Sabtu, 21 Maret 2015

B2 D1



                                       B2 D1                                        
(Berbagi Bersama Dari nikmat yang di beri )
D
i waktu pagi, pada hari selasa 19 Maret 2015, tepat pada jam 08 : 00 WIB, Hannan begitu bersemangat membaca sebuah buku karangan Ust. Yusuf Mansur yang berjudul “ The Secret of a Happy Life “. Bagaimana tidak, Ust. Yusuf Mansur kan orang yang di kagumi oleh Hannan. Di bagian judul “ Ingatkan diri kita untuk bisa peduli terhadap sesama “, Hannan menemukan kata-kata yang membuatnya hatinya sedih sehingga keceriaan di wajahnya mulai menghilang seperti daun mekar yang kembali menutup, laksana sebuah kapal yang berlayar di air yang tenang, tiba-tiba ada ombak besar yang menghantam dan menerkam kapal tersebut. Daaaaaar… semuanya menjadi kacau dan berantakan. Inilah yang di baca Hannan,
-          Sudah berapa lamakah kita tidak mengetuk pintu tetangga yang kita tahu ia sedang kesusahan ? Atau jangan-jangan malah kita tidak pernah bukakan pintu ketika ia mengetuknya ?.
-          Sudah berapa lamakah kita tidak tengok saudara kita yang kondisi sosial ekonominya membutuhkan uluran tangan kita ?.
-          Adakah kita menikmati duren sendirian dan menyisakan wanginya saja untuk tetangga ?.
-          Adakah rumah kita menantang langit, sementara rumah orangtua  dari dulu sejak kecil hingga kita kaya, begitu-begitu saja ?.
-          Ketika kita gajian, atau berhasil dalam usaha, pernahkan berpikir, siapa yang bakal kita santuni ?. Atau jangan-jangan lebih banyak berpikir, bersenang-senang ke mana nih ?
-          Ketika makan dengan enaknya, pernah enggak sedikit berpikir, hmmm... pasti ada yang tidak bisa enak makan; baik karena tidak ada makanannya atau kondisinya sedang sakit. Lalu setelah kita dapati satu dua nama yang sedang kesusahan tersebut, kita tengok ia dan kita santuni.
-          Ketika kaki ini begitu bebas mengayunkan kemana langkah akan dijejakkan, pernah enggak berpikir bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang ditahan yang juga butuh uluran semangat dan bantuan dari kita.
Tanyakan, tanyakan diri kita, apa yang sudah kita lakukan ketika Allah memberikan kepada kita kenikmaan, yang dengannya kita diminta untuk berbagai ?  Kalau pertanyaan ini kita jawab dengan jawaban bahwa kita tidak pernah menunukkan kepedulian, perhatian, dan kasih sayang kepada sesama, maka saatnyalah kita peduli, saatnya kita untuk berbagi. Sebelum semua yang di genggaman kita diambil Allah kembali.
Ketika membaca kata-kata tersebut, Hannan bergumam di dalam hatinya : Ya Allah Ya Rabbi, selama ini ulun belum pernah menyisihkan sebagian uang untuk orang lain dari uang BIDIKMISI (BIaya pendiDIKan MIskin berprestaSI). Di saat itu pun, ia teringat dengan perkataan salah seorang dosen dakwah yang berkata : “ Di setiap nikmat yang Allah Swt. berikan kepada kita maka ada hak orang lain dari nikmat tersebut “. Naah.., uang BIDIKMISI itu perlu dibagi karena di situ ada hak teman dan juga dosen. Benar, salah satu persyaratan menerima BIDIKMISI itu kan terkait dengan IP (Indeks Prestasi).  Coba dosen tidak memberikan nilai yang baik. Hayooo bagaimana ?. Ucap beliau dengan nada bercanda. Namun rupanya hal tersebut tidak sekedar guyunan bagi Hannan melainkan menjadi sebuah perenungan yang mendalam. Pasalnya, dulu sewaktu masih sekolah di MA Darul Ulum, Hannan mempunyai tradisi yang baik yaitu ketika mendapatkan gaji sebesar Rp. 350.000.00, dari hasil privat mengajarkan Al-Qur’an, ia mengadakan sebuah acara syukuran kecil-kecilan bersama teman-temannya dengan membeli beberapa gorengan. Lalu seorang teman membacakan doa selamat dan setelah itu makan bersama-sama. Inilah yang membuat Hannan sedih karena dengan uang yang banyak dari BIDIKMISI seharusnya bisa mengadakan acara lebih besar dari itu atau melanjutkan tradisi tersebut. Eeeh... ini malah sudah lenyap tradisi baik tersebut. Sungguh menyedihkan !.
Dan di saat itu pula, Hannan terbayang wajah teman-temannya. Wajah teman yang bekerja di Rocket Cheken, wajah teman yang mengajar di TK, wajah teman yang berjualan mushaf Al-Qur’an dan boneka Al-Danbo, wajah teman yang berjualan jagung bakar,  wajah teman yang harus bekerja serabutan, bahkan sampai wajah teman yang telah berhenti kuliah. Kemudian Hannan tersenyum sambil berkata di dalam hati : “ Kalau ulun masalah biaya kuliah adem-adem saja sedangkan mereka mengalami BKPP (Biaya Kuliah Pontang-Panting), he he he. Pada akhirnya, Hannan memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi lama tersebut yaitu berbagi bersama dari nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepadanya. 
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, renungkanlah hadis Nabi Saw. dan firman Allah Swt. berikut ini, Dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. bersabda : “ Barangsiapa yang ingin di ijabah doanya dan di hilangkan segala duka citanya maka hendaklah ia melapangkan (meringankan beban)  orang yang sedang kesusahan “. (HR. Ahmad di dalam kitab musnadnya).
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? “.(QS. Al-Munafiqun : 10).
Jika seorang  merasakan kesimpitan  di dalam kehidupannya padahal dia adalah orang kaya, mempunyai rumah  bertingkat dua, mobil mengkilat yang menyilaukan mata, istri yang cantik jelita, anak-anak yang lucu dan menyejukkan mata, tapi apalah gunanya semua itu jika hidup terasa sempit. Tahukah buhan pian apa yang menyebabkan hal demikian, karena dia tidak berbagi nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepadanya. Bagi yang selalu berdoa namun tak kunjung juga di ijabah, barangkali hal tersebut karena tidak memperdulikan beban dan kesusahan orang yang disekelilingnya.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, berbagi tidak mesti selalu di sandingkan dengan materi. Karena nikmat yang diberikan Allah  tidak hanya berupa materi. Kekuataan, kecerdasan, keahlian, keceriaan, dan spirit pun bisa dibagi. Sungguh indah di dalam kelas, jika saling memberikan pengetahuan dan pemahaman bukan saling adu kecerdasan ataupun merendahkan teman. Sungguh elok hidup bermasyarakat, jika saling bergotong-royong, bahu membahu, bukan saling pamer kekayaan. Sungguh terasa damai hidup di dunia ini, jika semuanya sadar bahwa segala nikmat di beri itu mesti di bagi. Tinggal sesal, jika izrail mencabut nyawa pian setelah membaca artikel ini namun sebelumnya terlalu sibuk dengan diri sendiri, tidak melihat penderitaan kawan. Tinggal kenistaan, jika jasad sudah berbaring di kuburan sedangkan hidup dunia hanya menumpuk-numpuk harta untuk dinikmati sendiri, hasil kesuksesan tanpa di bagi, serta ilmu, keahlian, dan penemuan baru hanya di pendam sendiri. Astaghfirullahal ‘adzim min kulli dzanbin ‘adzim laa yaghfirudz dzniba illa rabbul ‘alamin, hamba meminta ampun kepada Allah yang Maha Besar dari segala dosa-dosa yang besar, tidak ada satupun yang dapat mengampuni dosa-dosa tersebut selain hanya Tuhan semesta alam. Kalau pian belum sadar juga, ulun tidak tahu harus berbicara apalagi, ulun hanya bisa mengangkat kedua tangan seraya berdoa, semoga Allah yang Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang memberikan kesempatan kembali kepada kita untuk berbagi bersama. Sebelum semuanya terlambat, ayolah berbagi bersama karena kita hidup tidak sendiri melainkan bersama.
Munajat
Alangkah kikirna tangan hamba, hingga tak ada pintu tetangga  yang hamba ketuk. Alangkah egonya dan sibuknya hamba dengan hp yang di tangan sehingga tidak peduli dengan kesusahan kawan. Begitu beratnya kaki hamba, hingga sedikit kebaikan yang di tempuh. Jika hamba masih di perkenankan untuk hidup maka jadikanlah tangan hamba terbuka tuk peduli terhadap sesama dan ringankanlah kaki untuk menempuh kebaikan sejauh-jauhnya. Begitu banyaknya orang yang berteriak minta tolong namun tidak sedikit pun hamba mengulurkan tangan. Begitu banyaknya orang yang kelaparan dan kesusahan namun tidak sedikit pun mata ini menolehnya. Begitu banyak orang yang merasakan pedihnya penderitaan namun tidak sedikit pun hati ini tersentuh untuk memberikan bantuan. Selama ini hati hamba tertutup oleh  ketamakan menumupuk-numpuk harta untuk di nikmati sendiri, berambisi ingin sukses tanpa peduli orang yang di kanan dan di kiri, berpakaian begitu rapinya dan necisnya namun tak melihat pakaian mereka yang begitu hancurnya. Seandainya Engkau adalah Tuhan yang Pemarah maka sudah pasti hamba binasa sejak dulu kala. Tapi Engkau adalah Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, sehingga sampai hari ini Engkau masih membuka pintu taubat selebar-lebarkan kepada hamba.
Duhai Dzat yang Maha Peduli, hamba ingin Engkau peduli tapi hamba sendiri tidak pernah peduli terhadap-Mu dan terhadap mereka yang Engkau suruh untuk diperdulikan. Duhai Dzat yang Maha Pemberi. Hamba ingin Engkau selalu memberi, tapi hamba sendiri tak mau berbagi. Ya Rabbi, Sadarkan hamba bahwa Engkau punya perbendaharaan karunia yang tak terhingga untuk orang-orang yang tak sayang akan harta dan nyawa. Sadarkan hamba bahwa Engkau punya ujung kehidupan yang membahagiakan untuk mereka yang memiliki amal shaleh. Sadarkan hamba bahwa setia nikmat yang Engkau beri maka ada hak orang lain untuk menikmati. Ketuklah hati hamba kalau perlu hempaskan diri hamba supaya hamba sadar semua ini adalah kepunyaan-Mu ya Allah, bukan kepanyaan hamba. Yaaaaaa Allah…. Yaaaaaaaa Rabbi…..
                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar