Sabtu, 14 Maret 2015

Ulun + Allah = Cukup



Ulun + Allah = Cukup
S
ejatinya memang galau adalah manusiawi. Galau adalah di saat hati merasa tidak tentram dan gelisah memikirkan sesuatu yang belum ada solusinya. Akan lebih baik dan bijak jika galau tersebut di alihkan kearah yang positif. Galau tentang dosa yang lebih banyak daripada amal, galau tentang yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk orang lain, dan lain-lain. Itu akan lebih baik daripada “ngegalauin si dia yang masih gantungin gue hingga saat ini” atau  “ ngegalauin si dia yang tidak pernah paham kode dan isyarat cinta yang gue berikan “. Itu hanya pikiran orang-orang yang tidak punya arah di dalam kehidupan. Artinya apa ? Orang-orang tidak akan menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang suka menggalaukan hal yang tak jelas rimbanya. Kemana… kemana… kemana, ku harus mencari dimana ?. Begitulah kata Ayu Ting-Ting.  Apakah remaja muslim tidak boleh galau ? Seandainya di dalam ilmu fiqih ada bab khusus membahas tentang galau, bisa jadi ada galau wajib, galau sunnah, galau makruh, galau mubah, dan galau haram. Wallahu a’lam bisshowwab. Menurut hemat ulun, seorang remaja muslim wajib galau. 

Rabi’ah al-‘Adawiyyah yang galau berat                                 

Ketika suami Rabi’ah al-‘Adawiyyah ra. meninggal, datanglah Hasan al-Bashri, dkk mengadap Rabi’ah. Mereka meminta izin diperkenankan masuk. Rabi’ah pun mengizinkan mereka masuk, lalu ia  mengulurkan tirai dan duduk di balik tirai. Hasan, dkk berkata : Suami pian telah tiada, maka pilihlah salah satu dari kami yang pian sukai. Rabi’ah menjawab : Inggih, dengan senang hati. Tapi, ulun mau bertanya terlebih dahulu kepada buhan pian. Siapa yang paling ‘alim di antara buhan pian itulah yang akan menjadi suami ulun  ?. Maka mereka (kawan-kawan Hasan) berkata : Orang yang paling ‘alim di antara kami adalah Hasan al-Bashri ra. Kemudian Rabi’ah berkata kepada Hasan : Jika pian bisa menjawab 4 pertanyaan maka ulun mau menjadi istri pian. Silahkan bertanya - semoga Allah memberikan taufik kepadaku supaya bisa menjawab pertanyaan pian. Rabi’ah bertanya : Bagaimana pendapat pian jika ulun meninggal dunia, apakah dalam keadaan muslim atau kafir ?. Yang pian tanyakan itu adalah hal ghaib, jawab Hasan. Rabi’ah bertanya : Bagaimana pendapat pian, ketika ulun di masukkan ke dalam kubur dan di tanyai Munkar dan Nakir, apakah ulun mampu menjawab atau tidak ?. Itu persoalan ghaib juga, jawab Hasan. Rabi’ah bertanya : Ketika manusia di kumpulkan di padang mahsyar, berterbanganlah kita-kitab catatan amal. Ada yang diserahkan buku catatan amal tersebut ke tangan kanannya dan ada pula yang di serahkan ke tangan kirinya. Apakah buku catatan amal ulun akan di berikan ke tangan kanan atau kiri ?. Lagi-lagi yang pian tanyakan adalah hal ghaib, jawab Hasan. Rabi’ah bertanya :  Ketika hari kiamat terdengar seruan bahwa sebagian manusia masuk surga dan sebagaian yang lain masuk neraka. Apakah ulun termasuk ahli surga atau ahli neraka ?. Pertanyaan pian ini juga termasuk hal yang ghaib, jawab Hasan. Rabi’ah pun berkata : Bagaimana seseorang yang galau berat terhadap 4 hal tersebut bisa memikirkan calon suami. (Syarah ‘Uqud al-Lujjain : 20). Nah sahabat seperjuangan, itulah galau yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, Galaukan diri pian dengan galau yang berkualitas dan asli bukan KW. Kalau perlu ganti saja frame galau dengan God Always Listening and always Understanding. Jadi, kalau kita galau yang tidak jelas, harusnya kita ingat Allah bahwa Dia selalu mendengar rintihan hati kita, Dia selalu mengetahui apa yang kita galaukan dan Dia tidak mungkin tega jika kita merintih kepada-Nya seraya mengangkat kedua tangan. Pasti Allah akan memberikan  ketenangan kepada orang-orang yang ingat kepada-Nya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman di dalam Al-Qur’an, “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’du : 28).
Yakinlah sahabat, bahwa hanya Allah Swt. yang bisa menghilangkan rasa kegalauan kita, yang paling mengerti perasaan kita dan  cukup Allah yang menjadi sandaran hidup kita. Bohong…., jika pacar pian mengatakan : “ Ulun tanpamu terasa hampa. Jalan hidup ulun tanpa pian terasa sunyi. Hati ini tanpa pian terasa sesak dan gersang. Pasir kalee gersang !. Bohong.. dusta.. pangaramput banar… Berani sekali dia berkata demikian, Allah di kemanaen… Allah mau di apaen !!. Seharusnya kita berucap, tanpa Allah,  hidupku hanya menjadi sampah. Tanpa Allah, jalan hidupku tak terarah. Tanpa Allah, hatiku terasa galau dan gelisah. Cukuplah Pian yang jadi dokter ulun. Cukup Pian yang menjadi nakhoda kapal kehidupan ulun. Dan cukup Pian yang ada di dalam hati ulun. 
 Mulai sekarang jadikanlah salah satu motto dalam hidup pian “ Ulun + Allah = Cukup “. Wa kafa billahi syahida, Cukup Allah yang menyaksikan flim dokumenter  kehidupan pian. Wa kafa billahi nashira, cukup Allah yang menjadi penolong pian ketika datangnya ujian. Wa kafa billahi wakiila, cukup Allah yang menjadi pelindung pian di saat datangnya panah musibah. Pacar… lewat !  Huuuus huuus… jauh.. jauh.. jauh.. kata acil Syahrini. Dan juga ganti lirik lagu  “ goyang dumang “ yang lagi booming tuh dengan “ Ayo ingat Allah, biar hati senang, pikiran pun tenang, galau jadi hilang. Ayo ingat Allah, biar hati senang , semua masalah jadi hilang. Ayo ingat Allah lah.. lah.. lah…lah.  He he...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar