Jumat, 12 Juni 2015

Masbuq Perdana



Masbuq Perdana
M
emang sengaja Hannan menggoda Sari. Dianya juga mudah tergoda. “ Ini kita toh, ujarnya, Bang “ kalimat yang sering diungkapkan Sari kepada Hannan. Dia tertawa sekaligus sedih ketika mengingat kalimat itu. Kata “ kita “ seolah sebentar lagi akan berubah menjadi “ kami “. Nah, Hannan suka mengulang-ulangi kalimat tersebut “ Ini kita toh “ sambil jari telunjuknya mengarah ke benda apapun yang dipegangnya. Bagi orang lain kayaknya tidak ada perbedaan mendalam tentang kata kepemilikan jamak antara “ kita “ dan “ kami “. Tapi bagi Sari, itu sangat berarti. Ini soal GBHO dan GBHC. Garis Besar Haluan Organisasi dan Garis Besar Haluan Cinta. Seolah ketika disebut kata “ kami “ separo jiwanya hilang entah kemana. Hannan masih terlihat sibuk memprint buliten Jum’at An-Nahl yang dipersiapkannya untuk hari besok. Hannan iseng. Jail pula. Sambil memprint, dia putar potongan film Dawai 2 Asmara. Sengaja memutarnya, pas tepat di lagu “ Cuma Kamu “  pas pula si Sari sedang ingat si dia.  Kala itu Ridho disuruh untuk menyumbangkan sebuah lagu di hari ulang tahun Dafa. Ya, Dafa, kekasih hatinya.
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu sunyi ku rasa dunia ini      
Tanpa kamu hampa ku rasa dunia ini…
Mata Sari mulai berkaca-kaca mendegar dan melihat potongan film tersebut. Hendak menangis tapi malu. Hendak menyebut nama si dia juga takut dianggap lebay. Memang sengaja Hannan. Lagu itupun masih bersenandung memenuhi ruang hati yang kosong, memanggil jiwa yang merana.
Tiada kalimat yang dapat melukiskan
Betapa cintaku kepada dirimu
Tiada ibarat yang dapat melukiskan
Betapa sayangku kepada dirimu
Itu dapat kau rasa dari pandang mataku
Itu dapat kau rasa dari belai tanganku
Hooo…..
Kali ini, Sari histeris. “ Saya itu bang, teringat masa lalu bersama dengannya. Ingat benar, kata-katanya. Tolong ini Sar, ambil ini Sar, kirim ini Sar. Macam-macam permintaannya. Tapi Sari tak pernah mengeluh. Seoalah perintahnya adalah mantra cintanya. Permohonannya adalah titah sang raja untuk Sari. Dia tak pernah memuji Sari apalagi berkata manis. Judes dan cuek itu yang terlihat di hadapan Sari. Tapi, semua itu seolah hal yang indah bagi Sari. “ Ya Rabb, terlalu banyak moment bersejarah bersama dengannya “. Sari meronta. Pedih hatinya melihat kejadian yang menimpanya.
“ Jangan cengeng, Sar. Lanjutkan perjuanganmu !. Mungkin ini sudah jalan hidup yang harus Kamu pilih. Because life is choice ” Syakur mencoba memberikan semangat dan meneguhkan hati Sari.
“ Hayo.. bang Hannan. Hayo.. bang Hannan. !” Sorak Delisa sambil bertepuk tangan. Sedangkan Hannan hanya tertawa terkikik-kikik. Hannan ini usil. Lautan yang tenang jangan dicoba diusik. Bisa tsunami. Gunung merapi yang sedang enak tidur, jangan coba tuk dibangunkan. Bisa meletus. Awan hitam jangan coba ditabrakan denga awan hitam lain. Bisa hujan. Akhirnya Sari benar-benar menangis.
Tiba-tiba datang Shobar. Datang tak diundang. Pulangpun tak diantar. Memang dia Jailangkung. Bukan, tapi kekasih hati Delisa.
“ Han, ke Mesjid baru yuk ! Zuhur ini di sana menjadi Zuhur perdana. Ucap Shobar sambil memberikan kerupuk kepada Delisa. Shobar  begitu sangat bersemangat mengajaknya yang sedang sibuk memprint. Memang benar, sesuatu yang baru itu dapat menarik perhatian seseorang untuk mengetahuinya. Baju baru, motor baru, rumah baru, bahkan pacar baru. Yang jelas, jika pacar baru dan masih ada hubungan dengan pacar yang lama. Awas !. Pacar baru itu bisa dijambak oleh pacar lama. Jika terbukti merebut dan menggoda kekasihnya. Kalau sudah begitu, keluar deh jurus  andalan laki-laki. Apakah itu, “ ambil langkah seribu. Lari, menghilang dari incaran pacar lama “. Semboyannya, “ Mati satu tumbuh seribu, habis dirimu, ada lagi cadangan baru.” Jika ketangkap basah, dia menyalahkan pacar barunya. Seolah-olah ia dihasut, digoda oleh perempuan tersebut. Dia pendusta. Penipu. Yah, begitulah perempuan diperlakukan. Selalu dijadikan kaum mustadh’afin, kaum yang dianggap lemah dan tertindas.
“ Masih lama azan Zuhurnya , Bar “. Ucap Hannan yang sedang memperbaiki kata yang salah  di buliten Juma’at “ Potitik “. Masih ada waktu setengah jam sebelum zuhur.
“ Gak apa-apa. Kita keliling saja dulu, melihat masjid baru yang besar nan megah.” Shobar berupaya mengajakanya tapi ia terlihat lesu ke sana. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran laki-laki  yang berkaca mata itu.
“ Antum duluan saja, Ana lagi sibuk memprint. Tanggung, Bar .“
“ Baiklah. Ana duluan “
Melihat suatu pemandangan, memang tak asyik jika sendirian. Soalnya tak ada teman ngobrol. Makan saja, jika sendirian kurang asyik. Tak ada teman ngobrol. Tapi bagi orang sholeh, ngobrolnya tentang agama bukan sembarang bicara. Nabi Ibrahim gelisah jika makan sendirian. Beliau akan mencari teman untuk mau makan bersama beliau. Walaupun jauh bermil-mil. Semua itu demi mengharap keberkahan makan bersama, berjama’ah. Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah SAW. Bersabda : “ Berjamah itu (mendatangkan) rahmat dan perceraian itu (menimbulkan) siksa (penderitaan). (HR. Abdullah di dalam Zawaidul Musnad dan Al-Qudho’i). (Lihat, Al-Jami’us Shoqir : 220).
Hannan masih terlihat sibuk memprint. Entah berapa kertas yang sudah diprintnya. Tapi jumlah yang harus dipenuhinya adalah 100 lembar yang akan disebarkan di dua masjid, Mesjid Raya Darussalam dan Mesjid Al-Firdaus. Ia bersyukur sekarang buliten Jum’at An-Nahl mulai eksis. Mulai istiqamah menerbitkan bulitennya. Hal ini juga tidak luput dari dukungan kawan-kawannya dan suplai dana dari beberapa sponsor yaitu Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), UPT Pengelolaan Sampah Terpadu Jekan Raya 1, dan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tapi ia masih sedih, karena kawan-kawannya belum banyak yang mau menyumbangkan tulisannya. Padahal menyumbang dengan ide itu lebih mudah dan ringan dibandingkan menyumbang dengan materi. Tidak setiap hari. Hanya untuk hari Jum’at. Tapi satu hal yang disadarinya dan diyakininya, perjuangan ini terus berlanjut, “ Pasti ada generasi baru, mahasiswa baru yang melanjutkan cerita perjuangan kami ini”.
“ Ini yang terakhir.” Ucapnya di dalam hati. Printer mulai mengerjakan tugasnya. Mengeluarkan kertas terkhir dari perutnya. Aneh, Hannan tak sabar. Ia menunggu kertas itu keluar seperti bidan yang menunggu kepala bayi yang mau keluar dari rahim ibunya. Azan Zuhur berkumandang. Tapi kali ini, suara azan yang datang dari arah masjid baru itu lebih kecil volume suaranya. Lebih nyaring masjid lama dibandingkan masjid baru tersebut. Kertas yang diprintnya pun sudah keluar sempurna.
“ Alhamdulillah ! Azan… memprintnya juga selesai semua “ ucap Hannan penuh kesyukuran. Soalnya, ia tak mau memprintnya sampai malam. Mamanya sedang sakit. Mag mamanya kambuh lagi. Begitulah hidup, ada kalanya sehat dan ada kalanya sakit. Tapi sehat dan sakit tetap harus disyukuri. Kenapa sakit harus disyukuri juga ? Sakit itu kan tidak enak ?  Benar sekali. Sakit itu tidak enak. Oleh karena itu, Allah menyiapkan pahala bagi orang yang sabar ketika sakit menimpanya. Menghapuskan dosa-dosa kecilnya. Bahkan derajatnya disisi Allah dapat naik dengan sebab sabar menahan sakit.
*****

Hujan di mata Sari mulai reda. Hanya embun yang tersisa di pipinya. Make up-nya perlahan luntur diguyuri hujan deras. Larut bersama butiran air mata. Hannan bangkit dari tempat duduknya menuju pintu sambil bernyanyi, “ Kalau sudah tiada baru terasa…. “.
Nah, dimulai lagi. Stop, Han. Nanti hujan lagi. Jangan sampai HP Kamu ini  Saya lempar. Gertak Syakur.
“ Hiks.. hiks..”. Terjadi lagi.  Sari menangis lagi.
“ Hayo.. bang Hannan. Hayo.. bang Hannan. !” Sorak Delisa sammbil bertepuk tangan. Tapi kali ini tepukannya dan sorakannya lebih cepat dari yang pertama tadi.
“ Kali ini, Sari menangis bukan karena Bang Hannan”. Ucap Sari.
“ Terus, karena siapa ? “ Tanya Syakur penuh keheranan.
“ Itu karena HP yang Kamu pegang adalah HP-ku bukan HP Abang Hannan. Hiks..hiks..
Syakur memastikan apa yang dipegangnya, dilihatnya dengan seksama. Ternyata itu memang benar HP Sari.
“ Oh iya ini HP Sari. Sorry “. Syakur tersipu malu.
“ Ha… ha… ha….. Yuk semua,  kita sholat dulu. “ Ajak Hannan kepada kawan-kawannya yang sudah keluar dari pintu kantor.
“ Yuk. Kalian berdua ? “ Tanya Syakur kepada Delisa dan Sari.
“ Kami berdua, lagi datang matahari. He he. Nitip pahala saja ya dengan kalian. Ucap Delisa dengan canda.
“ Keenakan , oyyyy“. Teriak Hannan yang sedang menghidupi motor di depan kantor DEMA FUAD.
*****

“ Allahu Akbar “ Ucap Imam ketika mengangkat takbiratul ihram. Alhamdulillah Hannan sempat rukuk bersama imam di rakaat pertama. Walaupun ia tak sempat membaca Al-Fatihah. Hal itu tak mengapa, karena bacaannya telah ditanggung oleh sang Imam. Begitu kajian fiqih yang telah dipelajarinya sekaligus didengarnya dari guru-gurunya. Inilah kelebihan sekaligus keunikan sholat berjamaah. Gerakan demi gerakan sholat silih berganti.
Assamu’alaikum warahmatullah, ucap Imam dengan suara keras di salam yang pertama sedangkan di salam yang kedua, lebih pelan dari salam pertama. Ini menunjukkan jika salam pertama itu wajib diucapkan dan menjadi rukun sholat, rukun qauli. Dan salam kedua adalah sunnah saja. Berdzikir dan membaca wirid  setelah sholat sudah menjadi kebiasaann Hannan. Setelah mengucapkan salam, ia menyapu wajahnya sambil berdoa, “ allhummadzhba ‘annil hamma wal hazan (Duhai Allah, hilangkanlah rasa duka yang telah lalu dan yang akan datang) “. Lalu dengan tangan kanannya, ia memegang hatinya sambil membaca Surah Al-Insyirah sebanyak tiga kali. Hal ini supaya tidak ada kesedihan yang melanda kecuali kebahagiaan semata. Sekalipun datang kesedihan itu maka dengan berkat mengamalkan surah tersebut, semoga hati segera menjadi tenang dan lapang.  Tak berlarut-larut dalam kesedihan. Selain itu pula, membaca surah Al-Insyirah itu dapat menambah daya ingat seseorang. Maklum, Hannan orangnya pelupa. Ia berharap dengan mengamalkan surat itu, penyakit pelupanya hilang. Kemudian  ia membaca wirid sehabis sholat fardu dan terakhir berdoa. Tak lupa, ia sholat sunnah ba’da Zuhur.
Setelah Imam selesai membaca wirid dan doa. Salah satu marbot masjid memberikan pengumuman sekaligus mempersilahkan kepada Imam untuk memberikan ceramah agamannya. Penceramah menyampaikan tausyiah tentang tujuh amal dan senjata umat Nabi Muhammad SAW. yang menyebabkan Iblis menderita dan sakit hati . Penceramah itu mulai memberikan tausyiahnya. Di sudut Mesjdil Haram. Nabi melihat Iblis sedih. Kusut mukanya. Begitu menderita dan tersiksa.
Nabi pun bertanya : “ Kenapa Engkau terlihat begitu tersiksa dan sedih ? “
Iblis menjawab : “ Hal ini karena umatmu telah melakukan tujuh amal dan senjata yang telah menyebabkanku menderita dan sakit hati
 “ Apa itu, wahai Iblis ? ”  Tanya Nabi.
 Yaitu Apabila mereka bertemu, mereka mengucapkan salam dan menjawabnya. Karena di sana terdapat asma Allah (As-Salam). Yang kedua, apabila mereka bertemu mereka bersalaman. Selama bersalama, Allah mengmapuni dosa mereka. Apabila disebut nama Nabi maka mereka bersholawat. Karena Aku tahu balasan orang yang bersholawat kepadamu…..”. Hannan sudah mulai tak fokus lagi mendengarkan ceramah tersebut karena ia  melihat banyak orang yang naik ke tingkat tiga. Mereka berfoto-fotoan. Mengitari masjid sambil bercakap-cakap.
Hannan tertarik juga. Ia pun berkeliling masjid. Lalu naik ke lantai berikutnya, tingkat ketiga. Di tingkat ketiga, ia bertemu dengan seorang bapak, tinggi besar, mempunyai jenggot tebal yang mulai memutih. Namanya, “ pak Sucipto “. Bapak itu berada di dekat jendela masjid sambil melihat pemandangan sekitar mesjid. Ia kenal baik dengan bapak tersebut.
“ Assalamualaikum. Bagaimaan kabarnya, Pak ? “ ucap Hannan.
“ Waalaikum salam. Baik, Han. Kamu sendiri bagaimana ? “
“ Baik juga, Alhamdulillah. “
“ Kapan ya pak, menara tersebut selesai.”
“ Lama, Han. Tidak mudah membangun sebuah menara . “ Sahut Shobar yang tak diketahui oleh Hannan kehadirannya.
“ Iih.. antum juga ada di sini tuh. “ Ucapnya penuh keheranan. Karena sewaktu ia membaca wirid tak melihat Shobar berada di dalam masjid.
“ Mesjid baru ini, sebagaimana yang kalian lihat,  mempunyai tiga tingkat. Lantai dasar digunakan sebagai kantor sedangkan lantai kedua dan ketiga difungsikan sebagai tempat sholat. Mesjid ini adalah masjid paling besar dan megah se-Kal-Teng. Jika kalian melihat masjid ini di malam hari maka keindahan dan kemegahannya akan sangat terasa. Nah,  sedangkan menara  itu adalah menara masjid paling tingi se-Indonesia. Sampai ke puncak menara, panjangnya mencapai 114 M. Namun, para pengungjung hanya bisa naik sampai ketinggian 99 M ”, Katanya, menara masjid itu juga paling tinggi se-Indonesia “. Pandangan mata dan jari beliau mengarah ke menara mesjid yang masih dalam proses penyelesaian.
“ Ooh.. begitu “. Sahut bersamaan Hannan dan Shobar.
“ Tapi ingat, menara masjid bukan menara yang berdiri sendiri. Kalau menara yang berdiri sendiri, mungkin ada yang lebih tinggi lagi dari menara itu “. Pak Sucipto memperjelas ucapannya.
“ Hari Kamis ini , tanggal 11 Juni 2015 / 24 Sya’ban 1436 – adalah hari yang penting. Tukas pak Sucipto.
“ Kenapa ? “ Sahutan mereka berdua serentak lagi.   
“Karena semuanya perdana.  Muadzin perdana, imam perdana, makmum perdana, penceramah perdana. Emmm….  sholat Zuhur perdana”.  
“ dan masbuq perdana “. Sahut Shobat dengan nyerocos.
“ Bujur banar, kam Bar. “ Ucap Hannan dengan bahasa Banjar khas lugat Nagara sambil sorotan matanya mengarah ke Shobar dan kepalanya mengangguk-angguk. 
Semuaya tertawa. Namun tiba-tiba Hannan merasa pusing. Dan berada dalam masjid itu terasa panas baginya.
“ Maaf, Pak, Bar, Ana duluan. Assalamulaikum. “ ucap salam Hannan sambil menyalami Shobar dan mencium tangan pak Sucipto.
“ Walaikum salam”. Mereka berdua membalas salam. Mereka berdua tampak heran. Apa yang terjadi terhadap Hannan.
Dari jendela, Hannan berjalan mengarah ke tengah lingkaran masjid. Ia melihat ada tiga perempuan di bawanya. Mereka sedang asyik bercakap-cakap. Salah satunya adalah sahabat terbaiknya, sekaligus tutornya dalam hal penulisan. “ Syita “, nama panggilannya. Nama lengkapnya, “ Zahratus Syita “. Kawan disampingnya bernama, Bilqis. Nama lengkapnya, Auliani Bilqis. Tapi Hannan tak mengenal teman satunya lagi. Ia menggeledah di kantong baju, celana, tas tapi tak ketemu. Benda yang ia cari adalah HP. Ia hendak mengirim pesan kepada Syita agar Syita mengetahui bahwa ia sedang berada di atas. Hendak berteriak, malu dan itu juga tak sopan. Ini masjid, bukan pasar. Hendak menggugurkan sebuah kertas sebagai dilalah  dan berharap ia menengok ke atas. Takut, jika disangka mengotori masjid dan sebagainya. Datanglah dua adik kelasnya yang menghampirinya. Dari kejauhan mereka sudah asyik mengobrol berdua.
“ Lim, coba Kamu naik ke sana. Nanti aku pasti memfoto Kamu ”. Ucap Jery sambil menunjuk lampu besar yang tergantung di atas kubah.
“ Nah, dari sini nanti Kami lempar Kamu ke sana. Apabila tersangkut, maka Kami akan melambaikan tangan. Dadah… Salim. Nyerocos Hannan menyusup pembicaraan mereka berdua.  Ia mengeraskan suaranya supaya sahabatnya yang di bawah menengoknya ke atas. Memberi tahu seseorang tidak harus berucap, “ Aku ada di atas “ dengan ada suarapun sudah memberikan dilalah sebuah keberadaan seseorang. Lagi pula Hannan mempunyai suara yang khas. Keras, nyaring, serak-serak basah bukan serak-serak hancur. He he. Tapi sayang seribu sayang, hasilnya nihil. Mereka bertiga terlalu sibuk mengobrol. Sahabatnya tak menengoknya. Akhirnya, Hannan turun ke bawah. Kepalanya juga semakin terasa pusing. Sesak pula dadanya.
Setelah turun, Hannan baru menyadari bahwa dia telah berbicara masalah dunia dan bercanda ria di dalam masjid padahal itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana sabdanya, “ Barangsiapa yang bercakap-cakap tentang hal keduniaan di dalam masjid maka Allah akan menghapuskan amal ibadahnya selama empat puluh tahun. “ (Lihat, Tahqihul Qaul al-Hatsis fi Syarh Lubab al-Hadis : 56). Ia pergi ke kantor DEMA FUAD untuk BoCi (Bobo Ciang). Namun sebelum ia benar-benar memejamkan matanya. Ia teringat dengan masjid baru itu lagi. Ketika pembangunan ia melihat para kuli yang bekerja tidak mengerjakan sholat. Artinya, dalam dasar pembangunan sudah tidak dilandasi dengan taqwa. Padahal Allah menyatakan, “… Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa…” (QS. At-Taubah : 108). Taqwa dalam arti generalnya adalah imtistalul awamiri wajtinabun nawahihi (Menjunjung segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya). Sedangkan taqwa menurut Para Hukama yaitu mempunyai keunikan tersendiri. Kata taqwa mempunyai empat huruf yaitu ta, qaf, waw, dan ya. Maknanya, Tawadhu’ Qana’ah, Wara’, dan Yaqin (Nashoihud Diniyah). Tanyakanlah, apakah pembangunan masjid itu ada unsur politik, kekuasaan, eksis, keangkuhan, atau ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah. Tidak perlu diberi tahu “ siapa yang membangunnya ? “ Mesjid ini bukan untuk perorangan tapi untuk banyak orang. Tanyakan, darimana saja datang dananya untuk pembangunan masjid tersebut. Kritis itu perlu. Tapi ia berharap hipotesanya keliru.
Mesjid itu juga terasa panas dan Hannan pun merasakan ada aura yang berbeda dari masjid itu. Terasa lebih enak masjid yang lama. Walaupun alasannya, karena belum dipasang AC, kipas angin dan juga berada ditingkat atas. Tapi Hannan tetap saja tak mengiyakan.
“ Apakah membangun masjid megah dan besar ini termasuk tanda-tanda hari kiamat ? “ Ia bertanya dengan dirinya sendiri. Orang berlomba-lomba membangun masjid tapi sepi yang memakmurkannya. Masjid jadi tempat perniagaan bukan tempat ibadah. Image sakral dan suci tentang sebuah bangunan masjid kini mulai pudar.
Hannan tak bisa tidur, akhirnya pikirannya mengembara ke Puntun City, Gg, Sayur. Di sana ada sebuah masjid. Mesjid Riyadus Sholihin namanya.  Ia teringat ada seorang penceramah sewaktu Isra Mi’raj di sana yang mengatakan, “  rasa kopi yang diberikan oleh Alm. Guru Sakumpul masih terasa di lidah ulun ini. Padahal sudah lama sekali. Ketika itu ulun masih santri yang mengaji di dalam pagar. Sebuah langgar hendak dibangun dan ulun ikut membantu disana. Sebelum azan berkumandang, kami berhenti bekerja dan siap-siap untuk sholat. Guru Sakumpul pun tidak segan-segan memberikan air kopi kepada kami. Subhanallah, seperti apa yang dikatakan ulun tadi, rasa kopi yang diberikan oleh Alm. Guru Sakumpul masih terasa di lidah ulun ini. Langgar itu dinamai dengan “ Al-Karamah “, ujar pencermah tersebut yang begitu berwibawa dan meresapi menyampaikan pengalamannya.  Hannan juga pernah sholat di sana. MasyaAllah, ketika menginjakkan kaki ke dalamnya. Hati terasa tenang. Sholatpun khusyu’. Jiwa ini, ingin sekali berlama-lama berada di sana. Bukan sekedar duduk. Tapi beribadah. Ada energi positif yang terkumpul di dalamnya. Masyarakat sekitar langgar itu pun begitu harmonis dan taat kepada Allah. Ketika azan dikumandangkan, mereka meninggalkan semua dagangan mereka dan langsung pergi ke langgar tersebut. Subhanallah. Langgar yang menakjubkan.
Pikirannya terus melayang. Tapi matanya mulai menutup gerbang penglihatannya. Ia masih ingat berdoa sebelum tidur, astagfirullahal adzim. Asyahadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Bismikallahumma ahya wa bismika amut. Hati-hati tidur tanpa berdzikir dan berdoa. Karena an-naumu akhul mauti. Tidur adalah saudara mati. Tidak ada seorang manusiapun yang dapat memastikan nafasnya akan berhembus sampai ia terbangun kembali. Tak ada satupun. Oleh karena itu,  sebelum tidur, hendaknya beristighfar, ucapkanlah dua kalimat syahadat, dan berdoa dengan doa sebelum tidur.
Sampai jumpa, sahabaku !.  Baca terus tulisan saya. Saran dan kritiknya dari kawan-kawan, sahabat seperjuangan di jalan Allah, senantiasa saya tunggu. Semoga bermanfaat. Salam hangat El-Mannan.