BAKSO
SYAR’I
Minggu pagi jam 07.00
di Jalan Lambung Mangkurat, Palangka Raya
Seorang perempuan sedang menyiram
bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya. Kini ia tumbuh dan mekar menjadi
perempuan cantik. Meski ia mengalami kecacatan fisik ; buta, tidak menutupi kecantikan wajahnya. Berbagai jenis
bunga ada di halaman rumahnya. Warna-warni bunga membuat rumahnya nampak indah
berseri. Harum mewangi. Selama sepuluh tahun, ia menyiram bunga-bunga itu.
Memang ia tidak melihat letak bunga-bunga itu. Tapi ia bisa merasakan kehadiran
bunga-bunga itu. Seolah mereka semua menyambut perempuan buta itu dengan mengucapkan, ‘selamat pagi tuan putri’.
Dari penjualan bunga-bunga dan pot bunga itulah ia menabung untuk operasi matanya. Sedikit demi
sedikit. Sewaktu kecil ia ikut bertamasya ke Bukit Tangkiling bersama kedua
orangtuanya dengan mengenderai mobil. Mengisi hari libur. Sekaligus merayakan kelulusannya
dari Madrasah Ibtidayah. Saat itu ia berumur dua belas tahun. Ayahnya menyetir.
Perempuan itu duduk di samping ayahnya. Sedang ibunya duduk di belakangnya.
Suatu musibah menimpanya. Sebuah kendaraan
oleng menabrak mobil yang ditumpanginya. Serpihan kaca mengenai matanya. Hingga
membuatnya buta. Ayahnya terluka parah.
Ibunya tidak terlalu parah lukanya. Mereka
bertiga dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sewaktu tiba di rumah sakit, ayahnya
telah mengembuskan nafas yang terakhir. Sedangkan ibunya masih dapat ditolong.
Perempuan mungil itu mengalami kebutaan. Ia hidup dari hasil uang bulanan
pensiun ayahnya yang seorang guru PNS.
Perempuan buta itu masih asyik
menyiram bunga-bunga yang bermekaran. Tidak
lama kemudian, berhenti dua mobil di tepi jalan. Tepat di depan rumah perempuan
cantik itu. Mobil yang paling depan berwarna merah merk Xenia. Sedangkan mobil
di belakangnya berwarna hitam merk Kijang Inova. Orang-orang di dalam mobil
keluar. Dari mobil Xenia, keluar tiga orang laki-laki. Dari mobil Kijang Inova,
keluar empat orang laki-laki. Kedua kelompok itu saling berhadapan. Seperti
orang mau tauran. Gayanya selangit. Mereka melihat dengan seksama perempuan
cantik yang sedang menyiram bunga-bunga.
“Kalian lihat perempuan cantik itu
?” ucap seorang ketua kelompok dari orang-orang yang turun dari mobil Xenia.
Anton namanya.
Kelompok yang keluar mobil Kijang Inova
mengangguk angkuh.
“Itulah target kalian sekarang. Namanya
Syifaun Nadira. Ia adalah seorang perempuan buta dan tinggal dengan ibunya.
Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.” Salah satu dari anggota kelompok yang
keluar dari mobil Kijang Inova terperanjat,”Buta.”
“Jika kalian takut ya itu namanya
kalian adalah anak-anak pengecut.” Ucap
Anton.
“Kembali saja kepada ibu kalian.
Minta ASI. Supaya kalian tumbuh besar, ha ha ha.” Salah satu anggota Anton
meledek. Mereka tertawa terbahak-bahak.
Roby mengacungkan kedua tangannya.
Isyarat untuk semuanya diam. Ia adalah ketua kelompok yang keluar dari mobil
Kijang Inova. Dengan tegas ia mengatakan,
“Kami siap menerima tantangan kalian.”
“Besar juga nyali kalian. Baiklah.
Tantangan kalian harus memperkosa perempuan buta itu. Dibuat ke dalam video
minimal durasinya sepuluh menit. Batas waktu tantangannya, minggu pagi depan
harus kalian menyerahkan video itu di tempat kita biasanya bertemu. Di bawah
jembatan Kahayan.”
“Taruhannya ?”
“Mobil. Jika kalian tidak bisa
membuat video itu maka kalian harus menyerahkan mobil Kijang Inova itu. Jika
kalian berhasil maka kami dengan senang hati menyerahkan mobil Xenia ini. Deal
?”
“Deal.”
Sepakat. Kedua kelompok itu sudah
sering melakukan taruhan-taruhan konyol. Entah sudah berapa mereka memperkosa
anak perawan yang tidak berdosa. Yang tak tahu menahu dengan urusan mereka.
Yang tidak pernah terlibat urusan apa-apa dengan mereka. Entah sudah berapa banyak video porno yang
mereka jual kepada teman-teman mereka. Terakhir kali, mereka memperkosa seorang
ustazah yang tidak pernah keluar rumah. Kecuali hal yang mendesak dan sangat
perlu. Ustazah itu betul-betul dipingit di dalam rumah. Sebab, ia akan melangsungkan
akad pernikahan. Entah bagaimana caranya, mereka bisa membawa kabur ustazah cantik
itu ke atas loteng gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. Dengan nafsu
kebinatangan, mereka bergantian memperkosa ustazah tersebut. Ustazah cantik itu
tak sadarkan diri setelah diminumi lima puluh pil koplo dan satu bungkus jamu
kuat. Mereka tetap saja membantai ustazah cantik itu tanpa rasa menyesal
ataupun kasihan. Ternyata malam yang mencekam itu menjadi akhir hidup bagi
ustazah yang hendak melangsungkan akad pernikahan. Begitulah tentara setan
selalu ada cara untuk menebarkan kejahatan di muka bumi. Senantiasa membuat
kader dari manusia yang berjiwa setan. Padahal mereka semua adalah mahasiswa
yang kuliah di Kampus Islam yang terkenal di Palangka Raya. Dididik untuk
menjadi agent of change. Perubahan yang mewarnai dunia. Bukan membuat
suram dunia. Memberantas kebodohan dan kezholiman. Bukan menyemarakkan tindak
kejahatan.
*****
Seperti biasa. Sore-sore paman bakso
yang dijamin enak tapi tetap halal dan murah lewat di depan rumah perempuan
buta itu. Paman bakso itu menjadi langganan tetap bagi perempuan buta itu. Hal
yang membuat unik bakso paman itu adalah pentol yang dibuatnya tidak hanya
berbentuk bulat. Tapi ada pula yang berbentuk love, bintang, dan bulan
sabit. Tingkat kehalalan dan kebersihan
sangat terjamin. Akad jual beli sesuai dengan syariat Islam. Gerobaknya berlalu
dengan menyetel murattal qur’an juz ‘amma.
Sehingga gerobak yang dibawa paman itu berlabel,”Bakso Syar’i Olahan
Paman Fahmi.” Paman bakso itu bernama Fahmi Shodiq. Fahmi masih muda. Belum
menikah. Ia ingin umrah dulu. Baru menikah. Kini ia berumur dua puluh lima
tahun. Target tabungannya akan cukup pergi umrah ketika umurnya mencapai tiga
puluh tahun. Ia adalah anak perantau dari Sumatera. Di kota Palangka Raya, ia
hidup sendiri. Tanpa ada keluarga. Tanpa ada kenalan. Sudah lima bulan ia
menjadi paman bakso.
“Wassama idzatil buruj. Walyaumil
mau’ud. Wasyahidin wamasyhud…” terdengar suara murattal qur’an yang disetel
Fahmi.
“Paman…” teriak mereka. Serombongan anak-anak kecil dari halaman
perempuan buta itu mendatangi paman Fahmi. Seketika, Fahmi menghentikan
gerobaknya.
Laris manis. Ada yang beli pentol
berbentuk bulan sabit dan bintang. Dan yang paling banyak mereka beli yaitu pentol yang berbentuk love. Tiba-tiba ada anak perempuan
yang lebih besar dari mereka menyuruh
mereka untuk masuk ke dalam rumah.
“Ayo semuanya masuk ke dalam untuk
membaca doa pulang. Waktu istirahat sudah selesai. Saatnya kita pulang.”
“Satu pentol lagi.” Sahut salah
seorang dari mereka.
“Tidak boleh. Kawan-kawan dan juga
ustazah sudah menunggu kalian.”
Mereka pun menggangguk takzim. Tak
berani menusuk walau barang satu pentol. Rumah peninggalan ayah ustazah Syifa
yang kini ditempati olehnya dan ibunya dijadikannya sebagai Rumah Tahfidz Darul
Qur’an. Ba’da Ashar, anak-anak didik mulai berdatangan. Di Rumah Tahfidz,
ustazah Syifa yang seorang hafidzah menjaga hafalan anak-anak. Slogannya, one
day one ayat. Sesekali ia menegur jika salah bacaannya. Kehadiran anak-anak
menjadi penghibur baginya. Ia tak dapat melihat indahnya dunia. Dan begitu
terangnya dunia. Namun ia dapat merasakan betapa dahsyatnya energi di balik
ayat-ayat Al-Qur’an. Berdialog dengan Al-Qur’an. Merasakan kehadirannya.
Melihat gerobak Fahmi berada
dipinggir jalan. Beberapa wanita disekitar tempat itu mendatanginya dan
mengerumuninya. Ada yang sekedar membeli bakso dan ada pula yang iseng menggodanya.
Hendak mencari perhatian paman penjualnya. Tidak ada yang menyangkal, jika
Fahmi adalah paman bakso yang tampan rupawan. Keramatamahannya dalam melayani
pelanggan juga menambah daya tarik para pembeli.
Sepuluh menit kemudian. Anak-anak
yang ada di dalam rumah keluar. Mereka bertebaran bagai serdadu kumbang yang
keluar dari sarangnya. Semakin ramai di gerobak bakso Fahmi. Dipenuhi anak-anak
yang membeli pentol. Ustazah Syifa mendatangi gerobak Fahmi. Didampingi oleh
anak-anak.
“Eh… ustazah.” Tegur salah seorang
anak didik yang pertama kali melihat ustazah mendekati gerobak.
“Mau beli apa
ustazah ?”
“Seperti biasa saja, Man.”
“Satu mangkok bakso, tiga pentol
berbentuk bintang, satu pentol berbentuk bulan sabit, satu pentol berbentuk
bulat, dan satu pentol berbentuk love.”
“Yap. Dan dua pansit ya, Man.”
“Oke.”
Seminggu sekali pesanan bakso
seperti itu dibeli ustazah Syifa. Meskipun ustazah Syifa tidak bisa melihat
semua bentuk pentol yang ia beli. Fahmi tidak pernah mempermasalahkan soal itu.
Ia tetap melayaninya seperti pelanggan biasanya.. namun Fahmi sangat apik dalam
mengatur setiap ucapannya. Takut menyinggung perasaan ustazah Syifa. Anak-anak
didik ustazah Syifa mulai pergi. Hanya satu-dua orang yang masih menemani
ustazah Syifa. Perempuan-perempuan ganjen tetangga ustazah Syifa iu juga masih
mengerumuni gerobak bakso. Padahal Fahmi merasa gerah dan risih dengan
kehadiran perempuan-perempuan itu. Bertanya soal sudah menikah atau belum.
Merayu-rayu taka da ujung pangkalnya. Bahkan ada yang pakai kerudung tapi
seolah menampakkan lekuk dan bentuk dadanya di hadapan Fahmi. Jujur, Fahmi
sangat risih. Itu terlihat dari raut wajah Fahmi yang memasam. Menggaruk-garuk
kepala yang tak gatal.
Kehadiran ustazah Syifa menyejukkan
hati Fahmi. Mengurangi rasa gerah dan risih yang menderanya. Pandangan Fahmi
lebih difokuskannya kepada ustazah Syifa. Salah satu perempuan yang ganjen itu
angkat bicara. Ia menampakkkan ketidak senangan dengan kehadiran ustazah Syifa.
“Emmm… bau bunga rafflesia nih. Bungkai
bangkai mulai menebarkan aroma tak sedapnya. Menusuk banget nih.” Ujar salah
seorang perempuan ganjen. Ia memencet hidungnya yang tidak mencium bau apa-apa.
Kecuali bau sedap kuah bakso. Itulah sebuah hinaan yang ditujukan kepada
ustazah Syifa. Ustazah Syifa tidak memperdulikan omongan perempuan itu. Sudah
sering ia dicibir. Ia kebal dan sadar diri. Tidak perlu ia sesali bahkan merasa
sakit hati. Semuanya tetap ia syukuri. Ternyata orang yang paling merasa
tersinggung dan tidak enak ialah Fahmi. Ia pun menegur dengan halus.
“Jika kalian terus berada di sini.
Bakso yang ada di tangan kalian itu akan dingin. Tidak enak jadinya.” Fahmi
menunjuk bakso di dalam plastik yang sudah mereka pegang masing-masing. Mereka
pun paham dengan teguran Fahmi. Tapi bukan perempuan ganjen namanya jika tidak pandai bermain
kata. “Tidak apa-apa. Asalkan bakso ini terus di dekat mas Fahmi, ia akan tetap
hangat.” Fahmi menggeleng bingung. Bingung dengan kelakuan perempuan-perempuan
itu yang super ganjen. “Tapi teman-teman, kita pulang saja. Bakso ini jika
terlalu lama berada disini akan basi dan tidak sedap rasanya. Soalnya ada bau
bunga bangkai di sini.” Mereka pun pulang ke kost dengan jalan yang
lenggak-lengguk.
“Tolong jangan diambil hati dengan
perkataan mereka.”
“Alhamdulillah. Saya tidak
memasukkannya ke dalam hati.”
Bakso pesanan ustazah Syifa sudah
selesai. Fahmi memberikannya kepada anak didik yang mendampingi ustazah Syifa.
Ustazah Syifa memberikan uangnya kepada Fahmi lalu uang kembaliannya diberikan
lagi kepada ustazah Syifa.
“Jual.”
“Tukar.” Kedua anak didik ustazah mengucapkan,
“Assalamualaikum, Paman.”
“Waalaikum salam.”
Ustazah Syifah dituntun kedua anak
didiknya. Mereka bertiga berbicara. “Sepertinya ustazah cocok dengan paman
Fahmi itu deh.” Ungkap anak didik yang berada di sebelah kiri. “Benar, Ustazah.
Cocok banget malahan. Ustazah cantik dan paman Fahmi tampan. Pacaran aja,
Ustazah.” Sahut anak didik yang berada di sebelah kana. “Husst… jangan bilang
yang tidak-tidak.” Tegur ustazah Syifa kepada mereka berdua. Mereka pun
menggangguk. Memilih untuk diam saja. Fahmi yang belum hingkang dari tempatnya.
Mendengar pembicaraan kedua anak didik itu dengan ustazah Syifa. Ia hanya
tersenyum simpul. Geli malah. Kecil-kecil sudah tahu soal cocok atau tidaknya.
Mengenal bagaimana tanda-tanda cantik dan tampan. Paham soal pacaran. Jangankan
soal pacaran, true love saja Fahmi tidak mengerti. Saatnya Fahmi
melanjutkan perjalanan. Ia mengayuh pedal sepedanya. Menyetel murattal qur’an
juz ‘amma kembali.
******
Seharian penuh – hari Senin – Roby bersama ketiga temannya mengamati rumah
kediaman perempuan buta itu. Informasi segala aktivitas dan latar belakang
perempuan buta itu, sudah mereka dapatkan. Dari tetangga dan salah satu anak
didik perempuan buta itu. Mereka menyusun sebuah rencana. Rencana bejad untuk
menaklukkan perempuan buta itu. Operasi kejahatan yang mereka lakukan sudah
berjalan dua tahun. Polisi selalu gagal meringkus mereka. Polisi tak mampu
mencium keberadaan mereka. Jejak mereka clean and clear. Tidak
meninggalkan bekas. Strategi mereka matang. Salah sedikit saja perhitungan yang
dibuat pasti salah satu di antara mereka akan tertangkap. Selama ini operasi
kejahatan mereka selalu bernada ‘sukses’. Dan perempuan buta itu menjadi target
selanjutnya.
Mereka berempat berembuk.
Membicarakan strategi yang akan dilakukan. Markas besar mereka berada di rumah
Roby. Kedua orangtua Roby lebih banyak ke luar kota sehingga membuat rumah Roby menjadi markas
yang paling baik. Rumahnya juga terbilang besar dan mewah. Rumah yang
strategis. Terletak di jalan Jati. Foto perempuan buta itu sudah tergeletak di
atas meja di mana mereka sedang duduk. Otak bejad dan mesum mereka sudah
berjalan lancar. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Roby membawakan
botol-botol minuman keras. Besok – hari Rabu – mereka berempat bertekad
mendatangi perempuan buta itu. Mereka mengawali operasi kejahatan dengan
bersenang-senang. Mereka bersulang. Roby yang menjadi ketua kelompok
bersorak-sorak. Memimpin gerakannya dengan bersulang, “Hidup OMES” (Otak Mesum).
Teman-teman yang lainnya ikut berteriak,”Hidup !”
Pagi Selasa jam 07.00
Dua orang dari mereka sudah sampai
di depan rumah perempuan buta itu. Mata merah mereka masih terlihat jelas.
Bekas mabuk semalaman sambil menonton video porno hasil garapan mereka. Dua
teman yang lain masih tak sadarkan diri. Akhirnya cuma Roby dan Berry yang
datang ke rumah perempuan buta itu. Bau
minuman keras tidak tercium, mereka berdua sudah gosok gigi dan memakan permen
wangi banyak-banyak. Roby dan Berry menghampiri perempuan buta itu yang
memaksakan berjalan tegak dan seimbang tapi masih terlihat oleng sedikit.
Dengan suara fasih, Roby menyapa,
“Assalamualaikum.” Entah apa yang dipikirkan ustazah Syifa sehingga ia tidak
mendengar suara langkah kaki mereka mendekatinya. Ucapan salam Roby betul-betul
membuatnya terkejut. Spontanitas ustazah Syifa menjawab salamnya dengan
membalikkan badannya ke sumber suara yang mulut selang juga ikut mengarah ke sumber suara, “Waalaikum
salam.”
“Busyet…” Roby terkena
siraman air yang keluar dari selang. Si Berry yang tidak kena tertawa
terpingkal-pingkal. Segera, ustazah Syifa meminta maaf. Seandainya bukan karena
teringat taruhan mobil, mungkin perempuan buta itu sudah ditempelengnya. Roby
masih sabar. Sabar menunggu pembataian perempuan buta itu.
“Maaf. Ada apa ya, Mas ?” Tanya
ustazah Syifa yang nada suaranya masih terdengar merasa bersalah. Tidak enak.
“Kami kesini mau membeli bunga.
Sebelumnya perkenalkan. Nama Saya Berry. Ini adalah bos Saya. Maksdunya senior
Saya, Roby.” Secepat kilat si Berry meralat ucapannya. Anak muda memang senang
menggangti nama aslinya dengan nama-nama yang dianggap keren. Nama yang lebih
terdengar seperti anak kota. Padahal nama asli Berry adalah Badruddin.
Sedangkan si Roby adalah Selamet Riyadi. Gengsi dong anak kuliahan memakai nama
anak kampung.
“Oh ya. Perkenalkan nama Saya…”
belum sempat ustazah Syifa menyebut
namanya. Si Roby sudah memotong ucapannya. “Saya sudah tahu nama Anda. Ustazah
Syifaun Nadira. Itu kan nama Ustazah ?”
“Ya benar. Anda tahu darimana nama
Saya ?”
“Semua orang tahu kok. Dan,
kecantikan Anda sangat terkenal dimana-mana. Seperti harumnya bunga mawar yang
tak dapat disembunyikan dari kumbang-kumbang.”
Ustazah Syifa tersenyum malu. Si
Berry membisik kecil di telinga Roby, “kumbang-kumbang nakal.” Keduanya tersenyum-senyum.
“Tunggu sebentar dulu ya Saya
panggilkan ibu.”
Mereka berdua mengatakann,”Ya.
Sekalipun Anda harus pergi seribu tahun, kami tetap akan menunggu di sini. Tak
bergeser sedikitpun walau hujan, kehujanan. Biar. Walauh panas, kepanasan. Terserah. Permintaan ustazah bagai titah Ratu
Bilqis.”
Ustazah Syifa tidak memperdulikan
soal rayuan maut mereka. Ia pergi meninggalkan mereka menuju ibu yang sedang
memasak di dapur. Tak lama kemudian, Syifa datang bersama ibunya menghampiri si
Berry dan Roby.
“Kalian mau membeli bunga apa ?”
Tanya ibu utazah Syifa. Mereka yang tak terbiasa membeli bunga agak mikir
sebentar. Lagi pula mereka tidak tahu bunga itu untuk diapakan. Rupanya otak
mereka masih dipengaruhi minuman berakohol. Jadi susah berpikir secara sadar.
“Bunga sendal, Bu.” Ucap Roby dengan
lantang. Ibu Syifa terkejut. Lalu meralatnya. “Mungkin maksud kalian bunga
sepatu.”
Mereka berdua menggangguk malu-malu.
“Ada lagi, Mas ?” Tanya ustazah Syifa.
“Saya mau membeli bunga kamar.” Kali
ini ustazah Syifa terperanjat dari sebelumnya. Ia tetap menguasai diri. Tidak
ingin mengecewakan pelanggannya. Tidak ingin melukai perasaan pelanggannya.
Meski ia tidak mengetahu siapa pelanggannya. Meski ia tak dapat melihat rupa ke
dua orang ini. “Mungkin maksud kamu itu bunga mawar.” Ustazah Syifa meralat.
“Ya benar, Ustazah.”
“Bunga mawarnya merah atau putih ?”
“Keduanya saja.”
Tak perlu waktu lama. Ibu ustazah
Syifa mengambilkan pesanan pelanggannya. Bunga sepatu, mawar putih dan merah
sudah tersusun rapi. Roby dan Berry terkejut. Ia melihat ketiga pot bunga
berada di depannya. Disangka mereka, cuma tangkai bunga. Ternyata bunga-bunga
yang dijual beserta potnya. Aduh.
Pagi itu agaknya Roby dan Berry
kurang siap mendekati mangsa. Sebab mereka berdua masih dalam keadaan kurang
sadar. Hal itu tidak menjadi masalah. Sebab yang namanya permulaan selalu
diawali dengan perkenalan. Mengenali mangsa itu yang perlu.
Sore Rabu ba’da Ashar.
Paman Fahmi seperti biasa melintas
di jalan dan berhenti di depan rumah ustazah Syifa. Soalnya di sana banyak
anak-anak yang mengaji di rumah ustazah
itu. Di sekitar tempat itu juga banyak mahasiswa yang mengkost. Sehingga bakso
menjadi makanan yang murah meriah bagi anak mahasiswa. Satu-dua anak didik
sudah mulai berdatangan. Ustazah Syifa berjalan dengan tongkatnya mendekati
gerobak paman Fahmi. Kali ini ia membeli bakso bukan untuknya melainkan untuk
ibunya.
“Satu mangkok bakso, Paman.”
“Tumben satu minggu dua kali ustazah
makan bakso.”
“Oh. ini bukan untuk Saya tapi untuk
ibu.”
“Oh begitu toh. Kirain untuk Ustazah.”
Tiba-tiba dua orang laki-laki
mendatangi gerobak Fahmi. Tanpa bicara apa-apa, ia langsung menusuk
pentol-pentol yang ada di dalam panci. Rakus. Gaya pakaiannya asli preman.
Rantai putih dilehernya. Baju dan celananya yang disobek-sobek. Mata memerah.
Juga berdiri tak stabil. Sepertinya keduanya mabuk.
“Ini baksonya, Ustazah.” Paman Fahmi
sudah selesai membikin satu mangkok bakso lalu membungkusnya. Tiba-tiba salah satu
dari preman itu menahan saat ustazah memberikan uangnya kepada paman Fahmi.
“Tidak usah, Ustazah. Biar Aku saja
yang bayarin punya Ustazah.” Suara seraknya membass.
“Maaf tidak perlu. Biarkan Saya saja
yang bayar.”
“Jangan… biar Aku saja.” Salah satu
preman itu tetap memaksa. Dengan beraninya, ia memegang tangan ustazah Syifa.
Tidak hanya dipegang tapi juga digenggam erat. Perlakuan itu membuat ustazah
Syifa mengaduh. Sontak paman Fahmi angkat bicara. Ia bertanggung jawab atas
keributan yang terjadi di sekitar tempat ia berjualan.
“Tolong, Mas. Lepaskan tangan
ustazah itu.”
“Sampeyan ini siapanya dia ?
Suaminya atau bapaknya ?”
“Saya bukan siapa-siapanya dia. Tapi
tolong hargai seorang wanita.”
“Banyak bicara sampeyan. Sok
menceramahi kami. Apa sampeyan mau ini ?” Salah satu preman itu mengeluarkan
pisau putih dari belakangnya. Menggores-goreskan tipis di lehernya.
“Bukan beigtu, Mas. Tapi tolong jaga
keamanan dan kenyamanan di sini.”
“Banyak bacut lo. Ayo kita hajar
saja paman bakso ini.”
Terjadi perkelahian antara paman
bakso dengan kedua preman itu. Tak ada rasa gentar sedikitpun paman Fahmi
melawan kedua preman itu. Meski salah satu dari mereka memakai pisau putih.
Sedang ia hanya menggunakan sendok besar pengambil kuah bakso. Paman Fahmi
pernah ikut silat selagi bersekolah di Madrasah
Aliyah di kampungnya. Sudah mencapai sabuk putih. Dengan tiga-empat
jurus, sendok besar itu mengenai kepala kedua preman itu. Akhirnya kedua preman
itu lari terbirit-birit.
Anak-anak yang menyaksikan
perkelahian itu merasa ngeri. Setelah paman bakso mengalahkan kedua preman itu,
mereka bersorak-sorak riang. Tepuk tangan mereka memeriahkan kemenangan paman
bakso itu. Ustazah Syifa tidak bisa menyaksikan perkelahian itu. Hatinya saja
yang bisa merasa. Betapa dirinya membuat bahaya bagi paman bakso. Terbersit
rasa bersalah kepada paman bakso itu. Ia pun meminta maaf sedalam-dalamnya.
“Hal jazaul ihsan illal ihsan.”
Itu saja yang diungkapkan oleh paman bakso itu. Jawaban yang ringkas dan padat.
Namun membuat pertanyaan besar bagi Syifa. Apa arti hakikat dari ayat itu ?
kenapa paman bakso itu mengungkapkannya ?.
******
Kedua laki-laki yang bertampang
preman itu masuk ke rumah Roby. Ia melapor kejadian yang menimpa mereka. Belum
mereka menyampaikan hal yang memalukan itu. Si Roby sudah bertanya duluan
kepada mereka berdua.
“Kenapa wajah kalian babak belur
begini ?”
“Kami dihajar paman bakso yang
menjadi langganan perempuan buta itu. Kami sudah berusaha menghajarnya. Tidak
mampu. Paman bakso itu terlalu hebat bermain silat.”
“Ya bos. Kami dijadikan pentol
olehnya.”
“Siapa nama paman bakso itu ?”
“Namanya… “
agak lupa
“Fahmi.... Ya paman bakso itu
bernama Fahmi Shodiq.”
“Rupanya paman bakso itu bernama
Fahmi Shodiq.”
Mendengar nama paman bakso itu. Si
Roby teringat dengan kekesalan yang dilontarkan oleh Rayna, mantan pacarnya.
Sekalipun sudah menjadi mantan. Kumpul kebo masih saja dilakukan. Rayna pernah
menceritakan bahwa ia kesal dengan paman bakso yang bernama Fahmi Shodiq. Paman
itu sok jual mahal. Sok alim. Padahal baginya semua laki-laki sama. Semuanya
suka melihat barang yang bagus dan oke. Tanpa perlu ditawar.
Bisikan iblis lewat di benak Roby.
“Aku ada ide brilian. Ide untuk menghancurkan paman bakso itu. Besok hari kita
akan beraksi. Setelah kita singkirkan paman bakso itu barulah kita eksekusi si
perempuan buta itu, ha ha ha.” Roby tertawa terbahak-bahak bersama
teman-temannya.
Keesokan harinya. Tepat setelah
ashar. Seperti biasa paman bakso itu berhenti di depan rumah ustazah Syifa. Satu-dua
anak didik mulai berdatangan menuju rumah ustazah Syifa. Perempuan-perempuan
ganjen yang menjadi tetangga ustazah Syifa datang mengerumuni gerobak paman
bakso itu. Tidak lama pula, datang si Roby dan Berry ke gerobak bakso itu. Ada
seorang anak didik ustazah Syifa yang membeli bakso. Dan seorang ibu hamil. Si
Roby mengedipkan matanya kepada salah seorang perempuan ganjen itu. Rayna
namanya. Rayna paham dengan isyarat itu. Tadi malam mereka berdua bertemu.
Menyusun rencana jahat untuk menghancurkan paman bakso itu. Si Roby ingin
membalas atas penghinaan dan pukulan paman bakso itu kepada kedua anak buahnya.
Si Rayna ingin membalas atas ketidak responannya paman bakso itu kepada
ajakannya. Mereka beraksi.
Rayna terus mengalihkan pandangan
paman bakso itu. Ia membuat sibuk paman bakso itu menjawab segala
pertanyaannya. Sinta tidak lagi terlihat ganjen. Bahkan ia memakai hijab
syar’i. Tidak sama sekali terlihat lekuk dan bentuk tubuhnya. Tapi itu semua
adalah tipuan belaka. Sesekali paman bakso itu memalingkan wajahnya kepada
Rayna. Ia menjawab pertanyaan yang diajukan Rayna kepadanya.
“Saya sudah bosan hidup menyimpang
dari ajaran Islam. Lalu bagaimana cara bertaubat kepada Allah ?”
“Benarkah. Alhamdulillah. Allah
telah memberikan hidayah kepadamu. Caranya mudah. Pertama, menyesallah terhadap
dosa yang diperbuat. Kedua, berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan berusaha
menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang
dilarang-Nya. Ketiga, membaca istighfar sampai hatimu menjadi tenang. Keempat,
ini adalah sebuah tambahan. Jika Kamu pernah, maaf, mengambil barang orang lain
maka kembalikanlah barang itu kepada pemiliknya. Dan meminta maaf kepada orang
yang pernah dizholimi.”
“Setelah itu apakah taubat Saya akan
diterima Allah ?”
“Tentu Allah akan menerima taubat
hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ketahuilah, orang yang baik bukanlah orang
yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang baik itu adalah orang yang
mau mengakui kesalahannya dan memperbaikinya. Ingatlah, sesungguhnya Allah Maha
Menerima Taubat.”
Di saat Rayna dan paman bakso itu
asyik bercakap-cakap. Si Roby memasukkan sesuatu ke dalam panci bakso. Paman
bakso itu sama sekali tidak mengetahuinya. Pandangannya menghadap Rayna. Saat
paman bakso itu mengambil kuah dari panci bakso dan menumpahkannya ke dalam
mangkok. Ternyata ada beberapa buntut kecil. Seperti buntut tikus. Bulu-bulu kecil
masih menempel di buntut. Anak didik itu terkejut bukan main melihat buntut
tikus ada di mangkoknya. Ia langsung ke dalam rumah ustazah Syifa. Ia
melaporkan kejadian itu kepada ustazah Syifa. Ustazah Syifa tidak percaya. Ia
pun tertatih-tatih mendatangi gerobak bakso itu. Sedang ibu hamil itupun pergi
ke rumahnya. Ia menceritakan perihal itu kepada suaminya. Suaminya marah besar.
Ia membawa golok. Dengan sumpah serapah, ia mendatangi paman bakso itu.
Si Roby dan Berry emosi. Kerah baju
paman bakso itu digenggam dan ditarik si Roby. Paman bakso itu tidak melawan.
Bahkan ia ingin menjelaskan. Sebab, ia tidak merasa sama sekali mencampurkan
buntut tikus ke dalam kuah baksonya. Ustazah Syifa yang mendengar teriakan dan
ancaman kepada paman bakso itu. Ia pun berteriak keras.
“Hentikan semuanya. Saya tidak
menyangka paman bisa melakukan hal sekeji itu. Paman bakso yang Saya kenal
adalah orang baik ternyata itu adalah topeng belaka untuk menarik perhatian
pembeli.” Entah apa yang dipikirkan ustazah Syifa. Ia langsung menelan
mentah-mentah tuduhan yang ditujukan kepada paman bakso itu. Apakah ia
mengucapkan hal itu sungguh-sungguh atau ada tujuan lain ? tapi apa ?
“Demi Allah Saya tidak pernah
mencampurkan buntut tikus ke dalam kuah bakso. Demi Allah, tidak pernah.”
“Jangan Kamu bawa-bawa nama Allah.
Dasar orang munafik.” Si Roby mencibir.
“Pergi sana. Sebelum golok ini
menebas lehermu. Jangan sampai Aku panggil warga sekitar ini untuk menghajarmu
dan menghancurkan gerobak baksomu ini.” Suami ibu hamil itu marah besar.
Suaranya geram.
“Pergilah, Paman.” Mohon usazah
Syifa.
“Apakah Kamu juga tidak percaya
dengan Saya, Ustazah.”
Ustazah hanya diam. Ia meneteskan
air mata. Sedang si Roby, Berry, dan Rayna tersenyum bahagia. Rencana jahatnya
berjalan mulus. Sukses. Paman bakso itu pergi. Sepanjang jalan, paman bakso itu
beristighhfar. Sepanjang jalan, ia menangis. Ia mengkuatkan dirinya sendiri.
Sekalipun semua makhluk tidak percaya lagi dengan dirinya. Ia yakin Allah pasti
mempercayainya. Allah Maha Melihat segalanya. Dia pasti mengetahui
kebenarannya. Dan kebenaran itu pasti akan terungkap adanya.
Si Roby dan Berry berpura-pura ikut
sedih. Mereka berdua menghibur ustazah Syifa, si perempuan buta. Sebetulnya
ustazah Syifa tidak percaya jika paman bakso itu berbuat hal yang serendah itu
demi mencari uang. Tidak mungkin. Berkali-kali hatinya memberontak. Apalah
daya, ia hanya perempuan buta. Tak mampu melihat kebenaran. Bukti telah dilihat
dengan mata. Tak berlaku sebuah keyakinan hati. Anak-anak didik pun disuruh
pulang. Sore itu tidak mengajian. Ibu ustazah Syifa juga tak menyangka jika
paman bakso itu melakukan hal demikian. Biarlah, Tuhan yang akan membalas semua
perbuatan. Cepat atau lambat, kebenaran dan kejahatan akan terungkap.
*****
Kabar tentang seorang paman bakso
memasukkan buntut tikus ke dalam kuah bakso. Tersebar cepat. Secepat roket naik
ke bulan. Hitungan detik. Dari sumber pertama merambat ke segala arah.
Begitulah jika soal kejahatan maka akan sangat cepat tersebar. Jika soal
kebaikan maka sekalipun tersebar. Proses penyebarannya perlu waktu. Ketika
mereka mengetahui paman bakso itu menulis di gerobaknya, “Bakso Syar’i Olahan
Paman Fahmi” mereka langsung mengeluarkan sumpah serapah. Melaknat hebat.
Padahal mereka hanya tahu kabar angin. Tidak melihat dengan mata kepala
sendiri. Belum tentu orang yang memberi tahu itu adalah orang yang amanah.
Jangan-jangan tukang gosip. Gosip murahan. Kabar yang tak diketahui darimana
ujung pangkalnya.
Paman bakso itu seharian gelisah
bukan main. Hendak sholat Jum’at saja ia berpikir keras. Apakah pergi ke masjid
atau sholat di rumah saja ? Dengan memandang hari jum’at adalah penghulu segala
hari dan hari raya bagi kaum muslimin, ia pun memutuskan pergi ke masjid tanpa
memperdulikan apa kata orang. Sepanjang jalan, ada saja anak-anak yang bilang
buntut tikus. Meludah di hadapannya. Ada
pula orang tua yang melaknatnya. Ia sakit hati. Tanpa terasa, air matanya
meleleh sendiri. Ia baru menyadari ternyata benar fitnah itu lebih kejam
daripada pembunuhan. Ia tidak membalas semua laknat orang-orang. Bahkan ia
berdoa semoga nama dia kembali bersih. Kebenarannya segera terungkap. Dan ia
memohon agar Allah memberikan dia sifat sabar dan Dia mau mengampuni
orang-orang yang hanya ikut kambing tumbur. Sejatinya mereka tidak tahu
kebenarannya. Seandainya mereka tahu, sudah barang tentu mereka akan berpihak
kepada yang benar. Awan hitam pasti berlalu. Langit akan tampah cerah.
Sabtu Pagi. Jam 08.00
Langkah demi langkah dijalankan
dengan mulus. Rencana yang disusun mereka berjalan lancar. Sedikit lagi mereka akan mendapatkan apa yang
mereka inginkan. Si Roby dan Berry datang kembali ke rumah ustazah Syifa.
Mereka berdua meminta ustazah Syifa untuk membaca Al-Qur’an di acara tasmiyah
keponakan si Roby. Ini adalah langkah terakhir untuk mendapatkan ustazah Syifa.
Si Berry memuji kelebihan yang terdapat pada ustazah Syifa. Suaranya indah nan
merdu. Bacaannya sangat fasih. Ustazah Syifa agak ragu mengabulkan permintaan
si Roby itu. Soalnya, acara tasmiyahnya malam, ba’da Isya. Seandainya siang
atau sore, mungkin tak ada keraguan yang menderanya. Belum lagi, ibunya tinggal sendiri. Ibu
ustazah Syifa pun agak keberatan.
Roby yang jago berretorika. Hebat
mengambil hati siapa saja. Tak akan menyerah begitu saja. Ia masih banyak cara
untuk mengelebaui mangsanya masuk ke dalam perangkapnya.
“Kebetulan keponakan Saya yang baru
lahir itu adalah perempuan. Dan kakak Saya ingin sekali anaknya menjadi seorang
hafidz Qur’an. Semoga berkat dengan ustazah Syifa yang melantunkan ayat suci
Al-Qur’an, anak keponakan Saya itu menjadi anak perempuan yang gemar membaca
dan menghafal Al-Qur’an. Kami mohon sekali.”
Ustazah Syifa terdiam. Ibunya
bertanya, “Acara tasmiyahnya dimana ?”
“Dekat saja. Di jalan G.Obos 10.”
“Kalau begitu Ibu menginzinkan saja.
Kalau Syifa sendiri ?”
“Saya terserah Ibu saja.”
“Baiklah. Habis Isya nanti ustazah
Syifa kami jemput. Emm.. begini saja. Ibu akan ikut menemani ustazah Syifa. Kasian
juga jika Ibu sendirian tinggal di rumah ini.” Rayuan Roby berhasil. Ia sukses
mengelabui ustazah Syifa dan ibunya.
Ba’da Maghrib.
Roby mencari-cari si Berry. Ditelpon
tidak diangkatnya. Di-SMS juga tidak dibalasnya. Padahal mereka hendak
siap-siap menjemput si perempuan buta itu dengan ibunya. Si Roby agak kesal
dengan ketidak hadiran si Berry. Padahal ia ingin membagi tugas. Sejurus
kemudian, HP milik Roby bordering. Ada seseorang yang menelpon. Tak ada nama
yang tercantum. Nomor baru yang masuk.
“Bagaimana bro, apakah video dengan
perempuan buta itu sudah kalian dapatkan ?”
Mendengar suara laki-laki itu, si
Roby langsung mengenal jika laki-laki itu adalah ketua kelompok kemaren yang
menantangnya taruhan. “Sebentar lagi video yang Kamu inginkan akan kami
penuhi.”
“Ingat mobil Kijang Inova.”
“Santai saja, Bro. Aku tidak akan
gagal dalam misi ini. Sekalipun Tuhan menghalanginya.”
“Oke. Kita buktikan. Jangan lupa
minggu pagi di tempat biasa, video kalian dengan perempuan buta itu harus sudah
kalian serahkan kepadaku.”
“Jangan khawatir. Kalian pasti akan
puas menontonnya.”
Ternyata ketidak hadiran Berry di
markas Roby karena ia mendatangi rumah paman bakso itu, Fahmi. Berry meminta
maaf telah memfitnahnya. Ia menceritakan hal yang membuatnya sadar. Sekitar jam
empat ia tertidur pulas. Tiba-tiba almarhum ibunya mendatanginya dengan pakaian
putih yang kotor, hancur, menjijikkan, dan rambut yang kusui masai. Wajah
tampak pucat. Tak ada rasa kebahagian yang tersirat di wajahnya. Ibunya memberikannya nasihat. Ibunya terluka dan
sedih melihat perilakunya. Ibunya memohon-mohon agar ia bertaubat. Ia juga
menceritakan semua niat busuknya dan teman-temannya. Kini ia sadar. Ia terlalu
melampaui batas. Mengundang murka Allah.
“Setelah Isya ini. Roby dan
kawan-kawan menjemput ustazah Syifa dan ibunya. Dengan alasan acara tasmiyah
anak keponakan si Roby yang baru lahir. Itu semua tipu muslihatnya. Padahal
ustazah Syifa akan dijadikan korban kejahatan seksual. Ibunya memang ikut
bersamanya. Tapi ditengah jalan, ibunya akan dibuang. Mereka akan membawanya ke
Bumi Perkemahan Nyaru Menteng. Ia akan membawanya ke dalam hutan sana. Membuat
video mesum. Ini semua karena taruhan.
Taruhannya adalah mobil Kijang Inova. Tolonglah ustazah Syifa. Dia dan ibunya
dalam keadaan bahaya.”
Tanpa piker panjang lebar, Fahmi berucap,“Sekarang
juga Kamu pergi ke kantor polisi. Melapor dan meminta pertolongan mereka. Dan
biar Saya yang akan mencegah mereka di sana.”
“Baiklah.”
Si Roby memutuskan untuk tetap pergi
menjemput ustazah Syifa dan ibunya meski tanpa kehadiran si Berry. Paman bakso
itu segera menuju ke rumah ustazah Syifa. Sedang si Berry melaporkan tindak
kejahatan yang akan dilakukan si Roby dan teman-temannya.
Sesampainya di rumah ustazah Syifa.
Paman bakso itu melihat ustazah Syifa hendak masuk ke dalam mobil. Secepat
kilat paman bakso itu berlari. Mencegahnya masuk.
“Hentikan. Jangan kalian bawa
ustazah Syifa.”
Tanpa panjang lebar kedua teman Roby
menyerang paman bakso itu. Lagi-lagi mereka terkena tinju maut dari paman bakso
itu. Tendangan dahsyat paman bakso itu juga mencederai kaki kedua teman Roby.
Melihat kedua temannya lemah tak berdaya, si Roby pun keluar dari mobil. Ia
mempunya sebilah pisau putih. Ia membabi buta menusuk-nusukkan pisau itu ke
arah paman bakso. Tidak kena. Paman bakso itu terlalu lincah menghindar. Bahkan
dengan dua langkah cepat, ia mampu melepaskan pisau itu dari tangan Roby. Pisau
itu pun terlepas dan jatuh jauh dari Roby. Sekarang adil. Masing-masing
menyerang dengan tangan kosong. Paman bakso itu mulai kelelahan. Suaranya
terengah-engah. Bertarung dengan kedua teman Roby tadi cukup melelahkan. Si
Roby meyerang habis-habisan. Satu pukulan dan dua tendangan mengenai paman
bakso. Paman bakso itupun jatuh. Pukulan Roby mengenai pelipisnya. Memar. Ia
pun bangkit. Dengan tiga langkah pukulan dan tendangan, ia menghajar si Roby.
Diakhiri dengan terjangan mematikan. Si Roby roboh seketika. Salah satu
temannya sadar. Ia melihat pisau berada
di dekatnya. Secepat angin, ia menusuk dari belakang paman bakso itu dengan
pisau. Paman bakso itu terjatuh. Si Roby dan kedua temannya kabur. Sial.
Halaman rumah ustazah Syifa sudah dikepung oleh warga. Polisi pun sudah datang.
Roby dan kedua temannya diseret polisi masuk ke dalam mobil. Si Berry tidak
perlu diseret. Ia sudah menyerahkan dirinya dengan rela hati. Ia ingin menebus
semua kesalahannya di penjara. Tidak lama kemudian, mobil ambulance menjemput
paman bakso itu.
*****
Dua minggu ia dirawat di rumah sakit
umum, RS. Doris Silvanus. Keadaannya semakin membaik. Meski rasa sakit bekas
luka tusukan itu masih ada sedikit terasa. Ustazah Syifa dan ibunya juga
meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena telah tidak mempercayinya. Mereka
berdua berterima kasih banyak atas pertolongannya. Semenjak ia diperbolehkan
dokter pulang ke rumah, paman bakso itu, Fahmi, tidak melihat lagi ustazah
Syifa.
Hari ini genap enam bulan ia tidak
melihat ustazah Syifa. Genap pula ia tidak menjual bakso syar’i berkeliling. Ia
banyak menghabiskan waktu di rumah. Selama enam bulan, ia menghafal Al-Qur’an.
Sudah dua puluh juz, ia hafal. Empat bulan terakhir, untuk makan sehari-hari
terpaksa ia ambil uang tabungannya yang hendak pergi umrah.. Dua bulan
selanjutnya, ia membuat pentol dan menjualnya di depan rumah. Hasil
penjualannya, sekedar menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Membayar kost yang
ditumpanginya. Dan, menahan pengambilan uang dari tabungannya.
Sore ini menjadi sore yang istimewa
bagi paman bakso itu. Ustaz Yusuf Mansur datang ke kostnya. Ia terkejut. Bahkan
tidak percaya bisa bertemu dengan seorang ustaz Yusuf Mansur. Bukan ia yang
datang ke hadapan ustaz Yusuf Mansur. Tapi sebaliknya. Hari ini tadi Yusuf
menghadiri acara wisuda bagi para hafiz dan hafizah yang diselenggarakan di
Masjid Raya Darussalam. Betul-betul sebuah kehormatan besar bagi paman bakso
itu bisa bertemu dengan ustaz Yusuf Mansur. Ternyata ustaz Yusuf Mansur bukan sekedar berkunjung
menemuinya. Ada hal yang sangat penting untuk diungkapkan. Beliau tahu soal
bagaimana ia menjual bakso. Tahu pula kejadian tragis
yang menimpanya. Kenal betul dengan ustazah Syifa. Dan alangkah terkejutnya,
beliau ingin menikahkan dirinya dengan ustazah Syifa. Itulah hal penting yang
membuat langkah kaki ustaz Yusuf Mansur tergerak menuju kostnya. Paman bakso
itu terdiam sejenak. Sayangnya, diamnya dia diartikan ustaz Yusuf Mansur
sebagai keraguannya.
“Apakah Ente tidak ingin
mempunyai seorang istri hafidzatul qur’an. Ataukah Ente merasa
enggan menikahinya karena ia punya kekurangan fisik ?”
“Bukan itu Ustaz. Sungguh Saya tidak
mempersoalkan hal itu. Menjadi sebuah kesyukuran yang besar bagi Saya bisa
bersanding dengan perempuan semulia seperti ustazah Syifa.”
“Lalu apa yang membuat Ente
tertahan untuk menyetujuinya ?.”
“Saya ingin pergi umrah dulu sebelum
menikah. Itulah ‘azam Saya, Ustaz.”
“Fahmi, dengarkan nasihat ustaz ini.
Pernikahan yang didasari atas niat yang baik. Maka hasilnya pun akan baik. Kasihanilah diri ustazah Syifa. Ia hanya
tinggal bersama ibunya. Ia perlu imam yang menjaga dan membimbingnya. Dan imam yang
ideal dan pantas untuknya adalah Ente,
Fahmi. Pernikahan karena melihat kekayaannnya, bukan akan menambahnya kaya
bahkan akan merubahnya menjadi miskin. Menikah karena melihat kecantikan akan
membawa kepada kebinasaan. Tapi ingatlah pesan Nabi kita, barangsiapa yang
menikahi perempuan karena agamanya nicaya Allah akan mengkaruniainya dengan
harta yang melimpah. Yakinlah dengan nasihat Nabi kita.” Nasihat ustaz Yusuf
Mansur mantap. Tertancap dalam ke lubuk hatinya.
“Lalu dengan ‘azam umrah Saya,
bagaimana Ustaz ?”
“Jika Nabi sudah bersabda demikian.
Jangankan pergi umrah, pergi haji saja Ente pasti bisa. Tidak hanya
sendiri tapi juga dengan istri. Istri yang sholehah.”
“Baiklah. Tapi Saya mohon minta
tempo satu hari dulu. Saya ingin sholat istikharah dulu dan meminta izin kedua
orangtua Saya di Sumatera sana.”
“Okelah. No problem. Besok hari Saya akan kesini lagi. Mendengar
jawaban dari Ente. Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik bagi Ente.”
Ustaz Yusuf Mansur berlalu.
Meninggalkan paman bakso.
Keesokan harinya. Malam berganti
siang. Bulan dan bintang pergi. Terbitlah mentari sebagai penguasai hari. Memancarkan
cahaya. Cahaya cinta bagi yang menyadarinya. Cahaya kasih bagi yang merasakannya.
Cahaya syukur bagi yang memikirkannya. Setelah Fahmi sholat Dhuha. Ustaz Yusuf
Mansur datang bersama ajudannya. Dengan mantap, paman bakso itu, Fahmi,
menerima tawaran ustaz Yusuf Mansur. Ia bersedia menikahi ustazah Syifa. Kedua
orangtuanya yang di Sumatera juga meridhoinya. Tidak lama kemudian sebuah mobil
berhenti tepat di halaman kost. Seorang perempuan mengetuk pintu dan
mengucapkan salam,”Assalamualaikum.”
Paman bakso itu terkejut. Ternyata
perempuan yang mengetuk pintu itu adalah ustazah Syifa. Lebih sangat terkejut lagi
saat ia melihat bola mata ustazah Syifa yang berkedap-kedip. Bergulir. Tak ada rona hitam. Ustazah Syifa dapat melihat kembali. Akhirnya ustaz Yusuf
Mansur menceritakan semuanya. Mata ustazah Syifa dioperasi di Rumah Sakit ternama
di Singapore. Semua biaya ditanggung oleh ustaz Yusuf Mansur. Itu berkat ustazah Syifa telah menyelesaikan
hafalan Al-Qur’annya tiga puluh juz. Sejak kecil Almarhum
ayahnya selalu mengajarkan dan memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci
Al-Qur’an kepadanya bahkan semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.
Hingga saat ia menginjak dewasa kebiasaan ayahnya itu tak pernah ia tinggalkan
meskipun ayahnya telah tiada. Karena kebiasaan itu pulalah, meski hanya lewat
mendengar MP3 murattal Al-Qur’an, ia berhasil menjadi seorang hafidzah Qur’an
30 juz.
“Setelah kalian sah menjadi pasangan suami
istri. Saya akan memberangkatkan kalian berdua untuk pergi umrah. Dan kalian
bisa bulan madu
selama berada di sana.” Ungkap Yusuf Mansur di akhir penjelasan.
Paman bakso itu langsung sujud
syukur. setelah memanjatkan doa ia pun bangkit dari sujudnya. Memeluk erat
tubuh ustaz Yusuf Mansur. Entah apa yang harus diucapkan. Kebahagian yang ia
terima tak dapat diungkapkannya dengan kata-kata.
“Inilah yang diucapkan Mas Fahmi
tempo kemaren saat membela Saya dari kedua preman itu. Hal jazaul ihsan
illal ihsan. Tidaklah kebaikan melainkan dibalas dengan kebaikan. Terdapat
dalam Al-Qur’an pada surah Ar-Rahman ayat enam puluh. Awalnya Saya bingung, tidak paham apa
maksudnya. Sekarang semuanya jelas. Berkat Saya menjaga diri dan berusaha
menjadi muslimah yang baik meski terdapat kekurangan, Allah menjaga Saya dari
marabahaya melalui perantara Mas Fahmi. Allah mengembalikan penglihatan Saya dan
menghadirkan Mas Fahmi. Perkenankan Saya untuk menjadi istri yang sholehah bagi
Mas Fahmi.” Ustazah Syifa menangis di saat meminta itu dari seorang paman
bakso, Fahmi.
“Apakah Ente bersedia
menerimanya ?” Tanya ustaz Yusuf Mansur memastikan.
“Dengan segala kekurangan dan
kelebihan yang Saya miliki. Dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi, Saya
bersedia menerimamu menjadi istri Saya.” Jawabnya mantap.
Langit-langit
kost Fahmi bergemuruh. Dipenuhi dengan ucapan,”Alhamdulillahi rabbil
‘alamin. Barakallahumma wa Baraka ‘alaikuma wa
jama’a baynakuma fil khair.