B2 D1
(Berbagi Bersama Dari nikmat yang di beri )
|
D
|
i waktu pagi, pada hari selasa 19 Maret
2015, tepat pada jam 08 : 00 WIB, Hannan begitu bersemangat membaca sebuah buku
karangan Ust. Yusuf Mansur yang berjudul “ The Secret of a Happy Life “. Bagaimana tidak, Ust. Yusuf Mansur kan orang yang di kagumi oleh
Hannan. Di bagian judul “ Ingatkan diri kita untuk bisa peduli terhadap sesama
“, Hannan menemukan kata-kata yang membuatnya hatinya sedih sehingga keceriaan
di wajahnya mulai menghilang seperti daun mekar yang kembali menutup, laksana sebuah
kapal yang berlayar di air yang tenang, tiba-tiba ada ombak besar yang
menghantam dan menerkam kapal tersebut. Daaaaaar… semuanya menjadi kacau dan
berantakan. Inilah yang di baca Hannan,
-
Sudah berapa lamakah kita tidak mengetuk pintu tetangga yang kita
tahu ia sedang kesusahan ? Atau jangan-jangan malah kita tidak pernah bukakan
pintu ketika ia mengetuknya ?.
-
Sudah berapa lamakah kita tidak tengok saudara kita yang kondisi
sosial ekonominya membutuhkan uluran tangan kita ?.
-
Adakah kita menikmati duren sendirian dan menyisakan wanginya saja
untuk tetangga ?.
-
Adakah rumah kita menantang langit, sementara rumah orangtua dari dulu sejak kecil hingga kita kaya,
begitu-begitu saja ?.
-
Ketika kita gajian, atau berhasil dalam usaha, pernahkan berpikir,
siapa yang bakal kita santuni ?. Atau jangan-jangan lebih banyak berpikir,
bersenang-senang ke mana nih ?
-
Ketika makan dengan enaknya, pernah enggak sedikit berpikir,
hmmm... pasti ada yang tidak bisa enak makan; baik karena tidak ada makanannya
atau kondisinya sedang sakit. Lalu setelah kita dapati satu dua nama yang
sedang kesusahan tersebut, kita tengok ia dan kita santuni.
-
Ketika kaki ini begitu bebas mengayunkan kemana langkah akan
dijejakkan, pernah enggak berpikir bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang
ditahan yang juga butuh uluran semangat dan bantuan dari kita.
Tanyakan, tanyakan diri kita, apa
yang sudah kita lakukan ketika Allah memberikan kepada kita kenikmaan, yang
dengannya kita diminta untuk berbagai ? Kalau pertanyaan ini kita jawab dengan jawaban
bahwa kita tidak pernah menunukkan kepedulian, perhatian, dan kasih sayang
kepada sesama, maka saatnyalah kita peduli, saatnya kita untuk berbagi. Sebelum
semua yang di genggaman kita diambil Allah kembali.
Ketika membaca kata-kata tersebut, Hannan bergumam di dalam hatinya
: Ya Allah Ya Rabbi, selama ini ulun belum pernah menyisihkan sebagian uang
untuk orang lain dari uang BIDIKMISI (BIaya pendiDIKan MIskin berprestaSI). Di
saat itu pun, ia teringat dengan perkataan salah seorang dosen dakwah yang berkata
: “ Di setiap nikmat yang Allah Swt. berikan kepada kita maka ada hak orang
lain dari nikmat tersebut “. Naah.., uang BIDIKMISI itu perlu dibagi karena di
situ ada hak teman dan juga dosen. Benar, salah satu persyaratan menerima BIDIKMISI itu kan terkait dengan
IP (Indeks Prestasi). Coba dosen tidak
memberikan nilai yang baik. Hayooo bagaimana ?. Ucap beliau dengan nada
bercanda. Namun rupanya hal tersebut tidak sekedar guyunan bagi Hannan
melainkan menjadi sebuah perenungan yang mendalam. Pasalnya, dulu sewaktu masih
sekolah di MA Darul Ulum, Hannan mempunyai tradisi yang baik yaitu ketika
mendapatkan gaji sebesar Rp. 350.000.00, dari hasil privat mengajarkan
Al-Qur’an, ia mengadakan sebuah acara syukuran kecil-kecilan bersama
teman-temannya dengan membeli beberapa gorengan. Lalu seorang teman membacakan
doa selamat dan setelah itu makan bersama-sama. Inilah yang membuat Hannan
sedih karena dengan uang yang banyak dari BIDIKMISI seharusnya bisa mengadakan
acara lebih besar dari itu atau melanjutkan tradisi tersebut. Eeeh... ini malah
sudah lenyap tradisi baik tersebut. Sungguh menyedihkan !.
Dan di saat itu pula, Hannan terbayang wajah teman-temannya. Wajah
teman yang bekerja di Rocket Cheken, wajah teman yang mengajar di TK,
wajah teman yang berjualan mushaf Al-Qur’an dan boneka Al-Danbo, wajah
teman yang berjualan jagung bakar, wajah
teman yang harus bekerja serabutan, bahkan sampai wajah teman yang telah
berhenti kuliah. Kemudian Hannan tersenyum sambil berkata di dalam hati : “
Kalau ulun masalah biaya kuliah adem-adem saja sedangkan mereka
mengalami BKPP (Biaya Kuliah Pontang-Panting), he he he. Pada akhirnya, Hannan
memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi lama tersebut yaitu berbagi
bersama dari nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepadanya.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, renungkanlah hadis Nabi Saw. dan
firman Allah Swt. berikut ini, Dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. bersabda : “ Barangsiapa
yang ingin di ijabah doanya dan di hilangkan segala duka citanya maka hendaklah
ia melapangkan (meringankan beban) orang
yang sedang kesusahan “. (HR. Ahmad di dalam kitab musnadnya).
“ Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan
kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia
berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku
sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk
orang-orang yang saleh? “.(QS. Al-Munafiqun : 10).
Jika seorang merasakan
kesimpitan di dalam kehidupannya padahal
dia adalah orang kaya, mempunyai rumah
bertingkat dua, mobil mengkilat yang menyilaukan mata, istri yang cantik
jelita, anak-anak yang lucu dan menyejukkan mata, tapi apalah gunanya semua itu
jika hidup terasa sempit. Tahukah buhan pian apa yang menyebabkan hal demikian, karena dia
tidak berbagi nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepadanya. Bagi yang selalu
berdoa namun tak kunjung juga di ijabah, barangkali hal tersebut karena tidak
memperdulikan beban dan kesusahan orang yang disekelilingnya.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah,
berbagi tidak mesti selalu di sandingkan dengan materi. Karena nikmat yang
diberikan Allah tidak hanya berupa
materi. Kekuataan, kecerdasan, keahlian, keceriaan, dan spirit pun bisa dibagi.
Sungguh indah di dalam kelas, jika saling memberikan pengetahuan dan pemahaman
bukan saling adu kecerdasan ataupun merendahkan teman. Sungguh elok hidup
bermasyarakat, jika saling bergotong-royong, bahu membahu, bukan saling pamer
kekayaan. Sungguh terasa damai hidup di dunia ini, jika semuanya sadar bahwa segala
nikmat di beri itu mesti di bagi. Tinggal sesal, jika izrail mencabut nyawa
pian setelah membaca artikel ini namun sebelumnya terlalu sibuk dengan diri
sendiri, tidak melihat penderitaan kawan. Tinggal kenistaan, jika jasad sudah
berbaring di kuburan sedangkan hidup dunia hanya menumpuk-numpuk harta untuk
dinikmati sendiri, hasil kesuksesan tanpa di bagi, serta ilmu, keahlian, dan
penemuan baru hanya di pendam sendiri. Astaghfirullahal ‘adzim min kulli
dzanbin ‘adzim laa yaghfirudz dzniba illa rabbul ‘alamin, hamba meminta
ampun kepada Allah yang Maha Besar dari segala dosa-dosa yang besar, tidak ada
satupun yang dapat mengampuni dosa-dosa tersebut selain hanya Tuhan semesta
alam. Kalau pian belum sadar juga, ulun tidak tahu harus berbicara apalagi, ulun
hanya bisa mengangkat kedua tangan seraya berdoa, semoga Allah yang Maha Pemaaf
lagi Maha Penyayang memberikan kesempatan kembali kepada kita untuk berbagi
bersama. Sebelum semuanya terlambat, ayolah berbagi bersama karena kita hidup
tidak sendiri melainkan bersama.
Munajat
Alangkah kikirna tangan hamba, hingga tak ada
pintu tetangga yang hamba ketuk. Alangkah
egonya dan sibuknya hamba dengan hp yang di tangan sehingga tidak peduli dengan
kesusahan kawan. Begitu beratnya kaki hamba, hingga sedikit kebaikan yang di
tempuh. Jika hamba masih di perkenankan untuk hidup maka jadikanlah tangan
hamba terbuka tuk peduli terhadap sesama dan ringankanlah kaki untuk menempuh
kebaikan sejauh-jauhnya. Begitu banyaknya orang yang berteriak minta tolong
namun tidak sedikit pun hamba mengulurkan tangan. Begitu banyaknya orang yang
kelaparan dan kesusahan namun tidak sedikit pun mata ini menolehnya. Begitu
banyak orang yang merasakan pedihnya penderitaan namun tidak sedikit pun hati
ini tersentuh untuk memberikan bantuan. Selama ini hati hamba tertutup
oleh ketamakan menumupuk-numpuk harta
untuk di nikmati sendiri, berambisi ingin sukses tanpa peduli orang yang di
kanan dan di kiri, berpakaian begitu rapinya dan necisnya namun tak melihat
pakaian mereka yang begitu hancurnya. Seandainya Engkau adalah Tuhan yang
Pemarah maka sudah pasti hamba binasa sejak dulu kala. Tapi Engkau adalah Tuhan
yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, sehingga sampai hari ini Engkau masih
membuka pintu taubat selebar-lebarkan kepada hamba.
Duhai Dzat yang Maha Peduli, hamba ingin
Engkau peduli tapi hamba sendiri tidak pernah peduli terhadap-Mu dan terhadap
mereka yang Engkau suruh untuk diperdulikan. Duhai Dzat yang Maha Pemberi.
Hamba ingin Engkau selalu memberi, tapi hamba sendiri tak mau berbagi. Ya
Rabbi, Sadarkan hamba bahwa Engkau punya perbendaharaan karunia yang tak
terhingga untuk orang-orang yang tak sayang akan harta dan nyawa. Sadarkan
hamba bahwa Engkau punya ujung kehidupan yang membahagiakan untuk mereka yang
memiliki amal shaleh. Sadarkan hamba bahwa setia nikmat yang Engkau beri maka
ada hak orang lain untuk menikmati. Ketuklah hati hamba kalau perlu hempaskan
diri hamba supaya hamba sadar semua ini adalah kepunyaan-Mu ya Allah, bukan
kepanyaan hamba. Yaaaaaa Allah…. Yaaaaaaaa Rabbi…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar