|
B
|
eramai-ramai masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini yang
jatuh pada tanggal 21 April. Mulai dari membuat status di sosmed untuk
mengucapkan selamat hari Kartini, membaca kembali tulisan-tulisan beliau,
memasang foto-foto beliau di spanduk di jalan-jalan
dengan ucapan “ Selamat Hari Kartini “ , membuat stiker yang ditempel di motor
dan mobil, memakai baju kaos yang bergambarkan RA. Kartini, anak-anak memakai
topeng RA. Kartini sampai ibu-ibu yang mengadakan lomba fashion show
dengan mengenakan baju kebaya. Semua itu sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan
masyarakat Indonesia kepada RA. Kartini yang telah memperjuangkah hak-hak
wanita pribumi di masa beliau.
| Renungilah ! |
Pada hari tersebut, setelah
sholat Subuh dan membaca Al-Qur’an, Hannan membuka facebook dan ia
melihat-lihat status kawan-kawannya di sana. Begitu banyak status yang dibuat oleh
kawan-kawannya namun yang paling menarik
hatinya adalah status
yang dibuat oleh seorang wanita nan jauh di Palembang sana “ Hafizah al-Palembangi “. Dia adalah wanita yang pernah dilihat
Hannan di Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) yang ke-5 tingkat provinsi Jambi 2014 lalu.
Pada saat itu Hannan mewakili Pondok Pesantren Darul Ulum Palangkaraya Kal-Teng
marhalah ulya bidang Adab dengan kitab Ihya Uluminddin karya Imam Al-Ghazali sedangkan
dia mewakili dari Pondok Pesantren Modern Nurul Qamar Palembang Sul-Sel
marhalah ulya bidang Tafsir dengan kitab Tafsir Ibnu Kastir karya Ibnu Katsir. Subhanallah
!, suaranya yang merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ditambah
keelokan wajahnya bak bulan purnama menerangi malam, menjadikan ia laksana
bidadari surga yang hadir di muka bumi. Semua orang berdatangan, hati mereka
terpanggil, tak terasa langkah kaki menuju tenda perlombaan, tidak terkecuali Si Hannan. Setelah Hannan berada di dalam tenda, ia berdoa, Rabbi laa
tadzarni fardan wa anta khayrul waristin (Duhai Tuhanku, jangan biarkan aku
hidup sendirian sedangkan Engkau sebaik-baiknya orang yang mewariskan) Ya
Allah, berikanlah Hamba jodoh yang terbaik di antara hamba-hamba-Mu yang baik. Doa
tersebut mempunya fadhilah agar mendapatkan jodoh yang baik.
Alangkah fasihnya dia membaca kitab tafsir tersebut dan
sangat mahir dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Hannan pun semakin terkagum-kagum melihat Hafidzah al-Palembangi, begitu pula dengan para dewan juri sampai mereka mengucap “ Masya
Allah, Mahirun Jiddan anti ya Hafidzah
!”. Semua peserta di cabang lomab tersebut menebak kalau dialah yang akan
menjadi juara pertamanya. Di acara penutup musabaqah tersebut sekaligus pengumuman
pemenang lomba, hati Hannan berdegup kencang, aliran darah mengalir lebih deras
daripada biasanya seperti genderang mau perang, Hannan mendengar namanya disebutkan
sebagai juara harapan pertama marhalah ulya bidang Adab. Ia pun mendengar bahwa
Hafidzah meraih juara satu marhalah ulya bidang Tafsir. Namun sayang
sungguh sayang, tidak ada kesempatan dua
insan tersebut bertemu ataupun
berkenalan sampai acara penutup, Hannan hanya tahu namanya, nama pondok pesantrennya, dan asal kotanya. Setelah Hannan kembali ke kotanya, ia mencoba-coba untuk
mencari Hafidzah tersebut di facebook, dan ternyata alhamdulillah ketemu dengan
akun “ Hafidzah al-Palembangi “. Pada hari Kartini tersebut, Hafidzah membuat status di facebook, Emansiapasi
wanita sudah disalahartikan. Bukan digunakan untuk mengangkat harkat martabat
wanita melainkan merendahkan derajat wanita itu sendiri. Betapa tidak, emansipasi yang diharapkan menciptakan kestabilan sosial
dalam memandang wanita, eh ternyata para
wanita malah lepas kontrol
dalam sosial dan moral. Gaya hidup mereka yang materiaslistis,
hedonis, kebebasan bermoral, dan sirnanya rasa nasionalisme dalam diri,
menjadikan mereka sebagai manusia yang tak berguna dan berbudi. Jika Kartini meneriakkan melalui tulisannya “ Door Duisternis Tot Licht
” yang berarti “ Habislah Gelap
Terbitlah Terang ” mungkin dia akan merevisinya kembali ketika melihat Kartini-kartini
sekarang “ Pergi Gelap Pulang Terang ” karena mereka mengabaikan rumah
tangganya sendiri dan melupakan jati dirinya sebagai wanita yang fitrahnya
adalah menjadi seorang Ibu yang pengasih dan penyayang.
Hampir 120 orang yang me-like status tersebut,
termasuk Hannan. Lalu Hannan mengomentari status tersebut dengan menanyakan
melalui inbox, mohon maaf sebelumnya, jika diperkenankan Ana ingin bertanya
dengan Ukhti Hafidzah, apakah Ukhti mengetahui bagaimana biografi RA. Kartini ?
, tanya Hannan. Beberapa menit kemudian, dibalaslah pertanyaannya oleh
Hafidzah, alhamdulillah Ana tahu betul tentang biografi RA. Kartini, Raden
Adjeng Kartini adalah salah satu tokoh pahlawan wanita Indonesia yang lahir di
Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini
merupakan seorang pelopor kebangkitan kaum wanita di Indonesia, khususnya kaum
pribumi. Kartini hanya bersekolah hingga usia 12 tahun, karena pada masa itu,
seorang perempuan harus tinggal dirumah setelah menginjak usia yang
memungkinkan untuk dipingit. Ia membandingkan dengan wanita pribumi pada saat
itu, strata wanita pribumi masih tergolong sangat rendah dan jauh dibandingkan dengan
wanita Eropa. Hal inilah yang mendorong R.A Kartini untuk memajukan status
wanita pribumi. Keinginannya tidak semata hanya memajukan strata atau derajat
wanita pada masa itu, namun juga yang berhubungan dengan masalah sosial.
Perhatiannya adalah memperjuangkan hak wanita agar memiliki kebebasan, otonom
juga perlakuan hukum yang sama dalam masyarakat. Setelah itu, Kartini mulai
merealisasikan mimpinya untuk memajukan wanita dengan mendirikan sekolah wanita
yang terletak di sebelah timur pintu gerbang kantor bupati Rembang (kini
menjadi Gedung Pramuka).
Dalam kondisi
budaya yang masih kuat mengungkung perempuan, Kartini telah memvisualisasikan
mimpi dan idenya yang besar bagi peningkatan hidup perempuan, dan tidak hanya
itu, beliau juga membuka sekolah bagi kaum perempuan. Habis Gelap Terbitlah Terang, merupakan kumpulan surat R.A Kartini selama berkoresponden dengan
sahabat penanya di Belanda. Diterbitkan kembali dalam format baru pada tahun
1938 yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Buku ini berisi 87 surat yang ditulis
R.A Kartini yang disusun sedemikian rupa, jawab
Hafidzah dengan pesan yang panjang dan jelas, sebuah dilalah bahwa dia sangat begitu mengetahui biografi
RA. Kartini. Jika diperkenankan kembali, Ana ingin bertanya, Menurut hemat
Ukhti, apa yang harus dilakukan oleh Kartini di era sekarang ?, tanya Hannan.
Hafidzah pun menjawab, Perlu adanya
revolusi mental dan tertanamnya rasa nasionalisme di setiap sanubari wanita Indonesia. Lalu, apa saja yang bisa
dilakukan Kartini di era sekarang agar ia bisa meneruskan perjuangan Kartini di
masa lalu ?
1.
Wanita Harus
Cerdas dan Banyak Ide
Seperti yang
dilakukan Kartini, mencopy konsep kekinian wanita Belanda pada masanya
membuatnya berkembang dengan pikiran terbuka untuk memajukan wanita Indonesia.
Kita pun di masa ini bisa melakukan hal yang sama. Banyak membaca, menambah
referensi informasi, cari pengalaman disana sini dan mampu mengembangkan
berbagai ide untuk terus memberi inspirasi bagi banyak orang adalah hal yang
dapat dilakukan untuk mengembangkan diri.
2.
Wanita Harus
Tangguh dan Berani
Sebagaimana
perjuangan Kartini yang berani untuk mendobrak budaya lama menjadi budaya baru
tentang hak dan martabat wanita, di masa ini pun kita harus melakukan hal yang
sama. Untuk menjadi wanita modern, kita harus menyingkirkan berbagai pemahaman
masa lalu bahwa wanita itu lemah, penakut dan atau tidak bisa mandiri. Di zaman
yang serba maju ini, wanitapun harus berpikiran maju yang diimbangi dengan
tekad kuat untuk bisa semakin eksis dan bermanfaat bagi banyak orang. Hapus
pemikiran lama dan buktikan bahwa wanita bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya
hanya bisa dilakukan oleh kaum pria.
3.
Membawa Nama
Baik Indonesia
Membawa nama
baik Indonesia. Ya, inilah yang dilakukan Kartini di masa lalu karena hasil
kumpulan tulisannya yang dibukukan dan berbagai sekolah wanita yang ia
kembangkan telah diketahui dunia internasional, bahwa ia ada untuk meningkatkan
derajat wanita Indonesia. Namun popularitasnya tidak lantas membuatnya sombong,
justru kerendahan hatinya sungguh sangat dikagumi oleh banyak orang. Wanita masa
kini pun mampu melakukan hal yang sama, yaitu populer dengan karyanya dan dapat
membawa nama baik Indonesia serta membuktikan bahwa negara kita kaya akan
masyarakat yang unggul dan dapat bersaing di kancah Internasional.
Wanita
Indonesia harus mengembangkan potensi dirinya agar bisa seperti Kartini, yaitu
bermanfaat bagi orang banyak. Para wanita yang hobbi menulis pun dapat disebut
sebagai Kartini jika tulisannya mengandung aspek-aspek sosial dan dapat
memberikan inspirasi bagi banyak orang (seperti tulisan Kartini). Selain itu,
seorang ibu rumah tangga yang rajin menyelesaikan pekerjaan rumah dan
menyediakan hidangan terbaik untuk untuk keluarganya juga disebut Kartini
karena ia telah bermanfaat bagi keluarganya. Atau pun berbagai aktivitas
positif lainnya yang dapat kita lakukan agar bermanfaat bagi sesama. Yuk
wanita Indonesia, jangan hanya bersembunyi di belakang, dibalik tabir kesunyian
dan keterpurukan. Buktikan bahwa Anda mampu untuk menjadi wanita mandiri di
masa ini. Teruskan perjuangan Kartini dengan berbagai potensi yang Anda miliki.
Mati satu tumbuh seribu, itulah semboyan yang kita harapkan. Walaupun Kartini
telah tiada namun perjuangan Kartini tidaklah stagnan begitu saja. Harus ada
Kartini-kartini modern yang bertebaran di tanah air ini.
“ Jangan Pernah
Menyerah…. Teruslah Berjuang untuk Kemajuan dan Kemandirian Kaum Perempuan
Indonesia.”
Terimakasih
atas jawabannya, semoga selalu ada Kartini-kartini yang memjunjung martabat
seorang wanita, ucap Hannan. Aminn ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin, balas Hafidzah.
Tidak ada ucapan yang dilontarkan Hannan melainkan ucapan syukur “
Alhamdulillah “. Betapa tidak, ia bisa berbalas pesan dengan wanita yang hebat,
hafal Al-Qur’an 30 Juz, indah suaranya, elok wajahnya juga elok perilakunya. Hannan berharap, suatu saat bisa berjumpa
langsung dengan Hafidzah al-Palembangi.
Sahabat seperjuangan di jalan Allah, tidak hanya RA. Kartini yang
menjunjung martabat wanita dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia,
masih banyak wanita pejuang lainnya, sebut saja Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien
lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama. Ayahnya
bernama Teuku Nanta Seutia, seorang Uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan
agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orangtua dan para guru agama. Semua
ini membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian,
dan tawakal.
Seperti umumnya
di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga.
Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun
1873, Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dien selalu memberikan
dukungan dan dorongan semangat. Semangat juang
dan perlawanan Cut Nyak Dien bertambah kuat saat Belanda membakar Masjid Besar
Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus
berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad
meneruskan perjuangan. Dua tahun setelah kepergian suami pertamanya tepatnya
pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku
Ibrahim, Teuku Umar adalah pejuang kemerdekaan yang hebat. Bersama
Cut Nyak Dien, perlawanan yang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai
pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura
bekerja sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan
membawa Iari senjata dan perlengkapan peranglain. Namun, dalam pertempuran di
Meulaboh tanggal 11 Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku
Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dien mengatur serangan besar- besaran terhadap
beberapa kedudukan Belanda. Seluruh barang berharga yang masih dimilikinya
dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa kehadiran dari seorang suami,
perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya
itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan pendudukan mereka
di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya.
Namun,
kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan
pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang
akibat serangan Belanda. Meski demikian, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan
sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah.
Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien
terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa
syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.
Begitu teguhnya
pendirian Cut Nyak Dien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap
dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan
pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap
tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Namun,walaupun di
dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang
yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang
sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember
1906. Cut
Nyak Dien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih
ini tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada
Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah
seorang bekas panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan
beliau yang baru berusia 15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa
para tawanan itu. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria
tidak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama,
di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau yang taat beragama dan
menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan simpati banyak
orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau makanan. Cut
Nyak Dien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November 1908.
Rakyat Sumedang
memanggil Cut Nyak Dien dengan nama Ibu Perbu karena kesalehannya dan sebagai
tanda penghormatan. Hingga akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan
mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat sekitar pengasinganya.
Memang tulisan kali ini, ulun banyak mengungkap tabir sejarah,
sehingga ulun merasa buhan pian akan merasa jenuh. Namun cobalah renungi setiap
tulisannya terutama biografi RA. Kartini dan Cut Nyak Dien. Insyaallah,
ada revolusi mental dan kesadaran di dalam jiwa untuk menjadi wanita yang
hebat, tidak hanya di dalam rumah namun juga tampil di ranah publik. Tidak
hanya memikirkan diri sendiri namun juga memperhatikan nasib wanita yang
tertindas. Para laki-laki pun harus lebih arif dan bijak dalam menempatkan wanita,
janganlah di pandang sebelah mata, sekedar memuaskan hawa nafsu belaka. Ingat,
pepatah Arab mengatakan “ An-Nisa ‘Imadul Bilad “ (Wanita itu adalah
tianganya negara ). Jika buhan pian ingin melihat negara yang makmur sejahtera
ataupun hancur berantakan maka lihatlah bagaimana mereka menempatkan dan
memperlakukan seorang wanita. Mulai sekarang bagi para laki-laki, jagalah
wanita dengan mendidik mereka dan berikanlah mereka kesempatan dan kebebasan tanpa
kebablasan sehingga mereka pun bisa berkarya sesuai kapasitas mereka. “
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nereka… “ (QS. At-Tahrim : 6).
Selamat membaca !