Jumat, 24 April 2015

Pergi Gelap, Pulang Terang



B
eramai-ramai masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April. Mulai dari membuat status di sosmed untuk mengucapkan selamat hari Kartini, membaca kembali tulisan-tulisan beliau, memasang foto-foto beliau di spanduk  di jalan-jalan dengan ucapan “ Selamat Hari Kartini “ , membuat stiker yang ditempel di motor dan mobil, memakai baju kaos yang bergambarkan RA. Kartini, anak-anak memakai topeng RA. Kartini sampai ibu-ibu yang mengadakan lomba fashion show dengan mengenakan baju kebaya. Semua itu sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan masyarakat Indonesia kepada RA. Kartini yang telah memperjuangkah hak-hak wanita pribumi di masa beliau.

Renungilah !
Pada hari tersebut, setelah sholat Subuh dan membaca Al-Qur’an, Hannan membuka facebook dan ia melihat-lihat status kawan-kawannya di sana. Begitu banyak status yang dibuat oleh kawan-kawannya namun yang paling menarik hatinya adalah status yang dibuat oleh seorang wanita nan jauh di Palembang sana “ Hafizah al-Palembangi “. Dia adalah wanita yang pernah dilihat Hannan di Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) yang ke-5 tingkat provinsi Jambi 2014 lalu. Pada saat itu Hannan mewakili Pondok Pesantren Darul Ulum Palangkaraya Kal-Teng marhalah ulya bidang Adab dengan kitab Ihya Uluminddin karya Imam Al-Ghazali sedangkan dia mewakili dari Pondok Pesantren Modern Nurul Qamar Palembang Sul-Sel marhalah ulya bidang Tafsir dengan kitab Tafsir Ibnu Kastir karya Ibnu Katsir. Subhanallah !, suaranya yang merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ditambah keelokan wajahnya bak bulan purnama menerangi malam, menjadikan ia laksana bidadari surga yang hadir di muka bumi. Semua orang berdatangan, hati mereka terpanggil, tak terasa langkah kaki menuju tenda perlombaan, tidak terkecuali Si Hannan. Setelah Hannan berada di dalam tenda, ia berdoa, Rabbi laa tadzarni fardan wa anta khayrul waristin (Duhai Tuhanku, jangan biarkan aku hidup sendirian sedangkan Engkau sebaik-baiknya orang yang mewariskan) Ya Allah, berikanlah Hamba jodoh yang terbaik di antara hamba-hamba-Mu yang baik. Doa tersebut mempunya fadhilah agar mendapatkan jodoh yang baik.
Alangkah fasihnya dia membaca kitab tafsir tersebut dan sangat mahir dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hannan pun semakin terkagum-kagum melihat Hafidzah al-Palembangi, begitu pula dengan para dewan juri sampai mereka mengucap “ Masya Allah,  Mahirun Jiddan anti ya Hafidzah !”. Semua peserta di cabang lomab tersebut menebak kalau dialah yang akan menjadi juara pertamanya. Di acara penutup musabaqah tersebut sekaligus pengumuman pemenang lomba, hati Hannan berdegup kencang, aliran darah mengalir lebih deras daripada biasanya seperti genderang mau perang, Hannan mendengar namanya disebutkan sebagai juara harapan pertama marhalah ulya bidang Adab. Ia pun mendengar bahwa Hafidzah meraih juara satu marhalah ulya bidang Tafsir. Namun sayang sungguh sayang,  tidak ada kesempatan dua insan tersebut bertemu ataupun berkenalan sampai acara penutup, Hannan hanya tahu namanya, nama pondok pesantrennya, dan asal kotanya. Setelah Hannan kembali ke kotanya, ia mencoba-coba untuk mencari Hafidzah tersebut di facebook, dan ternyata alhamdulillah ketemu dengan akun “ Hafidzah al-Palembangi “. Pada hari Kartini tersebut, Hafidzah membuat status di facebook,  Emansiapasi wanita sudah disalahartikan. Bukan digunakan untuk mengangkat harkat martabat wanita melainkan merendahkan derajat wanita itu sendiri. Betapa tidak, emansipasi yang diharapkan menciptakan kestabilan sosial dalam memandang wanita, eh ternyata para wanita malah lepas kontrol dalam sosial dan moral. Gaya hidup mereka yang materiaslistis, hedonis, kebebasan bermoral, dan sirnanya rasa nasionalisme dalam diri, menjadikan mereka sebagai manusia yang tak berguna dan berbudi. Jika Kartini meneriakkan melalui tulisannya “ Door Duisternis Tot Licht  yang berarti “ Habislah Gelap Terbitlah Terang ” mungkin dia akan merevisinya kembali ketika melihat Kartini-kartini sekarang “ Pergi Gelap Pulang Terang ” karena mereka mengabaikan rumah tangganya sendiri dan melupakan jati dirinya sebagai wanita yang fitrahnya adalah menjadi seorang Ibu yang pengasih dan penyayang.
Hampir 120 orang yang me-like status tersebut, termasuk Hannan. Lalu Hannan mengomentari status tersebut dengan menanyakan melalui inbox, mohon maaf sebelumnya, jika diperkenankan Ana ingin bertanya dengan Ukhti Hafidzah, apakah Ukhti mengetahui bagaimana biografi RA. Kartini ? , tanya Hannan. Beberapa menit kemudian, dibalaslah pertanyaannya oleh Hafidzah, alhamdulillah Ana tahu betul tentang biografi RA. Kartini,   Raden Adjeng Kartini adalah salah satu tokoh pahlawan wanita Indonesia yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini merupakan seorang pelopor kebangkitan kaum wanita di Indonesia, khususnya kaum pribumi. Kartini hanya bersekolah hingga usia 12 tahun, karena pada masa itu, seorang perempuan harus tinggal dirumah setelah menginjak usia yang memungkinkan untuk dipingit. Ia membandingkan dengan wanita pribumi pada saat itu, strata wanita pribumi masih tergolong sangat rendah dan jauh dibandingkan dengan wanita Eropa. Hal inilah yang mendorong R.A Kartini untuk memajukan status wanita pribumi. Keinginannya tidak semata hanya memajukan strata atau derajat wanita pada masa itu, namun juga yang berhubungan dengan masalah sosial. Perhatiannya adalah memperjuangkan hak wanita agar memiliki kebebasan, otonom juga perlakuan hukum yang sama dalam masyarakat. Setelah itu, Kartini mulai merealisasikan mimpinya untuk memajukan wanita dengan mendirikan sekolah wanita yang terletak di sebelah timur pintu gerbang kantor bupati Rembang (kini menjadi Gedung Pramuka).
Dalam kondisi budaya yang masih kuat mengungkung perempuan, Kartini telah memvisualisasikan mimpi dan idenya yang besar bagi peningkatan hidup perempuan, dan tidak hanya itu, beliau juga membuka sekolah bagi kaum perempuan. Habis Gelap Terbitlah Terang, merupakan kumpulan surat R.A Kartini selama berkoresponden dengan sahabat penanya di Belanda. Diterbitkan kembali dalam format baru pada tahun 1938 yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Buku ini berisi 87 surat yang ditulis R.A Kartini yang disusun sedemikian rupa,  jawab Hafidzah dengan pesan yang panjang dan jelas, sebuah dilalah bahwa dia sangat begitu mengetahui biografi RA. Kartini.  Jika diperkenankan kembali, Ana ingin bertanya, Menurut hemat Ukhti, apa yang harus dilakukan oleh Kartini di era sekarang ?, tanya Hannan.
Hafidzah pun menjawab, Perlu adanya revolusi mental dan tertanamnya rasa nasionalisme di setiap sanubari  wanita Indonesia. Lalu, apa saja yang bisa dilakukan Kartini di era sekarang agar ia bisa meneruskan perjuangan Kartini di masa lalu ?
1.      Wanita Harus Cerdas dan Banyak Ide
Seperti yang dilakukan Kartini, mencopy konsep kekinian wanita Belanda pada masanya membuatnya berkembang dengan pikiran terbuka untuk memajukan wanita Indonesia. Kita pun di masa ini bisa melakukan hal yang sama. Banyak membaca, menambah referensi informasi, cari pengalaman disana sini dan mampu mengembangkan berbagai ide untuk terus memberi inspirasi bagi banyak orang adalah hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan diri.
                                              
2.      Wanita Harus Tangguh dan Berani
Sebagaimana perjuangan Kartini yang berani untuk mendobrak budaya lama menjadi budaya baru tentang hak dan martabat wanita, di masa ini pun kita harus melakukan hal yang sama. Untuk menjadi wanita modern, kita harus menyingkirkan berbagai pemahaman masa lalu bahwa wanita itu lemah, penakut dan atau tidak bisa mandiri. Di zaman yang serba maju ini, wanitapun harus berpikiran maju yang diimbangi dengan tekad kuat untuk bisa semakin eksis dan bermanfaat bagi banyak orang. Hapus pemikiran lama dan buktikan bahwa wanita bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh kaum pria.

3.      Membawa Nama Baik Indonesia
Membawa nama baik Indonesia. Ya, inilah yang dilakukan Kartini di masa lalu karena hasil kumpulan tulisannya yang dibukukan dan berbagai sekolah wanita yang ia kembangkan telah diketahui dunia internasional, bahwa ia ada untuk meningkatkan derajat wanita Indonesia. Namun popularitasnya tidak lantas membuatnya sombong, justru kerendahan hatinya sungguh sangat dikagumi oleh banyak orang. Wanita masa kini pun mampu melakukan hal yang sama, yaitu populer dengan karyanya dan dapat membawa nama baik Indonesia serta membuktikan bahwa negara kita kaya akan masyarakat yang unggul dan dapat bersaing di kancah Internasional.
Wanita Indonesia harus mengembangkan potensi dirinya agar bisa seperti Kartini, yaitu bermanfaat bagi orang banyak. Para wanita yang hobbi menulis pun dapat disebut sebagai Kartini jika tulisannya mengandung aspek-aspek sosial dan dapat memberikan inspirasi bagi banyak orang (seperti tulisan Kartini). Selain itu, seorang ibu rumah tangga yang rajin menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyediakan hidangan terbaik untuk untuk keluarganya juga disebut Kartini karena ia telah bermanfaat bagi keluarganya. Atau pun berbagai aktivitas positif lainnya yang dapat kita lakukan agar bermanfaat bagi sesama. Yuk wanita Indonesia, jangan hanya bersembunyi di belakang, dibalik tabir kesunyian dan keterpurukan. Buktikan bahwa Anda mampu untuk menjadi wanita mandiri di masa ini. Teruskan perjuangan Kartini dengan berbagai potensi yang Anda miliki. Mati satu tumbuh seribu, itulah semboyan yang kita harapkan. Walaupun Kartini telah tiada namun perjuangan Kartini tidaklah stagnan begitu saja. Harus ada Kartini-kartini modern yang bertebaran di tanah air ini.
“ Jangan Pernah Menyerah…. Teruslah Berjuang untuk Kemajuan dan Kemandirian Kaum Perempuan Indonesia.”
Terimakasih atas jawabannya, semoga selalu ada Kartini-kartini yang memjunjung martabat seorang wanita, ucap Hannan. Aminn ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin, balas Hafidzah.
Tidak ada ucapan yang dilontarkan Hannan melainkan ucapan syukur “ Alhamdulillah “. Betapa tidak, ia bisa berbalas pesan dengan wanita yang hebat, hafal Al-Qur’an 30 Juz, indah suaranya, elok wajahnya juga elok perilakunya.  Hannan berharap, suatu saat bisa berjumpa langsung dengan Hafidzah al-Palembangi.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, tidak hanya RA. Kartini yang menjunjung martabat wanita dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, masih banyak wanita pejuang lainnya, sebut saja Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang Uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orangtua dan para guru agama. Semua ini membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian, dan tawakal.
Seperti umumnya di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873, Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dien selalu memberikan dukungan dan dorongan semangat. Semangat juang dan perlawanan Cut Nyak Dien bertambah kuat saat Belanda membakar Masjid Besar Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad meneruskan perjuangan. Dua tahun setelah kepergian suami pertamanya tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku Ibrahim, Teuku Umar adalah pejuang kemerdekaan yang hebat. Bersama Cut Nyak Dien, perlawanan yang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura bekerja sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan membawa Iari senjata dan perlengkapan peranglain. Namun, dalam pertempuran di Meulaboh tanggal 11 Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dien mengatur serangan besar- besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Seluruh barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa kehadiran dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya.
Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat serangan Belanda. Meski demikian, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah. Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.
Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Namun,walaupun di dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906. Cut Nyak Dien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih ini tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah seorang bekas panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan beliau yang baru berusia 15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa para tawanan itu. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau yang taat beragama dan menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan simpati banyak orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau makanan. Cut Nyak Dien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November 1908.
Rakyat Sumedang memanggil Cut Nyak Dien dengan nama Ibu Perbu karena kesalehannya dan sebagai tanda penghormatan. Hingga akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat sekitar pengasinganya.
Memang tulisan kali ini, ulun banyak mengungkap tabir sejarah, sehingga ulun merasa buhan pian akan merasa jenuh. Namun cobalah renungi setiap tulisannya terutama biografi RA. Kartini dan Cut Nyak Dien. Insyaallah, ada revolusi mental dan kesadaran di dalam jiwa untuk menjadi wanita yang hebat, tidak hanya di dalam rumah namun juga tampil di ranah publik. Tidak hanya memikirkan diri sendiri namun juga memperhatikan nasib wanita yang tertindas. Para laki-laki pun harus lebih arif dan bijak dalam menempatkan wanita, janganlah di pandang sebelah mata, sekedar memuaskan hawa nafsu belaka. Ingat, pepatah Arab mengatakan “ An-Nisa ‘Imadul Bilad “ (Wanita itu adalah tianganya negara ). Jika buhan pian ingin melihat negara yang makmur sejahtera ataupun hancur berantakan maka lihatlah bagaimana mereka menempatkan dan memperlakukan seorang wanita. Mulai sekarang bagi para laki-laki, jagalah wanita dengan mendidik mereka dan berikanlah mereka kesempatan dan kebebasan tanpa kebablasan sehingga mereka pun bisa berkarya sesuai kapasitas mereka. “ Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nereka… “ (QS. At-Tahrim : 6). Selamat membaca !
                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar