Senin, 05 Oktober 2015

Bakso Syar'i



BAKSO SYAR’I

Minggu pagi jam 07.00
di Jalan Lambung Mangkurat, Palangka Raya
Seorang perempuan sedang menyiram bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya. Kini ia tumbuh dan mekar menjadi perempuan cantik.  Meski ia mengalami kecacatan fisik ; buta, tidak menutupi kecantikan wajahnya. Berbagai jenis bunga ada di halaman rumahnya. Warna-warni bunga membuat rumahnya nampak indah berseri. Harum mewangi. Selama sepuluh tahun, ia menyiram bunga-bunga itu. Memang ia tidak melihat letak bunga-bunga itu. Tapi ia bisa merasakan kehadiran bunga-bunga itu. Seolah mereka semua menyambut perempuan buta itu  dengan mengucapkan, ‘selamat pagi tuan putri’. Dari penjualan bunga-bunga dan pot bunga itulah ia  menabung untuk operasi matanya. Sedikit demi sedikit. Sewaktu kecil ia ikut bertamasya ke Bukit Tangkiling bersama kedua orangtuanya dengan mengenderai mobil. Mengisi hari libur. Sekaligus merayakan kelulusannya dari Madrasah Ibtidayah. Saat itu ia berumur dua belas tahun. Ayahnya menyetir. Perempuan itu duduk di samping ayahnya. Sedang ibunya duduk di belakangnya. Suatu musibah menimpanya. Sebuah kendaraan oleng menabrak mobil yang ditumpanginya. Serpihan kaca mengenai matanya. Hingga membuatnya buta. Ayahnya  terluka parah. Ibunya tidak terlalu parah lukanya. Mereka bertiga dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sewaktu tiba di rumah sakit, ayahnya telah mengembuskan nafas yang terakhir. Sedangkan ibunya masih dapat ditolong. Perempuan mungil itu mengalami kebutaan. Ia hidup dari hasil uang bulanan pensiun ayahnya yang seorang  guru PNS.
Perempuan buta itu masih asyik menyiram bunga-bunga yang bermekaran. Tidak lama kemudian, berhenti dua mobil di tepi jalan. Tepat di depan rumah perempuan cantik itu. Mobil yang paling depan berwarna merah merk Xenia. Sedangkan mobil di belakangnya berwarna hitam merk Kijang Inova. Orang-orang di dalam mobil keluar. Dari mobil Xenia, keluar tiga orang laki-laki. Dari mobil Kijang Inova, keluar empat orang laki-laki. Kedua kelompok itu saling berhadapan. Seperti orang mau tauran. Gayanya selangit. Mereka melihat dengan seksama perempuan cantik yang sedang menyiram bunga-bunga.
“Kalian lihat perempuan cantik itu ?” ucap seorang ketua kelompok dari orang-orang yang turun dari mobil Xenia. Anton namanya.
Kelompok yang keluar mobil Kijang Inova mengangguk angkuh.
“Itulah target kalian sekarang. Namanya Syifaun Nadira. Ia adalah seorang perempuan buta dan tinggal dengan ibunya. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.” Salah satu dari anggota kelompok yang keluar dari mobil Kijang Inova terperanjat,”Buta.”
“Jika kalian takut ya itu namanya kalian  adalah anak-anak pengecut.” Ucap Anton.
“Kembali saja kepada ibu kalian. Minta ASI. Supaya kalian tumbuh besar, ha ha ha.” Salah satu anggota Anton meledek. Mereka tertawa terbahak-bahak.
Roby mengacungkan kedua tangannya. Isyarat untuk semuanya diam. Ia adalah ketua kelompok yang keluar dari mobil Kijang Inova. Dengan tegas ia mengatakan,
“Kami siap menerima tantangan kalian.”
“Besar juga nyali kalian. Baiklah. Tantangan kalian harus memperkosa perempuan buta itu. Dibuat ke dalam video minimal durasinya sepuluh menit. Batas waktu tantangannya, minggu pagi depan harus kalian menyerahkan video itu di tempat kita biasanya bertemu. Di bawah jembatan Kahayan.”
“Taruhannya ?”
“Mobil. Jika kalian tidak bisa membuat video itu maka kalian harus menyerahkan mobil Kijang Inova itu. Jika kalian berhasil maka kami dengan senang hati menyerahkan mobil Xenia ini. Deal ?”
“Deal.”
Sepakat. Kedua kelompok itu sudah sering melakukan taruhan-taruhan konyol. Entah sudah berapa mereka memperkosa anak perawan yang tidak berdosa. Yang tak tahu menahu dengan urusan mereka. Yang tidak pernah terlibat urusan apa-apa dengan mereka.  Entah sudah berapa banyak video porno yang mereka jual kepada teman-teman mereka. Terakhir kali, mereka memperkosa seorang ustazah yang tidak pernah keluar rumah. Kecuali hal yang mendesak dan sangat perlu. Ustazah itu betul-betul dipingit di dalam rumah. Sebab, ia akan melangsungkan akad pernikahan. Entah bagaimana caranya, mereka bisa membawa kabur ustazah cantik itu ke atas loteng gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. Dengan nafsu kebinatangan, mereka bergantian memperkosa ustazah tersebut. Ustazah cantik itu tak sadarkan diri setelah diminumi lima puluh pil koplo dan satu bungkus jamu kuat. Mereka tetap saja membantai ustazah cantik itu tanpa rasa menyesal ataupun kasihan. Ternyata malam yang mencekam itu menjadi akhir hidup bagi ustazah yang hendak melangsungkan akad pernikahan. Begitulah tentara setan selalu ada cara untuk menebarkan kejahatan di muka bumi. Senantiasa membuat kader dari manusia yang berjiwa setan. Padahal mereka semua adalah mahasiswa yang kuliah di Kampus Islam yang terkenal di Palangka Raya. Dididik untuk menjadi agent of change. Perubahan yang mewarnai dunia. Bukan membuat suram dunia. Memberantas kebodohan dan kezholiman. Bukan menyemarakkan tindak kejahatan.

*****
Seperti biasa. Sore-sore paman bakso yang dijamin enak tapi tetap halal dan murah lewat di depan rumah perempuan buta itu. Paman bakso itu menjadi langganan tetap bagi perempuan buta itu. Hal yang membuat unik bakso paman itu adalah pentol yang dibuatnya tidak hanya berbentuk bulat. Tapi ada pula yang berbentuk love, bintang, dan bulan sabit.  Tingkat kehalalan dan kebersihan sangat terjamin. Akad jual beli sesuai dengan syariat Islam. Gerobaknya berlalu dengan menyetel murattal qur’an juz ‘amma.  Sehingga gerobak yang dibawa paman itu berlabel,”Bakso Syar’i Olahan Paman Fahmi.” Paman bakso itu bernama Fahmi Shodiq. Fahmi masih muda. Belum menikah. Ia ingin umrah dulu. Baru menikah. Kini ia berumur dua puluh lima tahun. Target tabungannya akan cukup pergi umrah ketika umurnya mencapai tiga puluh tahun. Ia adalah anak perantau dari Sumatera. Di kota Palangka Raya, ia hidup sendiri. Tanpa ada keluarga. Tanpa ada kenalan. Sudah lima bulan ia menjadi paman bakso.
Wassama idzatil buruj. Walyaumil mau’ud. Wasyahidin wamasyhud…” terdengar suara murattal qur’an yang disetel Fahmi.
“Paman…” teriak mereka.  Serombongan anak-anak kecil dari halaman perempuan buta itu mendatangi paman Fahmi. Seketika, Fahmi menghentikan gerobaknya.
Laris manis. Ada yang beli pentol berbentuk bulan sabit dan bintang. Dan yang paling banyak mereka beli yaitu pentol yang berbentuk love. Tiba-tiba ada anak perempuan yang lebih besar  dari mereka menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah.
“Ayo semuanya masuk ke dalam untuk membaca doa pulang. Waktu istirahat sudah selesai. Saatnya kita pulang.”
“Satu pentol lagi.” Sahut salah seorang dari mereka.
“Tidak boleh. Kawan-kawan dan juga ustazah sudah menunggu kalian.”
Mereka pun menggangguk takzim. Tak berani menusuk walau barang satu pentol. Rumah peninggalan ayah ustazah Syifa yang kini ditempati olehnya dan ibunya dijadikannya sebagai Rumah Tahfidz Darul Qur’an. Ba’da Ashar, anak-anak didik mulai berdatangan. Di Rumah Tahfidz, ustazah Syifa yang seorang hafidzah menjaga hafalan anak-anak. Slogannya, one day one ayat. Sesekali ia menegur jika salah bacaannya. Kehadiran anak-anak menjadi penghibur baginya. Ia tak dapat melihat indahnya dunia. Dan begitu terangnya dunia. Namun ia dapat merasakan betapa dahsyatnya energi di balik ayat-ayat Al-Qur’an. Berdialog dengan Al-Qur’an. Merasakan kehadirannya.
Melihat gerobak Fahmi berada dipinggir jalan. Beberapa wanita disekitar tempat itu mendatanginya dan mengerumuninya. Ada yang sekedar membeli bakso dan ada pula yang iseng menggodanya. Hendak mencari perhatian paman penjualnya. Tidak ada yang menyangkal, jika Fahmi adalah paman bakso yang tampan rupawan. Keramatamahannya dalam melayani pelanggan juga menambah daya tarik para pembeli.
Sepuluh menit kemudian. Anak-anak yang ada di dalam rumah keluar. Mereka bertebaran bagai serdadu kumbang yang keluar dari sarangnya. Semakin ramai di gerobak bakso Fahmi. Dipenuhi anak-anak yang membeli pentol. Ustazah Syifa mendatangi gerobak Fahmi. Didampingi oleh anak-anak.
“Eh… ustazah.” Tegur salah seorang anak didik yang pertama kali melihat ustazah mendekati gerobak.
“Mau beli apa ustazah ?”                   
“Seperti biasa saja, Man.”
“Satu mangkok bakso, tiga pentol berbentuk bintang, satu pentol berbentuk bulan sabit, satu pentol berbentuk bulat, dan satu pentol berbentuk love.”
“Yap. Dan dua pansit ya, Man.”
“Oke.”
Seminggu sekali pesanan bakso seperti itu dibeli ustazah Syifa. Meskipun ustazah Syifa tidak bisa melihat semua bentuk pentol yang ia beli. Fahmi tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Ia tetap melayaninya seperti pelanggan biasanya.. namun Fahmi sangat apik dalam mengatur setiap ucapannya. Takut menyinggung perasaan ustazah Syifa. Anak-anak didik ustazah Syifa mulai pergi. Hanya satu-dua orang yang masih menemani ustazah Syifa. Perempuan-perempuan ganjen tetangga ustazah Syifa iu juga masih mengerumuni gerobak bakso. Padahal Fahmi merasa gerah dan risih dengan kehadiran perempuan-perempuan itu. Bertanya soal sudah menikah atau belum. Merayu-rayu taka da ujung pangkalnya. Bahkan ada yang pakai kerudung tapi seolah menampakkan lekuk dan bentuk dadanya di hadapan Fahmi. Jujur, Fahmi sangat risih. Itu terlihat dari raut wajah Fahmi yang memasam. Menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
Kehadiran ustazah Syifa menyejukkan hati Fahmi. Mengurangi rasa gerah dan risih yang menderanya. Pandangan Fahmi lebih difokuskannya kepada ustazah Syifa. Salah satu perempuan yang ganjen itu angkat bicara. Ia menampakkkan ketidak senangan dengan kehadiran ustazah Syifa.
“Emmm… bau bunga rafflesia nih. Bungkai bangkai mulai menebarkan aroma tak sedapnya. Menusuk banget nih.” Ujar salah seorang perempuan ganjen. Ia memencet hidungnya yang tidak mencium bau apa-apa. Kecuali bau sedap kuah bakso. Itulah sebuah hinaan yang ditujukan kepada ustazah Syifa. Ustazah Syifa tidak memperdulikan omongan perempuan itu. Sudah sering ia dicibir. Ia kebal dan sadar diri. Tidak perlu ia sesali bahkan merasa sakit hati. Semuanya tetap ia syukuri. Ternyata orang yang paling merasa tersinggung dan tidak enak ialah Fahmi. Ia pun menegur dengan halus.
“Jika kalian terus berada di sini. Bakso yang ada di tangan kalian itu akan dingin. Tidak enak jadinya.” Fahmi menunjuk bakso di dalam plastik yang sudah mereka pegang masing-masing. Mereka pun paham dengan teguran Fahmi. Tapi bukan perempuan  ganjen namanya jika tidak pandai bermain kata. “Tidak apa-apa. Asalkan bakso ini terus di dekat mas Fahmi, ia akan tetap hangat.” Fahmi menggeleng bingung. Bingung dengan kelakuan perempuan-perempuan itu yang super ganjen. “Tapi teman-teman, kita pulang saja. Bakso ini jika terlalu lama berada disini akan basi dan tidak sedap rasanya. Soalnya ada bau bunga bangkai di sini.” Mereka pun pulang ke kost dengan jalan yang lenggak-lengguk.
“Tolong jangan diambil hati dengan perkataan mereka.”
“Alhamdulillah. Saya tidak memasukkannya ke dalam hati.”
Bakso pesanan ustazah Syifa sudah selesai. Fahmi memberikannya kepada anak didik yang mendampingi ustazah Syifa. Ustazah Syifa memberikan uangnya kepada Fahmi lalu uang kembaliannya diberikan lagi kepada ustazah Syifa.
“Jual.”
“Tukar.”  Kedua anak didik ustazah mengucapkan, “Assalamualaikum, Paman.”
“Waalaikum salam.”
Ustazah Syifah dituntun kedua anak didiknya. Mereka bertiga berbicara. “Sepertinya ustazah cocok dengan paman Fahmi itu deh.” Ungkap anak didik yang berada di sebelah kiri. “Benar, Ustazah. Cocok banget malahan. Ustazah cantik dan paman Fahmi tampan. Pacaran aja, Ustazah.” Sahut anak didik yang berada di sebelah kana. “Husst… jangan bilang yang tidak-tidak.” Tegur ustazah Syifa kepada mereka berdua. Mereka pun menggangguk. Memilih untuk diam saja. Fahmi yang belum hingkang dari tempatnya. Mendengar pembicaraan kedua anak didik itu dengan ustazah Syifa. Ia hanya tersenyum simpul. Geli malah. Kecil-kecil sudah tahu soal cocok atau tidaknya. Mengenal bagaimana tanda-tanda cantik dan tampan. Paham soal pacaran. Jangankan soal pacaran, true love saja Fahmi tidak mengerti. Saatnya Fahmi melanjutkan perjalanan. Ia mengayuh pedal sepedanya. Menyetel murattal qur’an juz ‘amma kembali.

******

Seharian penuh – hari Senin – Roby  bersama ketiga temannya mengamati rumah kediaman perempuan buta itu. Informasi segala aktivitas dan latar belakang perempuan buta itu, sudah mereka dapatkan. Dari tetangga dan salah satu anak didik perempuan buta itu. Mereka menyusun sebuah rencana. Rencana bejad untuk menaklukkan perempuan buta itu. Operasi kejahatan yang mereka lakukan sudah berjalan dua tahun. Polisi selalu gagal meringkus mereka. Polisi tak mampu mencium keberadaan mereka. Jejak mereka clean and clear. Tidak meninggalkan bekas. Strategi mereka matang. Salah sedikit saja perhitungan yang dibuat pasti salah satu di antara mereka akan tertangkap. Selama ini operasi kejahatan mereka selalu bernada ‘sukses’. Dan perempuan buta itu menjadi target selanjutnya.
Mereka berempat berembuk. Membicarakan strategi yang akan dilakukan. Markas besar mereka berada di rumah Roby. Kedua orangtua Roby lebih banyak ke luar kota  sehingga membuat rumah Roby menjadi markas yang paling baik. Rumahnya juga terbilang besar dan mewah. Rumah yang strategis. Terletak di jalan Jati. Foto perempuan buta itu sudah tergeletak di atas meja di mana mereka sedang duduk. Otak bejad dan mesum mereka sudah berjalan lancar. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Roby membawakan botol-botol minuman keras. Besok – hari Rabu – mereka berempat bertekad mendatangi perempuan buta itu. Mereka mengawali operasi kejahatan dengan bersenang-senang. Mereka bersulang. Roby yang menjadi ketua kelompok bersorak-sorak. Memimpin gerakannya dengan bersulang, “Hidup OMES” (Otak Mesum). Teman-teman yang lainnya ikut berteriak,”Hidup !”
Pagi Selasa jam 07.00
Dua orang dari mereka sudah sampai di depan rumah perempuan buta itu. Mata merah mereka masih terlihat jelas. Bekas mabuk semalaman sambil menonton video porno hasil garapan mereka. Dua teman yang lain masih tak sadarkan diri. Akhirnya cuma Roby dan Berry yang datang ke rumah perempuan buta itu.  Bau minuman keras tidak tercium, mereka berdua sudah gosok gigi dan memakan permen wangi banyak-banyak. Roby dan Berry menghampiri perempuan buta itu yang memaksakan berjalan tegak dan seimbang tapi masih terlihat oleng sedikit.
Dengan suara fasih, Roby menyapa, “Assalamualaikum.” Entah apa yang dipikirkan ustazah Syifa sehingga ia tidak mendengar suara langkah kaki mereka mendekatinya. Ucapan salam Roby betul-betul membuatnya terkejut. Spontanitas ustazah Syifa menjawab salamnya dengan membalikkan badannya ke sumber suara yang mulut selang  juga ikut mengarah ke sumber suara, “Waalaikum salam.”
Busyet…” Roby terkena siraman air yang keluar dari selang. Si Berry yang tidak kena tertawa terpingkal-pingkal. Segera, ustazah Syifa meminta maaf. Seandainya bukan karena teringat taruhan mobil, mungkin perempuan buta itu sudah ditempelengnya. Roby masih sabar. Sabar menunggu pembataian perempuan buta itu.
“Maaf. Ada apa ya, Mas ?” Tanya ustazah Syifa yang nada suaranya masih terdengar merasa bersalah. Tidak enak.
“Kami kesini mau membeli bunga. Sebelumnya perkenalkan. Nama Saya Berry. Ini adalah bos Saya. Maksdunya senior Saya, Roby.” Secepat kilat si Berry meralat ucapannya. Anak muda memang senang menggangti nama aslinya dengan nama-nama yang dianggap keren. Nama yang lebih terdengar seperti anak kota. Padahal nama asli Berry adalah Badruddin. Sedangkan si Roby adalah Selamet Riyadi. Gengsi dong anak kuliahan memakai nama anak kampung.
“Oh ya. Perkenalkan nama Saya…” belum sempat  ustazah Syifa menyebut namanya. Si Roby sudah memotong ucapannya. “Saya sudah tahu nama Anda. Ustazah Syifaun Nadira. Itu kan nama Ustazah ?”
“Ya benar. Anda tahu darimana nama Saya ?”
“Semua orang tahu kok. Dan, kecantikan Anda sangat terkenal dimana-mana. Seperti harumnya bunga mawar yang tak dapat disembunyikan dari kumbang-kumbang.”
Ustazah Syifa tersenyum malu. Si Berry membisik kecil di telinga Roby, “kumbang-kumbang nakal.” Keduanya tersenyum-senyum.
“Tunggu sebentar dulu ya Saya panggilkan ibu.”
Mereka berdua mengatakann,”Ya. Sekalipun Anda harus pergi seribu tahun, kami tetap akan menunggu di sini. Tak bergeser sedikitpun walau hujan, kehujanan. Biar. Walauh panas, kepanasan.  Terserah. Permintaan ustazah bagai titah Ratu Bilqis.”
Ustazah Syifa tidak memperdulikan soal rayuan maut mereka. Ia pergi meninggalkan mereka menuju ibu yang sedang memasak di dapur. Tak lama kemudian, Syifa datang bersama ibunya menghampiri si Berry dan Roby.
“Kalian mau membeli bunga apa ?” Tanya ibu utazah Syifa. Mereka yang tak terbiasa membeli bunga agak mikir sebentar. Lagi pula mereka tidak tahu bunga itu untuk diapakan. Rupanya otak mereka masih dipengaruhi minuman berakohol. Jadi susah berpikir secara sadar.
“Bunga sendal, Bu.” Ucap Roby dengan lantang. Ibu Syifa terkejut. Lalu meralatnya. “Mungkin maksud kalian bunga sepatu.”
Mereka berdua menggangguk malu-malu. “Ada lagi, Mas ?”  Tanya ustazah Syifa.
“Saya mau membeli bunga kamar.” Kali ini ustazah Syifa terperanjat dari sebelumnya. Ia tetap menguasai diri. Tidak ingin mengecewakan pelanggannya. Tidak ingin melukai perasaan pelanggannya. Meski ia tidak mengetahu siapa pelanggannya. Meski ia tak dapat melihat rupa ke dua orang ini. “Mungkin maksud kamu itu bunga mawar.” Ustazah Syifa meralat.
“Ya benar, Ustazah.”
“Bunga mawarnya merah atau putih ?”
“Keduanya saja.”
Tak perlu waktu lama. Ibu ustazah Syifa mengambilkan pesanan pelanggannya. Bunga sepatu, mawar putih dan merah sudah tersusun rapi. Roby dan Berry terkejut. Ia melihat ketiga pot bunga berada di depannya. Disangka mereka, cuma tangkai bunga. Ternyata bunga-bunga yang dijual beserta potnya. Aduh.
Pagi itu agaknya Roby dan Berry kurang siap mendekati mangsa. Sebab mereka berdua masih dalam keadaan kurang sadar. Hal itu tidak menjadi masalah. Sebab yang namanya permulaan selalu diawali dengan perkenalan. Mengenali mangsa itu yang perlu.
Sore Rabu ba’da Ashar.
Paman Fahmi seperti biasa melintas di jalan dan berhenti di depan rumah ustazah Syifa. Soalnya di sana banyak anak-anak  yang mengaji di rumah ustazah itu. Di sekitar tempat itu juga banyak mahasiswa yang mengkost. Sehingga bakso menjadi makanan yang murah meriah bagi anak mahasiswa. Satu-dua anak didik sudah mulai berdatangan. Ustazah Syifa berjalan dengan tongkatnya mendekati gerobak paman Fahmi. Kali ini ia membeli bakso bukan untuknya melainkan untuk ibunya.
“Satu mangkok bakso, Paman.”
“Tumben satu minggu dua kali ustazah makan bakso.”
“Oh. ini bukan untuk Saya tapi untuk ibu.”
“Oh begitu toh. Kirain untuk Ustazah.”
Tiba-tiba dua orang laki-laki mendatangi gerobak Fahmi. Tanpa bicara apa-apa, ia langsung menusuk pentol-pentol yang ada di dalam panci. Rakus. Gaya pakaiannya asli preman. Rantai putih dilehernya. Baju dan celananya yang disobek-sobek. Mata memerah. Juga berdiri tak stabil. Sepertinya keduanya mabuk.
“Ini baksonya, Ustazah.” Paman Fahmi sudah selesai membikin satu mangkok bakso lalu membungkusnya. Tiba-tiba salah satu dari preman itu menahan saat ustazah memberikan uangnya kepada paman Fahmi.
“Tidak usah, Ustazah. Biar Aku saja yang bayarin punya Ustazah.” Suara seraknya membass.
“Maaf tidak perlu. Biarkan Saya saja yang bayar.”
“Jangan… biar Aku saja.” Salah satu preman itu tetap memaksa. Dengan beraninya, ia memegang tangan ustazah Syifa. Tidak hanya dipegang tapi juga digenggam erat. Perlakuan itu membuat ustazah Syifa mengaduh. Sontak paman Fahmi angkat bicara. Ia bertanggung jawab atas keributan yang terjadi di sekitar tempat ia berjualan.
“Tolong, Mas. Lepaskan tangan ustazah itu.”
“Sampeyan ini siapanya dia ? Suaminya  atau bapaknya ?”
“Saya bukan siapa-siapanya dia. Tapi tolong hargai seorang wanita.”
“Banyak bicara sampeyan. Sok menceramahi kami. Apa sampeyan mau ini ?” Salah satu preman itu mengeluarkan pisau putih dari belakangnya. Menggores-goreskan tipis di lehernya.
“Bukan beigtu, Mas. Tapi tolong jaga keamanan dan kenyamanan di sini.”
“Banyak bacut lo. Ayo kita hajar saja paman bakso ini.”
Terjadi perkelahian antara paman bakso dengan kedua preman itu. Tak ada rasa gentar sedikitpun paman Fahmi melawan kedua preman itu. Meski salah satu dari mereka memakai pisau putih. Sedang ia hanya menggunakan sendok besar pengambil kuah bakso. Paman Fahmi pernah ikut silat selagi bersekolah di Madrasah  Aliyah di kampungnya. Sudah mencapai sabuk putih. Dengan tiga-empat jurus, sendok besar itu mengenai kepala kedua preman itu. Akhirnya kedua preman itu lari terbirit-birit.
Anak-anak yang menyaksikan perkelahian itu merasa ngeri. Setelah paman bakso mengalahkan kedua preman itu, mereka bersorak-sorak riang. Tepuk tangan mereka memeriahkan kemenangan paman bakso itu. Ustazah Syifa tidak bisa menyaksikan perkelahian itu. Hatinya saja yang bisa merasa. Betapa dirinya membuat bahaya bagi paman bakso. Terbersit rasa bersalah kepada paman bakso itu. Ia pun meminta maaf sedalam-dalamnya.
Hal jazaul ihsan illal ihsan.” Itu saja yang diungkapkan oleh paman bakso itu. Jawaban yang ringkas dan padat. Namun membuat pertanyaan besar bagi Syifa. Apa arti hakikat dari ayat itu ? kenapa paman bakso itu mengungkapkannya ?.

******
Kedua laki-laki yang bertampang preman itu masuk ke rumah Roby. Ia melapor kejadian yang menimpa mereka. Belum mereka menyampaikan hal yang memalukan itu. Si Roby sudah bertanya duluan kepada mereka berdua.
“Kenapa wajah kalian babak belur begini ?”
“Kami dihajar paman bakso yang menjadi langganan perempuan buta itu. Kami sudah berusaha menghajarnya. Tidak mampu. Paman bakso itu terlalu hebat bermain silat.”
“Ya bos. Kami dijadikan pentol olehnya.”
“Siapa nama paman bakso itu ?”
“Namanya… “ agak lupa       
“Fahmi.... Ya paman bakso itu bernama Fahmi Shodiq.”
“Rupanya paman bakso itu bernama Fahmi Shodiq.”
Mendengar nama paman bakso itu. Si Roby teringat dengan kekesalan yang dilontarkan oleh Rayna, mantan pacarnya. Sekalipun sudah menjadi mantan. Kumpul kebo masih saja dilakukan. Rayna pernah menceritakan bahwa ia kesal dengan paman bakso yang bernama Fahmi Shodiq. Paman itu sok jual mahal. Sok alim. Padahal baginya semua laki-laki sama. Semuanya suka melihat barang yang bagus dan oke. Tanpa perlu ditawar.
Bisikan iblis lewat di benak Roby. “Aku ada ide brilian. Ide untuk menghancurkan paman bakso itu. Besok hari kita akan beraksi. Setelah kita singkirkan paman bakso itu barulah kita eksekusi si perempuan buta itu, ha ha ha.” Roby tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya.
Keesokan harinya. Tepat setelah ashar. Seperti biasa paman bakso itu berhenti di depan rumah ustazah Syifa. Satu-dua anak didik mulai berdatangan menuju rumah ustazah Syifa. Perempuan-perempuan ganjen yang menjadi tetangga ustazah Syifa datang mengerumuni gerobak paman bakso itu. Tidak lama pula, datang si Roby dan Berry ke gerobak bakso itu. Ada seorang anak didik ustazah Syifa yang membeli bakso. Dan seorang ibu hamil. Si Roby mengedipkan matanya kepada salah seorang perempuan ganjen itu. Rayna namanya. Rayna paham dengan isyarat itu. Tadi malam mereka berdua bertemu. Menyusun rencana jahat untuk menghancurkan paman bakso itu. Si Roby ingin membalas atas penghinaan dan pukulan paman bakso itu kepada kedua anak buahnya. Si Rayna ingin membalas atas ketidak responannya paman bakso itu kepada ajakannya. Mereka beraksi.
Rayna terus mengalihkan pandangan paman bakso itu. Ia membuat sibuk paman bakso itu menjawab segala pertanyaannya. Sinta tidak lagi terlihat ganjen. Bahkan ia memakai hijab syar’i. Tidak sama sekali terlihat lekuk dan bentuk tubuhnya. Tapi itu semua adalah tipuan belaka. Sesekali paman bakso itu memalingkan wajahnya kepada Rayna. Ia menjawab pertanyaan yang diajukan Rayna kepadanya.
“Saya sudah bosan hidup menyimpang dari ajaran Islam. Lalu bagaimana cara bertaubat kepada Allah ?”
“Benarkah. Alhamdulillah. Allah telah memberikan hidayah kepadamu. Caranya mudah. Pertama, menyesallah terhadap dosa yang diperbuat. Kedua, berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ketiga, membaca istighfar sampai hatimu menjadi tenang. Keempat, ini adalah sebuah tambahan. Jika Kamu pernah, maaf, mengambil barang orang lain maka kembalikanlah barang itu kepada pemiliknya. Dan meminta maaf kepada orang yang pernah dizholimi.”
“Setelah itu apakah taubat Saya akan diterima Allah ?”
“Tentu Allah akan menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ketahuilah, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang baik itu adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaikinya. Ingatlah, sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat.”
Di saat Rayna dan paman bakso itu asyik bercakap-cakap. Si Roby memasukkan sesuatu ke dalam panci bakso. Paman bakso itu sama sekali tidak mengetahuinya. Pandangannya menghadap Rayna. Saat paman bakso itu mengambil kuah dari panci bakso dan menumpahkannya ke dalam mangkok. Ternyata ada beberapa buntut kecil. Seperti buntut tikus. Bulu-bulu kecil masih menempel di buntut. Anak didik itu terkejut bukan main melihat buntut tikus ada di mangkoknya. Ia langsung ke dalam rumah ustazah Syifa. Ia melaporkan kejadian itu kepada ustazah Syifa. Ustazah Syifa tidak percaya. Ia pun tertatih-tatih mendatangi gerobak bakso itu. Sedang ibu hamil itupun pergi ke rumahnya. Ia menceritakan perihal itu kepada suaminya. Suaminya marah besar. Ia membawa golok. Dengan sumpah serapah, ia mendatangi paman bakso itu.
Si Roby dan Berry emosi. Kerah baju paman bakso itu digenggam dan ditarik si Roby. Paman bakso itu tidak melawan. Bahkan ia ingin menjelaskan. Sebab, ia tidak merasa sama sekali mencampurkan buntut tikus ke dalam kuah baksonya. Ustazah Syifa yang mendengar teriakan dan ancaman kepada paman bakso itu. Ia pun berteriak keras.
“Hentikan semuanya. Saya tidak menyangka paman bisa melakukan hal sekeji itu. Paman bakso yang Saya kenal adalah orang baik ternyata itu adalah topeng belaka untuk menarik perhatian pembeli.” Entah apa yang dipikirkan ustazah Syifa. Ia langsung menelan mentah-mentah tuduhan yang ditujukan kepada paman bakso itu. Apakah ia mengucapkan hal itu sungguh-sungguh atau ada tujuan lain ?  tapi apa ?
“Demi Allah Saya tidak pernah mencampurkan buntut tikus ke dalam kuah bakso. Demi Allah, tidak pernah.”
“Jangan Kamu bawa-bawa nama Allah. Dasar orang munafik.” Si Roby mencibir.
“Pergi sana. Sebelum golok ini menebas lehermu. Jangan sampai Aku panggil warga sekitar ini untuk menghajarmu dan menghancurkan gerobak baksomu ini.” Suami ibu hamil itu marah besar. Suaranya geram.
“Pergilah, Paman.” Mohon usazah Syifa.
“Apakah Kamu juga tidak percaya dengan Saya, Ustazah.”
Ustazah hanya diam. Ia meneteskan air mata. Sedang si Roby, Berry, dan Rayna tersenyum bahagia. Rencana jahatnya berjalan mulus. Sukses. Paman bakso itu pergi. Sepanjang jalan, paman bakso itu beristighhfar. Sepanjang jalan, ia menangis. Ia mengkuatkan dirinya sendiri. Sekalipun semua makhluk tidak percaya lagi dengan dirinya. Ia yakin Allah pasti mempercayainya. Allah Maha Melihat segalanya. Dia pasti mengetahui kebenarannya. Dan kebenaran itu pasti akan terungkap adanya.
Si Roby dan Berry berpura-pura ikut sedih. Mereka berdua menghibur ustazah Syifa, si perempuan buta. Sebetulnya ustazah Syifa tidak percaya jika paman bakso itu berbuat hal yang serendah itu demi mencari uang. Tidak mungkin. Berkali-kali hatinya memberontak. Apalah daya, ia hanya perempuan buta. Tak mampu melihat kebenaran. Bukti telah dilihat dengan mata. Tak berlaku sebuah keyakinan hati. Anak-anak didik pun disuruh pulang. Sore itu tidak mengajian. Ibu ustazah Syifa juga tak menyangka jika paman bakso itu melakukan hal demikian. Biarlah, Tuhan yang akan membalas semua perbuatan. Cepat atau lambat, kebenaran dan kejahatan akan terungkap.
*****
Kabar tentang seorang paman bakso memasukkan buntut tikus ke dalam kuah bakso. Tersebar cepat. Secepat roket naik ke bulan. Hitungan detik. Dari sumber pertama merambat ke segala arah. Begitulah jika soal kejahatan maka akan sangat cepat tersebar. Jika soal kebaikan maka sekalipun tersebar. Proses penyebarannya perlu waktu. Ketika mereka mengetahui paman bakso itu menulis di gerobaknya, “Bakso Syar’i Olahan Paman Fahmi” mereka langsung mengeluarkan sumpah serapah. Melaknat hebat. Padahal mereka hanya tahu kabar angin. Tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Belum tentu orang yang memberi tahu itu adalah orang yang amanah. Jangan-jangan tukang gosip. Gosip murahan. Kabar yang tak diketahui darimana ujung pangkalnya.
Paman bakso itu seharian gelisah bukan main. Hendak sholat Jum’at saja ia berpikir keras. Apakah pergi ke masjid atau sholat di rumah saja ? Dengan memandang hari jum’at adalah penghulu segala hari dan hari raya bagi kaum muslimin, ia pun memutuskan pergi ke masjid tanpa memperdulikan apa kata orang. Sepanjang jalan, ada saja anak-anak yang bilang buntut tikus.  Meludah di hadapannya. Ada pula orang tua yang melaknatnya. Ia sakit hati. Tanpa terasa, air matanya meleleh sendiri. Ia baru menyadari ternyata benar fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Ia tidak membalas semua laknat orang-orang. Bahkan ia berdoa semoga nama dia kembali bersih. Kebenarannya segera terungkap. Dan ia memohon agar Allah memberikan dia sifat sabar dan Dia mau mengampuni orang-orang yang hanya ikut kambing tumbur. Sejatinya mereka tidak tahu kebenarannya. Seandainya mereka tahu, sudah barang tentu mereka akan berpihak kepada yang benar. Awan hitam pasti berlalu. Langit akan tampah cerah.
Sabtu Pagi. Jam 08.00
Langkah demi langkah dijalankan dengan mulus. Rencana yang disusun mereka berjalan lancar.  Sedikit lagi mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Si Roby dan Berry datang kembali ke rumah ustazah Syifa. Mereka berdua meminta ustazah Syifa untuk membaca Al-Qur’an di acara tasmiyah keponakan si Roby. Ini adalah langkah terakhir untuk mendapatkan ustazah Syifa. Si Berry memuji kelebihan yang terdapat pada ustazah Syifa. Suaranya indah nan merdu. Bacaannya sangat fasih. Ustazah Syifa agak ragu mengabulkan permintaan si Roby itu. Soalnya, acara tasmiyahnya malam, ba’da Isya. Seandainya siang atau sore, mungkin tak ada keraguan yang menderanya.  Belum lagi, ibunya tinggal sendiri. Ibu ustazah Syifa pun agak keberatan.
Roby yang jago berretorika. Hebat mengambil hati siapa saja. Tak akan menyerah begitu saja. Ia masih banyak cara untuk mengelebaui mangsanya masuk ke dalam perangkapnya.
“Kebetulan keponakan Saya yang baru lahir itu adalah perempuan. Dan kakak Saya ingin sekali anaknya menjadi seorang hafidz Qur’an. Semoga berkat dengan ustazah Syifa yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an, anak keponakan Saya itu menjadi anak perempuan yang gemar membaca dan menghafal Al-Qur’an. Kami mohon sekali.”
Ustazah Syifa terdiam. Ibunya bertanya, “Acara tasmiyahnya dimana ?”
“Dekat saja. Di jalan G.Obos 10.”
“Kalau begitu Ibu menginzinkan saja. Kalau Syifa sendiri ?”
“Saya terserah Ibu saja.”
“Baiklah. Habis Isya nanti ustazah Syifa kami jemput. Emm.. begini saja. Ibu akan ikut menemani ustazah Syifa. Kasian juga jika Ibu sendirian tinggal di rumah ini.” Rayuan Roby berhasil. Ia sukses mengelabui ustazah Syifa dan ibunya.
Ba’da Maghrib.
Roby mencari-cari si Berry. Ditelpon tidak diangkatnya. Di-SMS juga tidak dibalasnya. Padahal mereka hendak siap-siap menjemput si perempuan buta itu dengan ibunya. Si Roby agak kesal dengan ketidak hadiran si Berry. Padahal ia ingin membagi tugas. Sejurus kemudian, HP milik Roby bordering. Ada seseorang yang menelpon. Tak ada nama yang tercantum. Nomor baru yang masuk.
“Bagaimana bro, apakah video dengan perempuan buta itu sudah kalian dapatkan ?”
Mendengar suara laki-laki itu, si Roby langsung mengenal jika laki-laki itu adalah ketua kelompok kemaren yang menantangnya taruhan. “Sebentar lagi video yang Kamu inginkan akan kami penuhi.”
“Ingat mobil Kijang Inova.”
“Santai saja, Bro. Aku tidak akan gagal dalam misi ini. Sekalipun Tuhan menghalanginya.”
“Oke. Kita buktikan. Jangan lupa minggu pagi di tempat biasa, video kalian dengan perempuan buta itu harus sudah kalian serahkan kepadaku.”
“Jangan khawatir. Kalian pasti akan puas menontonnya.”
Ternyata ketidak hadiran Berry di markas Roby karena ia mendatangi rumah paman bakso itu, Fahmi. Berry meminta maaf telah memfitnahnya. Ia menceritakan hal yang membuatnya sadar. Sekitar jam empat ia tertidur pulas. Tiba-tiba almarhum ibunya mendatanginya dengan pakaian putih yang kotor, hancur, menjijikkan, dan rambut yang kusui masai. Wajah tampak pucat. Tak ada rasa kebahagian yang tersirat di wajahnya. Ibunya  memberikannya nasihat. Ibunya terluka dan sedih melihat perilakunya. Ibunya memohon-mohon agar ia bertaubat. Ia juga menceritakan semua niat busuknya dan teman-temannya. Kini ia sadar. Ia terlalu melampaui batas. Mengundang murka Allah.
“Setelah Isya ini. Roby dan kawan-kawan menjemput ustazah Syifa dan ibunya. Dengan alasan acara tasmiyah anak keponakan si Roby yang baru lahir. Itu semua tipu muslihatnya. Padahal ustazah Syifa akan dijadikan korban kejahatan seksual. Ibunya memang ikut bersamanya. Tapi ditengah jalan, ibunya akan dibuang. Mereka akan membawanya ke Bumi Perkemahan Nyaru Menteng. Ia akan membawanya ke dalam hutan sana. Membuat video mesum.  Ini semua karena taruhan. Taruhannya adalah mobil Kijang Inova. Tolonglah ustazah Syifa. Dia dan ibunya dalam keadaan bahaya.”
Tanpa piker panjang lebar, Fahmi berucap,“Sekarang juga Kamu pergi ke kantor polisi. Melapor dan meminta pertolongan mereka. Dan biar Saya yang akan mencegah mereka di sana.”
“Baiklah.”
Si Roby memutuskan untuk tetap pergi menjemput ustazah Syifa dan ibunya meski tanpa kehadiran si Berry. Paman bakso itu segera menuju ke rumah ustazah Syifa. Sedang si Berry melaporkan tindak kejahatan yang akan dilakukan si Roby dan teman-temannya.
Sesampainya di rumah ustazah Syifa. Paman bakso itu melihat ustazah Syifa hendak masuk ke dalam mobil. Secepat kilat paman bakso itu berlari. Mencegahnya masuk.
“Hentikan. Jangan kalian bawa ustazah Syifa.”
Tanpa panjang lebar kedua teman Roby menyerang paman bakso itu. Lagi-lagi mereka terkena tinju maut dari paman bakso itu. Tendangan dahsyat paman bakso itu juga mencederai kaki kedua teman Roby. Melihat kedua temannya lemah tak berdaya, si Roby pun keluar dari mobil. Ia mempunya sebilah pisau putih. Ia membabi buta menusuk-nusukkan pisau itu ke arah paman bakso. Tidak kena. Paman bakso itu terlalu lincah menghindar. Bahkan dengan dua langkah cepat, ia mampu melepaskan pisau itu dari tangan Roby. Pisau itu pun terlepas dan jatuh jauh dari Roby. Sekarang adil. Masing-masing menyerang dengan tangan kosong. Paman bakso itu mulai kelelahan. Suaranya terengah-engah. Bertarung dengan kedua teman Roby tadi cukup melelahkan. Si Roby meyerang habis-habisan. Satu pukulan dan dua tendangan mengenai paman bakso. Paman bakso itupun jatuh. Pukulan Roby mengenai pelipisnya. Memar. Ia pun bangkit. Dengan tiga langkah pukulan dan tendangan, ia menghajar si Roby. Diakhiri dengan terjangan mematikan. Si Roby roboh seketika. Salah satu temannya sadar. Ia  melihat pisau berada di dekatnya. Secepat angin, ia menusuk dari belakang paman bakso itu dengan pisau. Paman bakso itu terjatuh. Si Roby dan kedua temannya kabur. Sial. Halaman rumah ustazah Syifa sudah dikepung oleh warga. Polisi pun sudah datang. Roby dan kedua temannya diseret polisi masuk ke dalam mobil. Si Berry tidak perlu diseret. Ia sudah menyerahkan dirinya dengan rela hati. Ia ingin menebus semua kesalahannya di penjara. Tidak lama kemudian, mobil ambulance menjemput paman bakso itu.
*****
Dua minggu ia dirawat di rumah sakit umum, RS. Doris Silvanus. Keadaannya semakin membaik. Meski rasa sakit bekas luka tusukan itu masih ada sedikit terasa. Ustazah Syifa dan ibunya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena telah tidak mempercayinya. Mereka berdua berterima kasih banyak atas pertolongannya. Semenjak ia diperbolehkan dokter pulang ke rumah, paman bakso itu, Fahmi, tidak melihat lagi ustazah Syifa.
Hari ini genap enam bulan ia tidak melihat ustazah Syifa. Genap pula ia tidak menjual bakso syar’i berkeliling. Ia banyak menghabiskan waktu di rumah. Selama enam bulan, ia menghafal Al-Qur’an. Sudah dua puluh juz, ia hafal. Empat bulan terakhir, untuk makan sehari-hari terpaksa ia ambil uang tabungannya yang hendak pergi umrah.. Dua bulan selanjutnya, ia membuat pentol dan menjualnya di depan rumah. Hasil penjualannya, sekedar menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Membayar kost yang ditumpanginya. Dan, menahan pengambilan uang dari tabungannya.
Sore ini menjadi sore yang istimewa bagi paman bakso itu. Ustaz Yusuf Mansur datang ke kostnya. Ia terkejut. Bahkan tidak percaya bisa bertemu dengan seorang ustaz Yusuf Mansur. Bukan ia yang datang ke hadapan ustaz Yusuf Mansur. Tapi sebaliknya. Hari ini tadi Yusuf menghadiri acara wisuda bagi para hafiz dan hafizah yang diselenggarakan di Masjid Raya Darussalam. Betul-betul sebuah kehormatan besar bagi paman bakso itu bisa bertemu dengan ustaz Yusuf Mansur. Ternyata  ustaz Yusuf Mansur bukan sekedar berkunjung menemuinya. Ada hal yang sangat penting untuk diungkapkan. Beliau tahu soal bagaimana ia menjual bakso. Tahu pula kejadian tragis yang menimpanya. Kenal betul dengan ustazah Syifa. Dan alangkah terkejutnya, beliau ingin menikahkan dirinya dengan ustazah Syifa. Itulah hal penting yang membuat langkah kaki ustaz Yusuf Mansur tergerak menuju kostnya. Paman bakso itu terdiam sejenak. Sayangnya, diamnya dia diartikan ustaz Yusuf Mansur sebagai keraguannya.
“Apakah Ente tidak ingin mempunyai  seorang istri  hafidzatul qur’an. Ataukah Ente merasa enggan menikahinya karena ia punya kekurangan fisik ?”
“Bukan itu Ustaz. Sungguh Saya tidak mempersoalkan hal itu. Menjadi sebuah kesyukuran yang besar bagi Saya bisa bersanding dengan perempuan semulia seperti ustazah Syifa.”
“Lalu apa yang membuat Ente tertahan untuk menyetujuinya ?.”
“Saya ingin pergi umrah dulu sebelum menikah. Itulah ‘azam Saya, Ustaz.”
“Fahmi, dengarkan nasihat ustaz ini. Pernikahan yang didasari atas niat yang baik. Maka hasilnya pun akan baik.  Kasihanilah diri ustazah Syifa. Ia hanya tinggal bersama ibunya. Ia perlu imam yang menjaga dan membimbingnya. Dan imam yang ideal dan pantas untuknya adalah  Ente, Fahmi. Pernikahan karena melihat kekayaannnya, bukan akan menambahnya kaya bahkan akan merubahnya menjadi miskin. Menikah karena melihat kecantikan akan membawa kepada kebinasaan. Tapi ingatlah pesan Nabi kita, barangsiapa yang menikahi perempuan karena agamanya nicaya Allah akan mengkaruniainya dengan harta yang melimpah. Yakinlah dengan nasihat Nabi kita.” Nasihat ustaz Yusuf Mansur mantap. Tertancap dalam ke lubuk hatinya.
“Lalu dengan ‘azam umrah Saya, bagaimana Ustaz ?”
“Jika Nabi sudah bersabda demikian. Jangankan pergi umrah, pergi haji saja Ente pasti bisa. Tidak hanya sendiri tapi juga dengan istri. Istri yang sholehah.”
“Baiklah. Tapi Saya mohon minta tempo satu hari dulu. Saya ingin sholat istikharah dulu dan meminta izin kedua orangtua Saya di Sumatera sana.”
“Okelah. No problem.  Besok hari Saya akan kesini lagi. Mendengar jawaban dari Ente. Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik bagi Ente.”
Ustaz Yusuf Mansur berlalu. Meninggalkan paman bakso.
Keesokan harinya. Malam berganti siang. Bulan dan bintang pergi. Terbitlah mentari sebagai penguasai hari. Memancarkan cahaya. Cahaya cinta bagi yang menyadarinya. Cahaya kasih bagi yang merasakannya. Cahaya syukur bagi yang memikirkannya. Setelah Fahmi sholat Dhuha. Ustaz Yusuf Mansur datang bersama ajudannya. Dengan mantap, paman bakso itu, Fahmi, menerima tawaran ustaz Yusuf Mansur. Ia bersedia menikahi ustazah Syifa. Kedua orangtuanya yang di Sumatera juga meridhoinya. Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di halaman kost. Seorang perempuan mengetuk pintu dan mengucapkan salam,”Assalamualaikum.”
Paman bakso itu terkejut. Ternyata perempuan yang mengetuk pintu itu adalah ustazah Syifa. Lebih sangat terkejut lagi saat ia melihat bola mata ustazah Syifa yang berkedap-kedip. Bergulir. Tak ada rona hitam. Ustazah Syifa dapat melihat kembali. Akhirnya ustaz Yusuf Mansur menceritakan semuanya. Mata ustazah Syifa dioperasi di Rumah Sakit ternama di Singapore. Semua biaya ditanggung oleh ustaz Yusuf Mansur. Itu berkat ustazah Syifa telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya tiga puluh juz. Sejak kecil Almarhum ayahnya selalu mengajarkan dan memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an kepadanya bahkan semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya. Hingga saat ia menginjak dewasa kebiasaan ayahnya itu tak pernah ia tinggalkan meskipun ayahnya telah tiada. Karena kebiasaan itu pulalah, meski hanya lewat mendengar MP3 murattal Al-Qur’an, ia berhasil menjadi seorang hafidzah Qur’an 30 juz.
“Setelah kalian sah menjadi pasangan suami istri. Saya akan memberangkatkan kalian berdua untuk pergi umrah. Dan kalian bisa bulan madu selama berada di sana.” Ungkap Yusuf Mansur di akhir penjelasan.
Paman bakso itu langsung sujud syukur. setelah memanjatkan doa ia pun bangkit dari sujudnya. Memeluk erat tubuh ustaz Yusuf Mansur. Entah apa yang harus diucapkan. Kebahagian yang ia terima tak dapat diungkapkannya dengan kata-kata.
“Inilah yang diucapkan Mas Fahmi tempo kemaren saat membela Saya dari kedua preman itu. Hal jazaul ihsan illal ihsan. Tidaklah kebaikan melainkan dibalas dengan kebaikan. Terdapat dalam Al-Qur’an pada surah Ar-Rahman ayat enam puluh.  Awalnya Saya bingung, tidak paham apa maksudnya. Sekarang semuanya jelas. Berkat Saya menjaga diri dan berusaha menjadi muslimah yang baik meski terdapat kekurangan, Allah menjaga Saya dari marabahaya melalui perantara Mas Fahmi. Allah mengembalikan penglihatan Saya dan menghadirkan Mas Fahmi. Perkenankan Saya untuk menjadi istri yang sholehah bagi Mas Fahmi.” Ustazah Syifa menangis di saat meminta itu dari seorang paman bakso, Fahmi.
“Apakah Ente bersedia menerimanya ?” Tanya ustaz Yusuf Mansur memastikan.
“Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang Saya miliki. Dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi, Saya bersedia menerimamu menjadi istri Saya.” Jawabnya mantap.
Langit-langit kost Fahmi bergemuruh. Dipenuhi dengan ucapan,”Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Barakallahumma wa Baraka ‘alaikuma wa  jama’a baynakuma fil khair.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar