rahmat-Mu.
Tidak terasa meneteslah air mata membasahi pipi pemuda pendosa tersebut. Tak ada satupun kata-kata yang terucap kecuali astaghfirullaah…. astaghfirullaah….astaghfirullaah rabbal baraya astaghfirullah minal khothoya. Pemuda tersebut tidak lain dan tidak bukan dia ialah Abdul Hannan al-Dzikra. 
Syukran jazilan ‘ala ihtimamikum. Jazakumullah ahsanal jaza’. Wassalam !.
                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar